Chapter 3

1204 Words
"Lingga." "Hm?" "Kamu masih punya hati gak sih?" "Enggak." Aku menghela nafas pasrah, seorang perempuan di perlakukan dengan tidak bermartabat, bagaimana bisa Lingga tega membiarkan istrinya tidur dilantai yang hanya dilapisi oleh tikar sedangkan cowok itu tidur dengan nyaman diatas tempat tidur yang empuk. Sudahlah, lebih baik aku segera tidur karena besok harus pergi ke sekolah. ____ Pov Lingga Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam tapi mataku masih tetap terjaga belum ingin di pejamkan untuk segera menuju kealam mimpi. Hari ini statusku telah berubah karena Dewi, gadis itu sudah resmi menjadi istriku disaat kita masih sma. Aku melihat Dewi yang tertidur pulas dengan hanya beralaskan tikar, melihat itu sebenarnya aku tidak tega, dia adalah putri kesayangan om Wardana tapi aku memperlakukan nya seperti ini. "Dew." panggilku. "Dewi kamu udah tidur?" Masih juga tak ada jawaban, aku memutuskan untuk turun dari tempat tidur mendekati Dewi menggerakkan lengan cewek itu. "Tidurnya udah kayak orang pingsan." aku menggeleng pelan lalu menyingkap selimut yang Dewi pakai lalu membopong cewek itu ke tempat tidur dan menyelimutinya. "Kamu gak pernah dikasih makan ya sampai badan kamu tuh ringan banget." gumamku, jadi sekarang apa aku yang harus tidur di bawah?. Di sebelah Dewi sebenarnya masih ada tempat untukku tapi meskipun aku dan Dewi sudah menikah aku tidak bisa tidur satu ranjang bersama, aku belum terbiasa dan Dewi juga pasti merasa demikian. Pernikahan ini terlalu mendadak aku juga kaget mendengar papaku meminta hal seperti itu pada Dewi untuk menikah denganku. Saat ini meski kita sudah menikah kami masihlah siswa sma yang butuh satu setengah tahun lagi untuk lulus. Jadi sebelum aku dan Dewi lulus sma aku harus berpikir bagaimana caranya agar orang lain tidak tau jika aku dan Dewi telah menikah. Selagi Dewi dan Aku tetap bungkam pasti tidak ada yang akan tau. Ke esokan harinya aku terbangun lebih dulu membangunkan Dewi untuk sholat subuh. "Dewi bangun, sholat yuk." "Lima menit lagi." racau Dewi. "Hei bangun." aku menguncang lengan cewek itu tapi sepertinya Dewi adalah tipe orang yang sulit untuk dibangunkan. Aku mengangkat Dewi masuk kamar mandi dengan mudah karena tubuhnya yang ringan lalu membasahi wajahnya dengan air dingin sampai cewek itu akhirnya bangun juga. "Lingga!" seru Dewi. "Bangun udah subuh waktunya sholat, kamu bersihin dulu tuh beleknya jangan lupa wudhu kita sholat bareng, aku mau wudhu di luar kamu bisa pakai kamar mandi ini." Setelah itu aku keluar untuk mengambil wudhu dan menghampiri Dewi lagi, jangan sampai cewek itu ketiduran di dalam kamar mandi, tapi untungnya tidak karena ketika aku kembali sudah ada dua sajjadah yang di rapikan oleh Dewi bahkan cewek itu juga sudah memakai mukenah. Aku tersenyum, setidaknya meskipun kita sering berkelahi tapi kita bisa kompak untuk beribadah. Aku juga suka melihat mukenah putih bersih yang dipakai Dewi, wajah cewek itu terlihat berseri ketika memakainya. "Sholat sunnah dulu ya." kataku, Dewi mengangguk. Saat hari sudah semakin pagi, baik aku atau Dewi sudah siap memakai seragam. "Buatin sarapan gih." ucapku. Dewi langsung di menoleh. "Buat aja sendiri." katanya. "Hei hei istri macam apa yang gak mau nyiapin makanan untuk suaminya." "Kamu tuh kalau lapar masak aja sendiri aku mau berangkat sekolah." "Buatin sarapan dulu." ucapku. "Gak mau." "Buatin gak?" "Enggak!" jawab Dewi berani. "Buatin sarapan." "Gak mau." keukuhnya. Terpaksa aku menyuruh Dewi ke dapur untuk memasak, terserah apa yang dimasak yang jelas bisa dimakan. "Lingga kamu kok maksa sih." "Kamu kan istri aku bukannya tugas istri buat melayani suami?" ucapku. Dewi bergidik geli. "Muka kamu jelek banget sih, iya iya aku buatin tapi kalau liat hasilnya jangan nangis ya." lalu cewek itu akhirnya mau membuatkan sarapan. Aku menunggu sekitar lima belas menit, Dewi menyuguhkan roti bakar yang gosong lalu sebuah telur mata sapi yang tidak berbentuk. Glek... "Kamu mau ngeracunin aku ya?" "Kan udah aku bilang aku gak mau buat masakan karena emang aku gak pernah masak, tapi kamunya ngeyel buat sarapan yaudah itu makan." Aku menepuk keningku sendiri, begini amat sih punya istri yang gak bisa apa-apa, bakar roti aja sampai hangus begini. "Oke oke, udah ini biarin aja mending cari sarapan di kantin sekolah daripada keracunan sama masakanmu." aku berdiri berjalan menuju garasi. Dewi menarik tanganku membuatku berbalik lagi. "Ada apa?" ucapku ketus. Dewi mengulurkan tangan sambil tersenyum mencurigakan, "Minta uang dong." katanya. What? "Sekarang kamu kan suami aku jadi mulai sekarang juga kamu yang nafkahin aku makannya aku minta uang jajan sama kamu." Cobaan apa lagi ini, aku bahkan juga masih sma belum kerja tapi udah di palak sama istri yang sekolahnya sekelas. Sepertinya aku harus segera mencari pekerjaan karena tidak mungkin aku minta mama buat menghidupi si curut satu ini juga. Ternyata nikah muda itu gak gampang, tanggungan nya banyak!. "Untuk saat ini aku belum bisa kasih banyak, tapi nanti kalau aku udah kerja dan dapat penghasilan sendiri aku tambahin." ucapku sambil mengeluarkan uang biru dua lembar. "Terima kasih suamiku." jawab Dewi. "Kalau ada maunya aja baik-baik." gumamku. "Ayo berangkat." Dewi berjalan antusias mendahuluiku sebelum kami berangkat sekolah bareng. Kami bukan sekali dua kali berangkat dan pulang sekolah bareng meskipun hampir tiap hari kita terus berantem, itu karena orang tuaku dan orang tua Dewi berteman baik. Jadi kemungkinan besar tidak ada yang curiga jika hari ini status kami bukan lagi hanya sekedar teman sekolah. "Nih helmnya." Dewi menyodorkan helm kearahku setelahnya cewek itu langsung berjalan meninggalkanku tanpa mengucapkan kata terima masih. Dasar. Sekarang aku merasa lapar karena tidak sempat sarapan, lagian siapa juga yang bisa makan masakan buatan Dewi jika hasilnya kayak tadi, lain kali aku harus minta dia buat belajar masak. "Lingga!" "Hei bro!" "Bagaimana keadaan bapakmu?" "Doain ya supaya cepat sembuh." "Amin! Aku doain paling kenceng." jawab Nuga teman baikku. Bahkan teman baikku juga tidak tau jika aku sudah ... ah sudahlah akan lebih baik kalau cuman sedikit orang yang tau lagian saat lulus sma juga akan mengadakan resepsi kan jadi lebih baik Nuga tau bahwa aku menikah setelah hari itu tiba, aku juga tidak ingin sahabatku ini kena serangan jantung jika aku mengatakannya sekarang. "Udah sarapan belum kalau belum kesana bareng yuk." ajak nya. "Oke." Aku dan Nuga menuju kantin di sana aku melihat Dewi sudah tenang menyantap makanan, cih istri macam apa itu, aku bahkan tidak pernah berharap cewek rakus itu jadi istriku secepat ini, tapi sekarang malah jadi kayak gini. Sekilas Dewi menoleh kearahku mengejek sambil menjulurkan lidahnya. Awas aja ya kamu. "Lingga mau pesen apa?" "Aku mau gado-gado aja." Setelah menunggu makanan di buat, aku dan Nuga duduk di bangku yang sama tempat Dewi dan temannya duduk. Cewek itu langsung melirik kearahku sinis. "Pagi-pagi kalian jangan bikin suasana jadi angker dong bikin nafsu makanku hilang tau." gerutu Rika. Aku mengedikan bahu lalu tanpa permisi aku menusuk salah satu bakso di mangkuk Dewi sontak saja aku langsung dapat pelototan dari matanya. "Dasar Lingga hobi banget sih gangguin Dewi." Nuga terkekeh geli. "Jagain tuh mas temennya biar gak asal comot punya orang." ujar Dewi pada Nuga. Aku menoleh kearah Nuga, "Sampai elu belain dia gue coret namamu dari daftar pertemanan." ancamku. Nuga menunjukku dengan sendok sambil melihat Dewi. "Tuh denger kan apa jawabannya, jadi dari pada kehilangan temen, aku diam aja." lalu Nuga kembali tertawa geli. Dewi memanyunkan bibir sambil komat kamit tidak jelas, lucu sih, makannya dari dulu aku suka ngusilin dia karena tiap kali kesal modelnya pasti kayak gitu. _______ Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD