PROLOG

1022 Words
Russel kembali tersadar dengan rasa pusing yang membuat kepalanya seakan hendak pecah. Entah sudah berapa jam ia pingsan, setelah dipukuli terus-menerus oleh orang-orang suruhan Kathrine yang menculiknya. Keadaan di luar terlihat sangat gelap, yang menandakan bahwa saat itu sudah malam. Dengan tangan gemetar, Russel mencoba membuka tali yang mengikat kedua tangannya di belakang sandaran kursi. Meskipun ia sendiri tak yakin, bahwa akan bisa meloloskan diri, namun setidaknya ia tak ingin menyerah begitu saja dengan keadaan saat itu. "Ayolah Russ, berjuanglah agar kau tak perlu mati konyol di tempat ini," gumamnya, untuk menyemangati diri sendiri. Orang-orang yang memukulinya terlihat sedang bersenang-senang di luar gubuk itu. Beberapa di antaranya terlihat sedang meneguk minuman keras dari botol. Russel terus berpura-pura masih pingsan, dan hanya sesekali membuka matanya untuk mengintip lewat jendela yang terbuka. Tangannya masih bergerak-gerak, berjuang untuk membuat tali yang mengikatnya menjadi longgar. Darah terus saja menetes dari pelipisnya yang terkena hantaman benda tumpul. Membuat penglihatan pada mata kanannya sangat terganggu, karena terus terkena tetesan tersebut. Dipikirkannya semua wajah anggota keluarganya, dan juga sahabat-sahabatnya. Ia masih berusaha berjuang agar bisa melihat mereka lagi, di sisinya. Tali yang mengikat kuat tangannya mulai mengendur, meskipun menimbulkan luka lecet yang menyakitkan. Namun bagi Russel, hal itu tidak semenyakitkan pukulan-pukulan yang ia terima dari orang-orang itu. TASHHH! Tali itu akhirnya terputus, berkat kegigihan Russel untuk melepaskan diri. Kini ia harus memastikan, bahwa orang-orang itu tidak akan menoleh ke arah tempatnya disekap. Ia bergerak dengan begitu perlahan, dari kursi yang tengah di dudukinya. Kedua kakinya gemetar hebat, akibat pukulan-pukulan yang juga ia terima di sana dari orang-orang itu. Ia memaksa menyeret langkahnya, agar rumah kecil yang terbuat dari kayu itu, tidak mengeluarkan suara yang akan memancing kecurigaan. Pintu samping rumah kayu itu hanya tinggal beberapa sentimeter, dari jangkauan Russel. Namun sialnya, ia harus menabrak sebuah peti berisi botol minuman keras yang tak terlihat, karena suasana yang gelap. KRAKK!!! Orang-orang yang tengah berada di luar rumah kayu itu pun segera menoleh serempak ke arah jendela yang terbuka. "Dia bangun!!! Tangkap dia sebelum lolos!!!" perintah atasan mereka. Russel pun bergegas membuka pintu samping, dan keluar dari rumah kayu tersebut. Keadaan benar-benar gelap gulita, tidak ada penerangan sama sekali. Russel baru menyadari bahwa dirinya berada di tengah sebuah hutan yang dipenuhi pepohonan tinggi nan rimbun. Ia berjalan terseok-seok di tengah hutan gelap saat bulan tepat berada di atas kepalanya. Tak peduli ranting, duri, atau bahkan hewan berbisa yang mungkin saja ia injak. Yang ada di dalam pikirannya saat itu, hanyalah melarikan diri dan tidak mati konyol. Darah masih terus mengucur dari seluruh tubuhnya akibat pertarungan yang terjadi ketika ia mencoba melarikan diri dari cengkraman Kathrine dan anak buahnya, kemarin. Seluruh tubuhnya sekarang benar-benar terasa hancur-lebur, ia hampir tak sanggup lagi melangkahkan kaki. Sementara di belakangnya masih banyak orang-orang yang memburu untuk mendapatkannya kembali. "Ingat, kalau kau terdesak dan butuh bantuan, panggil saja nama lainku." Itulah yang terngiang-ngiang di kepala Russel saat ini. Pesan dari Aurel - sahabatnya - yang begitu aneh saat ia mendengarnya bertahun-tahun lalu. Pesan yang singkat, namun mampu membuat Russel sadar bahwa ia sangat membutuhkan sosok wanita itu, sekarang. Tapi sekonyol apapun pesan yang Aurel berikan untuknya, saat ini, bukankah itu patut untuk dicoba? Russel berhenti dan bersandar pada sebuah pohon, setelah ia merasa tenaganya sudah benar-benar sampai pada batasnya. Nafasnya naik-turun, memburu tak karuan ditambah dehidrasi yang ia alami karena belum menemukan air sejak disekap oleh orang-orang itu. Pikirannya begitu kacau, pandangan matanya nanar saat menatap langit malam yang cerah dan dipenuhi bintang berkilau. "Itu dia! Ada di sana!" teriak salah satu anak buah Kathrine. Russel mendengarnya, ia pun kembali tak punya pilihan. Saat ini, hanya ada kata 'menyerah dan mati', atau mencoba apa yang Aurel pesankan padanya, beberapa tahun yang lalu. Ia tertawa sejenak saat akan melakukan kegilaan itu. Mencoba menyatakan bahwa dirinya memang sesekali butuh orang gila untuk menyelamatkan hidupnya. "Aura," bisiknya di tengah kesadaran yang mulai menghilang. RROOOOAAAAARRRRGGGHHHH!!! Entah dia sudah gila, atau itu hanya mimpi yang terasa nyata. Hawa panas dari semburan api yang menggila membuatnya menyaksikan bagaimana semua anak buah Kathrine terpanggang dalam sekejap mata. Teriakan melengking yang keluar dari mulut mereka tak membuat mereka lolos dari semburan api itu. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Russel pun menolehkan kepalanya dan melihat sosok seekor naga raksasa berwarna keperakan dengan sayap melebar dan mata biru yang menyala. Naga itu mendekat hingga Russel dapat merasakan hembusan nafasnya. WOOSSHHHH!!! "Apakah itu sapaan untukku? Aku yakin sekali, kalau tadi aku memanggil Aura, bukan naga," bisik Russel, lemah. ZLEEEBBB!!! Naga itu pun berubah dalam sekejap menjadi sesosok wanita yang begitu Russel kenali. "Aurel?" tanyanya, tak percaya. "Aura, namaku Aura. Sesuai dengan yang kau panggil tadi," jawabnya seraya tersenyum penuh kecantikan. * * * Drrrttt..., drrrttt..., drrrttt...!!! "Halo!" jawab Aurel. "Setelah bertahun-tahun akhirnya dia memanggilku seperti yang kau sarankan padanya," ujar Aura. "Lalu bagaimana keadaannya saat kau temukan?" tanya Aurel, khawatir. "Hancur! Dia hampir mati dengan tubuhnya yang berdarah-darah!" "Bisa lebih rinci? Penjelasanmu terdengar seperti kalimat di dalam buku," pinta Aurel, gemas. "Ya, kebetulan sekali kau yang menjalani hidup normal dan bersekolah bersama manusia pada umumnya. Jadi, terjemahkan saja sendiri. Tolong jangan buat aku mengejek semua piagam, piala dan medali yang kau terima sebagai bentuk penghargaan di dunia manusia," balas Aura, sinis. "Kau juga manusia Auralia Jasmin!" "Setengah naga, tolong dilengkapi Aurelie Rosia!" "Oh ya ampun! Apakah kita bisa tak berdebat mengenai manusia dan naga di saat seperti ini? Ayolah Aura, bawa dia ke Dokter," Aurel memohon. "Hei relaks! Aku bisa lebih cepat dalam menyembuhkan siapapun lebih dari seorang Dokter yang begitu dibanggakan di dunia manusia. Dia sudah hampir sembuh, aku hanya tinggal memberikan dia ramuan obat untuk mengobati luka dalamnya," jelas Aura. Aurel pun bernafas lega. "Jadi apakah dia sudah bangun?" tanya Aurel. "Saat aku terbang dari sarang untuk mencari tanaman obat, dia belum bangun. Aku baru saja sampai di luar sarangku dan meneleponmu lebih dulu untuk memberi tahu kalau dia sedang menginap di sarang naga," jawab Aura. Ia membuka pintu dan mendapati Russel tengah menatapnya yang masih berbicara dengan Aurel di ponsel. Pria itu merebut ponsel Aura dan berbicara dengan Aurel. "Di mana kau? Kenapa kau bisa ada, dua?" tanya Russel, tanpa menyembunyikan keterkejutannya. * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD