Aroma latte menguar di dalam dapur. Baru saja Sharlynn menuang air panas ke dalam cangkir dengan tangan kirinya yang memegang lembaran kertas pemberian tuan Madison. Wanita itu, terlihat fokus mempelajari semua permasalahan keuangan di dalam perusahaan. “Aku sangat beruntung memiliki teman seperti Melanie,” gumam Sharlynn yang mulai berjalan meninggalkan kabinet menuju kursi yang ada di sudut dapur. “Besok aku harus bertemu dengan uncle Keenan untuk membahas semuanya.” Ia meletakkan cangkirnya sejenak di atas meja, lalu membuka lembaran berikutnya. Sekilas ia membetulkan letak kacamata baca yang menggantung di hidung mancungnya. Entah apa yang ada di dalam kepalanya saat ini, tiba-tiba ia menjulurkan kepalanya ke arah pintu dapur yang tak tertutup. Tatapannya lurus menuju pintu utama ap

