Aurel menghentikan mobilnya tepat di area parkir rumah keluarga Abraham, setelah melalui perjalanan selama satu jam. Rumah itu terlihat sudah dipadati oleh para pelayat, yang akan menyaksikan pemakaman jasad hangus yang ditemukan Polisi semalam. Kursi-kursi telah tersusun rapi. Payung-payung hitam milik para pelayat, terbuka di bawah terik sinar matahari yang semakin menyengat.
Aurel dan Jessica masih mengawasi segalanya, dari dalam mobil. Terlihat seluruh anggota keluarga Abraham yang baru akan keluar, dari rumah mereka. Mereka didampingi oleh Pengacara keluarga yang selalu saja memberikan kesan pada semua orang, bahwa Keluarga Abraham adalah keluarga besar yang sombong. Meskipun kenyataannya tidak demikian.
"Tampaknya, seluruh anggota Keluarga Abraham sangat bersedih dengan kematian, Russel. Bahkan Kenzie terlihat sekali sedang berusaha menahan airmatanya," ujar Jessica.
"Ya, kau benar. Dan lucunya, yang justru terlihat sangat tenang adalah Ronald, Pengacara mereka," tambah Aurel.
"Lalu, bagaimana sekarang? Apakah menurutmu, sudah waktunya untuk turun dan menunjukkan diri di depan, mereka?" tanya Jessica, penuh semangat.
"Hmm, ayo kita turun," jawab Aurel, sangat tenang.
Mereka keluar dari mobil, bersama-sama. Jessica berjalan di samping Aurel dengan memasang mimik wajah sedih, seakan ia merasa sangat kehilangan atas kepergian Russel. Mereka berdua menjadi pusat perhatian banyak orang sejak keluar dari mobil. Bahkan beberapa anggota keluarga Abraham pun yang biasanya tak peduli dengan kehadiran orang lain di sekitar mereka - mau tak mau - ikut memperhatikan kedatangan kedua wanita tersebut.
Kenzie - saudara sepupu Russel - yang juga sahabat baik Aurel dan Jessica, menyambut mereka berdua dengan wajah dipenuhi kabut. Jessica memeluk pria itu sebentar, dan disusul oleh Aurel yang memeluknya begitu lama. Semua mata semakin terarah kepada mereka dengan segudang pertanyaan. Aurel dengan sengaja memperlama pelukannya, agar semakin banyak desas-desus yang terjadi. Ia berharap, dengan adanya desas-desus dari bibir semua orang, maka pusat pikiran Kathrine akan terpecah antara Keluarga Abraham, dan juga kehadiran Aurel di tengah keluarga itu.
"Aku tak pernah membayangkan ini akan terjadi pada, Russ. Aku benar-benar tidak menduganya sama sekali," ungkap Kenzie, sambil menangis di pelukan Aurel.
Aurel melepaskan pelukannya, lalu menghapus airmata di wajah pria itu dan mengecup pipinya dengan lembut. Jessica berupaya menahan rasa gemas, akibat adegan konyol di depan matanya. Saudara dan saudari Kenzie serta Russel pun berdehem pelan ketika menyaksikan keintiman yang luar biasa itu.
"Kita akan menemukan pelakunya, aku janji. Aku dan Jessica akan selalu ada untukmu. Sekarang, bersikap tegarlah, percaya padaku," ujar Aurel.
Kenzie pun menganggukan kepalanya lalu melepaskan dekapan tangannya pada pinggang ramping Aurel yang terekspos 'apa adanya'. Kenzie pun kembali duduk di kursinya setelah Jessica dan Aurel berlalu.
"Siapa itu? Kau tak pernah mengindikasikan memiliki kekasih yang punya kecantikan super, seperti dia," bisik Arnold - Kakak tertua Kenzie.
"Bukan urusanmu!" balas Kenzie, sambil menatap nanar ke arah peti mati di sampingnya.
Jessica mengambil dua buah gelas berisi air putih, dari tangan seorang pelayan di rumah itu. Ia memberikan satu gelas ke tangan Aurel, lalu mengajaknya melepas dahaga.
"Haruskah kau mencium pipi Kenzie, di depan khalayak ramai seperti, tadi? Tahukah kau, bahwa dirimu menjadi pusat perhatian semua orang, saat melakukannya, tadi?" sindir Jessica.
"Aku harus memancing antek-antek tersembunyi dari Kathrine, untuk membuatnya keluar, melalui keakraban atau keintiman bersama Kenzie. Selama ini Kathrine tidak pernah suka, dengan seseorang yang bisa mendekati salah satu anak-anak keluarga Abraham, bukan? Maka dari itu aku memang harus mencium pipinya di depan umum. Lagipula, itu momen yang sangat langka, bukan? Kapan lagi kita bisa memberikan tontonan gratis pada banyak orang?" bisik Aurel, setengah jahil di hadapan Jessica.
Jessica tersenyum miring, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ke arah Aurel.
"Dasar pencari sensasi," ejeknya, terang-terangan.
Seseorang terlihat menaiki panggung kecil di bagian depan, tepat di sebelah peti berisi jasad hangus di dalamnya. Aurel dan Jessica ikut memperhatikan orang itu seperti yang lainnya. Mereka berusaha menunjukkan pada semua orang, bahwa mereka juga berduka atas kematian Russel, seperti yang lainnya.
"Selamat siang semuanya. Aku Ronald Francis, Pengacara keluarga Abraham. Hari ini aku akan mewakili keluarga Abraham untuk membacakan wasiat dari mendiang, Russel Abraham," ujarnya.
Ronald membuka sebuah amplop berwarna cokelat tua, dan mengeluarkan isinya yang berupa lembaran kertas. Aurel dan Jessica saling melirik selama beberapa saat, lalu kembali menatap ke arah Ronald yang terlihat begitu bersemangat.
"Kepada sahabat-sahabatku, Sean Joaquin, Tyler Brook, Jessica Hamilton, Aurelie Rosia, Leon De Silva, dan Kenzie Abraham. Saat surat wasiat ini dibacakan oleh Pengacara keluargaku, aku harap kalian semua berkumpul di sampingnya untuk menerima sesuatu yang kutinggalkan," ujar Ronald.
Satu persatu nama yang disebutkan tadi pun maju ke depan untuk berkumpul di samping Ronald. Semua mata tentu saja paling tertuju pada Aurel. Ronald memberikan satu buah kotak ke tangan wanita itu, karena hanya dia yang ditunjuk untuk mewakili yang lainnya. Beberapa putra dari keluarga Abraham tersenyum diam-diam dengan pesona ketampanan yang mereka miliki, sambil menatap ke arah Aurel. Namun sayangnya, wanita itu hanya memasang wajah dingin di hadapan mereka.
"Bukalah kotaknya saat hanya ada kalian, saja. Aku mempercayakan isinya pada kalian berenam. Jangan katakan pada siapapun tentang apa yang kalian tahu setelah membukanya. Percayalah, hanya kalian yang bisa menjaga rahasia yang kupegang selama ini. Tertanda Russel Abraham."
Ronald pun tak lagi terlihat bersemangat sekarang. Ia tertawa kecil di hadapan semua pelayat yang datang.
"Tapi meskipun begitu, akan lebih baik jika kotaknya dibuka di depan seluruh anggota Keluarga Abraham, bukan?" tanya Ronald, seakan tengah bercanda.
Aurel menatapnya seraya tersenyum miring, yang tak ditutup-tutupi sama sekali dari pandangan Ronald.
"Anda seorang pengacara, bukan? Apakah anda tidak mengerti artinya 'wasiat'? Jika Russel mengatakan untuk membukanya di depan semua orang, maka artinya kotak ini hanya akan bisa dibuka oleh kami berenam saja, dan tidak akan pernah berubah!" tegas Aurel, kejam namun manis di telinga siapapun yang mendengarnya.
Kini Ronald pun benar-benar kehilangan senyumannya, usai mendengar apa yang Aurel katakan. Seluruh anggota Keluarga Abraham diam-diam tertawa di belakang Pengacara mereka sendiri. Pasalnya, selama ini Ronald selalu saja bertindak sok pintar dan terlalu mengatur. Kini, pria itu tidak bisa memberi perlawanan atas apa yang Aurel katakan, karena Aurel bukanlah bagian dari Keluarga Abraham yang bisa diatur-atur seenaknya.
Aurel pun kemudian berbalik pada kelima orang di belakangnya. Ia menatap mereka dengan segenap pancaran keanggunan yang tak biasa, dari sorot mata indahnya. Wanita itu tersenyum penuh wibawa, membuat semua orang terpukau saat menatapnya lekat-lekat.
"Jadi, di manakah tempat paling aman yang kalian ketahui, agar kita bisa membuka kotak ini tanpa diganggu oleh siapapun?" tanya Aurel, sambil memancarkan pesona kecantikannya yang mematikan.
* * *