Elarys menarik napas panjang, menegakkan punggungnya sedikit lebih lurus. Malam itu, aula pertemuan dipenuhi wajah-wajah tegang para kepala organisasi, tatapan mereka menusuk, menunggu jawaban dari gadis yang berdiri di tengah ruangan. “Jadi,” ucap salah satu kepala organisasi, suara beratnya bergema di seluruh aula, “kau menyadari posisi keluargamu dalam kekacauan yang terjadi, bukan?” Elarys menatap mata pria itu tanpa ragu. “Ya,” jawabnya tegas. “Aku tahu Daddy dan kakak-kakakku selalu dicap sebagai dalang keributan.” Bisik-bisik terdengar di antara kepala organisasi. Beberapa tersenyum tipis, yang lain tampak penasaran. “Dan apa pendapatmu tentang itu, Elarys?” tanya kepala organisasi lain, nada suaranya bercampur antara mengejek dan ingin menguji. Elarys menelan ludah, lalu menat

