Bukan Pernikahan Impian

1182 Words
Mansion keluarga Kaufman. Sharlynn berada di kamarnya berdiri mematut diri di depan cermin. Tubuh rampingnya terbalut gaun pengantin long dress sutera dengan model sederhana tanpa lengan, hanya ada tali yang mengikat di kedua bahunya. Memperlihatkan leher jenjangnya yang dilingkari kalung berlian dengan liontin batu zamrud berbentuk kotak. Ada rasa sakit di hatinya saat ia menyaksikan sendiri tubuhnya yang hanya terbalut gaun sederhana. Pernikahan impian yang ia dambakan musnah akibat pengkhianatan. Matanya memanas hingga terlihat memerah. "Sharlynn, kau cantik sekali." Adriana menyibak anak rambut yang menutupi pipi merona gadis itu. Terlihat anting berlian dan batu zamrud peninggalan mendiang sang ibu. "Apapun yang kau pakai tetap membuatmu cantik karena kau memang sangat cantik." Sharlynn tersenyum. Entah tersenyum karena ia bahagia di hari pernikahannya yang sekedarnya atau tersenyum karena pujian dari Adriana. "Terima kasih, Aunty," ucap Sharlynn dengan suara pelan. "Tersenyumlah. Ini adalah hari pernikahanmu. Anggap tak ada pernikahan kontrak. Kau harus meyakinkan hatimu jika pernikahan ini adalah pernikahan sakral yang didasari cinta," bujuk Adriana. Sharlynn menatap sang bibi dengan heran. Apakah Adriana berharap ia dan Richie akhirnya nanti saling jatuh cinta? "Iya, tentu saja aunty. Aku akan tersenyum dan tertawa bahagia di depan Odette dan Julian. Juga di depan daddy dan Rolanda," ucap Sharlynn sembari menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Inilah keponakan perempunaku yang cantik. Pintar dan kuat," puji Adriana sekali lagi. "Ayo, kita temui Richie yang sepertinya sudah menunggumu di depan." Riasan natural dengan lipstik berwarna nude tampak membuat bibir sensual Sharlynn semakin terlihat penuh. Rambut brunette nya dibiarkan tergerai bergelombang hanya ditempeli bunga-bunga kecil berwarna putih dan pink. Baru saja mereka akan melangkah meninggalkan kamar, suara pintu dibuka kasar dan suara pekikan terdengar bersamaan. "Mommy, aunty!" teriak Yolanda kecil berlari menghampiri dua wanita itu. "Kenapa kalian lama sekali. Uncle Richie yang tampan sudah menunggu kalian." "Oh ya?" tanya Sharlynn dengan nada menggoda sembari mentowel ujung hidung si kecil Yolanda. "Sepertinya dia sudah tidak sabar menunggu kedatangan aunty." Yolanda membulatkan mata birunya dengan mulut ternganga. Tatapannya tak berkedip saat melihat betapa cantiknya Sharlynn saat ini. * Di foyer, Richie hanya berwajah datar saat menunggu kedatangan Sharlynn. Keenan yang menemani pria itu tampak tersenyum dan tatapannya memindai dari kaki hingga ke atas kepala. Penampilan Richie saat itu terlihat lebih gagah dengan tuxedo hitam dengan potongan rambut undercut. Penampilan yang belum pernah dilihat Keenan sebelumnya. "Kau tidak gugup?" Pertanyaan Keenan membuat Richie tersenyum. "Tidak, Tuan," jawab Richie dengan tegas. Ia tak pernah mencintai Sharlynn, tentu saja tak ada rasa gugup seperti pengantin pria yang sedang menunggu pengantin wanitanya. "Meskipun kau tak memiliki rasa cinta pada keponakan perempuanku, tolong jangan pernah sakiti hatinya. Jika suatu saat kau mencintai wanita lain, jangan pernah tunjukan di depan matanya. Meskipun Sharlynn juga tak mencintaimu tapi dia seorang wanita," tutur Keenan panjang lebar. Richie mendengarkan Keenan dengan seksama. Meskipun ia tak mencintai Sharlynn, ia juga masih memiliki nurani untuk tidak menyakiti wanita itu. Perbincangan mereka harus berhenti saat suara Yolanda mulai terdengar mendominasi memasuki foyer. Keenan dan Richie sama-sama menatap ke arah si kecil. Namun, yang paling menarik perhatian Richie adalah sosok Sharlynn yang membuatnya enggan berkedip. Sosok wanita itu tiba-tiba saja dalam waktu sekejap mencuri seluruh perhatiannya. "Para wanita, kita harus segera berangkat. Setelah itu kita beri kejutan untuk Odette dan Julian," kata Keenan dengan antusias. Membuat Sharlynn menoleh dan tak sengaja tatapannya berserobok dengan iris mata abu-abu Richie. Ada sedikit tatapan kagum saat mata hazel itu menyapu seluruh penampilan Richie. Sosok Richie bertubuh tinggi dan gagah bahkan masih terlihat lekuk-lekuk otot liat di bagian d**a dan perut di balik kemeja putihnya. Saking fokusnya Sharlynn menatap Richie, ia tak sadar jika pria itu sudah meninggalkan tempat itu terlebih dahulu bersama Keenan. “Aunty, ayo, kita berangkat.” Sharlynn terkejut saat Yolanda menarik-narik gaun pengantin di bagian pinggang. Gadis itu menunduk dan mendapati wajah cantik bocah berambut pirang itu bersungut. “Oke, Ayo kita berangkat.” Sharlynn menggandeng Yolanda dan mengajaknya memasuki mobil. Pernikahan yang benar-benar sekedarnya. Tak ada bridesmaid, tak ada keluarga dari pihak lelaki. Dari pihak wanita hanya ada Keenan, Adriana dan Yolanda. Beberapa saat berlalu. Mereka sudah tiba di kantor pencatatan sipil. Tak ada keraguan bagi Richie untuk menandatangani perjanjian pernikahan, bagi pria itu setelah tugasnya selesai maka pernikahan akan berakhir dan ia bebas. Namun, tidak dengan Sharlynn. Tiba-tiba di saat tangan kanannya sudah memegang pulpen, ia merasakan keraguan akan keputusannya sendiri. Pernikahan indah dengan orang yang mencintai dan dicintainya yang selama ini ia impikan, hari ini benar-benar hancur tak bersisa. Ia hanya bisa melaksanakan pernikahan kontrak dengan orang yang tak mencintainya begitupun dengannya. “Sharlynn, apa lagi yang kau tunggu?”Suara sang paman membuyarkan lamunan wanita itu dan seketika menoleh kea rah Keenan. “Kau berubah pikiran?” “Tidak, Uncle. Mana mungkin aku berubah pikiran. Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan pernikahan ini,” jawab Sharlynn sembari tersenyum simpul dan menandatangani dokumen perjanjian pernikahan. Ia terpaksa, meskipun hatinya berjengkit nyeri. Saat ini ia membayangkan jika Odette dan Julian sudah mengikat janji suci di Berliner Dom yang menjadi tempat pernikahan impiannya. “Mulai detik ini, kalian sah menjadi suami istri.” Suara seorang staf membuyarkan lamunan Sharlynn. “Uncle sekarang sudah menjadi suami aunty Sharlynn.” Yolanda menarik ujung jas Richie, membuat pria itu tersenyum ke arahnya. “Kenapa tidak mencium aunty Sharlynn? Sekarang uncle dan aunty sudah bisa melakukannya tanpa-“ “Sayang, sebaiknya kita segera keluar dari sini. Semuanya sudah selesai.” Adriana yang merasa malu dengan kelakukan Yolanda kecil, ia segera membungkam mulut si kecil dan mengajaknya keluar dari sana. Menyisakan Sharlynn dan Richie yang terlihat kikuk. Mungkin, Sharlynn syok dengan permintaan si kecil. *** Mansion keluarga Eisenhauer. Taman belakang mansion yang sudah disulap sedemikian rupa menjadi tempat pesta resepsi tampak penuh dengan tamu penting pihak keluarga Eisenhauer dan keluarga Julian. Suara music klasik dari alunan denting piano memberikan nuansa klasik dan membuat semua orang berdansa romantis dengan pasangannya. Meja-meja panjang penuh hidangan membentang cukup panjang dan di sampingnya terdapat cake pengantin setinggi dua dua meter bertabur hiasan indah. Heinz masih terlihat menunggu kedatangan anak perempuan kandungnya, meskipun Rolanda berkali-kali meracuninya untuk melupakan Sharlynn. “Dimana kau, Sharlynn. Ma’afkan daddy yang sudah membuatmu marah dan membiarkan semua ini terjadi. Jika seandainya kau tahu, sejak dulu aku tak pernah setuju Julian menikahimu,” gumam lirih Heinz sembari memejamkan kedua mata membayangkan masa kecil Sharlynn. Tanpa Heinz ketahui, seorang pria dengan gelas sloki berisi wine berjalan mendekatinya. Seolah mengejek pria itu karena masih merasa sakit hati dengan Sharlynn. “Sepertinya saya beruntung tidak menikahi Sharlynn yang melarikan diri dengan pria tak jelas di luaran sana.” Suara Albert membuat Heinz menoleh, ingin ia marah tetapi tak mungkin ia merusak acara pernikahan Odette. Tak menjawab, Heinz hanya menatap wajah Albert yang memang memiliki niat jahat pada anak perempuannya. Tak memiliki sopan santun dan aturan. Tiba-tiba seorang pelayan senior berlarian menuju keberadaan Heinz. Tentu saja dengan ekspresi yang benar-benar terkejut ditambah dengan rasa takut. “Tuan Heinz, nona Sharlynn sudah kembali…” lapor pelayan senior sembari membungkuk takut-takut. “Dimana? Dimana dia?” raut wajah Heinz seketika terlihat bahagia. “Tapi, nona Sharlyn-“ “Tapi kenapa? Apa yang terjadi dengan Sharlynn?” tanya Heinz penasaran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD