bc

Dua Kakak Mafia yang Posesif

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
dark
mafia
addiction
like
intro-logo
Blurb

Elarys Valenor tumbuh di tengah kemewahan dan kekuasaan keluarga mafia paling disegani. Hidupnya serba tercukupi, dijaga ketat, dan nyaris sempurna—jika kebebasan bukan hal yang ia dambakan. Sebagai anak bungsu dan satu-satunya perempuan di keluarga Valenor, Elarys menjadi pusat perhatian dan perlindungan berlebihan dari kedua kakaknya. Caelum Valenor, sang kakak pertama, memimpin dengan logika dingin dan kontrol mutlak. Baginya, dunia adalah papan catur berbahaya, dan Elarys adalah bidak paling berharga yang tak boleh disentuh siapa pun. Setiap langkah Elarys telah diatur, setiap keputusan diawasi, tanpa ruang untuk membantah. Berbeda dengan Ezra Valenor melindungi dengan cara yang brutal. Amarahnya mudah meledak, kecemburuannya tak mengenal batas. Siapa pun yang berani mendekati Elarys akan berhadapan langsung dengan sisi tergelap Ezra tanpa ampun. Di balik perlindungan yang menyerupai penjara emas, Elarys mulai mempertanyakan arti cinta dan keluarga. Ketika ancaman dari dunia mafia semakin nyata dan rahasia kelam keluarga Valenor perlahan terungkap, Elarys dihadapkan pada pilihan yang tak mudah: tetap tunduk pada kendali kedua kakaknya, atau mempertaruhkan segalanya demi kebebasan dan jati dirinya sendiri. Sebuah kisah tentang cinta keluarga yang berubah menjadi obsesi, bahaya dunia mafia, dan perjuangan seorang gadis untuk menemukan suara serta takdirnya di tengah dua kakak yang terlalu posesif untuk melepaskannya.

chap-preview
Free preview
Bab 1-Ketahuan
Langkah kaki Elarys terhenti tepat di depan gerbang besi tinggi mansion Valenor. Jam di ponselnya menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Terlalu malam. Dadanya berdegup tidak nyaman, bukan karena dinginnya angin malam, melainkan firasat buruk yang merayap pelan. “Tenang… mereka pasti masih sibuk,” gumamnya pelan, lebih untuk meyakinkan diri sendiri. Dengan hati-hati, Elarys menyelinap masuk. Sepatunya ia lepas, digenggam di tangan, langkahnya nyaris tanpa suara saat menyusuri lorong panjang menuju ruang tengah. Lampu-lampu mansion sengaja ia biarkan mati, berharap kegelapan bisa menyembunyikannya. Namun harapannya runtuh seketika. Klik. Lampu ruang tengah menyala terang. Elarys refleks menutup mata. Detik berikutnya, suara langkah kaki terdengar pelan, terukur, dan menakutkan. Dari balik bayangan, sosok tinggi dengan setelan hitam rapi muncul. Wajahnya dingin, tatapannya tajam seperti pisau. “Jam berapa sekarang, Elarys?” Suara Caelum Valenor terdengar tenang. Terlalu tenang. Elarys menelan ludah. “A-aku, hanya keluar sebentar,” jawabnya ragu, jari-jarinya mencengkeram sepatu lebih erat. Caelum melirik ponsel di tangannya, lalu mengangkat pandangan. “Sebentar?” Ia mendekat selangkah. “Kau pergi tanpa pengawal. Tanpa izin. Dan pulang hampir tengah malam.” Belum sempat Elarys menjawab, suara tawa rendah terdengar dari arah tangga. “Sebentar katanya,” Ezra Valenor muncul dengan ekspresi berbahaya, kedua tangannya masuk ke saku celana. Matanya menelusuri Elarys dari kepala hingga kaki, berhenti terlalu lama pada wajahnya. “Kau tahu berapa orang yang kucabut nyawanya hanya karena mencoba mencari tahu keberadaanmu malam ini?” “Ezra!” Elarys spontan berseru. “Aku baik-baik