“Hanya status di atas kertas?” tanya Richie untuk meyakinkan. “Tanpa mencampuri urusan masing-masing?” Sharlynn mengangguk disertai wajah yang berbinar. Seolah ia benar-benar berharap agar pria di depannya menerima tawarannya.
“Kita bertemu besok pagi. Saya akan membuat surat perjanjian kontrak di atas kertas. Jika Anda setuju boleh tanda tangan dan kita menikah. Tapi jika Anda tak setuju denga nisi surat perjanjian itu, maka tak akan ada pernikahan,” kata Richie dengan tegas dan setelah itu berlalu begitu saja meninggalkan Sharlynn yang wajahnya berseri-seri.
Sadar jika Richie sudah tak ada di hadapannya, ia membalikkan badan dan setengah berteriak pada pria itu yang punggungnya sudah terlihat sedikit menjauh.
“Tentu saja, aku pastikan akan setuju dengan isi surat perjanjianmu! Bagiku yang terpenting sekarang adalah kita menikah!” teriak Sharlynn dengan wajah berseri-seri. Dalam kepalanya seolah berputar bahwa ia akan segera membalas dendam pada Julian dan Odette yang terang-terangan mengkhianatinya.
Malam itu, Sharlynn terlihat bahagia. Senyumnya tak menghilang dalam setiap langkahnya saat menuju ke dalam mansion.
Terlalu polos, ia tak tahu masalah apalagi yang akan menjeratnya selama menikah dengan Richie. Sesuatu bisa terjadi saat mereka berdua selalu bersama.
Di dalam ruang kerja, Keenan tampak memperhatikan sang keponakan perempuannya yang tampak bahagia. Ia pun turut tersenyum. Setidaknya, ia masih bisa melihat senyum di wajah Sharlynn sang keponakan kesayangannya.
***
Keesokan paginya. Sharlynn yang terlahir sebagai gadis dari keluarga berada nan manja, terlihat masih terbaring di atas tempat tidur.
Suara ketukan di pintu kamarnya tak membuat gadis itu benar-benar terbangun, kecuali suara seseorang yang menjadi penghiburnya selama ini.
“Aunty! Aunty Sharlynn. Kau belum bangun? Ini sudah siang, Aunty!” Suara cempreng Yolanda kecil disertai gedoran kencang membuat Sharlynn berjingkat dan segera bangun dalam posisi duduk di atas tempat tidur.
“Yolanda!” pekiknya kesal sembari mengacak-acak rambutnya hingga terlihat berantakan. Dengan malas Sharlynn berjingkat dari tempat tidur setelah dengan kedua mata yang masih terlihat lengket sembari berjalan malas menuju pintu.
Saat pintu terbuka, suara Yolanda yang terkekeh kencang membuatnya mengerjap berusaha melihat sosok si kecil yang sepertinya terdengar sedang menertawakannya.
“Yolanda, Sayang, kenapa kau bangunkan aunty. Ini masih pagi,” kata Sharlynn dengan suara malas-malasan.
Yolanda melotot kesal pada gadis manja di depannya sembari berkacak pinggang. Suara omelannya terdengar memekakkan telinga Sharlynn hingga membuat sang gadis menutup telinganya.
“Aunty! Ini sudah pukul delapan pagi!” jawaban Yolanda membuat Sharlynn melotot dan mendongak melirik jam dinding yang berada di dinding sisi kanannya. Mulutnya ternganga saat melihat jarum jam berada tepat di angka delapan.
“Aku terlambat bangun!” Sharlynn lupa jika ada bocah cilik yang berdiri di depan pintunya. Ia menutup pintu dan gegas berlari menuju tengah ruangan. Namun, saat ia baru menyadari keberadaan Yolanda, ia kembali membalikkan badan dan membuka pintu dan benar saja, si kecil masih berdiri di sana.
“Kau melihat Richie?” tanya Sharlynn. Tidak dijawab, tetapi Yolanda memberikan senyuman usilnya. Seolah ingin mengerjai Sharlynn.
“Uncle Richie sudah menunggu aunty sejak tadi. Sekarang dia berada di paviliun pelatihan menembak. Aunty tidak menyusul ke sana? Siapa tahu nanti anunty ditembak uncle Richie. Tapi ditembak cinta,” goda si kecil Yolanda sembari membentuk hati dengan menggunakan kedua tangannya.
Sharlynn kembali menutup pintu dan semakin berlari menuju kamar mandi. Tentu saja ia tak ingin Richie berubah pikiran karena keterlambatannya.
Yolanda yang masih berdiri di depan pintu, menepuk keningnya dengan lembut. Kemudian menertawakan tingkah terburu-buru bibi mudanya.
Empat puluh lima menit berlalu. Sharlynn sudah memakai setelan kasual. Sebuah celana bahan kain katun dengan t-shirt turtle neck warna putih dan membiarkan rambut brunette panjangnya tergerai.
Ia begitu mudah mendapatkan pakaian di mansion Kaufman karena memang ia lebih sering menginap di tempat tinggal sang paman daripada di mansionnya sendiri.
Sharlynn terlihat melangkah cepat di belakang mansion. Ia menapaki jalanan setapak dengan hamparan rumput rapi di kanan-kirinya. Sedangkan jajaran pepohonan tumbuh dengan rapi di sisi kanan.
Sharlynn menghentikan langkahnya setelah ia sudah tiba di depan bangunan yang disebutkan Yolanda. Meskipun ia ragu, tetapi menguatkan dirinya sendiri bahwa apa yang telah ia pilih sudah mantap dalam hatinya.
Kakinya kembali melangkah memasuki bangunan itu. Tepat di ruang utama, ia melihat Richie merapikan senapan semi otomatis yang sepertinya sudah ia gunakan dan memasukkannya ke dalam chasing khusus.
“Richie,” panggilnya dengan suara pelan, tetapi sang pria masih bisa mendengar suara Sharlynn. Richie menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke sumber suara. Ia melihat Sharlynn berjalan mendekatinya. “Ma’af aku terlambat bangun. Aku harap kau tak berubah pikiran dengan perjanjian kita.”
Richie tersenyum tipis sembari menggeleng. Tak ada keistimewaan yang ia lihat dari diri nona muda itu kecuali hanya sifat manja dan suka malas-malasan.
“Saya bukan seorang yang mudah melupakan janji,” kata Richie sembari berjalan mendekati Sharlynn dan berhenti tepat di samping kanan gadis itu sembari berbisik tepat di telinga gadis itu. “Apalagi terlambat dari waktu yang disepakati.”
Sharlynn seketika merasa tersindir, tetapi ia tak mempedulikannya. Ia berjalan di belakang Richie dan mengikuti kemana pria itu pergi.
Beberapa saat kemudian. Sharlynn dan Richie sudah berada di ruangan kerja Keenan dengan disaksikan sang tuan rumah, Sharlynn membaca dan mempelajari poin-poin yang diajukan Richie sebagai perjanjian kontrak mereka.
“Perjanjian kontrak pernikahan hanya berjalan satu tahun paling lama. Tidak saling mencampuri urusan masing-masing; Tidak tidur satu kamar; tidak boleh ada perasaan diantara keduanya, jika terjadi pada salah satunya maka perceraian adalah jalan keluarnya; tidak saling mengganggu satu sama lain; poin paling penting, tidak boleh ada hubungan intim…” Sharlynn membaca satu-persatu poin yang harus ia patuhi. Akibat hatinya masih bersama Julian, ia menganggap permintaan Richie hanya angin lalu.
“Aku setuju dengan semua poin di sini. Aku akan segera menandatanganinya,” kata Sharlynn dengan penuh keyakinan dan gegas ia meraih pulpen di dekat Keenan.
“Kau sudah yakin dengan keputusanmu?” tanya Keenan memastikan jika Sharlynn kembali mempertimbangkan setiap poin yang ada. Menurutnya, tidak mungkin tidak ada perasaan lain yang menelusup di hati salah satunya. Jika pada keduanya saling merasakan, itu bukan masalah. Tetapi akan menjadi masalah jika hanya Sharlynn atau Richie yang akan merasakan jatuh cinta.
“Tentu saja aku yakin, Uncle,” jawab Sharlynn yang segera menandatangani surat perjanjian, begitupun dengan Richie.
“Kalian berdua akan tetap menikah di catatan sipil,” kata Keenan. “Untuk semua persiapannya, serahkan padaku dan Adriana. Kelian berdua hanya akan menjalani pernikahan tepat bersamaan dengan hari pernikahan Odette dan Julian.”
Akhirnya Keenan kembali melihat senyum penuh harapan dari wajah keponakan perempuannya. Kebahagiaan yang dirasakan Sharlynn, juga bisa ia rasakan.
Sedangkan Richie, ia hanya berekspresi datar, seolah hanya menganggap pernikahan yang akan ia jalani bersama Sharlynn adalah permainan ataupun kontrak kerja yang akan segera berakhir sesuai masa yang disepakati.
Tak mereka ketahui, ternyata si kecil Yolanda sejak dari tadi memperhatikan ketiga orang di dalam ruangan dari pintu yang tak tertutup rapat. Setelah semuanya tampak berakhir, si kecil Yolanda berlari masuk ke dalam ruangan sembari melompat kegirangan.
“Hhoorreee…akhirnya aunty Sharlynn dan uncle Richie menikah. Beri Yolanda baby yang lucu-lucu dari kalian.” Yolanda kecil memeluk Sharlynn dan memohon, membuat gadis itu terlihat kikuk. Merasa bersalah dengan kebohongan yang akan mereka berdua jalani.