BOY - Episode 6

1559 Words
•••••Vinka POV••••• Bekas? Siapa yang bekas? Claudia? Bekas Mas Azhar? Bekas dalam hal apa? Apa mereka pernah tidur seranjang dan melakukan sesuatu yang seharusnya enggak boleh dilakukan sebelum menikah? Ah enggak enggak. Vinka, kalau ini sampai benar adanya lebih baik lo mundur. Kasian Mba Claudia itu. Menanggung malu sampai nanti ketika bertemu jodohnya karena tidak bisa menjaga yang harus ia jaga. Dan Mas Azhar dengan egoisnya meninggalkan dia karena dia tidak berbekas. Lain dengan Mba Claudia. "Ayo Vin, kita balik" ucap Mas Azhar membuyarkan lamunanku. Gue lihat teman Mas Azhar tadi sudah tidak ada, padahal baru saja gue melamun. Dan gue enggak mendengar apa yang mereka bicarakan. "Ayo, jangan ngelamun terus Vin" peringat Mas Azhar. Gue dan Mas Azhar segera beranjak dari sana dengan menenteng plastik berlogo masakan cepat saji, dan tas kecil berlogo toko accesories terbesar di Mall ini. "Mas, maksudnya bekas kata temen Mas tadi apa ya?" tanya gue penasaran. "Itu mah mereka bercanda aja kok. Gak usah dipikirin" ucap Mas Azhar. "Maaf nih, tadi aku pikir kalau bekas itu. Artinya Mba Claudia dan Mas Azhar pernah itu bareng" ucap gue mengisyaratkan 'itu' dengan isyarat kata tidur bareng. Mas Azhar terkekeuh, "Emang kalau aku pernah gitu sama Claudia, ada alasan untuk membatalkan perjodohan kita?". "Ya harus. Dia butuh Mas" ucap gue , "Aku gak mau nyakitin hati sesama perempuan. "Enggak usah berpikir yang aneh aneh Vin" ucap Mas Azhar, "Kalaupun mau tidur bareng. Ya tidur bareng sama kamu aja. Kan nanti bakal nikah". "Gila!" ucap gue. "Hahahaa" Mas Azhar tertawa. Kamipun segera pulang kerumah. Di rumah, sudah banyak pegawai Wedding Organizer yang menghias ruang tamu rumah Keluarga Mas Azhar. Dengan tema warna putih. Tante Lita datang menghampiri kami yang datang. "Mana coba Mama lihat cincinnya" ucap Tante Lita. Mas Azhar segera menyerahkan tas kecil tadi kepada Tante Lita. Tante Lita tersenyum dan segera membukanya. Ia takjub dengan cincin cantik pilihan Mas Azhar. Yang memang benar benar cantik. "Cocok banget di jari manis kalian berdua. Pasangan serasi" ucap Tante Lita, "Vinka jangan panggil Tante dan Om dengan sebutan Tante dan Om lagi ya. Coba panggil Mama dan Papa juga. Karena bagaimanapun juga, sebentar lagi kan kami jadi mertua Vinka". "E, eh, i, i, iya Maa" ucap gue kikuk. "Belajar dari sekarang ya" ucap Mama Lita. Sumpah, aku kikuk banget disuruh memanggil Tante dan Om dengan sebutan Mama dan Papa juga. Malu, tentu saja. "Sekarang pilih gaun kamu sayang, dan Mas Azhar pilih jas juga" ucap Mama Lita. "Iya Ma" ucap gue dan Mas Azhar berbarengan. "Serasi banget siiii kalian berdua" ucap Mama Lita gemas dengan kami. Setelah memilih gaun, pilihan gue jatuh ke gaun cantik dengan desain membentuk tubuh gue dibagian d**a hingga pinggul ke bawah, gaun terusan bawahnya mekar, dengan belahan disisi depan selutut. Di bagian d**a, desainnya tembus pandang tapi masih terlihat tertutup karena lengannya panjang. Gue juga diberikan kalung cantik pemberian Mama Lita. Sangat serasi dengan gaun yang gue pakai nanti. "Terimakasih Ma" ucap gue. "Sama sama sayangku" ucap Mama Lita. ~ •••••Author POV••••• 2 hari berlalu. Sampailah acara yang dinanti-nanti. Keluarga besar Papa Fahri, dan Mama Rini. Serta beberapa tamu undangan Tante Lita, dan Om Sultan. Acara pertunangan dimulai, Vinka keluar dengan gaun cantiknya, semua orang takjub memandang Vinka, make upnya natural dan auranya keluar. Tapi tak sedikit ada yang memandang heran, kok bisa sesama sepupu bertunangan dan mau menikah. Ini jarang terjadi di Ibukota Jakarta. Tapi Tante Lita sudah mengatakan di awal acara, niat ini tulus dari keluarga mereka. Karena mereka mau melihat anak mereka berbahagia dengan perjodohan yang memang sudah dipikirkan matang matang selama 10 tahun lebih jauh sebelum anak anak mereka sebesar ini. Acara tukar cincin pun dimulai. Azhar memasangkan cincin minimalis cantik kepada Vinka, begitu pula Vinka, memasangkan cincin minimalis modern kepada Azhar. Riuh tepuk tangan tamu dan orang orang yang bernapas lega. Apalagi orang tua Vinka dan orang tua Azhar. Azhar segera memeluk Vinka, membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu. "Lo gak akan bisa lepas dari gue setelah ini. Ingat ya" ucap Azhar. "Lo juga gak akan bisa lepas dari gue. Ingat itu" ucap Vinka. Mereka pun mengurai pelukan. Dan tersenyum kepada semua tamu. Seseorang diujung pintu rumah, dengan gaun panjang dan belahan gaun diatas lutut, serta bahu yang sengaja terbuka, menampilkan kulit putihnya yang mulus sekali. Rambutnya yang coklat panjang di sanggul cantik dengan jepit rambut yang elegan dan mewah. Hak lancip 10 cm-nya berbunyi ketika ia berjalan, langkahnya anggun menghampiri tempat berdirinya Vinka dan Azhar yang sibuk menjamu beberapa tamu yang ingin berselfie dengan mereka. "Selamat yaa Azhar" ucap wanita itu ramah. Vinka dan Azhar berbalik menatap seseorang yang berbicara tadi. "Claudia" ucap Azhar pelan. Gadis itu mengulurkan tangannya. Senyuman hangatnya terpancar ke arah Azhar, dan senyuman sinis terarah ke arah Vinka. "Oh, ini. Pilihan orang tua kamu Har?" tanyanya menatap sinis ke arah Vinka. Vinka menatap dirinya lalu ia menatap wanita cantik itu. Memang kalah jauh kalau dirinya dibandingkan dengan Claudia ini. "Masih kalah jauh ya, kok kamu mau sih Har?" tanya Claudia. Azhar segera menarik lengan Claudia. Mereka pergi menuju kolam renang belakang rumah. Vinka segera mengikuti mereka. "Kamu putusin aku, dan tunangan seenak jidat begitu apa gak bikin aku sakit hati? Aku sama kamu udah berapa lama?" tanya Claudia menepis kasar tangan Azhar. "Gak ada pilihan lain Lau, aku gak bisa nyakitin Papa Mamaku" ucap Azhar. "2 tahun aku sama kamu, aku berasa kayak simpanan, mau ke rumah kamu dilarang, sebenarnya kamu cinta aku gak sih?" tanya Claudia. "Cinta Lau, cinta! Cuman kita gak bisa lanjut" ucap Azhar. "Kamu egois ya Har. Ngambil keputusan gini. Yang rugi siapa? Aku!!!" ucap Claudia emosi. "Jangan ganggu aku lagi Lau, kamu bisa cari orang yang bisa bahagiain kamu" ucap Azhar. "Gak akan bisa. Ingat ya, aku gak akan tinggal diam. Aku bakal hancurin tunangan kamu itu" ucap Claudia. Vinka segera menghampiri keduanya. "Kalau lo udah diputusin jangan ngemis ngemis dong" ucap Vinka berani. "Idih, bocah ingusan" celetuk Claudia. "Gak masalah, yang akhirnya dapetin Mas Azhar siapa? Gue ingusan gini bisa dapet cowok ganteng kaya Mas Azhar. Lo apa?" tanya Vinka, "Lo aja kalah dari gue". "Kalau bukan karena perjodohan Azhar juga gak bakalan mau sama lo" ucap Claudia. "Lah tapi kan gue gak ngemis minta dijodohin. Yang mau kan Papa Mama Mas Azhar dan restu orang tua gue" ucap Vinka. "Oh yaaa? Tapi gue yang dapetin semua yang Azhar punya. Semua yang dia punya. Dia bekas gue" ucap Claudia. "Bekas apa? Lo tidur sama Mas Azhar? