Terik sinar matahari siang, membuat netra milik Russel merasa silau. Ia menggeliat pelan di atas tempat tidur milik Aura, dengan tujuan agar tidak merasakan sakit dari luka-lukanya. Namun nyatanya, rasa sakit itu sudah tak terasa lagi. Entah bagaimana, semua seakan menghilang begitu saja ketika ia tertidur, tadi. Membuatnya heran dan menyeringai bodoh sendirian. Ia masih saja mempertanyakan keanehan yang terjadi pada dirinya, padahal ia sudah tahu kalau Aura memang punya keahlian yang berbeda dari orang lain.
Tak lama kemudian, Russel bangkit dari tempat tidur karena merasa sepi, saat tak ada siapapun di sampingnya. Ia berjalan mondar-mandir di dalam sarang raksasa itu dengan sangat gelisah, sambil sesekali menatap ke arah luar jendela. Aura kemungkinan sedang pergi, untuk mengambil tanaman obat untuknya. Wanita setengah Naga itu hanya meninggalkan ponselnya bersama Russel, agar Aurel bisa menghubungi Russel kapan pun. Namun hingga berjam-jam berlalu, Aurel tak juga menelepon dirinya untuk memberi kabar.
Luka-luka yang sejak semalam ada di tubuh pria itu, kini mulai mengering. Ia merasa masih kebingungan dengan apa yang sedang terjadi, dalam hidupnya.
"Oh, ya ampun, aku akan gila jika seperti ini terus menerus!" umpat Russel.
WHOOAARRR!!! WHOOAARRR!!! WHOOAARRR!!!
Suara kepakan sayap terdengar dengan jelas di telinga Russel. Ia keluar dari dalam sarang dan melihat kedatangan Naga raksasa yang tak lain adalah Aura. Naga tersebut mendarat dengan mulus tepat di depan sarang.
ZLEEEBBB!!!
Naga itu kembali berubah wujud menjadi manusia dalam sekejap, setelah mendarat. Aura tersenyum dengan pesona kecantikannya yang mematikan ke arah Russel. Membuat pria itu tak henti-henti memandang ke arahnya, hingga Aura benar-benar berdiri tepat di hadapannya.
"Apakah Aurel sudah menghubungimu, Russ?" tanya Aura, santai.
Russel menggelengkan kepalanya.
"Belum. Dia sama sekali tak menghubungiku sampai saat ini," jawab Russel, sambil berusaha berjalan bersama Aura dengan langkahnya yang masih terseok-seok.
Aura segera meraih tubuh pria itu, dan memapahnya ke dalam sarang kembali. Dibawanya Russel ke tempat tidur, dan diselimutinya agar tidak kedinginan. Ia pun akhirnya duduk sebentar di pinggiran tempat tidur, sambil memeriksa luka-luka yang sudah diobatinya semalam.
"Kau bosan dengan keadaan, di sarangku?" tanya Aura, menerka-nerka.
"Aku tidak bosan dengan keadaan di sarangmu, ini. Aku hanya bosan saat kau meninggalkanku sendirian di sini. Tidak ada yang mengajakku ngobrol, tidak ada orang yang bisa kulihat, tidak ada yang memperhatikanku. Oh, keadaan tadi sangat membunuh karakterku," jawab Russel, penuh keluhan.
Aura pun tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya, usai mendengar keluhan yang keluar dari bibir Russel saat itu. Russel memang hobi mengeluh, tapi dia belum pernah mengeluh pada Aurel selama ini, saat Aura menggatikan posisi saudari kembarnya tersebut.
"Aku 'kan hanya keluar sebentar, saja. Kenapa kau harus merasa begitu kesepian?" Aura menunjukkan raut wajah kebingungannya.
"Oh, percayalah Aura, berada di suatu tempat sendirian itu rasanya tidak enak sama sekali," tegas Russel.
Aura pun kembali berdiri, sambil memeriksa ulang selimut yang menutupi tubuh Russel.
"Ya sudah, sekarang istirahatlah. Semua akan terkendali. Percayakan saja semuanya pada, Aurel," saran Aura.
Wanita itu kemudian berjalan menuju dapur di dalam sarangnya. Russel membalik posisinya menjadi menyamping, hingga ia bisa melihat Aura yang berada di dapur.
"Seingatku, Keluarga Xavier tak pernah menyebutkan kalau Aurel memiliki saudari kembar, terutama saudari kembar yang bisa berubah menjadi, Naga," ujar Russel.
Aura tersenyum mendengar penuturan itu, namun ia memilih untuk tak menoleh ke belakang. Ia tetap fokus mengolah tanaman obat yang akan dibalurkannya di tubuh Russel, nanti malam.
"Tentu saja mereka tak pernah menyebutkannya. Aku adalah aib bagi Keluarga Xavier. Jika saja mereka tahu kalau akan lahir anak kembar yang salah satunya adalah seekor Naga, maka aku dan Aurel sudah digugurkan sejak awal kehamilan. Aku terlahir dengan wujud Naga dan Aurel terlahir dengan wujud manusia. Hanya saja ketika mereka membuangku di hutan ini, mereka tak tahu kalau aku bisa berubah menjadi manusia," jelas Aura.
"Lalu, bagaimana Aurel bisa tahu tentangmu jika kau dibuang setelah, dilahirkan? Lalu, apakah saudara dan saudarimu yang lain tahu, tentangmu?" Russel begitu penasaran.
"Tentu saja tidak Russ. Rahasia tetaplah rahasia, bahkan kau pun tidak boleh membocorkannya!" tegas Aura.
"Jadi, hanya Aurel saja yang tahu tentangmu?"
"Aurel dan Jessica. Mereka berdua tahu tentangku, sekarang ditambah oleh dirimu."
"Jessi??? Jessi tahu tentangmu selama, ini???" Russel terlihat sangat tak percaya.
"Ya! Aurel bilang padaku kalau Jessica adalah satu-satunya wanita yang paling bisa dipercaya dalam hidupnya. Jadi, aku pun mempercayakan rahasia tentang hidupku padanya," ujar Aura.
Russel mencebik.
"Jadi menurutmu, aku tak bisa dipercayakan rahasia oleh Aurel?" protes Russel.
"Aku tak bilang begitu, Russ" sanggah Aura, "mungkin Aurel berpikir kalau pada sesama wanita, maka aku akan jauh lebih mudah berbaur tanpa merasa sungkan."
Russel mengangguk-anggukan kepalanya, mencoba mengerti jalan pikiran wanita yang sebenarnya sangat rumit. Aura mulai menyiapkan obat yang sudah diraciknya, untuk segera dibalurkan pada luka-luka di tubuh Russel. Karena sebentar lagi, malam akan menjelang.
"Lalu, bagaimana Aurel tahu tentangmu, jika kau hidup di hutan ini sejak baru, dilahirkan?"
"Aku menemuinya saat usia kami menginjak lima tahun. Dia sedang duduk sendiri di dekat danau belakang rumah keluarga kami, saat mereka tengah menyelenggarakan pesta ulang tahunnya. Aurel tak suka keramaian, jadi dia menyendiri di sana. Aku pun mendekat, menunjukkan diri padanya dalam wujud Nagaku. Dia tidak ketakutan dan justru mendekat untuk memeluk diriku. Dia bilang padaku kalau dirinya sudah lama menunggu kedatanganku. Ya, ternyata batinnya dan batinku terkait satu sama lain," Aura mengenang hari terindah dalam hidupnya bersama Aurel.
Russel mendekat dan merangkul Aura dengan lembut.
"Ya, dia tentu sangat menyayangimu. Bahkan aku pun yang bukan Adik kandungnya, begitu ia sayangi seperti Adiknya sendiri," ujar Russel.
Aura tersenyum.
"Jiwanya memang berbeda dari yang lain. Aku pernah berganti posisi dengannya beberapa kali jika dia sedang tak enak badan, tapi tetap harus menghadiri sekolah. Aku mengenalmu dan yang lainnya pada saat pertukaran itu, dan jujur saja, aku menikmati posisi manusianya."
Kedua mata Russel pun membola tiba-tiba.
"Oh, ya? Kapankah, itu?" Russel mengerenyitkan keningnya, seakan tengah mengingat-ingat semua kenanganya.
"Disaat kau dan Shania putus, salah satunya," jawab Aura, santai.
"Apa???"
"Ya, dan bahkan saat kau sedang bertengkar hebat dengan Kenzie. Saat itu akulah yang ada di tengah-tengah kalian, bukan Aurel," tambah Aura.
"Ah, kau dan Aurel memang sangat keterlaluan!" umpat Russel terang-terangan.
Aura terkekeh pelan.
"Keterlaluan kenapa? Apakah karena tak memberitahumu bahwa kami sedang bertukar posisi?" tanyanya, santai.
* * *