saja! Tidak terjadi apa-apa!" Ezra berhenti tepat di hadapannya. Senyumnya tipis, namun matanya gelap. “Belum terjadi,” koreksinya pelan. “Dan aku tidak suka mengambil risiko.” Caelum menghela napas pelan, lalu berkata dingin, “Siapa yang kau temui?” Elarys terdiam. Kepalanya tertunduk. Keheningan yang tercipta terasa mencekik. “Aku bertanya,” ulang Caelum, nadanya turun setengah oktaf tanda bahaya. “Teman,” jawab Elarys akhirnya. “Aku hanya ingin hidup normal. Sekali saja.” Kata-kata itu membuat Ezra tertawa kecil, namun tidak ada humor di sana. “Normal?” Ia mendekat lebih jauh, suaranya rendah. “Nama belakangmu Valenor. Kau tidak akan pernah normal.” Caelum menatap Elarys lama, seolah sedang menilai sesuatu. “Mulai malam ini,” ucapnya tegas, “jam malammu dicabut. Pengawal akan selalu bersamamu. Dan kau tidak akan keluar tanpa izinku.” “Apa?!” Elarys mendongak, matanya berkaca-kaca. “Kalian tidak bisa terus melakukan ini!” Ezra mencondongkan tubuh, suaranya berbisik di telinga Elarys, dingin dan posesif. “Kami bisa. Dan kami akan.” Elarys menggenggam tangannya sendiri, menyadari satu hal yang menyesakkan: Ia tidak ketahuan karena ceroboh.Ia ketahuan karena sejak awal ia tidak pernah benar-benar bebas. Dan malam itu, Elarys tahumelawan kedua kakaknya bukan sekadar soal keberanian, tapi tentang bertahan hidup. Teriakan Elarys menggema di seluruh mansion, suaranya bergetar antara takut dan putus asa. “Daddy, Mommy!” Langkahnya mundur beberapa kali, menjauh dari kedua kakaknya yang kini berdiri di hadapannya seperti dua bayangan gelap. Napas Elarys memburu, matanya berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya malam itu, rasa takut benar-benar menguasainya. Tidak lama kemudian, suara langkah kaki tergesa terdengar dari arah lorong atas. Pintu kamar utama terbuka, dan sepasang suami istri muncul. Alaric Valenor turun dengan langkah tenang namun penuh wibawa, sementara Elenora menyusul di belakangnya dengan wajah cemas. “Ada apa ini?” tanya Alaric, sorot matanya menyapu ruangan sebelum berhenti pada Elarys yang tampak gemetar. “Daddy” Elarys berlari kecil menghampiri ayahnya, mencengkeram lengan jas Alaric. “Mereka… mereka mengurung aku lagi. Aku hanya keluar sebentar, aku tidak melakukan hal buruk.” Elenora langsung mendekat, memeluk Elarys erat. “Sayang, tenang dulu,” bisiknya lembut sambil mengusap rambut putrinya. Tatapannya lalu beralih tajam ke Caelum dan Ezra. “Apa yang kalian lakukan pada adik kalian sampai dia ketakutan seperti ini?" Caelum menegakkan tubuhnya. “Kami hanya memastikan dia aman.” “Aman dengan cara menakutinya?” suara Elenora meninggi, jarang sekali terdengar setegas itu Ezra mengalihkan pandangan, rahangnya mengeras. “Dia pulang hampir tengah malam tanpa pengawal.” Alaric terdiam sejenak, lalu berkata berat, “Elarys, lain kali beri kabar.” “Daddy…” Elarys menggeleng pelan. “Aku sudah mencoba. Tapi mereka tidak pernah memberi aku kesempatan.” Keheningan kembali jatuh. Ketegangan menggantung di udara, lebih tajam dari sebelumnya. Dan di antara empat orang itu, satu hal menjadi jelas malam ini bukan sekadar soal Elarys keluar tanpa izin, melainkan tentang batas yang mulai dilanggar. Elenora menghela napas panjang, lalu melepaskan pelukannya perlahan. Ia menatap Caelum dan Ezra bergantian, sorot matanya penuh peringatan. “Kalian berdua sudah terlalu berlebihan,” ucap Elenora tegas. “Elarys bukan tahanan.” Ezra mendecih pelan. “Mommy tidak tahu apa yang terjadi di luar sana.” “Dan kau pikir mengekangnya akan membuat dunia jadi lebih aman?” balas Elenora tanpa ragu. Caelum akhirnya angkat bicara. “Mommy, ini bukan soal mengekang. Ini soal bertahan hidup.” Tatapannya mengarah pada Elarys. “Nama Valenor kembali dibicarakan. Musuh lama mulai bergerak.” Elarys menelan ludah. “Jadi… aku benar-benar dalam bahaya?” “Sejak kau lahir,” jawab Ezra dingin. Alaric melangkah maju, suaranya rendah namun penuh otoritas. “Cukup.” Satu kata itu langsung membuat ruangan jatuh dalam keheningan. Ia menatap Elarys dalam-dalam. “Daddy tidak membenarkan caramu keluar tanpa izin, Sayang. Tapi Daddy juga tidak setuju dengan cara kakak-kakakmu.” Elarys mengepalkan jemarinya. “Kalau begitu ajari aku, Daddy. Jangan kurung aku. Aku lelah selalu dijaga tanpa pernah dipercaya.” Ucapan itu membuat Caelum terdiam. Untuk sesaat, raut dinginnya melembut nyaris tak terlihat. Alaric menarik napas panjang. “Baik. Mulai besok, Elarys akan ikut latihan dasar.” Ezra spontan menoleh tajam. “Daddy, itu terlalu berbahaya.” “Tidak,” jawab Alaric tenang namun tegas. “Yang berbahaya adalah membiarkannya buta. Elarys mengangkat wajahnya, jantungnya berdegup kencang. Keputusan itu telah diambil. Dan Elarys tahu, hidupnya tak akan pernah sama setelah malam ini. Keheningan menyelimuti ruang tengah mansion Valenor. Tidak ada yang bergerak, seolah setiap orang sedang mencerna keputusan Daddy yang baru saja diucapkan. Lampu kristal di langit-langit memantulkan cahaya dingin, mempertegas jarak tak kasat mata di antara mereka. Elarys masih berdiri di tempatnya, jantungnya berdegup tak beraturan. Ia menatap Daddy, lalu Mommy, kemudian kedua kakaknya. Untuk pertama kalinya, ia merasa bukan sekadar adik yang harus dijaga melainkan seseorang yang mulai diperhitungkan. “Pergilah istirahat,” ucap Elenora lembut, meski nada khawatir tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan. “Besok akan menjadi hari yang panjang.” Elarys mengangguk pelan. “Baik, Mommy.” Ia berbalik, melangkah menaiki tangga dengan langkah perlahan. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti sejenak. Tanpa menoleh, Elarys berkata lirih, “Terima kasih, Daddy.” Alaric tidak menjawab. Tapi sorot matanya mengikutinya hingga sosok Elarys menghilang di balik lorong lantai atas. Begitu langkah Elarys tak lagi terdengar, Ezra langsung menoleh pada Caelum. “Kau serius membiarkannya ikut latihan?” bisiknya tajam. Caelum mengepalkan rahangnya. “Itu keputusan Daddy.” “Dan kalau sesuatu terjadi padanya—” “Tidak akan,” potong Caelum dingin. “Karena kita yang akan memastikan itu.” Elenora menatap kedua putranya dengan tatapan campur aduk. “Jangan lupa,” ucapnya pelan namun menusuk, “dia adik kalian. Bukan alat, bukan perisai.” Ezra terdiam. Caelum memalingkan wajahnya. Malam itu, di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Elarys bersandar lemah. Air matanya akhirnya jatuh, bukan karena takut melainkan karena campuran harapan dan ketidakpastian.Ia tahu, hari ini ia memang ketahuan.Namun sejak malam itu, hidupnya baru saja dimulai.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.0K
bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.9K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook