“Lagi-lagi mimpi itu” gumam Caelum pelan saat matanya terbuka. Napasnya masih tersengal. Keringat dingin membasahi pelipisnya, sementara dadanya terasa sesak, seolah bayangan dalam tidurnya masih belum sepenuhnya pergi. Caelum duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya dengan kasar. “Kenapa selalu kamu, Ra” bisiknya lirih. Dalam mimpinya, wajah Rara kembali hadir dengan jelas tatapan sendu, suara yang bergetar, dan kata-kata yang sampai sekarang masih menghantuinya. — “Aku capek, Cael,” ucap Rara kala itu, berdiri beberapa langkah darinya. Caelum menatapnya bingung. “Capek kenapa? Kalau aku ada salah, bilang. Kita bisa bicarakan.” Rara menggeleng pelan. Matanya berkaca-kaca. “Bukan soal salah atau benar.” “Lalu apa?” tanya Caelum, nadanya mulai meninggi. “Kamu tiba-tiba menjauh,

