BOY - Episode 10

2117 Words
Bagas membukakan aku pintu mobil, aku merasa tersanjung. Mana pernah lelaki memperlukannya seperti Bagas. Papa aja gak pernah batin Vinka. Apalagi Mas Azhar, udah kayak Papa Tiri malah, jahatnya. Sebelas dua belas sama Ibu Tiri juga. Masa iya ditinggal dijalankan sendirian. Untung bukan malam hari sepi. Kalau malam, gak tau lah nasibnya sampai atau enggak ke Rumah keluarga Om Sultan. "Aku ajak jalan gapapa kan Vin?" tanya Bagas. "Gapapa kok Gas" ucap Vinka tersenyum manis bertatapan dengan Bagas. "Nanti pulang aku mampir deh, kalau kalau ajak kamu lagi" ucap Bagas. "Gak usah Gas, gak ada Papa Mama dirumah, aku tinggal bareng sama Om Tante aku" ucap Vinka. "Minta izin Om Tante kamu aja kalau gitu" ucap Bagas tersenyum sambil fokus dengan jalanan yang cukup ramai. "Tapi mereka kerja, gak ada dirumah Gas, nanti aku aja yang ngomong ke mereka" ucap Vinka. "Oh gitu, yaudah, kapan kapan deh ya. Sekalian minta restu" ucap Bagas. Sesampainya di Mall, Bagas dan Vinka berjalan beriringan, banyak dari pengunjung sempat melirik mereka, dan mereka semua melihat mereka berdua terlihat seperti pasangan sesungguhnya. Langkah pelan mereka berdua berhenti di zona mainan. "Mau main capit Boneka gak Vin? Aku jago" ucap Bagas. "Mau mau" ucap Vinka antusias. "Tunggu disana aja aku beli voucher mainnya dulu" ucap Bagas. "Oke Gas" ucap Vinka segera menghampiri area capit Boneka Dari boneka kecil, sampai besar, semua ada di area ini. Vinka memandangi takjub, bukannya udik, tapi jarang jarang dia bermain di area seperti ini. Meski Papa dan Mama banyak uang, Vinka gak berani minta uang banyak buat main di wahana game ini tiap Minggu di Banjarmasin. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya dikamar. Minta temani ke Timezone juga Papa Mamanya gak ada waktu. Yang mereka pikirkan cuman kerja, arisan, meeting client. Udah itu aja. Vinka merasa hidupnya hampa, ingin seperti anak anak yang lain menghabiskan waktunya bersama kedua orang tua, apa daya, Vinka gak bisa melakukannya. "Ngelamun aja" ucap Bagas membuyarkan lamunan Vinka. "Ah enggak enggak. Gas, capit yang pink ini dong" ucap Vinka menunjuk Teddy bear berwarna pink dengan pita cantik dibagian lehernya. "Oke" ucap Bagas, "Lihat ya, yang pink yaa". Bagas menggesek kartu miliknya, setelah itu, ia mulai mengarahkan capitnya ke boneka pilihan Vinka. Dan.... Berhasil. Bonekanya tercapit dan keluar dari mesin. Vinka tertawa kegirangan sambil bertepuk tangan. Bagas ikut tertawa segera ia berikan boneka itu pada Vinka. "Makasih...." ucap Vinka terharu dipeluknya boneka itu. "Mau lagi?" tanya Bagas. "Satu aja cukup Gas" ucap Vinka. "Masa cuman satu? Masih banyak nih saldo game aku" ucap Bagas. "Main yang boneka besar bisa gak?" tanya Vinka. "Bisa, tapi peluangnya kecil. Aku coba 3 kali, kalau gak bisa kita kesini lagi Minggu depan. Kalau dapet juga hari ini, kita kesini lagi juga tetap Minggu depan. Setuju?" tanya Bagas. "Hmm, setuju" ucap Vinka. Merekapun menuju mesin boneka paling besar disana. Bonekanya hanya satu, setelah menggesekkan kartu gamenya Bagas fokus dengan mainannya. Vinka berdiri disamping Vinka, harap harap cemas, dipandanginya wajah Bagas sedikit lebih dekat. Ganteng, lebih kalem. Tipikal pacar-able lah. Vinka sebenarnya juga tau kalau Bagas naksir dia, tapi hatinya, gak tau lagi mampir dimana. Kalau bisa buat menghentikan pertunangan dia dan Azhar juga sebenarnya dia mau Bagas jadi pacarnya. Tapi Vinka gak mau menyakiti hati satu cowok buat masalah besar seperti ini. Tunggu sampai ia benar benar jatuh hati sama Bagas. "Nih Vin" ucap Bagas memberikan boneka besarnya lagi pada Vinka. "Ya Allah, Bagas. Berapa kali?" tanya Vinka kaget. "2 kali Vin. Dari tadi ngelamun melulu" Bagas mengusap puncak kepala Vinka, "Kita titip di sini dulu ya bonekanya, berat. Nanti pulang kita ambil". Vinka mengangguk dan memberikan bonekanya. Bagas menghampiri tempat ia membeli saldo game tadi. Setelah berbincang sebentar, Bagas segera kembali menghampiri Vinka sambil tersenyum. "Makan yuk" ucap Bagas segera mengulurkan tangannya. Vinka sedikit keheranan dengan perlakuan Bagas, menghargai lelaki itu, ia menyambut uluran tangannya, dan mereka berjalan beriringan. Genggaman Bagas hangat, sehangat genggaman tangan Papanya, tapi tidak seperti pegangan Azhar, seperti sengatan listrik. Menyetrum tubuh Vinka, membuat tubuhnya bergidik, dan sedikit tak nyaman dengan Azhar. Tapi Bagas? Bagas baik, sopan, dan.... Berbanding terbalik dengan sepupunya Azhar itu. Tapi kenapa sejak tadi pemikirannya selalu tersangkut ke Azhar. Vinka sudah gila mungkin. Memikirkan lelaki itu saja ia tidak sudi, tapi kenapa pembahasan kembali tertuju kepada dia. Bukan karena kebaikannya, tapi sikapnya yang egois, sedikit kasar, dan menyebalkan. Vinka membenci sepupunya itu. Sangat benci. ~ Sesampai di restaurant cepat saji, Bagas menarik kan kursi untuk Vinka, setelah mengucapkan terimakasih, Vinka duduk. Disusul Bagas di hadapannya tersenyum hangat. "Mau pesan apa?" tanya Bagas. Pelayan dari restaurant segera menghampiri Bagas dan Vinka, menyapa hangat mereka berdua lalu mulai mengeluarkan buku note kecil tipis dari saku bagian depan bajunya, tak lupa dengan bolpoin merk restauran itu. "Mas, saya pesan kentang goreng sama cola aja, kamu apa Gas?" tanya Vinka. Pelayan itu mencatat menu yang dipesan Vinka. "Kok cuman kentang goreng? Kamu gak mau makan?" tanya Bagas mengangkat kedua alisnya keheranan sambil fokus membaca buku menu. "Gak usah deh, itu aja" ucap Vinka. "Gak boleh Vin, harus makan lah" ucap Bagas, "Mas pesan nasi goreng special pedas sedang 2, minumnya saya air mineral es 2 ya". "Oke, pesanannya 1 kentang goreng, 1 cola, 2 nasi goreng spesial pedas sedang, sama 2 air putih es, mohon ditunggu ya Kakak, saya permisi" ucap pelayan muda itu sopan lalu berjalan cepat ke arah pantry. "Begah aku nanti Gas, gak habis. Kebanyakan makan" ucap Vinka. "Gapapa, begah ntar aku yang abisin" ucap Bagas. "Emang mau bekas aku makanannya" ucap Vinka terkekeh. "Mau aja, kalau dari kamu aku mau" ucap Bagas tersenyum manis sekali, sampai kedua matanya sipit sekali. "Jangan senyum begitu, ganteng banget" ucap Vinka bercanda. "Cocok kan sama kamu? Cantik sama aku yang ganteng". "Cocok banget lah" Vinka tertawa terbahak-bahak. "Yaudah, pacaran yuk". "Aku becanda Gas" ucap Vinka. "Aku mah serius Vin" ucap Bagas to the point. "Kecepetan kamu nembaknya, harusnya nanti, pas ada orang tua aku ke Jakarta" ucap Vinka. "Kapan? Biar aku siapin diri, lagian bentar lagi kita wisuda" ucap Bagas. "Aku gak tau, baru tadi pagi Papa Mama aku balik dari sini 3 hari" ucap Vinka, "Nembaknya nanti aja. Kecepetan". Bagas ingin melanjutkan pembicaraan, tapi pelayan datang mengantarkan pesanan mereka, setelah menaruh seluruh pesanan diatas meja, pelayan itu dengan ramah mempersilahkan Bagas dan Vinka menikmati hidangan mereka dengan senang hati. Kemudian berlalu dari hadapan mereka. "Pelayanan disini bagus ya, wajar kalau dapat rate bintang 5 di Google Maps, di aplikasi Ojek Online juga" ucap Vinka menyuap kentang gorengnya. "Iya Vin, makanya aku ajak kamu kesini. Disini gak bikin bosen pelayanannya juga super super ramah" ucap Bagas menyendok nasi gorengnya. "Kamu kok pesan air putih es aja minumnya, gak mau minum yang manis manis?" tanya Vinka keheranan. "Aku kadang serakah kalau makan sambil minum Vin, kalau gak minum air putih aku gak bisa. Jadi kalaupun pesan cola, teh es dan yang lainnya aku tetap pesan air putih juga. Karena enak air putih sehat". "Aku malah gak terbiasa minum air putih es doang kalau makan di Resto, kecuali dirumah ya" ucap Vinka. "Enak air putih kok, seger. Lagi pula ngapain minum yang manis manis, yang manis dan cantik kan ada dihadapan aku. Mana bisa ngomong lagi" ucap Bagas terkekeh. "Jangan ngegombal, gombalan yang kayak gitu ketinggalan zaman Gas". "Gak lagi deh kalau gitu, maaf ya" ucap Bagas melanjutkan makanannya. "Jangan minta maaf, aku seneng kok" ucap Vinka, "Terimakasih udah ngehibur aku hari ini". "Sama sama. Minggu depan aku ajak lagi mau kan?" tanya Bagas. "Mau kok Gas, seru hiburan habis Kuliah pusing". "Kalau kita pacaran kita Travelling ya, ke Gunung, ke Pantai, ke mana aja aku siap" ucap Bagas. "Beneran? Aku pengen banget naik gunung!" Vinka antusias. "Ya makanya, pacaran dulu, nanti kita keliling Jawa deh. Kalau bisa sampai Lombok, Bali, Papua, Sumatera, Sulawesi. Kita trip bareng" ucap Bagas antusias. "Nanti aku pikir pikir dulu hahahaa" Vinka suka melihat Bagas dengan raut wajah sedih. "Kapan? Keburu di ambil orang kamunya Vin" ucap Bagas. "Tembaknya ditempat romantis dong" ucap Vinka. "Oh gitu, ya udah nanti aku siapin dulu ya" ucap Bagas, "Makan dulu nanti keselek". Setelah mereka selesai makan, Bagas segera membayar bill mereka, Vinka awalnya hendak membayarnya, tapi Bagas menolak dan mengancam tidak akan mengajak Vinka trip kalau seandainya mereka jadian. Vinka gak enak sebenarnya, tapi apa daya, Bagas marah marah nanti. Setelah selesai Bagas mempersilahkan Vinka berjalan sedikit duluan darinya. "Mau pulang apa keliling dulu Vin?" tanya Bagas. "Terserah aja Gas, kamu mau beli sesuatu?" tanya Vinka. "Gak ada sih, cuman udah agak malam juga, gak enak kalau kamu nanti pulang larut. Kita pulang aja ya? Nanti Minggu depan kita kesini lagi" ucap Bagas. "Aku setuju setuju aja kok" ucap Vinka "Kita ambil boneka dulu" ucap Bagas. Setelah mengambil bonekanya, Bagas memberikan yang kecil untuk Vinka bawa, dan ia membawa boneka hampir setinggi dirinya besarnya. Sesampainya di Parkiran, Bagas segera memasukan boneka itu ke kursi belakang. Tak lupa ia bukakan pintu untuk Vinka yang kegirangan memeluk boneka mungilnya. "Terimakasih Bagas" ucap Vinka tersenyum masuk mobil. "Sama sama cantik" ucap Bagas segera menutup pintu dan masuk ke kursi kemudi. Diperjalanan, Bagas dan Vinka berbincang banyak, ia menceritakan dirinya kepada Vinka. Bagas seorang anak tunggal seperti dirinya, hampir sama, orang tuanya sibuk dengan dunia kerja mereka, tapi Bagas melakukan hal hal positif ikut kegiatan Mapala di Kampus, ikut kegiatan kegiatan sosial yang berhubungan dengan Masyarakat, makanya ia ingin sekali trip bareng bersama pacarnya keliling Indonesia. Bagas akui, ia jatuh cinta dengan Vinka sejak mereka Ospek Maba dulu, tapi ia sungkan untuk berkenalan. Takut Vinka ilfeel. Bahkan ia sengaja mengambil jurusan yang sama dengan Vinka. Hanya demi satu kelas dengan Vinka. Vinka tau, banyak lelaki yang mendekatinya, tapi ia tidak perduli sama sekali. Ia malah sengaja terlambat masuk kelas, kadang bolos kuliah, tingkah tingkah jeleknya ia tunjukan biar lelaki yang memperhatikannya ilfeel. Tapi, Bagas tetap menyukainya sebanyak itu. Segitu gilanya Bagas dengan Vinka 3 tahun menahan rasa suka hanya karena sungkan dengannya. Bagas tipikal lelaki yang bisa dibilang memang lumayan dikenal di jurusan kampusnya, ia lumayan populer. Karena memang Bagas ganteng. Dan aktif dihampir semua kegiatan kemahasiswaan. Dan, Vinka terlalu mengabaikan pesona lelaki itu. Kadang, Vinka masuk, Bagas sengaja mengambil tempat duduk disampingnya, sengaja meminjam alat tulisnya. Vinka mengira, Bagas waktu itu adalah lelaki gak modal. Kuliah alat tulis aja masih minjam. Mending balik ke SMA batin Vinka kala itu. Dan ia baru tau alasan Bagas seperti itu ya karena ia mencintai Vinka. "Kalau kamu bolos, yang tanda tangan itu aku" ucap Bagas memandangi jalanan. "Aku kira Vera punya temen buat titip absen di kelas kita. Ternyata kamu. Terimakasih banyak ya Bagas, buat semuanya" ucap Vinka. "Apa sih yang nggak. Dari hari ini jangan bolos lagi ya, kalau gak ada yang antar kamu, aku siap antar jemput kok". "Bagas, jangan baik baik banget nanti aku makin gak enak Gas". "Gak bakalan nyakitin kalau kamu mau jadi pacar aku" tangan kiri Bagas meraih tangan kanan Vinka, digenggamnya tangan Vinka. Diletakkannya ke bagian jantungnya berada. Deg, deg, deg Jantung Bagas berdetak kencang. "Kalau dekat kamu ya gini Vin" ucap Bagas, "Jangan bolos kuliah lagi ya, kita wisuda bareng". "Terimakasih Bagas, aku janji gak bakalan bolos lagi". "Siap ngetrip bareng aku habis lulus kuliah?" tanya Bagas. "Kita gak ngelamar kerja?" tanya Vinka bingung. "Kita kerja, weekend Sabtu Minggu kita ngetrip, nabung juga buat trip jauh. Aku yang nabung sih, bukan kamu. Nabung trip, nabung buat kita nikah" ucap Bagas. Ya Allah, nih orang kebangetan baiknya, apa ada udang dibalik bakwan sih? Kok baik banget. Tapi Vinka paham kok perasaan Bagas, dia juga gak bisa paksa Bagas berhenti mencintainya. Ia takut tidak bisa membalas sebesar yang Bagas berikan dan lakukan. Terlalu takut menyakiti perasaan lelaki itu. Karena takdirnya saja ia tidak bisa merubah ataupun tahu ujungnya seperti apa. Vinka mau kok, menerima Bagas, tapi masih banyak pertimbangan di dalam pikirannya. Bagas sakit hati Bagas kecewa Bagas marah Bagas dendam Bagas balas dendam Jangan sampai. Vinka menggelengkan kepalanya. "Aku tunggu jawaban kamu Minggu depan aja ya Vin, kalau lama aku kelamaan nunggunya. Biar wisuda kita foto bareng buat dipajang dikamar, ada acara reunian aku bawa kamu, dikatain jomblo melulu. Nanti bawa kamu sekalian dibilang aja calon istri" ucap Bagas. "Lihat nanti ya Bagas, terimakasih yaa" ucap Vinka gak enak hati. Mereka hampir tiba didepan rumah Vinka, segera Vinka meminta mobil Bagas berhenti disana saja. "Aku bawain sampai rumah gak bonekanya? Berat loh Vin" ucap Bagas. "Gak usah Gas, aku aja. Bisa kok" ucap Vinka tergesa melepas seatbeltnya. "Vin, tunggu sebentar" ucap Bagas, ia melepas seatbeltnya, ia memeluk Vinka, "Terimakasih udah mau aku ajak jalan". Dari kejauhan, secercah cahaya menyoroti Vinka dan Bagas. Mereka kaget dan Bagas segera melepas pelukannya. "Maaf ya Vin" ucap Bagas. Seseorang mengetuk pintu dimana Vinka duduk disana. "Mau m***m jangan dipinggir jalan!" ucap seorang lelaki yang Vinka kenal sekali. ~BERSAMBUNG~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD