Aurel membuka gorden pada jendela kamarnya, usai meletakkan ponsel di atas nakas. Cahaya mentari pagi dari ufuk timur mulai mewarnai langit, yang masih agak gelap. Ia duduk pada pinggiran jendela, kemudian menajamkan tatapannya ke arah benda langit yang menghantarkan panas tersebut. Untuk menunjukkan pada alam, bahwa ia tak memiliki rasa takut sama sekali, di dalam dirinya. Dalam dirinya, hanya ada keberanian yang tak pernah padam, sekalipun hujan badai berusaha memadamkan api keberanian itu.
HOOOAAAAMMMM!!!
Jessica menguap lebar-lebar sambil menggeliat saat terbangun setelah cahaya matahari menusuk celah-celah netranya. Perlahan ia bangun dati ranjangnya, kemudian menatap Aurel yang terduduk di dekat jendela dengan pandangan menerawang ke arah lingkaran matahari yang baru muncul setengahnya di langit sana.
Ia tersenyum, sambil menaikkan kedua alisnya ketika menatap Aurel.
"Ada apa, Aurel? Kenapa pagi-pagi begini kau sudah menantang matahari, dengan memberikan tatapan penuh kekacauan seperti, itu?" tanya Jessica, sangat ingin tahu.
Aurel masih bergeming, Jessica pun turun dari tempat tidurnya untuk mendekat pada gadis itu. Dipandanginya wajah cantik mempesona yang Aurel miliki dengan penuh harap akan mendapat jawaban. Menggodanya selama beberapa saat, hingga benar-benar mendapatkan perhatian.
"Russel ada di sarang milik, Aura," ujar Aurel, sangat tenang.
"Hmm," Jessica mengetuk-ngetukan telunjuknya di pipi sebelah kanan, "lalu apakah Aura berubah jadi Naga di depan, Russel?" rasa ingin tahu Jessica semakin menjadi-jadi.
Aurel menarik nafasnya dengan lembut, untuk mengisi kembali energinya untuk menghadapi hari ini.
"Ya, dan Russel bahkan melihatnya memanggang semua anak buah Kathrine, di hutan," jawab Aurel.
Jessica pun terkikik geli mendengarnya. Ia tak bisa membayangkan, bagaimana tampang Russel saat hal itu terjadi di depan matanya.
"Jadi, kau ingin bagaimana? Apakah kita harus menyusul Russel ke hutan, sekarang? Ya, siapa tahu kau mengkhawatirkan kesehatan mentalnya, setelah mendapat pengalaman super semalam."
"Tidak! Itu tidak perlu, sama sekali. Aku sudah bilang pada Russel, bahwa aku akan membuat dirinya seakan sudah mati. Semalam aku menyebarkan berita di internet, Aura meletakkan satu jasad yang terpanggang dengan barang-barang milik Russel di dekatnya. Polisi juga sudah menetapkan bahwa Russel Abraham, telah tewas," jelas Aurel, santai.
"Damn! Kau dan Aura melakukan semua itu dalam, semalam? Wah, aku sangat terkesan. Lain kali bangunkan aku, agar aku bisa turut andil," puji Jessica, sekaligus meminta tugas.
Aurel berbalik dari jendela, dan meraih handuknya yang tergantung di samping lemari. Mandi adalah hal terbaik yang bisa membuat kepala Aurel mendingin, setelah semalaman merakan panas akibat ulah Kathrine terhadap Russel. Sementara Jessica masih menatapnya, sambil menunggu kata-kata selanjutnya dari bibir wanita cantik itu.
"Sekarang bersiap-siaplah, Jess. Kita akan menghadiri pemakaman di rumah keluarga Abraham."
"Oke!"
Jessica pun segera membuka lemari pakaiannya untuk memilih baju yg pantas untuk acara pemakaman. Beberapa pilihan telah ia eliminasi, karena merasa tak cocok. Berulang kali melihat cermin demi memadu padankan pakaian dengan high heels-nya, tetap saja tak membuat Jessica cepat menemukan apa yang diinginkannya, saat itu. Aurel sendiri terdengar sudah memulai kegiatannya, di kamar mandi seiring dengan terdengarnya suara gemericik air dari shower yang menyala.
"Apakah kau benar-benar bicara dengan Russel, semalam?" tanya Jessica.
Aurel mengecilkan volume shower di hadapannya, saat mendengar pertanyaan dari Jessica.
"Ya, aku bicara dengannya. Dia terdengar shock berat karena aku ada dua, dan yang satu bisa berubah menjadi seekor, Naga!" jawab Aurel.
Jessica kembali terkikik geli sambil menatap pantulan dirinya di cermin.
"Bukankah selama ini hal itu yang dia, inginkan? Dia selalu bilang akan sangat keren jika bisa melihat seseorang berubah menjadi hewan. Entah hewan apapun, itu."
Aurel pun keluar dari kamar mandi, sambil mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk.
"Ya, Russel memang sering bilang, begitu. Tapi yang dia maksud tentunya bukanlah seekor Naga raksasa yang bisa terbang, dan menyemburkan api dari mulutnya," balas Aurel, sambil ikut bercermin bersama Jessica
HAHAHAHAHA!!!
"Tak bisa kubayangkan wajah pria itu, saat dia benar-benar melihat Aura yang berubah menjadi seekor, Naga," Jessica tak bisa menahan diri untuk tak tertawa.
Aurel ikut tersenyum singkat, lalu teringat sesuatu.
"Ralat, Russel melihat Aura dari wujud Naga, dan berubah ke wujud manusia."
"Hah! Bukankah hal itu tentunya jauh lebih spektakuler lagi, dari bayangan kita sebelumnya?" tanya Jessica.
Jessica pun meraih handuknya untuk bergegas ke kamar mandi. Aurel membuka pintu lemarinya, dan melihat-lihat semua pakaian yang ia miliki di dalam sana. Sejenak, ia kembali memikirkan berbagai rencana yang harus dilakukannya, untuk mendukung sandiwara kematian Russel, hari ini. Tangannya meraih beberapa gantungan baju, lalu kembali menutup pintu lemarinya.
Ketika Jessica selesai mandi, Aurel terlihat sudah siap dengan celana khaki warna hitam serta dress brokat setengah paha dengan warna senada. Dress itu terlihat agak menerwang di bagian perut hingga pinggang, sehingga Jessica mencibirnya ketika keluar dari kamar mandi.
"Wow, akan ada pemakaman atau fashion show, di rumah keluarga Abraham hari, ini?" sindirnya
Aurel tersenyum ke arah Jessica yang baru saja akan memakai bajunya. Ia menatap Jessica melalui pantulan cermin yang tengah dipandanginya, saat itu.
"Pergi ke pemakaman bukan berarti aku harus kehilangan pesonaku, 'kan?" balas Aurel, antara bertanya atau menegaskan.
Jessica pun memutar kedua bola matanya dengan rasa gerah, luar biasa. Namun tetap saja, ia akan menertawai pendapat Aurel di akhir.
"Ya, ya, ya! Pesona kecantikan bak Dewi Atlantis pada Aurelie Rosia, memang tak pernah bisa pudar meskipun kita akan masuk ke dalam liang lahat!" ejeknya.
Aurel pun terkekeh sambil memakai sepatunya yang bertabur berlian hitam. Jessica segera berpakaian yang sejujurnya tak jauh fashionable-nya dari apa yang Aurel kenakan. Aurel menatapnya sambil membereskan handuk dan piamanya yang harus dicuci, nanti.
"Kau mencibirku, mengejekku, dan bahkan memberi kritik. Sementara dirimu sendiri tak jauh fashionable daripada penampilanku. Haruskah aku juga menanyakan hal yang sama, padamu? Wow, akan ada pemakaman atau fashion show, di rumah keluarga Abraham hari, ini?"
HAHAHAHAHA!!!
"Bagaimana caraku menjelaskannya padamu, Aurel? Kita bukan saudari dan bahkan tak ada hubungan darah sama sekali. Tapi soal bagaimana cara kita harus menunjukkan kekuatan di depan orang lain, kita tidak berbeda sama sekali," ujar Jessica, santai.
"Aku setuju," balas Aurel.
Selesai dengan urusan yang terjadi di dalam kamar, mereka akhirnya keluar dari rumah menuju garasi. Aurel memilih Mercedes Benz berwarna hitam keperakan di bagian kedua sisinya untuk ia kendarai hari itu. Jessica memakai kacamata hitamnya karena silau sinar matahari mulai menusuk matanya yang indah.
"Siap?" tanya Aurel.
"Ya, aku siap," jawab Jessica.
"Ayo, kita makamkan kebodohan Russel bersama jasad tak jelas, itu!" ujar Aurel.
* * *