"Setiap masa lalu punya kenangan masing masing. Tinggal yang punya cerita, mau melupakannya atau mengingatnya di ingatan".
~
Setelah selesai melakukan sesi foto, gue mengajak Vinka bertemu dengan beberapa rekan Dokter di Rumah sakit gue bekerja.
"Cocok banget udah lo, Har" ucap teman gue satu ruangan dan sering shift bersama Yuda.
"Nanti Bro, masih kuliah dia" ucap gue menaruh lengan gue di pinggang ramping Vinka.
Vinka merespons sentuhan gue, ia terlihat tidak nyaman.
"Jangan gak sopan ya Mas" bisik Vinka mengancam.
"Apaan sih, udah santai aja kali" bisik gue.
"Tangannya ngapain rangkul rangkul disana? Dibahu kan bisa!".
"Diam deh ah" ucap gue agak kesal.
"Udah semester berapa?" tanya Farel.
"Semester akhir Mas" ucap Vinka.
"Bentar lagi dong bagi-bagi undangannya si Azhar sama Vinka" ucap Yuda.
Gak bakalan terjadi Bro, gue akan batalkan perjodohan ini sebelum kami sebar undangan kalo bisa.
"Do'ain aja ya Mas, semoga lancar-lancar aja sampai hari H" ucap Vinka.
"Di do'ain sampai jadi deh Vin" ucap Erga, "Ntar kan hamil kita punya ponakan".
Vinka terkekeh pelan.
"Kalian udah sama sama nyaman gak sih?" tanya Farel.
"Iya ya, apalagi kan tadi gue dengar kalian ada ikatan keluarga. Sepupu ya?" tanya Yuda.
"Dinyaman-nyamanin guys, yaudah. Kita kesana yuk. Bro gue sama Calon Bojo ke Bokap Nyokap kita dulu ya. Selamat menikmati hidangannya ya" ucap gue lalu berlalu dengan tangan masih diposisi tadi.
Gue lebih baik menjauhi pertanyaan sensitif tadi. Takut keceplosan rencana menggagalkan pernikahan nanti dan menyakiti Vinka secara perlahan bakalan gagal.
"Tangan tuh ganjen banget yah!" Vinka melotot menjauhkan tubuhnya dari jangkauan gue.
"Apaan sih? Ntar kita juga tiap ada acara bakalan begitu" ucap gue santai.
"Aku gak nyaman. Jangan gitu lah" ucap Vinka.
"Belajar lah" ucap gue.
"Ogah!" ucap Vinka mempercepat langkahnya menghampiri kedua orang tua kami.
"Mama tadi upload foto kalian yang di foto Haris sama Riko tadi di i********: sama status w******p. Banjir komentar loh Mas Azhar, Vinka sayang" ucap Mama.
"Mama tag Vinka?" tanya Vinka kaget.
"Iya dong, harus ditag calon menantu Mama kebanggaan" ucap Mama.
"Yang di i********: gak usah aja ya Ma, temen temen Vinka takut ada yang lihat. Gak enak nanti malah nanyain kenapa Vinka gak ngundang mereka" ucap Vinka.
"Oh gitu ya. Yaudah Mama hapus tagnya dulu deh" Mama agak kecewa dengan ucapan Vinka.
"Maaf ya Mama" ucap Vinka manja dan memeluk Mama sayang.
"Hmm sayang iya gak apa apa nak, nanti pas hari H kita undangan semua teman kamu di Kampus. Pokoknya pernikahan kalian harus trending di Twitter, di YouTube channel Mama, di Halaman f*******: Mama, sama di search i********: orang orang pernikahan mewah anak ganteng Mama dan anak menantu kesayangan Mama" ucap Mama.
"Idihh, nama YouTube Mama apa?" tanya Riko mengejek.
"Rahasia. Ntar liat aja bakal trending di YouTube" ucap Mama.
"Gak usah lah Ma, malu malu in Haris nanti juga pasti di videoin disana. Haris ntar dilihat gebetan Haris malu" ucap Haris.
"Ihh kamu gak bangga Mama jadi YouTuber terkenal nanti. Awas loh ya kalau Mama beneran terkenal minta tanda tangan Mama" ucap Mama.
"Tiap bagi raport yang tanda tangan Mama. Ngapain minta lagi" ucap Riko.
"Mas Riko yah" Mama yang kesal segera mencubit pelan bahu kanan Riko.
"Lah emang bener yang Mas Riko bilang. Haris juga gak mau minta tanda tangan Mama lagi" ucap Haris.
"Haris lucu banget sih" ucap Vinka mengusap puncak kepala Haris gemas.
"Aduh Kaka Ipar jangan gitu lah, rambut Haris jadi jelek" ucap Haris.
"Maaf, maaf ya Haris" ucap Vinka tersenyum.
"Semoga kuliah Vinka bisa cepat beres, biar bahas pernikahannya tenang" ucap Papa.
"Iya Mas, pokoknya nanti acara nikah Azhar dan Vinka kita bahas jauh jauh hari biar siap" ucap Om Fahri.
"Makanya kalian harus siap kalau kami kabarin yah, jangan sibuk terus. Hari sakral jangan sampai bermasalah sama pekerjaan ya" ucap Mama mengingatkan.
"Iya Mba, rencana juga aku sama Mas Fahri mau ambil rumah lagi disini biar pas liburan ke Jakarta bisa sepuasnya. Aku juga ada rencana resign. Mau fokus sama Anak Menantu dan Anak Kesayangan" ucap Tante Rini.
"Mending kalian minta pindah tugas disini deh daripada bolak balik Banjarmasin-Jakarta" ucap Mama.
"Maunya begitu Mba, tapi disana tanah kelahiran Mama sama Papa, tanah kelahiran aku sama Mas juga" ucap Tante Rini.
"Iya sih, cuman kan enak, kita kumpul disini semuanya Rin" ucap Mama.
"Semoga bisa deh Mba ya, aku sih mau mau aja, tunggu keputusan suami tercinta aja" ucap Tante Rini.
"Ya aku sih mau mau aja kok Ma, nanti aku coba bicara sama Pak Dion dulu" ucap Om Fahri.
~
"Vin, ikut aku bentar" ucapku.
Vinka menoleh lalu segera mengangguk. Merekapun segera pergi dari kerumunan pesta pertunangan mereka yang sudah seperti acara pernikahan artis papan atas. Meriah.
"Kenapa Mas?" tanya Vinka ketika mereka sudah berada di depan teras rumah Azhar, Vinka berdiri di sudut teras bersandar pilar besar berukir mewah.
"Gak usah terikat sama pertunangan kita" ucap Mas Azhar.
"Terikat? Maksudnya gimana ya?" tanya Vinka mengernyitkan dahinya.
"Bersikap biasa aja. Aku bakal cari cara buat batalin pernikahan kita nanti. Kamu boleh pacaran sama orang yang kamu suka" ucapku.
"Hah? Kok gitu? Terus nanti Vinka bilang ke Mama Papa-nya Mas Azhar, dan Mama Papa-nya Vinka gimana?" tanya Vinka.
"Ntar aku cari cara buat gagalin acara pernikahan kita. Udah, pokoknya kita jalanin aja hidup normal, gak terikat dengan ikatan pertunangan atau apapun itu. Terserah kamu mau pacaran sama siapapun, siapa aja aku gak akan marah. Begitupun kamu" ucapku lagi.
Susah menjelaskan kalau sama cewek ingusan begini. Gak paham.
"Eh yaudah, terserah deh" ucap Vinka hendak berlalu.
"Woy bentar dulu" ucapku menarik tangannya.
"Apa lagiiiii?" tanyanya kesal.
"Jangan berharap lebih, ingat" ucapku.
"Iya bawel!" ucapnya lalu berlalu.
Setelah kepergiannya, segera aku telpon Claudia.
"Sudah aman sayang....".
~
•••••Author POV•••••
Setelah selesai acara, semua tamu-pun kembali ke rumah masing-masing. Tersisa keluarga besar Azhar dan Vinka.
"Acaranya di Gedung apa di rumah aja Mas Azhar, Vinka?" tanya Mama Lita.
"Gimana Vinka nanti Ma, dia aja yang pilih" ucap Azhar.
"Gimana Vinka kamu mau dimana sayang?" tanya Tante Lita.
"Di rumah juga gak apa apa Tante" ucap Vinka kikuk.
"Ya udah kalau mau dirumah juga gak apa apa Ma, biar nanti di tambah aja dekornya sampai taman aja" ucap Om Sultan.
"Gak sabar Pa, bahas dekor dekor begini. Nanti Rin pokoknya undang aja semua keluarga besar kita semua yang di Banjarbaru, Banjarmasin juga. Tiketnya nanti dihitung aja orangnya berapa" ucap Tante Lita.
"Puluhan orang lebih Mba, belum lagi anak-anaknya" ucap Mama Rini.
"Nanti kalau enggak, data yang gak bisa beli tiket aja, nanti kita beliin tiket, kalau bisa beli tiket sendiri nanti dikasih hampers aja oleh oleh dari sini" ucap Tante Lita.
"Ok Mba, nanti aku bantu juga fasilitas penginapan buat mereka disini. Bisa tidur dirumah kami yang disini sehabis resign" ucap Papa Fahri.
"Bisa juga ya, oke juga. Oke Ri, nanti tiket aku, kamu fasilitas tempat tinggal selama di Jakarta aja. Yang lainnya semua nanti aku urus sama Rini" ucap Tante Lita.
"Mba, jangan terlalu capek capek Mba ya, nanti sakit lagi" ucap Mama Rini khawatir.
"Gak bakalan sakit Rin, kan buat pernikahan anak sulungku, sama anak semata wayang kamu" ucap Tante Lita.
Vinka meringis mendengar celotehan Tante Lita yang benar benar berharap untuk pernikahan ini.
Sebenarnya, dia saja bingung, akan sampai mana pertunangan ini selesai. Karena Azhar sendiri yang bilang akan menghentikan pertunangan ini sebelum mereka menikah.
Vinka merasa sangat bersalah pada Tantenya, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Ucapan Azhar tadi cukup menyentil hati dan jantung Vinka. Bukannya dia sendiri yang menerima perjodohan ini, tapi kenapa dibelakang dia ingin menghentikan perjodohan ini. Apa yang sebenarnya sedang dia rencanakan?.
"Vinka, nak, hey kamu lagi ngelamun apaa?" tanya Tante Lita.
"Ah, iya Tan, eh Ma. Kenapa Ma, maaf?" tanya Vinka masih canggung dengan panggilan barunya kepada Tante Lita.
"Biasakan panggil Mama ya, jangan canggung sayang" tegur Papa Fahri.
"Iya Pa...." cicit Vinka pelan.
"Ya sudah, Fahri, Rini lebih baik kalian istirahat duluan. Besok kalian akan kembali ke Banjarbaru. Hari ini pasti kalian sudah capek sekali" ucap Om Sultan.
"Kita istirahat aja ya, besok Riko, Haris, semuanya ikut antar Om Fahri sama Tante Rini ya" ucap Om Sultan.
"Ok Pa" ucap Riko dan Haris bersamaan.
"Vinka sama Azhar jangan lupa mulai cari design baju gaun pengantin Vinka, dan juga baju jas yang serasi buat gaun Vinka. Pilih koleksi yang kalau bisa keluaran terbaru dari butiknya" ucap Tante Lita.
"Jangan cepet cepet Ma. Siapa tau ntar Vinka gendutan. Nanti bajunya malah gak muat" ledek Azhar.
"Sembarangan! Gini gini tubuh Vinka proporsional, meski pendek".
"Gak ahh, ini aja udah keliatan gendut".
"Masa sih! Papa, Vinka gendutan beneran?" tanya Vinka pada Papanya.
"Kurangin cemilannya anakku yang cantik. Biar nanti baju pengantinnya muat" ucap Papa.
"Ish! Masa sih Vinka gendutan".
"Gak gendut sayangku, kamu tuh bodynya udah kayak gitar spanyol mungil" ucap Tante Lita.
"Bukan mungil Ma, cebol! Azhar ke kamar duluan ya. Selamat malam semuanya" ucap Azhar berlalu pergi takut kena amukan Vinka.
"Mas Azhar!!!".
Yang melihat dan mendengar perdebatan hanya senyum senyum penuh makna.
Sadar semua memperhatikan tingkahnya, Vinka segera pamit ke kamarnya.
"Sadar gak sih, mereka tuh cocok banget, udah takdirnya berjodoh" ucap Tante Lita.
"Semoga mereka secepatnya bisa bersatu. Itu aja do'aku...." ucap Om Sultan.
"Semoga Vinka bisa jadi menantu yang baik buat Om dan Tantenya yang bakalan jadi Mertuanya" ucap Mama Rini, matanya berkaca-kaca.
Papa Fahri hanya bisa mengusap sayang punggung sang istri. Ia pun mendo'akan hal yang sama dengan do'a istrinya. Sebentar lagi anak semata wayangnya itu akan meninggalkan ia dan istrinya, dipersunting keponakannya, dan ia berharap semoga hal hal bak selalu menyertai Putri kesayangannya dan keponakan kebanggaannya yang akan menjadi Imam untuk Putrinya hingga maut memisahkan mereka.
~
Semua sarapan dengan tenang dan khidmat. Tanpa ada yang bertengkar ataupun bercanda, termasuk Riko dan Haris. Yang kali ini lebih memilih diam.
"Riko, Haris kamu bareng sama Mas Azhar dan Vinka berangkatnya. Papa, Mama sama Om Fahri dan Tante Rini" ucap Tante Lita.
"Iya Ma" ucap Haris dan Riko bersamaan.
"Gue aja yang nyetir, Mas Azhar sama Kaka Ipar dibelakang aja" ucap Riko.
"Gue aja yang nyetir, Lo ngebut. Yang ada kita celaka" ucap Azhar.
"Yailah, gue pembalap, bukan yang ugal-ugalan" ucap Riko tak mau kalah.
"Gak setuju Haris, Mas Azhar aja. Ntar Haris celaka belum juga nikah" ucap Haris.
"Si Bocil ngikut Mulu orang ngomong" ucap Riko, mentoel-toel pipi Haris.
"Idihhh" ucap Haris geli menepis tangan Riko.
"Riko ini mood maker banget ya" ucap Tante Rini terkekeh melihat tingkah keponakannya.
"Ini lelaki paling pecicilan di Keluarga Rin, gak tau nurun dari siapa sifatnya itu. Adiknya aja kadang dibikin kesel melulu" ucap Tante Lita.
"Yang pasti nurun dari Mama lah, ngomong melulu, kalau Papa kalem kaya Mas Azhar. Kalau Haris gak nurunin Mama Papa kayaknya" ucap Riko.
"Sembarangan kamu ya Mas Riko, kualat kamu entar" ucap Tante Lita tak terima disebut banyak bicara.
"Yang penting ganteng Ma" ucap Riko kembali menyuap makanan, tapi mencomot ayam goreng milik Haris.
"Mas Rikooooooooooo" Haris geram.
Semua yang ada di ruang makan tertawa.
Hanya sebentar tenang, suasana kembali riuh karena ulah Riko saja.
Vinka memandangi Riko, beda 2 tahun diatasnya. Sudah lulus S1 tahun kemarin. Tapi ia kembali kuliah S2. Cowok ini lebih tinggi 5 cm dari Mas Azhar yang juga sudah tinggi. Wajahnya hampir mirip. Bedanya, muka Mas Azhar tipe Softboy tapi ternyata kasar.
Beda dengan Mas Riko, mukanya emang tipe Badboy, tapi ialah yang menolong Vinka ketika ia tenggelam. Azhar? Vinka tau lelaki itu hampir saja menolongnya. Tetapi dilarang Claudia si cewek Barbar itu.
"Kaka Ipar ngapain liatin gue? Mau berpindah ke lain hati?" tanya Riko membuyarkan lamunan Vinka.
"Ah, enggak!!! Mas Azhar lebih ganteng" ucap Vinka langsung.
Yang disebut tersedak saking kagetnya. Haris segera memberikan air putih pada Mas kesayangannya itu.
"Iya, paling ganteng Mas Azhar, cuman gue lebih tau gimana bikin cewek nyaman jadi pacar gue. Lo sama gue aja kali yah?" tanya Riko.
"Jangan ambil ambil punya gue" ucap Azhar angkat bicara.
Membuat kedua pasang orang tua yang ada disana senyum senyum saling mengirim sinyal. Ternyata memang tidak salah jika Azhar dijodohkan dengan Vinka.
"Punya punya emang Vinka barang" ucap Vinka protes.
"Sebelum janur kuning melengkung disini. Gue tikung Kaka Ipar di sepertiga malam gue nyaho' Lo Mas" ucap Riko pede.
Azhar tertawa kencang.
"Emang Lo tahajud? Perasaan gue liat Lo begadang. Gimana bisa tahajud" ucap Azhar.
"Tahajud sebelum bobo" ucap Riko.
"Tanya Kaka Ipar aja. Mau gak ditikung di sepertiga malamnya Riko" ucap Azhar melirik Vinka yang sibuk mengunyah makanannya.
"Sama siapa aja bisa, asal enggak PHP dan nyakitin perasaan udah cukup" jawab Vinka pelan.
"Mas Azhar mah enggak PHP. Haris minta dibeliin ini itu, di iya-in terus besoknya udah ada pesenam Haris. Apalagi nyakitin perasaan, perasaan Mama aja gak disakitin, mana pernah Mama marah sama Mas Azhar" ucap Haris.
"Beda lagi kalau sama Mba, Haris" ucap Vinka.
"Beda dimananya Vinka? Azhar nakal?" tanya Tante Lita penasaran.
Azhar yang ada disamping Vinka segera menyenggol kaki Vinka.
"Ehh enggak nakal kok Tante. Baikkkk banget Mas Azhar malah" ucap Vinka dengan nada di tekankan kebalikan dari kata baik.
Azhar melirik dengan mata mengancam Vinka.
~BERSAMBUNG~