“Tuan, kemana tujuan kita? Mansion keluarga Eisenhauer?” tanya Richie yang terlihat masih fokus memutar kemudinya. Ia menatap sang tuan melalui kaca spion depan. Keenan terlihat begitu fokus mengutak-atik telepon genggamnya.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Keenan dengan santai. “Aku mencoba untuk menghubungi keponakan perempuanku, tapi tetap tak diterima meskipun ponselnya sudah aktif kembali.
Richie tak lagi bertanya. Ia hanya memutar kemudi lurus tanpa tujuan membelah kota Berlin. Tentu saja sembari ia menunggu perintah dari tuannya.
Keenan yang duduk di kursi bagian penumpang benar-benar terlihat sangat mengkhawatirkan Sharlynn. Keponakan perempuannya yang terlahir dari rahim adik perempuan satu-satunya Keenan.
“Heinz b******k!” umpat Keenan tiba-tiba. “Bisa-bisanya dia dibutakan janda gila harta dengan anak gadisnya itu!”
Richie tak ingin bertanya apapun. Ia hanya sesekali menatap kaca spion di depannya. Apalagi baru saja ia mendapat ancaman dari sang tuan.
“Richie, aku tahu dimana Sharlynn berada. Dugaanku pasti tidak salah. Dia pasti ada di tempat yang sangat membuatnya nyaman,” celetuk Keenan tiba-tiba.
“Kemana saya harus mengemudikan mobil?” tanya Richie meminta petunjuk Alamat yang harus ia tuju.
Keenan menyebutkan deretan huruf yang merupakan Alamat tujuan mereka. Sebagai seorang paman, Keenan sangat menyayangi Sharlynn seperti anak perempuannya sendiri. Mengingat pesan adik perempuannya sebelum menghembuskan napas terakhir.
“Richie, dengarkan aku!” Mendengar kalimat sang tuan, Richie hanya melirik sekilas wajah sang tuan melalui kaca spion mobil. “Sharlynn adalah keponakan perempuanku satu-satunya. Tolong, jika dia meminta sesuatu yang menurutmu tidak masuk akal, aku minta kau sedikit berbaik hati. Aku yakin ada masalah berat yang sedang menghimpitnya. Sejak kecil kepribadiannya sangat periang.”
Richie tak menjawab satu kalimatpun. Ia bahkan kurang paham kemana tujuan pembicaraan sang tuan besar. Saat mengingat permintaan Sharlynn agar ia menikahinya, barulah ia merasakan sedikit kekhawatiran.
***
Suara isakan terdengar dari seorang gadis yang berjongkok di depan batu nisan andesit berwarna hitam. Setangkai mawar kuning terletak di tengah-tengah sebuah makam.
Tubuh gadis berambut brunette dengan gaun ivory itu tampak bergetar hebat. Wajahnya menunduk dengan tatapan lurus ke arah batu nisan.
“Mom, kenapa kau meninggalkanku secepat ini,” lirihnya disertai isakan. Napasnya putus-putus menahan isakan, tetapi hatinya terlalu sakit untuk dikhianati sekian kalinya.
“Daddy jahat, Mom. Dia sudah melupakanku. Julian dan Odette sama-sama b******k. Odette selalu merebut apa yang aku miliki tapi daddy selalu membelanya. Seandainya kau masih hidup, pasti aku tidak akan mengalami hal ini.” Suara isakan kembali terdengar lebih keras, memilukan.
Sharlynn bahkan sudah tidak kuat menahan tubuhnya sendiri. Lututnya terlalu lemas untuk menahan beban perasaannya saat itu. Terkena bujuk rayu istri baru, Heinz terlalu sibuk untuk melupakan anak perempuan kandungnya.
Gadis itu meluruhkan tubuhnya di atas tanah makam. Posisinya memiringkan tubuh dengan kepala bersandar pada nisan mendiang sang ibu. wajah cantiknya terlihat lebih kusam karena dipenuhi dengan air mata dan ekspresi kesedihan.
“Mom, jika di dunia ini daddy dan orang-orang sudah tak menyayangiku, ajaklah aku bersamamu. Aku hanya merasa nyaman saat berada di sampingmu,” lirih Sharlynn yang sudah kehabisan tenaga untuk menangis. Seolah air matanya sudah terkuras habis di makam sang ibu.
Untuk beberapa menit, Sharlynn hanya menyandarkan kepalanya di atas batu nisan. Seolah ia sedang menyandarkan kepalanya pada bahu mendiang sang ibu. Menceritakan semua keluh kesahnya.
“Sharlynn!” Tiba-tiba suara teriakan membuat gadis itu tersentak. Ia mengangkat kepala dan mencari sumber suara. Terlihat sosok Keenan yang masih terlihat gagah dengan pakaian formalnya di usia setengah abad setengah berlari mendekati keberadaan keponakan perempuannya.
Sharlynn seolah mendapat angin segar. Saat ini ia hanya mempunyai paman dan bibi dari pihak ibunya saja yang sangat menyayanginya.
“Uncle Keenan,” lirih Sharlynn memaksakan tersenyum.
Keenan terkejut melihat keadaan Sharlynn yang terlihat berantakan. Lelaki itu berjongkok dan membingkai wajah oval sembab di depannya.
“Kenapa bisa seperti ini? Jika ada masalah bicaralah pada paman atau bibi. Kami akan selalu ada untukmu.” Keenan menatap sendu keponakan perempuan di depannya.
Dada Sharlynn tiba-tiba berjengkit nyeri. Tak ada kalimat jawaban kecuali isakan tangis yang terdengar begitu memilukan.
“Hey, hey, keponakan paman yang cantik tidak boleh menangis. Bangunlah, kita harus pergi dari sini,” bujuk Keenan.
Sharlynn masih terisak disertai gelengan kepala. Ia tak ingin bangun dari tempat duduknya sekarang.
“Aku tak ingin pulang, Paman. Mereka semua jahat! Daddy juga jahat dia lebih membela anak tirinya. Dia selalu memberikan apapun yang diinginkan Odette, bahkan dia juga memberikan Julian untuk Odette! Daddy tak menghukumnya meskipun tahu dia telah merampas tunanganku.” Suara memilukan kembali terdengar setelah menceritakan semua masalahnya pada sang paman.
Keenan mengatupkan bibirnya dengan rapat. Tak terima dengan apa yang dialami Sharlynn, ia berniat mendatangi Heinz dan istri barunya.
“Kau pasti akan mendapatkan lelaki yang lebih baik dari Julian. Tentu saja yang sangat mencintaimu dengan tulus. Sekarang kau harus pulang. Paman akan mengantarmu,” bujuk Keenan.
Sharlynn kembali menunjukkan wajah memohonnya. “Tidak, Paman. Aku tak ingin pulang. Aku benci melihat wajah orang-orang jahat itu! Bawa aku ke tempatmu atau kemanapun asalkan bukan pulang ke mansion!” Emosional Sharlynn.
Keenan kembali meraup wajah cantik yang tampak memilukan di depannya. Menggeleng dan membujuk agar Sharlynn tak melakukan hal itu.
“Dengarkan paman!” Keenan memaksa Sharlynn untuk menatapnya. “Kau tak akan kalah dan menyerah hanya karena masalah ini! Tunjukkan kau akan tetap kokoh dan tak akan lemah di depan mereka. Jika kau meninggalkan mansion, Odette dan Rolanda akan tertawa bahagia. Ingatlah! Semua yang ada di dalam mansion itu hak milikmu. Milik mendiang mommy mu!”
Mendengar kalimat panjang lebar sang paman, membuat Sharlynn mulai tersadar. Ia harus mengambil kembali apa yang seharusnya ia miliki.
“Kau harus tetap berdiri tegak saat mendatangi pernikahan Julian dan Odette. Jika perlu, kau juga membawa seorang suami sebagai pengganti Julian!” Sharlynn menatap lekat sang paman. Kalimatnya seolah menyiratkan sesuatu.
“Tapi?” lirih Sharlynn.
“Serahkan pada paman. Aku akan mengaturnya!” Bujukan Keenan akhirnya bisa membuat Sharlynn benar-benar mengikutinya.
Keenan mengambil alih kemudi mobil Sharlynn, sedangkan Richie membuntuti mobil itu hingga ke mansion keluarga Eisenhauer. Saat tiba di mansion, Heinz beserta Rolanda dan Odette posisi tak ada di sana. Seorang maid mengatakan jika ketiga orang itu sedang pergi mempersiapkan pernikahan Julian dan Odette. Gagal rencana Keenan memaki Heinz dan mengingatkan akan keberadaan Sharlynn.
Meskipun dengan berat hati, akhirnya Sharlynn harus ditinggalkan saat itu juga. Mengurung diri di dalam kamar membuat gadis itu lebih nyaman.
***
Mobil baru saja tiba di mansion keluarga Kaufman. Sejak pertama kali turun dari mobil, Keenan memaksa Richie untuk mengikutinya.
“Richie, aku ingin bicara denganmu. Serius!” perintahnya.
Keenan dengan ekspresi penuh amarah memasuki mansion. Mengabaikan salam dari beberapa maid yang ada di sana. Membuat Adriana yang tak sengaja melihat kedatangannya semakin bertanya-tanya. Sedangkan Richie tampak mengikuti di belakang Keenan dengan ekspresi penuh tanda tanya.