BOY - Episode 9

2030 Words
Semua telah tiba di Bandara. Vinka segera memeluk Papa dan Mamanya sayang. Ingin rasanya ia menangis. Karena malu, ia pun hanya bisa tahan tahan bulir kristal yang sudah hampir jatuh. "Jangan kabur lagi ya sayang. Baik baik sama Mertua" ucap Papa Fahri. "Iya Pa. Vinka janji gak nakal lagi. Tapi Papa janji kesini lagi" ucap Vinka. "Ya iyalah, masa gak balik lagi kalau kalian nikahan?" tanya Mama Rini. "Sensi amat" ucap Vinka cemberut. "Gak sensi Vin. Jadi anak Cewek Mama yang tangguh ya" ucap Mama Rini. "Iya Mama, Vinka disini kemarin juga sendiri. Udah tangguh dari dulu Ma" ucap Vinka. "Iya Mama tau" ucap Mama Rini memeluk dan mengusap puncak kepala Vinka. Setelah adegan berpelukan itu, pengumuman keberangkatan pesawat Papa dan Mama Vinka diumumkan. "Kami pamit ya, titip Vinka ya Mas, Mba" ucap Papa Fahri menyalami kedua tangan Kakaknya bergantian. "Pasti Ri. Hati-hati dijalan ya. Nanti sampe kabarin" ucap Om Sultan. "Titip salam buat semua keluarga disana ya Rini, Fahri" ucap Tante Lita tersenyum ramah. "Siap Mba, nanti kami sampaikan" ucap Mama Rini ikut menyalami tangan kedua Kakaknya itu. Fahri dan Rini berganti disalimi Azhar, Riko, Haris, dan terakhir Anak Semata wayangnya. "Kami pamit ya" ucap Mama Rini. "Hati-hati Rin" ucap Tante Lita melambaikan tangannya. Fahri menggeret koper di tangan kirinya, sementara di tangan kanannya merangkul bahu Rini, sayang. Setelah mereka berdua hilang dari pandangan, semuanya pun mulai bersiap kembali ke rumah. Haris dan Riko dipaksa ikut mobil Papanya. Sementara Vinka yang keheranan mau tak mau ikut dengan Azhar, dan duduk disampingnya. "Lo kuliah?" tanya Azhar, yang melirik Vinka sibuk dengan ponselnya. "Iya Mas, kuliah" ucap Vinka menutup layar ponsel. "Oke kalau gitu" ucap Azhar. "Mas mau nganter?" tanya Vinka menoleh ke arah Azhar. "Nggak" ucap Azhar. "Oh gitu" ucap Vinka kembali memainkan ponselnya. "Ntar bilang ke Mama lo dijemput siapa kek, biar gue gak dipaksa paksa ngantar" ucap Mas Azhar. "Iya" ucap Vinka singkat. Azhar yang kesal langsung banting stir dan menyetop mobilnya, Vinka sampai kaget bukan main, di tatapnya Azhar yang sudah melotot menatap dirinya. "Apaan sih Mas?" tanya Vinka. Azhar melepas sabuknya, ia mendekat ke arah Vinka. Mengunci pergerakan tubuh Vinka. Jarak mereka hanya 10 cm lagi. Vinka mendorong-dorong tubuh Azhar. Tak berpengaruh sama sekali, tubuh sixpack Azhar tetap dalam posisinya mengunci tubuh Vinka. "Kalo gue ngomong jangan sibuk main hape!" bentak Azhar, "Lo mau gue cium disini?". "Ya terus Vinka harus ngapain? Pijitin Mas Azhar yang nyetir?" tanya Vinka keheranan. "Cium gue" ucap Azhar. "Apaan sih, Mas Azhar kesambet apaan?" ucap Vinka. "Makanya Lo jangan main hape" ucap Azhar duduk seperti posisi semula. "Kenapa sih, pembicaraan biasa juga kan? Bukan yang serius?". "Hargain orang yang lebih tua" ucap Azhar. "Bawel ih" ucap Vinka. "Turun kalau gak suka" ucap Azhar mengusir. "Kalau mau nurunin orang jangan gini caranya. Gak keren, cewek diturunin dijalan mulu" ucap Vinka. Vinka segera melepas sabuknya, dan turun dari mobil milik Azhar. Ia segera berjalan dan memesan grab car. Azhar melajukan mobilnya, dengan jalan santai, setelah agak jauh dan tak terlihat Vinka, ia kembali menghentikan mobilnya, menunggu Vinka lewat duluan. Mobil yang Vinka pesan pun datang, segera ia menaiki mobil tersebut. Mobil itupun melewati mobil Azhar. Azhar pun segera melajukan mobilnya, mengikuti mobil yang ditumpangi Vinka. Merekapun tiba di kediaman Azhar. Vinka segera turun dari mobil grab. Mobil itu tidak pergi dari sana. Azhar lihat, tak lama Vinka keluar dengan baju yang dia pakai tadi tapi, ia membawa tas yang lumayan besar, dengan ponsel yang ditaruh ditelinga, menghubungi seseorang pikir Azhar. Mobil itupun kembali melaju meninggalkan rumah Azhar. Azhar segera memarkirkan mobilnya ke Garasi. Ia pun segera masuk ke dalam rumah. Mamanya yang baru keluar dari kamar, keheranan melihat Azhar. "Lah? Bukannya tadi Vinka pamit kuliah sama kamu Mas?" tanya Mama Lita. "Baru mau berangkat ada temennya Ma. Azhar ke kamar dulu Ma" ucap Azhar berlalu dari hadapan Mamanya. "Temennya siapa? Cewek apa Cowok?" tanya Mama Lita penasaran. "Cowok" ucap Azhar. "Masa cowok sih?" Mama Lita kaget. ~ "Lo tunangan gak ngundang gue ya Vin! Bener bener deh lo!" pekik Vera pelan emosi. "Tau darimana Lo?" tanya Vinka santai. "Dari status w******p Nyokap lo" ucap Vera. "Gak penting juga acaranya Ver" ucap Vinka. "Gak penting apaan? Lo tunangan gue gak disana" ucap Vera. "Ntar gue juga gak bakalan nikah sama dia" ucap Vinka. "Dimana mana orang habis tunangan mau nikah secepatnya. Lo malah ngomong gak bakal nikah. Gak jelas Lo" ucap Vera. "Lah emang kenyataannya gitu kali. Gue sama dia tunangan sekedar biar Ortu gue bahagia. Ntar gue dapat cowok Impian gue ya kita batalin pernikahannya sebelum hari H jauh hari kalau bisa. Lagian dia punya cewek Ver, masa iya gue nyakitin perasaan sesama cewek" ucap Vinka. "Terus kalian statusnya apaan?". "Tunangan dihadapan keluarga besar". "Gak bakalan baper Lo Vin?" tanya Vera memastikan. "Gak bakalan lah" ucap Vinka. "Yakin Lo?". "Yakin 100%". "Vinka" panggil seseorang. Kedua perempuan itu segera menoleh ke sumber suara. "Bagas" ucap Vinka keheranan. "Sore ini kamu ada waktu gak Vin?" tanya Bagas tersenyum ramah. "Ada gak Vin? Rasa rasanya si Vinka free melulu Gas. Lo mau ajak Vinka jalan?" tanya Vera penasaran. "Iya, mau ajak jalan" ucap Bagas, "Boleh gak Vin?". "Hmm, gimana ya" ucap Vinka menimbang nimbang ajakan Bagas. "Gak usah terikat sama pertunangan kita". "Bersikap biasa aja. Aku bakal cari cara buat batalin pernikahan kita nanti. Kamu boleh pacaran sama orang yang kamu suka". Vinka teringat ucapan Mas Azhar tadi malam. Bagaimana jika ia terima ajakan Bagas? Kalau Bagas ke rumah, dia harus menjelaskan apa ke keluarga Om Sultan. Vinka sadar, ucapan Azhar itu memang kenyataannya. Jadi, untuk apa berusaha terikat, sementara Azhar sendiri mungkin masih pacaran dengan Claudia. Siapa yang tahu?. "Aku bisa kok Gas, nanti jemput ya di depan Gang aja gapapa ya?" tanya Vinka kurang nyaman. "Gapapa nanti sharelock aja ya" ucap Bagas tersenyum. "Ok" ucap Vinka. "Yaudah aku ke kelas duluan ya. Sampai ketemu nanti sore" ucap Bagas. "Ok Gas" ucap Vinka. ~ Sepulang dari kampus, Vinka segera pulang ke rumah. Baru saja ia melangkahkan kaki ke pintu, ia dan Azhar berhadapan ia ke kanan, Azhar ke kiri, ia ke kiri, Azhar ke kanan. Azhar menghalangi langkahnya. "Astaga...." ucap Vinka sedikit mendorong tubuh Azhar. Ia segera berlari menuju kamarnya. "Vinka makan siang dulu" teriak lembut Tante Lita. "Iya Ma" ucap Vinka. Setelah mengganti baju dengan pakaian santainya, Vinka segera keluar dari kamar dan menghampiri Tantenya itu. Vinka sebenarnya risih memanggil Mama, toh nanti gak bakalan juga mereka menikah. Tapi, kalau dipanggil Tante, takut Tante Lita kecewa. "Makan dulu yaa" ucap Tante Lita menyodorkan piring kosong kepada Vinka, Vinka mengangguk sambil tersenyum. Tak lama, Azhar datang menghampiri meja makan, ia segera duduk disamping Vinka. Vinka yang sibuk mengambil nasi, lauk, dan sayur jadi agak kurang nyaman. "Ini Mas" ucap Vinka memberikan piring yang Tante Lita berikan tadi ke hadapan Azhar. "Uhh so sweet banget menantu Mamaa" ucap Tante Lita, memberikan lagi piring kosong kepada Vinka. "Thanks" ucap Azhar, yang sedikit tersenyum melihat perlakuan Vinka padanya. "Gak salah kan Mas Azhar, pilihan orang tua tuh pasti yang bagus, yang udah terbukti" ucap Tante Lita. "Iya Mamaku sayang" ucap Azhar. Merekapun makan bersama. Tante Lita menemani mereka hingga selesai makan. Karena Tante Lita sudah makan tadi sebelum mereka datang. Kelaparan, ucapnya tadi pada Vinka dan Azhar. Selesai makan, Vinka mengambil piring Azhar yang masih bersisa sedikit nasi di atas piringnya. "Nasinya kok gak habis? Pamali loh" ucap Vinka. "Gak boleh diabisin, nanti ada yang mau gak bisa makan" ucap Azhar. "Siapa yang mau bekasnya Mas Azhar. Habisin" ucap Vinka. "Lah, gak boleh sisain dikit sambil ditawarin Datuk, Datuk, siapa yang handak ambil ja (Datuk, datuk, siapa yang mau ambil aja)" Azhar mulai berbahasa Banjar. "Kada jelas (Gak jelas)" ucap Vinka menuju ke pencucian piring. "Biasanya di Banjar kan gitu Vinka sayang, nawarin leluhur, siapa tau mau. Kasian kalau mau tapi abis" ucap Tante Lita. "Pas makanan selesai juga boleh kok Tante bilang begitu" ucap Vinka sambil menyabun piringnya, "Bi Halimah (ART dirumah Papa Mama nya di Banjarmasin) juga habis masak bilang gitu" ucap Vinka. "Tapi Mama pernah denger cerita ada yang bawa Lakatan sama hinti-nya (Kelapa yang sudah diparut di campur dengan gula merah, beberapa lembar daun pandan, dan sedikit garam. Rasanya manis, teman makan Lakatan. Bisa search Google ya apa itu Lakatan dan hinti). Mereka naik mobil bawa kue itu ke arah mana Tante lupa terus gak tawar-tawaran sama leluhur, alhasil pas ditengah jalan liat spion yang ditengah itu dibelakang 3 makhluk sibuk makanan kue itu. Hiiii Mama merinding Vin denger ceritanya gitu, serem" ucap Tante Lita. "Pernah denger sih Ma, dari Papa waktu gak bisa tidur minta ceritain cerita horor" ucap Vinka membasuh tangannya setelah mengembalikan piring ke rak piring. "Lah kamu gak takut hantu Vin?" tanya Tante Lita. "Takut Tante, cuman Vinka malah takut kalau gak bisa tidur malam" ucap Vinka, "Tante, Vinka ke kamar dulu ya". "Iya sayang, silahkan. Mama juga mau siap siap nih, nanti sore mau keluar" ucap Tante Lita, "Kamu mau ikut? Biar Mama kenalin ke temen temen Arisan Mama". "Maaf Ma, lain kali aja. Vinka ada acara sama temen" ucap Vinka gak enak sebenarnya menolak. "Sama siapa?" tanya Tante Lita. "Temen kampus Ma" ucap Vinka. "Oh gitu.... Ya sudah, lain kali aja kalau gitu" ucap Tante Lita tersenyum. "Iya Ma, maaf ya" ucap Vinka. "Gak apa apa kok sayang, udah ke kamar gih. Tidur siang dulu" ucap Tante Lita. Vinka pun segera pergi ke kamarnya. ~ Sore hari pun tiba, Vinka mengenakan kemeja berbahan lembut lengan 3/4 berwarna hitam, dan celana jeans hot pantas warna biru malam, kemejanya di bagian bawah diikat jadi satu. Rambutnya ia biarkan tergerai, dan bagian depan ia poni. Ia memandangi tubuhnya yang lumayan mungil dikaca, ia tidak mengenakan riasan menor, cukup liptint dan mascaara sedikit. Ia mencoba dari sekarang membiasakan diri dengan poninya. Setelah dirasa cukup, ia pun mengenakan parfumnya, dan membawa tas berisi dompet dan hapenya. Segera ia keluar dari kamarnya. "Mau kemana Lo?" tanya Azhar yang ada di depan TV sambil memainkan laptopnu, fokusnya terhenti karena Vinka yang keluar dari kamar dengan parfum yang luar biasa wanginya. "Bukan urusan Lo lah" ucap Vinka santai melangkahkan kakinya sedikit tergesa. Tak disangka, Azhar mengikutinya dan menarik tangannya. Hingga ia limbung dan tubuhnya menghadap ke arah Azhar. "Mau pacaran Lo?" tanya Azhar. "Enggak, Bagas ngajakin keluar sebentar" ucap Vinka. "Gue anter" ucap Azhar. "Apaan sih" ucap Vinka melepas kasar tangan Azhar. "Gue anter sampai mobilnya" ucap Azhar. "Gak usah peduli lah Mas, Mas sendiri kan yang bilang gini "Gak usah terikat sama pertunangan kita. Bersikap biasa aja. Mas Azhar bakal cari cara buat batalin pernikahan kita nanti. Vinka boleh pacaran sama orang yang Vinka suka"" ucap Vinka. "Lah iya, Lo kira gue nganter sampai mobil mau ngapain? Gue mau nyuruh dia ke rumah biar Mama berhentiin pertunangan kita" ucap Azhar. "Gak usah macem macem, dia gak tahu menahu masalah kita. Jangan di sangkut pautkan sama pertunangan ini. Kasian" ucap Vinka. "Gak bisa gitu lah, Claudia juga korbannya kita. Lo mau tanggung jawab sama dia?" tanya Azhar. "Lah tanggung jawab apaan sih? Yang mau tunangan ini dilanjutkan siapa? Gue capek Lo salahin melulu. Kalau Lo gak niat, ngapain dilanjutin sih? Tinggal ngomong gak mau, jangan bilang iya tapi mau gagal gagalin, di gagalkan juga lebih banyak korbannya. Terserah deh Mas, mau Lo apa gue turutin. Tapi jangan masukin Bagas ke list buat batalin ini semua. Dia gak tau apa apa" ucap Vinka dengan nada kesal campur sedih, ia berbalik dan berlalu dari hadapan Azhar. Azhar yang ditatap Vinka dengan tatapan sebegitunya agak gak nyaman dengan ucapan Vinka. Ia pun mengikuti Vinka berjalan, ternyata sudah ada mobil di depan kompleknya, dari satu kali pertemuan itu juga Azhar tau, Bagas yang disebut Vinka tadi, adalah lelaki yang waktu itu menolong Vinka dan membawa Vinka ke Kampus bersamanya. Azhar menyunggingkan senyuman sedikit mengejek, ternyata selera Vinka bocah ingusan juga. Vinka yang hendak membuka mobil terhenti karena Bagas keluar dan membukakan pintu untuknya. Azhar sedikit terkekeh melihat tingkah Bagas. Percis dirinya dulu bersama Claudia, 2 tahun yang lalu. Sampai hari ini pun ia melakukan itu di depan Claudia. Menghargai wanitanya, setidaknya itulah yang ada di dalam hati Azhar ketika membukakan pintu mobil untuk Claudia. "Bocah ingusan ya cocoknya sama bocah ingusan juga" ucap Azhar berbalik, lalu pergi dari sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD