Tuan Heinz berjalan mendekati Sharlynn, anak perempuan satu-satunya yang ditinggalkan mendiang istri pertama.
“Kau harus merelakan Julian menikah dengan Odette,” kata Heinz dengan tegas.
Sharlynn merasakan sesuatu seperti mengiris hatinya. Ia melirik sekilas ke arah ibu dan anak yang penuh dengan kepalsuan. Senyuman tipis tercetak di bibir Odette. Senyum penuh kemenangan.
Suara kekehan keras terdengar dari mulut Sharlynn. Seolah ia menertawakan dirinya sendiri, bukan keputusan sang ayah.
“Oh, oke, daddy benar. Memang sampah lebih pantas dengan sampah!” sindir Sharlynn dengan lirikan tajamnya pada Odette sang adik tiri.
Rolanda seketika mendelik tajam padanya, sedangkan anak perempuannya menunjukkan sikap manjanya.
“Mom…” lirih Odette.
“Sharlyn!!” teriak Rolanda. “Lihatlah, Heinz! Anak perempuanmu sangat kurang ajar seperti tak pernah dididik!”
Seketika suara tamparan keras terdengar di ruangan itu. Sharlynn mengusap-usap pipinya yang terasa panas dan perih bercampur menjadi satu. Suara rintihan lirih terdengar dari mulutnya.
Sendi-sendi lutut Sharlynn seolah lemas hingga membuatnya ingin jatuh ke lantai dan menangis sejadi-jadinya. Seorang ayah yang ia harapkan menjadi pendukung di setiap permasalahannya, tetapi malah membela anak yang bukan darah dagingnya.
“Oke, terima kasih, Dad!” ucap Sharlynn dengan tatapan tajam tetapi berkaca-kaca. “Ini yang istrimu dan anaknya inginkan. Jika perlu, berikan saja semua yang aku milikku! Aku hanya akan meminta hakku yang diberikan mendiang mommy!”
Dada Sharlynn terlihat naik turun menahan amarah. Ia menatap sang ayah yang terlihat merasa bersalah. Namun, Sharlynn tak peduli akan hal itu. Gadis cantik itu menguatkan langkah kakinya dengan cepat menaiki anak tangga.
Terburu-buru membuka pintu kamar. Setelah terbuka ia bergegas masuk dan menutup pintu dengan keras hingga terdengar di seluruh lorong lantai dua.
Sharlynn tak mampu membendung air mata yang mengalir deras. Punggungnya bersandar pada pintu, tubuhnya luruh ke lantai sembari memeluk lutut.
“Mom, daddy jahat!” lirihnya di tengah isakan tangis. “Dia lebih menyayangi anak perempuan jalang itu! Semua yang aku miliki diambilnya, Mom!”
Napas gadis cantik itu terdengar memburu. Ia seolah tak terima diperlakukan seperti itu oleh adik dan ibu tirinya. Mencoba menguasai diri untuk menghentikan tangisnya, tampaknya ia sedang berpikir keras.
“Aku tidak boleh lemah di depan mereka!” Sharlynn mengusap air matanya dengan kasar. “Mobilku! Richie!”
Dengan sisa tenaga dan lutut yang masih terasa lemas, Sharlynn bangkit dari posisinya dengan sekuat tenaga.
“Aku harus menemui Richie! Dia harapanku satu-satunya saat ini!” Gadis itu setengah berlari menuju kamar mandi.
***
Mansion Keluarga Kaufmann.
Langkah kaki kecil terbalut sepatu boots cokelat tampak sedang berlarian dari dalam mansion. Si kecil cantik berambut pirang yang dikuncir ekor kuda berhenti tepat di teras mansion. Bibir mungil kemerahannya tampak tersenyum menatap keberadaan Richie yang tampak sibuk memeriksa mobil mewah tuan Keenan.
“Apakah mobilku baik-baik saja dan sudah siap?” Suara bariton berat membuat Richie yang sedang menutup kap mobil menoleh pada sang tuan.
“Saya sudah memeriksanya. Semua mesin baik-baik saja,” jawab Richie singkat.
Tuan Keenan mengangkat pergelangan tangannya dan melirik arloji mewah dari salah satu brand terbaik di seluruh dunia. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi.
“Satu jam lagi, tolong antarkan aku ke kantor!” titah sang tuan. “Dan bersiaplah untuk besok. Kita akan pergi ke Hungaria untuk mengurus beberapa dokumen kerjasama dengan klien yang ada di Budapest.”
Richie mengangguk patuh. Setelah mengatakan hal itu, tuan Keenan berjalan menuju mansion. Ia mengerutkan dahinya saat melihat putri bungsunya berdiri di teras mansion sembari tersenyum.
“Sayang, kenapa kau ada di sini? Kau menunggu kedatangan daddy?” tanya Keenan pada anak perermpuannya.
“Tidak, Daddy. Aku ingin bicara dengan uncle Richie,” jawab Yolanda lalu berlari menuju Richie yang bersiap pergi.
Keenan yang melihat langkah kilat anak perempuannya hanya tersenyum, lalu melanjutkan langkah memasuki mansion.
“Uncle! Uncle!” Suara si kecil Yolanda menghentikan langkah pria tampan dengan tubuh tegapnya.
Richie menoleh ke arah sumber suara dan mendapati nona kecilnya sedang berlarian ke arahnya. Pria tampan itu tersenyum pada si kecil.
“Nona kecil, ada yang bisa aku bantu?” tanya Richie sembari menunduk karena tubuh Yolanda hanya sebatas pahanya. “Ingin diantar jalan-jalan?”
Yolanda mendongakkan kepalanya agar bisa menatap wajah Richie. Rambut ekor kudanya bergerak-gerak saat ia menggeleng kuat menolak tawaran Richie.
“Aku hanya ingin tanya saja ke uncle. Hhmmm…tapi lebih tepatnya memaksa,” jawab Yolanda sembari tersenyum simpul.
Anak perempuan bungsu tuan Keenan memang terlihat lucu dan menggemaskan bagi Richie. Pria muda itu terkekeh mendengar jawaban si kecil.
“Katakan pada uncle, apa yang nona kecil inginkan.” Richie mulai menekuk lututnya dan duduk berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Yolanda.
“Apa uncle sayang dengan Yolanda?” tanya si kecil yang membuat Richie kembali terkekeh. “Kenapa uncle tertawa? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?” paksa si kecil sembari memanyunkan bibir mungilnya yang kemerahan.
“Iya, Nona kecil. Uncle sayang dengan nona kecil yang lucu dan usil.” Richie mentowel ujung hidung Yolanda dan membuat bocah itu tertawa jenaka.
“Jika uncle sayang denganku, apa uncle juga sayang dengan aunty Sharlynn?” Richie terdiam seketika. Menatap Yolanda lekat-lekat dan mendapati si kecil itu tersenyum usil.
“Uncle, kenapa diam saja? Kenapa uncle tak jujur pada Yolanda?” si kecil semakin memaksa pria itu untuk mengatakan sesuatu.
“Tidak,” jawab lirih Richie. “Aunty Sharlynn tidak lucu seperti Yolanda.” Richie bangkit dari posisinya. Ia menyadari, jika pertanyaan itu akan diajukan padanya terus-menerus. Richie menggandeng tangan mungil Yolanda dan mengajaknya pergi memasuki mansion.
“Uncle, aku tidak suka aunty Sharlynn menikah dengan Julian. Dia tampak seperti bukan lelaki baik-baik,” kata Yolanda sembari memanyunkan bibirnya ke depan. Richie tak menggubris, ia terus saja mengajak Yolanda berjalan.
“Nona Sharlynn dan Julian saling mencintai. Untuk itulah mereka menikah,” jawab Richie menjelaskan.
“Tapi menurutku hanya uncle yang cocok dengan aunty Sharlynn. Kalian lucu jika sudah bertengkar. Tapi aku suka melihatnya. Kalian berdua menikah saja.” Yolanda terus terdengar cerewet, telinga Richie mulai terasa panas mendengarnya.
Richie menghentikan langkah, ia menatap bocah kecil yang ada di sampingnya, “Kami tak akan menikah, Nona kecil. Kami tidak saling mencintai.”
Yolanda mendengar kalimat Richie yang bernada tegas. Bocah cantik itu kembali memanyunkan bibirnya.
“Richie.” Terdengar sapaan suara feminin dari arah pintu foyer. Yolanda dan Richie sama-sama menoleh bersamaan. Pria pemilik mata tajam itu memicing memastikan sosok yang sedang berdiri di ambang pintu.
Netra abu-abu nya tak salah mengenali. Gadis cantik yang tubuh rampingnya terbalut one shoulder dress biru muda tampak berjalan menghampirinya. Sial! Tatapan Richie tak lepas memindai ujung kepala hingga ujung kaki yang memakai wedges nude bertali.
“Aunty! Aunty datang ke mansion ingin bertemu uncle Richie?” tanya Yolanda dengan wajah berseri-seri. Sedangkan Richie hanya terdiam.
“Sayang, bisakah kami hanya berbincang berdua,” pinta Sharlynn dengan tersenyum pada Yolanda.
“Tentu saja, Aunty. Aku akan membiarkan kalian berduaan.” Setelah mengatakan hal itu, Yolanda berlari kecil memasuki ruangan lain di mansion itu.
Richie dan Sharlynn tak sengaja saling bersitatap. Ada sorot mata aneh yang dilihat Richie pada pupil hazel milik sang nona muda.
“Aku ingin berterima kasih atas pertolonganmu dan karena kau sudah mengembalikan mobilku,” ucap Sharlynn yang membuat Richie tersenyum tipis.
“Itu sudah kewajiban saya. Tidak perlu berterima kasih,” balas Richie.
Selanjutnya, hening. Keduanya masih bergelut dengan pemikiran masing-masing.
“Nona, jika tak ada yang dibicarakan lagi, saya akan melanjutkan pekerjaan.” Richie mulai bergerak dan berniat meninggalkan Sharlynn.
“Richie, tunggu!” Sharlynn mencekal pergelangan tangan berotot lelaki itu, membuat Richie mengurungkan niatnya.
Richie mengerutkan dahi terheran saat menatap Sharlynn. Tampak ekspresi nona muda itu seakan ingin mengatakan sesuatu.
“Bisakah Anda segera mengatakan sesuatu yang ingin dikatakan?” pinta Richie.
“Richie, aku ingin meminta sesuatu padamu…” kata Sharlynn lalu menjeda kalimatnya.
“Nona, kumohon cepatlah katakan sesuatu!” tegas Richie.
“Menikahlah denganku,” lanjut Sharlynn. “Jadilah suamiku.”