Ayah Egois!

1364 Words
Keenan segera duduk di kursi putar kebesaraannya. Menghembuskan napas kasar, ia benar-benar memikirkan nasib Sharlynn yang sudah diperlakukan semena-mena oleh sang ayah yang seharusnya melindunginya. “Anda ingin membicarakan sesuatu yang serius dengan saya?” Suara Richie yang baru saja masuk ke dalam ruangan kerja membuat lamunan Keenan terpecah. Ia menatap sosok pria tampan dengan tubuh tegap nan gagah di depannya. Sekilas ia berpikir sang keponakan perempuannya tak salah memilih suami pengganti, mengingat sepak terjang Richie yang sangat cekatan dalam melindungi keluarga Kaufman. “Sangat serius, duduklah!” kata Keenan sembari menunjuk kursi di depannya. Richie menurut, ia menarik kursi di depan sang tuan dan menghempaskan bokongnya dengan perasaan sedikit khawatir. “Apa yang ingin Anda perintahkan untuk saya?” tanya Richie dengan hati-hati. “Apakah ada misi ke luar kota yang harus saya lakukan hari ini juga?” Cecaran pertanyaan Richie merupakan pengalihan topik yang ingin ia alihkan. Namun, Keenan tak terpengaruh sama sekali. “Bukan itu yang ingin aku bicarkan,” jawab Keenan. “Ini tentang Sharlynn. Tanpa ingin memperpanjang pembahasan kita. Aku ingin kau menerima tawaran keponakan perempuanku.” Kepala Richie seketika berdenyut. Inilah yang ia takutkan, permintaan Keenan yang tak mungkin bisa ia terima begitu saja. “Tuan, ma’af sebelumnya. Tapi saya sudah memiliki-“ kalimat Richie terputus begitu saja. “Hanya pernikahan kontrak,” jawab Keenan. “Aku ingin kau lindungi dia saat merampas kembali apa yang seharusnya menjadi haknya. Jika Sharlynn sudah mendapatkan semua miliknya, kalian bisa menentukan jalan apa yang menentukan pernikahan kontrak kalian ke depannya.” “Ma’af, Tuan. Untuk kali ini saya tidak bisa menerima tawaran Anda. Pernikahan bukan hal yang main-main. Kami tak memiliki perasaan apapun. Sekali lagi saya minta ma’af,” tolak Richie dengan tegas. Keenan memijit kepalanya dengan lembut. Penolakan Richie seolah membuatnya putus asa. Hanya Richie yang bisa diandalkan, selain itu ia tak bisa mencari sosok pria lainnya yang tak ia percaya untuk disodorkan pada Sharlynn. “Hanya kau harapanku. Jika kau menolak, aku tak tahu pria mana yang aku sodorkan untuk keponakan perempuanku,” lirih Keenan. “Anda adalah orang yang memiliki pengaruh bisnis yang kuat. Saran saya, menawarkan nona Sharlynn untuk anak rekan bisnis Anda adalah ide yang tak salah,” usul Richie yang membuat Keenan mendongakkan kepala menatapnya. “Kau benar. Terima kasih usulnya, kau boleh pergi sekarang,” kata Keenan setengah mengusir Richie dari ruangannya. Richie bisa bernapas lega mendengar sang tuan begitu mudah menerima usulannya. Ia bangkit dari tempat duduknya dan segera meninggalkan ruangan itu. Keenan dengan berat hati mencarikan pasangan yang tepat diantara keluarga rekan bisnisnya. Meskipun ia tak yakin jika para lelaki itu merupakan yang terbaik untuk Sharlynn. *** Mansion keluarga Eisenhauer. Heinz, Odette dan Rolanda sudah duduk di kursinya masing-masing di ruang makan. Malam itu dua orang wanita licik itu tampak bahagia tak melihat keberadaan Sharlynn di meja makan. “Dimana Sharlynn? Apa yang terjadi padanya? Apa kau sudah memanggilnya untuk bergabung di ruang makan?” tanya Heinz pada kepala pelayan. “Saya sudah memanggil nona Sharlynn, tapi beliau mengatakan jika sedang malas dan ingin makan malamnya diantar ke kamar sa-“ kalimat kepala pelayan terpotong saat suara seseorang memanggil namanya. “Ma’af, aku berubah pikiran. Lebih menyenangkan jika bergabung makan malam di ruang makan,” kata Sharlynn sembari menarik salah satu kursi di dekat sang ayah disertai sunggingan senyum di wajahnya. Seperti pesan sang paman, ia tak boleh lemah dan harus tetap menunjukkan ekspresi tegarnya. “Aku percaya, anak perempuanku tak mungkin menolak permintaan ayahnya,” celetuk Heinz sang ayah. Tiba-tiba senyum licik tercetak di bibir Odette dan Rolanda. Entah apa yang sedang mereka rencanakan. “Oh Sharlynn, tiga hari lagi aku dan Julian akan segera melangsungkan pernikahan. Kau juga harus turut hadir di pernikahan kami.” Senyum Odette yang tampak palsu. Hati Sharlynn berjengkit hingga tak sengaja ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. “Tentu saja aku akan datang ke pernikahan kalian. Bukankah aku sudah katakan jika kalian berdua itu sangat cocok,” jawab Sharlynn dengan senyumnya yang terpaksa. “Tentu saja mereka berdua sangat cocok. Untuk itulah Julian memutuskan menikahi Odette,” timpal Rolanda dengan bangga. Sharlynn terus mencoba mengendalikan emosinya. Ia tak boleh kalah hanya masalah memperebutkan keberadaan Julian. “Iya, kau benar mereka berdua memang sangat cocok. Satu pengkhianat dan satu perampas. Sama-sama munafik dan baik di depan tapi jahat di belakang,” sindir Sharlynn yang membuat Odette dan Rolanda bungkam. “Sharlynn! Jaga mulutmu!” teriakan Heinz membuat anak perempuannya terkejut. “Daddy putuskan untuk menikahkanmu dengan Albert, anak laki-laki rekan bisnis daddy!” Sharlynn mengerutkan dahinya dan menggeleng kuat. Ia sangat mengenal siapa laki-laki yang disebutkan sang ayah. “Albert? Tidak! Aku tidak akan menikah dengan lelaki seperti dia!” tolak Sharlynn dengan keras. “Jangan membantah keputusan ayah!” tegas Heinz yang membuat Sharlynn semakin benci dengan sang ayah. Gadis itu mengatupkan bibirnya rapat, ingin rasanya melayangkan pukulan pada Heinz, tetapi ia ingat jika lelaki itu ayahnya. Sedangkan senyum kemenangan tampak tercetak jelas pada wajah ibu dan anak yang mempunyai sifat licik. “Malam ini kau akan pergi dengan Albert mempersiapkan semuanya. Pernikahan kalian berdua daddy gabung dengan pernikahan Julian dan Odette!” lanjut Heinz. Lidah Sharlynn keluh, ia tak bisa membantah sang ayah saat itu juga. “Daddy, kenapa acara pernikahan kami berdua dijadikan bersamaan. Aku hanya ingin acara pernikahanku benar-benar sakral!” protes Odette. Rolanda menyikut lengan anak perempuannya agar tak protes. Bagaimanapun pesta besar-besaran itu menggunakan uang milik keluarga Eisenhauer. Tak berapa lama, suara seorang lelaki memasuki ruang makan. Heinz menyambutnya dengan senang hati. Albert, lelaki hidung belang yang memiliki tubuh jangkung dengan rambut blonde dan mata abu-abu itu meminta ijin untuk membawa Sharlynn makan malam di luar mansion. Sharlynn sangat membenci tatapan laki-laki itu. Tetapi ia tak bisa membantah sang ayah. Setidaknya ia memiliki rencana untuk kabur setelah di tengah jalan. * Di dalam mobil. Hening. Sharlynn tak banyak bicara kecuali menjawab pertanyaan Albert sesekali. Gadis itu melihat dari sudut matanya, tatapan Albert yang begitu liar dan seolah menginginkan tubuh nona muda keluarga Eisenhauer itu. “Kau ingin kita makan malam dimana?” tanya Albert. “Aku juga tak tahu. Ini bukan keinginanku. Ayahku yang memaksa,” jawab Sharlynn dengan ketus. Albert tersenyum miring, entah apa yang ada di dalam kepalanya sekarang. Seolah-olah menggunakan kalimat jawaban gadis di sampingnya kesempatan besar untuknya. “Oke, jangan salahkan aku jika aku membawamu ke suatu tempat,” lirih Albert yang masih bisa didengar Sharlynn. Gadis itu mulai merasakan sesuatu yang tak beres. Membelah jalanan kota Berlin di malam hari terutama di titik tertentu terasa sepi dan tak ada lalu lalang kendaraan lain. Sharlynn yang mulai merasakan atmosfer tak beres, menatap ke jendela samping mobil. Netranya mengamati setiap jalanan yang dilaluinya. “Ini arah ke Checkpoint Charlie. Kenapa kita ke sana?” tanya Sharlynn dengan khawatir. “Turunkan aku di sini! Aku pulang naik taksi!” “Kau bilang terserah, jadi aku membawamu ke tempat dimana kita bisa bersenang-senang,” jawab Albert disertai seringaian licik. “Albert, berhenti kataku!” paksa Sharlynn yang tak digubris lelaki itu. Sekilas, ada mobil di belakang mobil yang dikemudikan Albert menatap curiga. Arah lajunya terlihat zig zag. Mobil itu terus membunti mobil milik Albert hingga tiba di ujung Checkpoint Charlie. Adrenalin dalam tubuh Sharlynn mulai terpacu. Gadis itu menegang dan mulai berkeringat. Tatapan liar Albert membuatnya jijik. Ia menggeser duduknya hingga punggungnya menghimpit jendela kaca. Tangannya mulai bergerilya menyentuh dan menyibak ujung gaun yang dipakai Sharlynn. “Kurang ajar!” Sharlynn memberontak dan terus menyingkirkan sentuhan Albert. “Jika aku tak menyentuhmu, maka aku akan gagal menikahimu, nona cantik,” seringai Albert. “Berhenti!” teriak histeris Sharlynn. Namun, tiba-tiba ia merasakan sesak saat lehernya dicekik hingga ia kesulitan bernapas. Sharlynn terus memberontak dan memejamkan mata saat Albert berusaha menyatukan bibirnya dengan bibir ranum milik Sharlynn. Gadis itu ingin pasrah, tetapi ia teringat pesan Keenan, aroma nikotin dan alkohol semakin menyeruak di area sekitar wajahnya. BRAK! BRAK! BRAK! Suara gedoran yang berasal tepat di samping Sharlynn berada membuat Albert mundur. Ia melihat siluet seseorang di balik kaca mobil. Sharlynn menegakkan badannya, ia menatap dan bergantian menggebrak kaca samping mobil. “Tolong! Tolong keluarkan aku dari mobil ini!” pinta Sharlynn disertai isakan juga gebrakan sekuat tenaga pada kaca mobil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD