Pertarungan dimulai. Lorong bawah tanah bergema oleh suara tembakan yang bertubi-tubi, peluru berdesing memantul dinding beton yang dingin. Kekacauan pecah di setiap sudut, sementara teriakan dan perintah saling bersahutan di tengah kepulan asap mesiu. Pria itu mengumpat kasar. Amarahnya memuncak saat menyadari markasnya telah ditemukan oleh Alaric. Wajahnya mengeras, rahangnya menegang, matanya menyala oleh rasa kesal dan kebencian yang mendalam. Suara langkah kaki berlari terdengar semakin dekat, menghantam lantai dengan ritme tergesa. Tanpa menoleh lagi, pria itu memilih mundur. Ia berbalik dan berlari meninggalkan ruangan, meninggalkan Rara yang kini memeluk Elarys yang tak sadarkan diri. Rara menangis pecah. Tangannya gemetar saat mendekap tubuh Elarys yang dingin dan berlumuran

