Ekspresi Richie tak menampakkan kekagetan, tetapi terdengar suara kekehan keras dari mulutnya. Iris abu-abu dengan sorot mata tajamnya itu menatap Sharlynn yang tak berkedip.
“Ma’af, Nona, jika Anda mengajak saya bercanda, saya sudah tidak ada waktu. Saya akan kembali bekerja.” Richie menepis tangan Sharlynn. Segera meninggalkan gadis itu dengan kekacauan pada otaknya.
“Richie!” Sharlynn menggerakkan kakinya tiga langkah, kembali mencekal tangan Richie agar lelaki itu tak meninggalkannya.
Richie tersentak hingga menghentikan langkahnya. Ia menatap Sharlynn dengan perasaan muak. Ia tahu siapa nona muda yang sedang mengganggu pekerjaannya itu. Seorang gadis manja yang suka membuat ulah dengannya.
“Aku serius,” lirih Sharlynn dengan mata yang mulai terlihat berkaca-kaca. Richie tahu, gadis yang mulai terlihat kacau itu sedang tidak baik-baik saja. Namun, ia tak ingin terjerumus dengan permintaan Sharlynn. “Menikahlah denganku!”
Tatapan setajam pisau bermata dua itu seolah ingin mengiris wajah cantik di depannya. Lelaki itu mulai merasakan harga dirinya terinjak.
“Nona, calon suami Anda adalah Julian. Tolong jangan bertingkah seperti ini. Saya tak ingin mereka menganggap saya sebagai perusak hubungan orang lain!” Kalimat Richie terdengar bernada tinggi. Tetapi itu tak cukup membuat Sharlynn takut dengan lelaki di depannya.
“Kami putus!” jawab Sharlynn penuh penekanan. Namun, itu tak penting bagi Richie.
“Itu bukan urusan saya, Nona. Sekarang, tolong lepaskan saya!” Kali ini, Richie tak bisa melunak lagi. Ia kembali menghempaskan tangan Sharlynn hingga terlepas dari mencengkeram tangannya. Setelahnya, setengah berlari lelaki itu meninggalkan Sharlynn yang mulai terisak lirih.
“Richie! Kau harus menikahiku! Jika tidak aku akan katakan pada semua orang kau sudah membawaku ke apartemenmu dan meniduriku!” ancam Sharlynn yang sempat menghentikan langkah Richie beberapa meter di depan gadis itu, tetapi lelaki itu tak menoleh ke belakang sama sekali. Tak berapa lama, ia kembali melanjutkan langkahnya tergesa meninggalkan Sharlynn.
Lutut Sharlynn terasa lemas. Gadis itu tergugu. Ia sudah berusaha memurahkan harga dirinya di depan Richie, tetapi lelaki itu tak tertarik sama sekali.
“Mom, mereka semua jahat!” lirih Sharlynn sembari menutup wajahnya menggunakan telapak tangan. “Apa yang harus aku lakukan saat melihat Odette dan Julian menikah? Mereka benar-benar b******k!”
Setelah mengatakan hal itu, Sharlynn meninggalkan mansion tanpa diketahui siapapun. Ia kembali mencari keberadaan Richie di bagian depan mansion, tetapi tak ia temukan lelaki itu dimanapun.
Di celah-celah pembatas lantai satu dan lantai dua, terlihat seseorang meninggalkan lorong lantai dua setelah melihat apa yang terjadi antara Sharlynn dan Richie di lantai satu.
Sharlynn memasuki mobil dan mengemudikannya dengan tujuan yang tak pasti. Di dalam mobil, ia menangis sejadi-jadinya sembari memutar kemudi.
“Kemana lagi aku harus pergi,” lirih Sharlynn sembari meremas kemudi dengan sangat kuat. “Aku muak melihat wajah perempuan tua dan anak jalangnya itu! Aku harus membalas perbuatan jahat mereka! Harus!”
Wajah Sharlynn benar-benar frustasi. Bahkan kepalanya terasa kosong tak bisa berpikir waras. Ia tak memperhatikan rambu-rambu di jalan hingga membuat beberapa mobil di jalanan yang ia lalui hampir saja menabraknya.
***
Mansion keluarga Eisenhauer.
Di sebuah kamar berdesain baroque dengan dinding dominan warna krem, tampak gadis cantik bertubuh ramping dengan rambut lurus sepunggung berwarna pirang platina mematut diri di cermin sembari mencoba gaun pengantin berwarna putih tanpa lengan dengan bagian bawah berbentuk mermaid.
Sesosok perempuan paruh baya dengan gaun maroon semi formal memasuki kamar sang anak perempuan. Ia tersenyum bahagia saat melihat anak perempuannya terlihat bahagia dengan memakai gaun pengantin impiannya.
“Anak perempuan mommy cantik sekali.” Suara itu membuat sang gadis berambut pirang platina menghentikan gerakannya dan membalikkan badan. Ia mendapati sang ibu yang tersenyum bahagia.
“Mom, apakah aku terlihat cantik?” tanyanya pada sang ibu.
“Cantik sekali.” Perempuan paruh baya itu berjalan mendekati Odette dan membelai rambut anak perempuannya. “Apa yang aku lakukan hanya demi kau. Sebentar lagi apa yang dimiliki Sharlynn akan menjadi milikmu. Heinz terlalu bodoh dan mudah ditipu.”
Odette tampak tersenyum puas. Selama sang ibu menikah dengan kepala keluarga Eisenhauer, semua yang ia inginkan sejak kecil adalah yang dimiliki oleh Sharlynn.
“Sejak kecil aku selalu memimpikan apa yang dimiliki anak manja itu, Mom. Sekarang, apa yang menjadi miliknya akan segera menjadi milikku. Bahkan calon suaminya yang tampan dan kaya raya itu.” Ibu dan anak itu tergelak bersama setelah membayangkan seperti apa keadaan Sharlynn saat itu.
“Semua akan segera menjadi milikmu. Lihat saja, Heinz sudah memberikan Julian untukmu. Dia bahkan tega menampar anak perempuan kandungnya di depan kita,” kata Rolanda dengan seringain jahatnya.
Namun, tiba-tiba senyuman yang Odette miliki seketika berubah murung, “Mom, bagaimana dengan keluarga Kaufmann? Mereka tak pernah menyukai dan menerima keberadaan kita. Sharlynn yang selalu menjadi keponakan tersayang mereka.”
Rolanda berdecak kesal pada sang putri. “Kenapa kau mengkhawatirkan keluarga Kaufmann? Mereka tidak penting. Setelah Heinz memperlakukanmu seperti anak kandungnya, lambat laun mereka akan menerimamu. Tentu saja setelah kita menyingkirkan Sharlynn sejauh-jauhnya.”
Seringaian jahat kembali tercetak pada bibir kedua perempuan berbeda usia tersebut. Namun, keduanya tak menyadari jika seseorang sudah mendengarkan percakapan mereka melalui celah pintu kamar yang tak tertutup rapat oleh Rolanda.
***
Mansion keluarga Kaufmann.
“Mommy! Daddy!” suara teriakan Yolanda membuat Keenan dan Adriana yang sedang bersantai di ruang keluarga menoleh pada anak perempuan kecil yang berlarian ke arah mereka.
“Sayang, kenapa kau berlarian seperti itu? Apa ada yang mengejarmu?” tanya Adriana sembari meletakkan teko teh yang baru saja ia tuangkan ke cangkir.
“Daddy, aunty Sharlynn pergi dari mansion sambil menangis setelah uncle Richie menolak menikahinya,” adu si kecil Yolanda.
Keenan yang baru saja menyeruput teh dari cangkirnya tersedak hingga menyemburkannya. Adriana tak kalah terkejutnya, wanita cantik berambut pirang gelap itu melotot kesal pada anak perempuannya sembari ternganga.
“Sayang, tolong jangan becanda. Daddy tidak pernah mengajarkan kebohongan seperti ini!” tegas Keenan yang tak percaya dengan anak perempuannya.
“Daddy, Yolanda tak bohong! Itu benar, bibi Sharlynn memaksa uncle Richie menikahinya. Bibi Sharlynn sudah putus dengan Julian!” tegas Yolanda pada sang ayah sembari memberikan ekspresi tak main-main.
“Keenan, sebaiknya kau tanyakan sendiri kebenarannya pada Richie dan Sharlynn. Apakah benar yang dikatakan Yolanda,” saran Adriana.
“Sepertinya ada yang tidak beres. Jika benar Sharlynn dan Julian batal menikah, pasti ada penyebabnya. Tentu saja aku akan menanyakannya langsung pada Heinz,” kata Keenan sembari menyambar ponsel yang ada di atas meja di depannya.
Namun, sebelum ia berhasil menekan tombol yang akan menghubungkannya pada sang adik sepupu, pekikan Adriana membuatnya terkejut.
“Keenan, lihatlah ini!” Adriana menunjukkan ponsel pada sang suami. “Aku membuka media sosial milikku, Odette membuat status seperti ini.”
Keenan mengerutkan dahinya saat melihat sebuah foto gaun pengantin dan sebuah tangan dengan cincin berlian yang tersemat. Bukan itu yang menjadi perhatian Keenan, tetapi sepasang nama yang tertulis di sana.
‘Odette love Julian’
“Kurang ajar!” Keenan meremas ponsel miliknya. “Ini yang membuat keponakanku benar-benar frustasi. “Aku akan menghubungi Sharlynn.”
Keenan menggulir layar benda pipih cerdas miliknya. Ia mencoba menghubungi nomor ponsel Sharlynn. Sialnya, nomor milik Sharlynn tak bisa dihubungi.
Hembusan napas kasar terdengar dari celah bibir Keenan, ia beranjak dari sofa dengan ekspresi tegang.
“Keenan, ada apa?” tanya Adriana yang tak kalah paniknya.
“Aku harus mencari Sharlynn. Nomor ponselnya tak bisa dihubungi. Aku khawatir dia berbuat nekad atau terjadi masalah dengannya.” Keenan setengah berlari menuju depan diikuti Adriana dan Yolanda.
Tepat di depan teras, terlihat Richie berdiri di samping mobil yang akan digunakannya mengantar Keenan berangkat ke kantor, tetapi rencana itu sepertinya harus diubah.
“Richie!” panggilnya, membuat lelaki itu menoleh pada sang tuan dan segera membuka pintu mobil untuk Keenan. “Kita pergi mencari Sharlynn. Dia baru saja pergi dari mansion dengan menangis, Kan? Setelah berbicara denganmu? Ponselnya tak bisa dihubungi. Jika terjadi sesuatu dengannya, kau harus bertanggung jawab!”
Richie mendapati tatapan sang tuan besar seolah berbeda. Lelaki itu melirik pada Yolanda yang membuatnya curiga. Tetapi ia tak tahu apa yang terjadi dengan Sharlynn dan pergi kemana.