Suara pintu dibuka dengan kaki terdengar cukup kencang saat membentur dinding hingga terjeblak lebar. Tampak Sharlynn sedikit kesulitan saat membawa dua kantong kertas berisi bahan belanja hingga menutupi setengah wajah. Setelah berada di dalam, ia kembali menendang pintu agar tertutup. “Lumayan berat. Rumit. Ternyata belanja harus antri sepanjang itu,” keluh Sharlynn saat sudah tiba di dapur dan meletakkan dua kantong belanja di atas kabinet. Ia menghembuskan napas frustasi ke atas, membuat poni miring rambutnya ikut terangkat ke atas. Melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, Sharlynn membulatkan kedua matanya. Bukan karena waktu sudah menjelang siang, tetapi… “Jam tanganku bisa aku jual untuk tambahan tabunganku. Oh, bodohnya, Sharlynn, kenapa tidak dari kemarin aku men

