Pagi itu, mansion Valenor terasa berbeda. Tidak ada suara santai, tidak ada suasana lengang seperti biasanya. Udara seolah menegang, menandakan bahwa hari ini bukan hari biasa.
Elarys berdiri di depan cermin kamarnya, mengenakan pakaian hitam sederhana yang telah disiapkan di atas ranjang.
Celana panjang, atasan lengan panjang, dan sepatu latihan. Rambutnya diikat rendah. Wajahnya tampak pucat, tapi sorot matanya menyimpan tekad.
“Aku bisa,” gumamnya pelan.
Ketukan singkat terdengar di pintu.
“Masuk,” ucap Elarys.
Caelum berdiri di ambang pintu. Tidak ada setelan jas mahal hari ini hanya pakaian latihan gelap yang membuat auranya semakin dingin. Tatapannya menilai Elarys tanpa ekspresi.
“Kau terlambat dua menit,” katanya datar.
Elarys menelan ludah. “Maaf—”
“Lapangan tidak mengenal kata maaf,” potong Caelum. “Ikut aku.”
Mereka turun ke area latihan bawah tanah.
Ruangan itu luas, dikelilingi dinding beton dingin dan lampu putih terang. Berbagai peralatan latihan tersusun rapi terlalu rapi untuk sebuah tempat yang sering dipenuhi kekerasan.
Ezra sudah berada di sana, bersandar santai di tiang besi. Senyum miring terbit saat matanya menangkap sosok Elarys.
“Kau masih punya waktu untuk kabur,” katanya ringan.
Elarys menggeleng. “Aku tidak akan mundur.”
Ezra terkekeh pelan. “Menarik.”
Tak jauh dari mereka, Alaric berdiri dengan sikap tenang namun berwibawa. Elenora berada di sampingnya, kedua tangannya saling menggenggam, jelas menyimpan kekhawatiran.
“Latihan ini bukan untuk mengubahmu,” ujar Alaric tegas. “Tapi agar kau tahu bagaimana bertahan.”
Elarys menatap ayahnya. “Aku mengerti, Daddy.”
Caelum melangkah ke tengah ruangan dan melemparkan sepasang sarung tangan latihan ke arah Elarys.
“Pertahanan diri. Dasar.”
Elarys menangkapnya gugup. “Dengan siapa?”
Ezra maju selangkah. “Dengan aku.”
“Ezra,” suara Elenora terdengar tegang. “Jangan keterlaluan.”
Ezra melirik singkat. “Tenang, Mommy. Aku tahu batas.”
Caelum menatap Ezra tajam. “Satu kesalahan, latihan dihentikan.”
Ezra mengangkat bahu. “Santai saja.”
Elarys mengenakan sarung tangan itu, berdiri berhadapan dengan Ezra. Jarak mereka hanya beberapa langkah, namun terasa seperti jurang.
“Siap?” tanya Ezra pelan.
Elarys mengangguk, meski jantungnya berdegup keras.
Ezra tersenyum tipis. “Bagus.”
Dalam sekejap, tubuh Ezra bergerak cepat. Elarys nyaris tak sempat bereaksi ketika tangannya ditangkap dan tubuhnya diputar. Ia terhuyung dan jatuh berlutut di lantai dingin.
“Salah,” ucap Ezra datar. “Kau terlalu kaku.”
Elarys menggertakkan gigi, bangkit perlahan. Tangannya gemetar, tapi ia tidak mundur.
“Lagi,” katanya lirih.
Caelum mengamati dengan rahang mengeras. Setiap gerakan Ezra membuat dadanya terasa semakin sesak.
Ezra kembali menyerang. Kali ini Elarys mencoba menghindar namun tetap terjatuh. Nafasnya terengah, telapak tangannya perih menahan lantai.
“Cukup!” Elenora melangkah maju refleks.
Namun Elarys lebih dulu bangkit. “Belum, Mommy.”
Kata itu membuat semua orang terdiam.
Alaric menatap putrinya dengan sorot tajam bercampur bangga.
Dan Caelum menyadari satu hal yang membuat dadanya menegang. Latihan ini bukan hanya menguji Elarys.
Tapi juga menguji batas kesabaran dan posesif mereka sebagai kakak.
Ezra kembali bergerak, kali ini lebih cepat—terlalu cepat. Serangannya datang bertubi-tubi, membuat Elarys nyaris tak sempat bernapas. Tangannya terjebak dalam cengkeraman Ezra, tubuhnya terhuyung keras hingga punggungnya membentur lantai dengan suara berat.
“Elarys!” suara Elenora menegang.
Ezra berdiri di atasnya, napasnya memburu, sorot matanya menggelap. Tangannya mencengkeram pergelangan Elarys terlalu kuat, bukan lagi latihan—melainkan dorongan insting yang lepas kendali.
“Bangun,” desisnya. “Kau tidak boleh selemah ini.”
Elarys meringis, matanya berair menahan sakit. “Ezra… tunggu—”
“Cukup.”
Suara Caelum terdengar rendah, dingin, dan berbahaya.
Dalam sekejap, Caelum sudah berada di antara mereka. Tangannya mencengkeram lengan Ezra dan menariknya mundur dengan kasar hingga Ezra terhuyung beberapa langkah.
“Lepaskan dia,” perintah Caelum tanpa meninggikan suara.
Ezra menoleh tajam. “Dia harus belajar—”
“Dia adikku,” potong Caelum, rahangnya mengeras. “Dan kau hampir melupakannya.”
Keheningan jatuh berat.
Elarys terduduk di lantai, napasnya terengah. Caelum berlutut di hadapannya, untuk pertama kalinya ia melihat wajah kakak pertamanya dari jarak sedekat itu dingin, tapi jelas dipenuhi amarah yang ditahan.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya pelan, nyaris berbisik.
Elarys mengangguk kecil meski tangannya gemetar. “Aku… masih bisa.”
Caelum berdiri perlahan, lalu menatap Ezra dengan sorot tajam yang tak pernah Elarys lihat sebelumnya.
“Satu langkah lagi melewati batas,” ucapnya dingin, “dan aku yang akan berurusan denganmu.”
Ezra mengepalkan tangannya, napasnya berat. Sesaat kemudian ia berpaling, menjauh beberapa langkah.
“…Maaf,” gumamnya lirih, entah untuk siapa.
Alaric yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. “Latihan dihentikan.”
Elenora segera menghampiri Elarys dan memeluknya erat. “Cukup untuk hari ini, Sayang.”
Namun di mata Caelum, satu hal sudah jelas melindungi Elarys dari musuh luar mungkin mudah. Yang lebih sulit adalah melindunginya dari Ezra, dan dari diri mereka sendiri.
Elenora membantu Elarys berdiri perlahan, namun begitu Elarys sedikit memutar tubuhnya, wajahnya langsung menegang. Ia meringis, tangannya refleks meraih punggungnya.
“Sakit?” tanya Elenora cemas.
Elarys mengangguk kecil. “Sedikit….”
Elenora menyingkap jaket tipis Elarys tanpa ragu. Begitu kain itu terangkat, warna keunguan yang mulai membiru terlihat jelas di punggung Elarys bekas benturan keras dengan lantai beton.
Udara di ruangan itu seketika membeku.
Caelum menatap memar itu tanpa berkedip. Rahangnya mengeras, otot di lehernya menegang jelas. Tatapannya perlahan terangkat, mengarah langsung pada Ezra dingin, tajam, dan penuh kemarahan yang nyaris tak terkendali.
“Kau melukainya,” ucap Caelum pelan.
Ezra menoleh cepat. “Aku tidak bermaksud—”
“Diam.” Suara Caelum turun satu oktaf, lebih berbahaya dari teriakan. Ia melangkah mendekat, membuat Ezra refleks menegakkan tubuhnya. “Aku sudah memperingatkanmu.”
Alaric maju selangkah. “Caelum.”
Namun Caelum tidak mengalihkan pandangan. “Ini latihan, bukan pelampiasan emosi,” lanjutnya dingin. “Dan kau gagal membedakannya.”
Ezra mengepalkan tangannya. Untuk pertama kalinya, ekspresinya tak lagi menantang melainkan terguncang.
“Aku kehilangan kendali,” akunya rendah.
Caelum menatap Elarys yang kini dipeluk Elenora.
“Dan itu tidak akan pernah terulang,” katanya tegas. “Jika perlu, aku sendiri yang akan melatihnya.”
Kata-kata itu membuat Ezra terdiam.
Elarys menatap punggung Caelum dari balik bahu Elenora. Untuk pertama kalinya, ia menyadari amarah Caelum bukan sekadar posesif. Itu adalah ketakutan yang selama ini ia pendam terlalu dalam.
Elarys menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskan diri perlahan dari pelukan Elenora. Meski punggungnya masih terasa nyeri, ia memaksakan diri berdiri tegak. Tatapannya beralih pada Caelum dan Ezra yang masih saling berhadapan dalam ketegangan.
“Aku baik-baik saja,” ucap Elarys pelan, namun jelas. “Sungguh.”
Caelum langsung menoleh padanya.
“Kau tidak perlu membela siapa pun,” katanya dingin, meski sorot matanya penuh kekhawatiran. “Kau terluka.”
Elarys menggeleng.
“Ini hanya memar. Aku tidak apa-apa.” Ia melirik Ezra sekilas, lalu kembali menatap Caelum. “Aku yang meminta latihan ini. Aku yang ingin tahu rasanya.”
Ezra menghembuskan napas berat, kepalanya sedikit tertunduk.
“Aku seharusnya lebih berhati-hati,” katanya lirih.
Elarys melangkah mendekat satu langkah.
“Aku tahu kau tidak bermaksud menyakitiku, Ezra.” Suaranya melembut. “Dan aku juga tahu kau melindungiku dengan caramu sendiri.”
Caelum terdiam. Amarah di wajahnya tidak sepenuhnya mereda, namun ketegangannya sedikit mengendur.
“Jangan ulangi hal seperti ini,” ucapnya akhirnya, nadanya lebih rendah. “Aku tidak akan menoleransinya.”
Elarys mengangguk. “Aku janji akan lebih hati-hati. Tapi tolong, jangan saling menyalahkan.”
Keheningan kembali menyelimuti ruangan, kali ini tidak setajam sebelumnya.
Dan di tengah rasa sakit yang masih tersisa, Elarys menyadari menenangkan dua kakak mafia yang posesif ternyata lebih melelahkan daripada latihan apa pun.
Latihan benar-benar dihentikan. Ruangan bawah tanah yang tadi dipenuhi suara langkah dan benturan kini kembali sunyi, menyisakan ketegangan yang belum sepenuhnya menghilang.
Elenora membawa Elarys keluar dari area latihan menuju ruang medis pribadi keluarga.
Duduk di tepi ranjang, Elarys meringis saat salep dingin dioleskan ke punggungnya. Rasa perih membuatnya menghela napas pelan, namun ia menahannya tanpa keluhan.
“Mommy tidak suka melihatmu terluka,” ucap Elenora lembut, meski nada suaranya bergetar.
Elarys tersenyum kecil. “Aku masih hidup, Mommy.”
Di ambang pintu, Caelum berdiri dengan tangan terlipat di d**a. Matanya tak lepas dari punggung Elarys yang memar. Setiap warna kebiruan itu terasa seperti pukulan langsung ke dadanya.
Ezra berdiri beberapa langkah di belakangnya, kepalanya tertunduk.
“Aku tidak akan mengulanginya,” katanya pelan. “Aku bersumpah.”
Caelum tidak langsung menjawab. Setelah beberapa detik yang terasa panjang, ia berkata dingin,
“Pastikan sumpah itu berarti.”
Alaric masuk ke ruangan, langkahnya tenang namun penuh tekanan.
“Latihan akan tetap berlanjut,” ujarnya tegas. “Tapi dengan aturan baru.”
Caelum menoleh. “Aku yang melatihnya.”
Ezra mengangkat kepala, ingin membantah, namun Alaric lebih dulu berkata, “Setuju.”
Keputusan itu membuat Ezra terdiam, sementara Elarys mendongak dengan mata melebar. “Daddy—”
“Kau ingin belajar,” potong Alaric datar namun pasti. “Dan kau akan belajar dengan aman.”
Malam itu, saat Elarys kembali ke kamarnya, tubuhnya masih terasa nyeri. Ia berbaring perlahan, menatap langit-langit kamar dengan pikiran penuh campur aduk.
Ia tahu, latihan hari ini hanyalah permulaan.
Bukan hanya tentang tubuh yang harus menguat…
melainkan tentang hubungan mereka yang akan terus diuji oleh rasa takut, amarah, dan cinta yang terlalu besar.
Dan di balik pintu kamar yang tertutup, dua kakak mafia berdiri dalam diam menyadari bahwa melindungi Elarys mungkin akan menghancurkan mereka jika tidak belajar melepaskan sedikit kendali.