BOY - Episode 11

1517 Words
Vinka yang sejak tadi memejamkan matanya membuka matanya untuk melihat siapa lelaki yang ada diluar mobil, menyenter muka Bagas dan dirinya hingga kelihatan seperti orang yang sedang melakukan adegan jorok. "Terimakasih ya Gas, aku pulang dulu" ucap Vinka segera keluar dari mobil Bagas. Dibawanya Boneka besar itu dari dalam mobil. Didepannya berdiri seorang Azhar yang bersedekap kedua tangan didepan dadanya. "Asik ye pelukannya" sinis Azhar. "Minggir" ucap Vinka pelan. "Habis ngapain Lo?" tanya Azhar kepo. "Minggir!". "Kalau gak kepergok udah cium ciuman pasti Lo" ucap Azhar menuduh. "MINGGIR GUE BILANG" ucap Vinka. Vinka segera melewati Azhar dan menyenggol kasar badan kiri Azhar. "Jangan ganggu cewek gue" ucap Bagas keluar dari mobil. "Lo apain apa aja tuh bocah ingusan?" tanya Azhar. "Jangan sembarangan Lo ngomong ya" ucap Bagas. "Jangan rusak dia, kalo Lo gak mau berurusan sama gue" ucap Azhar. "Ngapain gue rusak calon istri gue. Lo kenapa? Cemburu?". "Buat apa gue cemburu? Toh gue sama dia gak ada hubungan apa apa. Gue Kakak sepupunya. Ya wajar dong kalau gue ngingetin Lo" ucap Azhar menunjuk Bagas. "Tenang aja, gue gak akan rusak ataupun sentuh bagian yang gak harusnya gue sentuh sebelum gue nikahin Vinka. Tenang aja" ucap Bagas. "Oh iya, asal lo tau, lebih baik lo mundur dari sekarang deh, daripada ntar ntaran Lo sakit hati" ucap Azhar. "Sakit hati karena apa? Banyak yang naksir Vinka? Ya gak apa apa lah, biar kami bersaing secara sehat aja, gue gak bakalan juga kok nyerah gitu aja" ucap Bagas. "Bukan banyak saingan aja, dia udah dijodohin" ucap Azhar santai. "Belum tentu kan Vinkanya mau? Udah ya, gue balik dulu Bang. Jagain cewek gue ya" ucap Bagas. "Idih, males banget gue" ucap Azhar berlalu dari sana. Azhar segera masuk ke rumahnya, diruang tamu, semua keluarganya berkumpul. Kecuali Vinka. "Vinka datang datang kok nangis sih Mas?" tanya Tante Lita yang sejak tadi mengetuk pintu kamar Vinka. "Gak tau Ma. Biasa, anak kecil ya kerjaannya pasti nangis" ucap Azhar duduk di sofa ruang tamu. "Bujuk dong Mas" ucap Tante Lita menghampiri Azhar duduk, "Siapa tau mau kalo sama kamu". "Gak bakalan mau lah Ma. Udah biarin aja" ucap Azhar. "Besok aja Ma diajak ngomongnya, mungkin capek, kan tadi habis keluar jalan jalan" ucap Om Sultan. "Ya sudah. Iya Pa" ucap Tante Lita. "Mas Azhar, Mama udah hubungin Tante Dilla tadi siang. Mas tolong kirim model baju nikahan kamu, soalnya Tante Dilla pengen banget baju dia dipakek kamu" ucap Tante Lita. "Gak usah lah Ma, nanti buang buang uang, lagian cuman dipakek 1 kali doang" ucap Azhar menolak. "Ih kenapa? Orang Tante Dilla sendiri yang mau. Vinka juga besok Mama suruh pilih model gaun nikahan". "Mubadzir Ma, mending uangnya buat Riko" ucap Riko sibuk memakan kacang koro keriting di dalam toples. "Udah dapet jatah segitu banyaknya di ATM, eh ngelunjak ini anak ganteng satu" Tante Lita melotot mengarahkan bantal sofa ke arah Riko yang sudah siap siaga menghindar. "Ampun Ma, ampun" Riko berlaga ketakutan. "Mau Mama stop jajan kamu Mas Riko?" tanya Mama. "Jangan Ma, nanti gak bisa ngajak jalan ayang Beb" ucap Riko. "Kayak punya aja" timpal Haris. "Punya lah, emang elu ditembak cewek malah nolak" ucap Riko. "Biarin, dari pada ngaku ngaku punya ayang Beb, padahal gak laku" ucap Haris. "Sotoy si bocah ingusan ini ya lama lama!" ucap Riko hendak menghampiri Haris. Haris segera duduk diantara Papa dan Mamanya. "Riko, kamu kalo emang udah ada calonnya jangan kemana mana lagi. Biar tahun depan nikah juga nyusul Mas Azhar sama Vinka." peringat Tante Lita. "Selow aja lah Riko, umur juga masih muda. Mau liburan dulu" ucap Riko, "Tapi kalau Mas Azhar udah nikah terus punya anak, bisa diomongin lah". "Kenapa mesti nunggu Mas Azhar punya Anak? Aneh Mas Riko mah" ucap Om Sultan terkekeh. "Iya harus gitu dulu Pa, biar gak keliatan banget Riko kegatelan pengen nikah" ucap Riko. "Serah lu dah ah, gak laku juga bukan Mama sama Papa yang pusing" ucap Tante Lita. "Laku Ma, ya ampun gini gini juga Riko cowok populer di kampus, udah hampir S2, mana ada cewek yang nolak. Anak orang kaya juga, kerjaan tetap habis lulus. Muka ganteng sebelas dua belas sama Mas Azhar lah" ucap Riko pede. "Idih, yang ganteng kan Mas Azhar sama Haris. Mas Riko ya jelek" ucap Haris. "Sini lu, sini gak" Riko kesal dengan bocah satu itu. Haris hanya bisa memasang muka menyebalkan dimata Riko. Ingin rasanya Riko meng-smackdown Adik bungsunya itu. Adek tidak berprike-Kakak-an. "Sudah sudah, udah mau jam setengah 10 Haris kalau ada PR dikerjain dulu, ke kamar sana, istirahat" ucap Om Sultan. "Iya Pa. Haris ke kamar dulu ya" ucapnya mencium kedua pipi orang tuanya itu lalu berlari ke kamar sebelum Riko mengejarnya dan membalaskan dendam ya sejak tadi yang tak bisa tersalurkan. "Kita istirahat juga yuk Ma" ucap Om Sultan. "Bilang aja mau bikin Adek. 3 aja atuh Ma, anak cewek Mama ntar kan istri istri kami" ucap Riko menggoda. "Nih anak emang pecicilan, comel ya" ucap Tante Lita kesal melempar banta ke arah Riko. Riko hanya tertawa dan berlari ke kamarnya. "Istirahat Mas udah malam" ucap Om Sultan. "Iya Pa, sebentar lagi" ucap Azhar. Setelah orang tuanya masuk ke kamar Azhar sibuk memainkan ponselnya. Sambil sesekali diliriknya kamar Vinka siapa tau tuh bocah keluar cuman sekedar pipis atau ambil air minum. Setengah jam, satu jam, hampir dua jam Azhar duduk disana. Ternyata, yang ditunggu-tunggu keluar juga dari kamar. Vinka keluar, tapi dia tidak menyadari ada Azhar disana. Ia menuju dapur, mengambil gelas dan mengambil air dingin di dalam kulkas, menenggaknya hingga tandas. Azhar menghampiri Vinka, berdiri dan menyandar di meja marmer meja makan keluarganya. Dengan tangan bersedekap seperti tadi ketika ia melihat Vinka dipeluk Bagas. Vinka menarik napas dengan kencang, dan mengeluarkannya. Berbalik, ia terperanjat melihat Azhar yang sudah seperti setan tiba tiba ada dihadapannya. "Astaghfirullahal'adzim!" Vinka mengusap tengah d**a bagian paru paru dan jantungnya berada. "Lo naksir tuh cowok?" tanya Azhar. "Bukan urusan Lo" ucap Vinka hendak berlalu, tapi tangannya di cengkram oleh Azhar. "Lepasin! Sakit tau gak" ucap Vinka berusaha melepas cengkraman Azhar. "Jawab gue" ucap Azhar. "Lo kan yang bilang waktu itu? Perlu gue ingetin? Lo bilang gue berhak pilih siapa aja yang jadi pacar gue. Toh kita gak punya masa depan kan? Pernikahan aja mau Lo batalin. Jadi gak ada yang harus diperjuangkan disini" ucap Vinka, "Sesuka hati gue, gue mau siapapun Lo bilang. Jangan pura pura lupa Lo". "Lo boleh sama cowok manapun, tapi jangan dia. Gue gak setuju" ucap Azhar menatap tajam Vinka. "Apa urusannya sama Lo? Apa itu merugikan diri Lo? Atau menyakiti perasaan lo? Jangan egois. Gue berhak pilih apapun yang gue mau. Ini hidup gue, bukan cuman hidup lo" ucap Vinka melepas kasar cengkraman Azhar. "Jangan gak sopan sama gue" peringat Azhar. "Kenapa? Gak boleh? Lo doang yang berhak ngatur semua ini? Helloo, gue juga berhak milih apapun yang bisa gue pilih" Vinka menunjuk Azhar dengan mata melototnya, "Kalau bisa berhentiin tunangan ini hari ini juga gue dengan senang hati kembalian cincin dan gaun itu. Atau Lo mau gue ganti rugi? Bisa! Gue bisa kalau gue mau". "Jangan karena mentang mentang Lo lebih dewasa, Lo seenaknya sama hidup orang. Gak peduliin perasaan orang itu, kecewa, marah, atau benci. Lo gak mau tau. Yang Lo tau lo bisa terus terusan bikin gue merasa tersiksa. Kemarin Claudia ke pesta itu, Lo kan yang nyuruh? Bikin gue masuk ke Kolam Renang dan hampir meninggal?". Azhar terdiam ia tidak bisa berkutik. "Gue tau kok, Claudia kesini sengaja Lo suruh, dan Lo suruh dia kasih gue pelajaran kan? Cara Lo tuh sebenarnya udah bagus, cuman harusnya cari momen dimana semua orang gak liat gue di sana. Kok Mas Riko bisa nolongin gue. Kalau gue meninggal dihadapan Lo berdua, puas kan lo" ucap Vinka emosi, "Gue tau itu akal akalan Lo". "Jangan asal ngomong ya...." ucapan Azhar dipotong. Memang ia sengaja meminta Claudia datang ke acara dan memberi pelajaran sedikit ke Vinka, biar dia tau diri. Tapi dia juga tidak mengira Claudia malah hampir mencelakakan Vinka. Atau bahkan menghabisi hidup seseorang Vinka secepat itu. Azhar gak berniat sampai situ. "Kalau Lo gak setuju dengan perjodohan kita cukup kita kasih tau keluarga aja, jangan dilanjutin. Bukan cuman keluarga kita yang sakit hati. Bukan cuman Om dan Tante, tapi ada Papa Mama gue juga. Dan gue? Gue yang bakalan nanggung malu diomongin orang orang. Udah mau nikah sama sepupu sedarah satu keluarga, batal nikah lagi. Gimana pandangan orang orang ke gue? Pernah Lo pikirin perasaan gue? Lo gak akan pernah ngerti!" Mata Vinka berkaca kaca. "Jadi jangan pernah lagi coba buat lakuin hal hal gila semacam itu. Kalau mau berhentiin pertunangan kita. Gue yang bakal minta ke Papa Mama. Gak usah kayak gini. Gue gak bisa hidup sama orang yang berusaha menyakiti Keluarga gue, cukup dari kecil gue kurang kasih sayang orang tua, jangan bikin gue malu plis". "Dan soal gue sama Bagas, Lo tau sendiri. Mata gak bisa bohong" ucap Vinka berlalu. Dipandanginya tubuh mungil Vinka yang berjalan ke kamarnya lagi. Azhar mengacak kasar rambutnya. Vinka malah salah paham. Gimana ngejelasinnya. Dia gak bermaksud bicara begitu. Tapi malah Vinka emosi lebih dulu. Dia bingung mau menjelaskan lagi bagaimana. Yasudah, tunggu besok sajalah. ~BERSAMBUNG~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD