Sang Penolong Tampan

1683 Words
Julian gugup, laki-laki itu gegas menuruni ranjang dan mencomot boxer yang tercecer di lantai. Memakainya dengan buru-buru. Sedangkan Odette menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya dan beringsut ke ujung tempat tidur. “Sharlynn, aku-“ Julian berlari ke arah sang tunangan. Namun, langkahnya terhenti saat Sharlynn mengangkat telapak tangan kanannya. “Tak ada yang perlu dijelaskan! Aku tak akan pernah menyesal pernikahan kita batal!” pekik histeris Sharlynn. “Tapi…” Sharlynn menatap sengit ke arah Odette. Tampak gadis itu menunduk dalam. Entah hanya pura-pura atau benar-benar menyesal. “Aku akan katakan semuanya pada daddy! Semua orang harus tahu kelakuan bejadmu! Kenapa kau selalu menginginkan dan mengambil milikku! KENAPA!” lanjut Sharlynn dengan histeris dan mengucurkan air mata yang semakin deras. Odette memberanikan diri mengangkat wajahnya, memasang wajah memelas, “Kami saling mencintai, Sharlynn. Bahkan sebelum kau dan Julian bertunangan.” “Tutup mulutmu, Odette!” teriak Julian. “Kau yang terus menggodaku dan menawarkan tubuhmu!” “Julian, kenapa kau mengelaknya!” Suara isakan tangis lirih terdengar dari mulut Odette yang manipulatif. Sharlynn memejamkan kedua matanya, tak tahan dengan situasi di dalam kamar apartemen Julian. Hatinya sudah begitu sakit dan hancur berkeping-keping. Ia membalikkan badan dan membawa langkahnya keluar dari sana. Saat Julian mencekal pergelangan tangannya, ia menepisnya dengan kasar dan berlari keluar dan tak peduli dengan apapun. Tangisannya tak berhenti, Sharlynn mengemudikan mobil membelah jalanan kota Berlin di malam hari yang tampak gemerlap. “b******k kalian! b******n! Aku benci kalian!” umpat Sharlynn sembari meremas kuat setir mobil. Merasa putus asa, gadis itu mengemudikan mobil menuju salah satu klub malam di Berlin Selatan. Berharap ia segera melupakan kejadian tadi. Suara music tekno berdebum memekakkan telinga. Lampu remang berputar di tengah-tengah ruangan. Tak mengganggu aktivitas Sharlynn yang duduk di dekat meja bartender, menikmati wiskin hingga menambah beberapa kali. Kepalanya sudah mulai terkulai dan bersandar tangan kirinya dengan siku yang bersandar di atas meja. Bartender muda berambut pirang sebahu itu meliriknya sekilas lalu menggeleng pelan. “Tambah!” suara Sharlynn yang terdengar sudah mulai mabuk membuat bartender berhenti dan hanya menatapnya. “Nona, Anda sudah mabuk,” kata bartender. Sharlynn yang mulai berang mengangkat wajahnya. Ia memicingkan mata menatap bartender dengan tatapan berkilat marah. “Aku akan bayar dua kali lipat! Cepat isi gelasku!” amuk Sharlynn. Mendengar suara gadis itu membuat sepasang mata mengawasinya dari jarak yang cukup dekat. Berada di ujung meja bartender. Sosok itu terlihat menenggak minumannya tanpa menoleh, hanya melirik sekilas pada gadis itu. “Nona, demi keselamatan Anda. Sebaiknya Anda pulang sekarang, saya akan hubungi taksi,” tawar bartender berniat baik. “Aaiisshh!” Sharlynn meletakkan gelas ke atas meja dengan kasar sembari mulutnya menggerutu. “Kalian para pria memang b******k!” Setelah itu ia merogoh tas tangannya dan mengeluarkan beberapa lembar euro dan meletakkan dengan kasar di atas meja. Ia mulai turun dari kursi tinggi setengah terhuyung. Bartender mengambil lembaran euro yang disodorkan Sharlynn. “Nona, ini terlalu banyak.” Sharlynn tak menggubris. Ia mengangkat tangannya tanpa menoleh ke arah bartender dan melangkah pergi dari sana. Melewati lorong gelap menuju pintu keluar, seseorang menghadangnya. Tatapan liarnya mulai mematri seluruh tubuh Sharlynn yang ramping dan seksi. Smirk devil mulai tercetak di bibir laki-laki paruh baya yang berniat jahat. “Nona, sebaiknya kau ikut aku ke kamar atas. Kau bisa istirahat sebentar dan bersenang-senang denganku.” Laki-laki itu menyentuh lengan Sharlynn yang menatapnya dengan samar. “Pergi! Jangan ganggu aku!” Sharlynn menepis kasar tangan pria itu dan berusaha mendorongnya. “Dasar laki-laki b******k! Kalian sama saja!” Laki-laki itu berang mendapat penolakan dari Sharlynn. Ia semakin mencengkeram lengan gadis itu hingga terdengar rintihan kesakitan. “Ikut aku! Kau tak akan bisa lolos dariku begitu saja!” Laki-laki itu menyeret paksa tubuh ramping gadis itu meskipun Sharlynn memberontak. Menaiki anak tangga dengan paksa, kedua stiletto yang membalut telapak kaki gadis itu terlepas dan entah tertinggal dimana. “Lepaskan aku, b******n!” Sharlynn menghantamkan tas tangannya pada kepala laki-laki itu. Semakin marah, laki-laki itu menampar Sharlynn hingga terlihat syok. Kemudian, mulutnya dibekap dengan paksa. Meskipun dalam keadaan mabuk, gadis itu masih berusaha memberontak. Namun, tenaganya tak cukup untuk melawan laki-laki itu. Tubuhnya menegang dengan adrenalin terpacu cepat hingga membuat detak jantungnya semakin berdebar-debar. Tetapi ia tak kuasa, ingin ia pasrah atas keadaan yang menimpanya hari itu. Apalagi saat bayangan percintaan Julian dan Odette berputar terus di kepalanya. “BBUUAAGGHH!” Tendangan keras membuat pria yang melecehkan anak perempuan pertama dan keluarga Eisenhauer itu terpental hingga menabrak dinding di lorong lantai dua. Sharlynn tersentak dan samar-samar ia melihat seorang laki-laki bertubuh tegap, atletis dan terlihat sangat kuat menghajar laki-laki yang menyeretnya tadi. Tubuh rampingnya yang masih terbalut gaun kuning cerah merosot ke lantai dengan punggung menghimpit dinding. Dingin, takut dan cemas, membuat Sharlynn mulai menangis sesenggukan dengan memeluk kedua lututnya. “Nona, aku antar kau pulang.” Suara bariton seorang pria yang terdengar begitu dekat membuat gadis itu terkesiap. Ia mendapati laki-laki tegap tadi berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Sharlynn. “PERGI!” usir gadis itu dengan sengit dan menghempaskan kasar tangan laki-laki itu yang menyentuh tangannya. “Nona, ini aku. Richie,” kata laki-laki itu. Mendengar sebuah nama yang sangat ia kenal disebut, Sharlynn menatap laki-laki di depannya dengan lekat. Meskipun samar-samar disertai kepala berdenyut, ia masih mengingat wajah laki-laki tampan yang hanya diketahui sebagai seorang bodyguard keluarga sang paman. “Richie! Richie! Bawa aku pergi!” Sharlynn menangis histeris saat mulai mengenali suara dan wajah laki-laki itu. Ia membingkai wajah Richie dan menangis sejadi-jadinya. Richie menatap lekat wajah sang gadis yang selalu usil dengannya. Baru kali ini, ia melihat wajah frustasi, takut dan penuh amarah. “Nona, aku antar pulang. Anda masih bisa berjalan?” paksa Richie. Sharlynn menggeleng kuat, air matanya semakin deras mengalir hingga membuat wajah cantik itu semakin mengenaskan. “Tidak! Aku tidak ingin pulang. Bawa aku kemana saja asalkan jangan pulang. Aku benci mereka, Richie! Mereka semua jahat!” mohon Sharlynn disertai suara isakan yang semakin keras. Richie mencoba bangkit, tetapi Sharlynn dengan kuat menahannya. “Richie, kumohon. Jangan tinggalkan aku!” “Oke, yang terpenting kita pergi dari tempat ini,” singkat Richie. Sembari mencomoti tas tangan dan sepasang stiletto yang tercecer di lorong lantai dua. Richie berhasil membujuk gadis itu. Ia memapahnya hingga menuju mobil. Setibanya di mobil, Sharlynn dengan sadar terus memohon agar lelaki itu tak memulangkannya. Gadis itu bahkan memaksa Richie membawanya kemana saja. Terpaksa lelaki itu membawa Sharlynn ke apartemennya. Setibanya di basement apartemen, Richie menghembuskan napas frustasi saat mendapati Sharlynn tertidur di kursi sampingnya. Terpaksa ia menggendong gadis itu hingga ke lantai tujuh melalui lift privat agar tak dilihat orang-orang. Setibanya di dalam kamar, Richie membaringkan tubuh ringkih itu perlahan agar Sharlynn tak terbangun. Terpaksa malam itu, Richie membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang tanpa mengusik tidur sang nona. Beberapa jam berlalu. Kelopak mata dengan bulu mata lentiknya itu perlahan mulai terbuka. Pandangannya samar, tampak langit-langit yang berwarna putih keabu-abuan. “Aauuwww!” Sharlynn memaksa tubuhnya bangun sembari memegangi kepalanya. Mungkin kepalanya masih terasa berdenyut akibat mabuk tadi malam. Ia mengerjapkan kedua matanya, berusaha menghalau kabut yang menutupi mata. Bersamaan dengan itu, ia mencium aroma wangi sabun yang cukup menusuk. Sharlynn terduduk di tepi ranjang, tatapannya melotot saat melihat punggung kokoh yang dipenuhi tattoo berbentuk burung elang hingga menyebar memenuhi lengan dan tangan sosok itu. Gadis itu menelan salivanya kasar, meskipun setengah bergidik ngeri, tetapi ia begitu menikmati bentuk tubuh atletis dengan b****g menyembul yang seksi. “Aarrgghhh!” Teriakan Sharlynn membuat Richie yang berdiri di depan jendela terbuka sembari menyesap secangkir the menoleh terkejut. Ia mendapati Sharlynn menarik selimut dan membalut tubuh bagian atasnya. Bergerak panik hingga beringsut di ujung tempat tidur. Pria itu berjalan cepat menuju nakas dan meletakkan cangkirnya di sana. “Anda sudah bangun rupanya. Tolong bersihkan dirimu dan saya akan segera mengantar Anda pulang.” “Richie? Kau ternyata lelaki m***m!” Teriak gadis cantik dengan bibir sensualnya itu. “Ke-kenapa aku bisa ada di apartemenmu?” Lupa dengan kejadian tadi malam, Sharlynn mengedarkan tatapan ke sekeliling. Richie tak menjawab, ia hanya bergerak cepat menyambar t-shirt putih ketat yang tersampir pada sandaran sofa dan buru-buru memakainya. “Tadi malam Anda mabuk berat dan diserang seseorang. Saya membawa Anda pulang karena menolak diantar pulang ke mansion,” jawab Richie dengan santai. Sharlynn seperti orang linglung, sembari mengingat kejadia tadi malam, ia menyibak selimut dan setengah melompat dari tempat tidur dan berlari ke arah kamar mandi. Richie yang melihatnya hanya menggeleng pelan disertai senyuman tipis. Beberapa menit kemudian. Mereka berdua sudah berada di dalam mobil menuju mansion keluarga Eisenhauer. Richie melirik sekilas ekspresi Sharlynn, tampak wajah gadis itu begitu malas. “Tas tangan Anda ada di dalam dasbor, sedangkan sepatu Anda ada di belakang.” Suara Richie membuat gadis itu menoleh padanya. Tak menjawab, Sharlynn hanya sekilas melirik ke arah Richie yang sedang memutar kemudi. Beberapa menit berlalu, mobil sudah memasuki kawasan Lichterfelde West. Mobil mulai memasuki gerbang salah satu mansion yang ada di sana. Berhenti tepat di depan teras bangunan, Sharlynn tampak ragu untuk masuk ke dalam mansion. “Nona, sudah tiba, Anda bisa masuk sekarang.” Suara Richie menyadarkan Sharlynn. “Richie, tolong temani aku masuk ke dalam…” Lagi-lagi ekspresi memohon itu membuat Richie tak tega. “Ma’af, Nona, tuan Keenan pasti sedang menunggu saya,” tolak halus lelaki itu. Sharlynn terpaksa turun sendiri. Berbekal tekad kuat untuk mengatakan semua pada sang ayah, ia mulai memberanikan diri memasuki mansion. Setengah berlari, ia mulai tiba di ruang keluarga. Namun, ia sangat terkejut saat di sana sudah ada sang ayah dan Odette yang duduk di sofa dan dipeluk Rolanda-istri kedua sang ayah. “Dad,” sapa lirih Sharlynn. Gadis itu melirik ke arah Odette yang tampak menangis saat menatapnya. Sharlynn tersenyum miring melihat betapa munafiknya sang adik tiri. “Aku batalkan pernikahanku dengan Julian. Dia sudah bercinta di depanku dengan Odette!” geram Sharlynn disertai gigi gemlatuk dengan tatapan tajam. “Daddy sudah tahu,” jawab singkat sang ayah. Sharlynn menatap sang ayah dengan kerutan heran. “Mereka saling mencintai. Julian mendekatimu karena kau harapan satu-satunya untuk mendekati Odette.” Sharlynn menatap sang ayah dengan geram sembari tersenyum miris, “Jadi, apa maksud daddy?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD