Episode 3 - A Plan That Failed

1018 Words
Ronald membanting amplop berisi wasiat yang ditinggalkan Russel, ke atas lantai, setelah acara pemakaman selesai. Pria itu terlihat sangat gusar dan emosional setelah tadi mendapatkan teguran dari Aurel, di luar sana. Ia merasa sangat dipermalukan oleh wanita itu, dan merasa harga dirinya sebagai Pengacara Keluarga Abraham, terinjak-injak. Belum pernah ada yang berani terhadapnya selama ini. Aurel adalah orang pertama yang berani mempertanyakan mengenai pekerjaannya sebagai Pengacara, tepat di hadapan banyak orang. Dengan segenap kekesalan yang bercokol di dalam hatinya, ia menatap tajam ke arah anak-anak Keluarga Abraham lainnya. "Hah! Kurang ajar sekali Adik kalian! Apa-apaan, itu? 'Aku hanya mempercayakan rahasiaku pada kalian berenam'? Jadi menurutnya, apa gunaku di dalam keluarga, ini?" teriak Ronald, penuh kekesalan. Joseph pun menatap ke arah Ronald dengan tatapannya yang dingin. "Kenapa jadi kau yang, kesal? Seharusnya kamilah yang merasa kesal, jika harus ada yang kesal terhadap wanita tadi!" sindirnya. Ben tertawa sinis di samping Joseph. Ia senang sekali saat ada yang memarahi Ronald, karena pria itu sungguh pantas mendapatkan omelan dari semua orang. "Ya, itu benar sekali. Dan kalau aku jadi Russel, aku juga takkan segan-segan mempercayakan rahasiaku pada wanita yang memiliki kecantikan super mematikan seperti, Aurelie," tambah Ben. Miranda--putri tertua dari keluarga Abraham-meminum kopinya perlahan-lahan, sambil melirik sinis ke arah Ronald. "Ya, entah bagaimana Russel dan Kenzie bisa mengenal wanita secantik itu. Tapi jujur saja, meskipun dia cantik jelita, tapi dia sangat dingin pada orang lain selain para sahabatnya. Apa kalian merasakannya, juga?" tanya Miranda, dengan sengaja. "Wah, aku pikir hanya diriku saja yang merasakan hal itu. Dia sangat dingin, tapi lebih dari hangat terhadap Kenzie," sahut Annalise--putri bungsu keluarga Abraham. Ronald menggeram hebat saat mendengar semua penilaian itu. Di benaknya sedang berkecamuk antara kemarahan dan kekecewaan sekaligus. Ia tak pernah merencanakan kalau Russel akan tewas dengan mengenaskan seperti itu. Ia juga tak merencanakan kalau isi wasiat yang Russel tulis hanya akan membuatnya tambah kesulitan untuk menghisap semua kekayaan keluarga Abraham. Seharusnya ia hanya membuat Russel menjadi menyerah dan memberikan tanda tangan untuk pengelolaan harta Keluarga Abraham. Sialnya, semua menjadi berubah di luar dari rencana. Kini ia harus kembali memutar otak. Kenzie adalah harapan satu-satunya dari dalam keluarga Abraham yang bisa ia gunakan sekarang, setelah rencananya gagal dan mengakibatkan Russel tewas. Ia harus bisa membujuk Kenzie, agar bersedia mengatakan apa isi wasiat yang Russel tinggalkan. Ronald pun meraih tas miliknya dari atas meja. Arnold menatap kepergian Ronald diam-diam. Entah kenapa, ia merasa ada kejanggalan di dalam gerak-gerik pria itu. Ronald memang sudah bertahun-tahun menjadi Pengacara kepercayaan Keluarga Abraham, namun semakin lama, pria itu semakin sering bertindak seenaknya dan bahkan tanpa persetujuan anggota Keluarga Abraham. Membuat semua orang terkadang geram dengan tingkahnya tersebut. "Mengapa Ronald sangat tidak suka dengan kehadiran, Aurelie? Dia begitu terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya, dengan begitu blak-blakan," Ben berkomentar. "Hmm..., benar juga. Jika dibilang dia cemburu karena Aurelie menjadi pusat perhatian semua orang saat acara pemakaman berlangsung, rasanya sangat tidak mungkin. Ronald 'kan pria, bukan wanita, dan tidak harus merasa cemburu karena orang lain menjadi pusat perhatian," pikir Annalise. Miranda tersenyum sekilas, usai mendengar apa yang Annalise katakan. Tak berapa lama kemudian, suara deru mobil milik Kenzie terdengar jelas di halaman, setelah Ronald pergi setengah jam yang lalu. Pria itu masuk ke dalam rumah dengan wajah yang memancarkan duka cita mendalam. Pucat dan tak bertenaga sama sekali. "Ken, bergabunglah dengan kami," pinta Arnold. Kenzie pun menurut, ia segera ikut bergabung di ruang keluarga setelah membatalkan keinginan untuk pergi ke kamarnya. Ia duduk di salah satu sofa kosong yang tersedia, memilih untuk tidak berada di dekat siapapun selama masih merasakan duka. "Ken, kami tahu kalau kau tidak akan membuka mulut, atas rahasia yang Russ titipkan padamu dan sahabat-sahabatmu. Kami hanya ingin memperingatkanmu mengenai... ." "Ronald?" Kenzie memotong kata-kata Miranda. Semua kini saling pandang satu sama lain. Seakan menunjukkan bahwa banyak pertanyaan yang ingin mereka ajukan pada pria itu. Namun sayang, mereka tak berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu, karena ekspresi wajah Kenzie terlihat sangat tak tepat untuk ditanyai. "Bagaimana kau bisa tahu, kalau kami akan memperingatkanmu tentang, Ronald?" tanya Ben, sambil menyipitkan kedua matanya. Kenzie menarik nafasnya beberapa saat, dan menghembuskannya dengan kasar. Hari itu adalah hari terberat yang pernah ia lalui dalam seumur hidupnya. Membuatnya tak bisa terlalu fokus dalam hal apapun atau dengan siapapun. Pikirannya terpecah tak karuan. "Russ menyebut ada pengkhianat dalam rumah kita sendiri, dan Aurel berasumsi kalau itu adalah Ronald. Aurel bilang pada kami semua, bahwa ekspresi Ronald sangat terlihat kesal saat membacakan surat wasiat tadi siang, seakan ada hal yang dia sesali atas kematian Russ," jawab Kenzie, sangat jujur. "Damn! Selain cantik dia juga sangat, peka?" Ben terlihat tak percaya. Tatapan Kenzie pun kini menajam ke arah Kakaknya sendiri. Ia tahu betul bagaimana sifat Ben, jadi rasanya sangat tidak nyaman bagi Kenzie jika mendengarnya membicarakan Aurel dengan cara yang tidak sopan. "Jangan mengeluarkan niat untuk bermain-main dengannya, Ben! Kuberi kau peringatan pertama hari ini!" tegas Kenzie, dingin. "Oh, ya? Kenapa memangnya kalau aku ingin bermain-main dengan si cantik Aurelie?" ejek Ben, sambil menyeringai menyebalkan ke arah Adik bungsunya tersebut. "Karena dia adalah putri ketiga, dari Keluarga Xavier! Dia Adik kesayangan Arhoz Willman Xavier, dan Adriana Kayleen Xavier! Menjauh darinya, atau kau akan mati dalam hitungan menit setelah berhadapan dengan Kakak-kakaknya!" jawab Kenzie, tak menyembunyikan rasa tak sukanya pada Ben. Kenzie pun meninggalkan semua orang di ruang keluarga itu, dengan kekesalan yang tercetak jelas di wajahnya. Sementara yang lainnya kini hanya bisa saling menatap satu sama lain, seakan masih berusaha mencerna kenyataan yang baru saja mereka dengar dari mulut Kenzie. "Apa??? Dia Adik kesayangan, Arhoz???" Arnold terlihat benar-benar tak percaya. "Hmm, sangat tidak terduga, bukan?" tanya Miranda. "Dan dia juga Adik kesayangan, Adriana???" Ben pun ikutan terlonjak dari sofa yang didudukinya. Annalise tertawa kecil sambil menyesap jus jeruk di gelasnya. Ia merasa lucu dengan tingkah semua Kakak-kakaknya saat tahu siapa Aurel sebenarnya. Hanya Joseph yang tetap tak berekspresi di samping Ben, meskipun Ben sudah menunjukkan sikap seperti cacing kepanasan. Wajahnya tetap datar, hingga tak ada yang tahu isi pikirannya saat itu mengenai Aurel. "Wah, pantas saja pesona kecantikannya begitu mematikan. Pesona yang sangat sesuai dan mengalir di dalam darah Keluarga Xavier, selama ini," ujar Annalise, santai. * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD