"Gak masalah, yang akhirnya dapetin Mas Azhar siapa? Gue ingusan gini bisa dapet cowok ganteng kaya Mas Azhar. Lo apa?" tanya Vinka, "Lo aja kalah dari gue".
"Kalau bukan karena perjodohan Azhar juga gak bakalan mau sama lo" ucap Claudia.
"Lah tapi kan gue gak ngemis minta dijodohin. Yang mau kan Papa Mama Mas Azhar dan izin orang tua gue" ucap Vinka.
"Oh yaaa? Tapi gue yang dapetin semua yang Azhar punya. Semua yang dia punya. Dia bekas gue" ucap Claudia.
"Bekas apa? Lo tidur sama Mas Azhar? Ya lo murahan berarti. Kok mau ditidurin, belum juga nikah" ucap Vinka, "Lo pikir gue bakal lepas Mas Azhar setelah tau lo tidur sama dia? Sorry, jangan harap".
~
Gue kira nih bocah bakal marah marah ngamuk dan kabur dari sini setelah tau gue sama Claudia pernah tidur. Padahal, gak pernah sama sekali gue ngelakuin. Tapi bagus lah Claudia bilang begitu. Biar nih bocah mundur sebenarnya.
Tapi kok dia kekeuh ya dan gak mau ngelepas gue dia bilang? Kacau ini sudah.
Claudia yang emosi mendorong tubuh Vinka ke dalam kolam.
Byuurr!
Vinka megap-megap, berusaha mencapai tepian. Gue hampir menceburkan diri menolong Vinka. Tapi tangan Claudia menarik lengan gue. Melarang gue terjun ke kolam.
"Anak orang Lau" ucap gue.
Ingin menepis lengan Claudia, Riko untungnya datang dan segera menolong Vinka. Vinka pingsan.
"Bang, tunangan lo loh Bang!" ucap Riko segera menepuk nepuk pipi Vinka.
"Gue aja Ko" ucap Azhar.
Segera ia mencoba menekan bagian d**a Vinka, sambil menepuk-nepuk pipi Vinka.
"Vin bangun" ucap Azhar sedikir panik.
Azhar berusaha menekan lagi, cukup banyak air keluar dari mulut Vinka, ia terbatuk batuk. Gaunnya sudah basah, rambutnya juga sudah berantakan. Tangannya cukup dingin.
"Tolong ambilin handuk Ko sama minyak kayu putih. Minta tolong Bi Titin tolong bikinin teh hangat" ucap gue.
"Ok Bang" ucap Riko melayangkan pandangannya pada perempuan yang sejak tadi berdiri disamping kolam, "Lo yang dorong calon Kaka Ipar gue?".
"Gue calon Kaka Ipar lo, bukan tuh bocah ingusan" ucap Claudia dengan menunjuk tubuh Vinka yang masih terbatuk dan gue bantu berdiri.
"Mending lo jadi istri gue, jangan rebutan Mas Azhar, gue juga ganteng" ucap Riko, "Sini lo ikut gue. Ganggu aja".
Riko segera menyeret tubuh Claudia dengan kencang. Meski meronta cukup keras, Claudia kalah dengan tenaga Riko.
Gue segera membawa tubuh Vinka ke gazebo. Vinka menutupi bagian depan tubuhnya dengan kedua tangan. Ia kedinginan, tubuhnya lemah. Kalau ia sigap bisa saja ia menarik juga tangan Claudia yang mendorongnya.
Vinka bukannya tidak bisa berenang, gue tau itu. Karena sewaktu gue ke Kalimantan Selatan, gue pernah berenang sama Riko, Vinka di kolam renang rumah Vinka.
Dulu, waktu umur kami masih sepuluhan tahun.
Gue tau penyebab ia susah berenang itu karena kakinya berheels tinggi, belum lagi gaun yang cukup susah membuatnya bergerak. Ia kesulitan bergerak. Meminta tolong juga tidak bisa.
Untung kehidupan masih berpihak kepadanya. Ia ditolong oleh Riko. Harusnya gue yang nolongin dia.
Tapi Claudia, gue tahu wanita itu yang menahan gue untuk gak nolongin Vinka.
"Hati hati, Claudia bukan cewek biasa" peringat gue, segera membuka jasnya, dan memasangkan jas ini ke tubuh kecil ini.
"Aku gak takut dia nyakitin aku, asal jangan orang orang yang aku sayangin aja" ucap Vinka, "Ini yang bikin aku gak mau dijodoh-jodohin. Kau ada yang sakit hati pasti ya macam Mba Claudia itu".
"Hati hati, gak usah pergi sendirian. Kalau mau cari apapun sama gue, Riko, atau Haris aja. Kalau enggak sama temen. Jangan sendirian" ucap gue.
Gue tau Claudia nekat, dia bisa saja menyakiti Vinka. Tapi kalau dengan main fisik, gue gak akan setuju.
Gue izinkan kalau bersaing secara sehat. Tapi sebenarnya, tanpa bersaing pun Claudia pemenang di hati gue.
Gue sengaja menerima pertunangan ini, nanti ketika hari H tiba, dimana Vinka menaruh nama gue dihati dia, saat itulah gue akan mengakhiri semuanya. Sampai dia terluka, seperih perihnya.
Persetan dengan hubungan keluarga yang hancur, semua karena ulah dia yang sengaja kabur dari rumah membuat Mama dan Papa kacau hari itu.
Gue bukannya bahagia dengan pertunangan ini. Tapi demi melihat Papa dan Mama bahagia, gue lakukan. Tapi untuk menikah? Gak akan mungkin.
Sorry sorry saja. Tidak akan pernah terjadi di hidup Vinka dan gue. Selamanya.
"Mas Azhar, kepikiran gak sih apa kata keluarga yang lain?" tanya Vinka menatapku polos.
"Kenapa? Emang Lo kepikiran apa?" tanya gue mengangkat kedua alis heran.
"Soalnya tadi dilihat sebagian ada yang kaya mau ngehujat, kok sesama sepupu, saudara malah tunangan dan mau nikah? Ketauan cuman dilihat dari wajah mereka kok" ucap Vinka.
"Dikeluarga besar ya emang begitu kan? Kalau ada hal hal yang aneh mulai ngeghibah, gak perduli ucapannya nyakitin apa enggak. Yang penting ghibah nomer satu" ucap gue.
Vinka tertawa nyaring, baru kali ini dia tertawa.
"Ada yang lucu?" tanya gue heran.
"Gapapa, lucu aja. Ternyata laki laki tau juga arti ghibah sebenarnya" ucap Vinka.
"Ya emang bener kan? Bener gak? Banyak kok keluarga besar yang kayak begitu, keluarga itu hanya formalitas di silsilah keluarga. Sisanya ya sendiri sendiri kecuali ada aib, atau kejelekan keluarga yang lain baru ikut campur ngehujat bahkan menyalahkan" ucap gue.
"Bener sih emang kenyataannya begitu" ucap Vinka.
"Jadi gak usah baik baik kecuali orang itu baik banget sama kita" ucap gue.
Vinka mengangguk patuh. Riko datang dengan segelas teh hangat dan minyak kayu putih besar di tangannya.
"Ini Mas, Kaka Ipar kenapa bisa jatuh santuy santuy aja di kolam sih bukannya naik?" tanya Riko.
"Bukan santuy Mas Riko, Vinka kan di dorong, mana siap mau berenang, gaun panjang gitu, mana pakek heels. Megap megap berat gaunnya" ucap Vinka.
"Minum dulu" ucap gue.
Vinka segera meneguk teh hangatnya.
"Olesin sendiri diperut sama di bagian d**a. Ntar gue olesin di tengkuk leher" ucap gue.
"Yaudah, mau gue ambilin baju ganti gak Kaka Ipar?" tanya Riko.
"Tolong ambilin aja dress yang dilemari paling kanan Mas Riko. Makasih yaa, maaf ngerepotin" ucap Vinka.
"Santuy Kaka Ipar" ucap Riko berlalu dari hadapan kami.
Setelah selesai mengolesi minyak kayu putih, Vinka dan gue kembali terdiam.
"Ke dalam aja apa? Lo nanti baju gimana?" tanya gue.
"Ya disini aja" ucap Vinka.
"Lah ada gue disini masa iya lo ganti disini?".
"Yailahhh, ya Mas Azhar masuk aja, aku ganti disini" ucap Vinka.
"Jangan, ntar ada yang ngelihat lo lagi ganti baju, keduluan tuh orang daripada gue" ucap gue asal.
"Apaan sih!" ucap Vinka.
"Lo gak baper gue godain?".
"Ngapain juga baper, banyak kali yang ngegodain aku. Cuman aku males doang nanggepinnya" ucap Vinka membanggakan diri.
"Harusnya lo merasa tersanjung gue puji dan gue goda, gue jarang ngepuji cewek. Asal lo tau juga, gue ini Dokter Idola para suster muda dan pasien cantik cantik dan bohay" ucap gue.
"Idihh, ya udah sama mereka aja. Ngapain coba nerima perjodohan nyusahin ini".
"Ya kali gue nolak, udah pilihan Mama Papa" ucap gue asal lagi.
"Bukannya Mas dulu nolak juga ya, dan gue masih ingat kok, Mas Azhar bilang gue bocah ingusan" ucap Vinka.
"Jangan pakek gue elo lagi gue bilang!" ucap gue yang sedikit kesal mendengar kalimat gue dan elo dari mulut Vinka.
"Ya habis, Mas Azhar juga pakek elo gue. Ya gapapa kali gue gitu juga" ucap Vinka.
"Sekali lagi ngomong gitu, gue gak segan segan cium lo lagi " ancam gue.
"Yaudah Mas Azhar jangan gitu juga, Vinka juga gak suka dengarnya" ucap Vinka.
Gue hanya mengacak rambut Vinka.
Riko datang dengan baju dress yang Vinka minta. Segera Vinka mengambil dress-nya yang memang cocok dipakai untuk acara resmi ini. Gaun yang basah tadi diletakkan di gazebo. Aku meminta asisten rumah tangga untuk mencucinya dengan hati-hati agar gaunnya tidak rusak.
Untuk kenang-kenangan setidaknya.
Setelah berganti baju, kami kembali masuk ke ruang tamu. Menghampiri 2 pasangan orang tua kami.
"Kemana aja Mas? Vinka?" tanya Mama.
"Ke belakang sebentar Ma tadi" ucap gue.
"Photo booth yuk Mas Azhar, Mba Vinka" ucap Haris menghampiri kami.
"Ayo" ucap Riko bersemangat.
"Idih orang gak ngajak Mas Riko kok" ucap Haris memanyunkan bibirnya.
"Ceilahh, gue juga Mas Lo kalik ah" ucap Riko.
"Ya sudah sana, foto-foto kalian" ucap Papa.
Riko dan Haris berjalan duluan. Sementara gue mempersilahkan Vinka berjalan di depan duluan, lalu gue dibelakangnya.
Dengan waktu 2 hari Mama menyiapkan ruang tamu rumah disulap menjadi dekor acara seperti di gedung-gedung besar. Termasuk spot photobooth ini.
Kami berempat pun melakukan sesi foto. Dengan beberapa kali take.
"Sekarang, Mas Azhar sama Kak Ipar berdua. Ambil yang banyak, buat nanti di acara nikahan juga dipajang di spot depan bareng foto prewedding" ucap Riko memerintahkan.
"Gak usah Ko, foto prewedd aja cukup kok" ucap gue menolak.
"Ceilahh Mas, malu malu nih yeee. Udah ayo foto!!!" seloroh Riko.
"Gak usah deh Mas Riko. Vinka juga gak mau ah" ucap Vinka menolak.
"Jangan nolak dong Kaka Ipar. Adu-in ke Mama Papa atau Om Tante nihh?" ancam Riko.
Kampret memang ini Adek satu. Gak tau kami awkward apa kalau pose cuman berdua.
Dengan paksaan dan ancaman dari Riko, mau gak mau, gue dan Vinka segera mengambil pose.
Segera gue tarik tubuh Vinka agar berdekatan dengan gue. Tubuhnya yang kecil hanya sebahu gue itu, gue dekap dan kami pun berpose Vinka tampak kikuk dengan posenya. Dan gue, berusaha santai.
Toh biasanya gue juga foto beginian sama Claudia di foto studio ataupun photobox di Mall kalau kami jalan jalan.
"Jangan deket deket dong Mas, bukan muhrim" ucap Vinka mengingatkan sambil berbisik.
"Lah, ntar lagi kan jadi muhrim?" tanya gue asal.
~BERSAMBUNG~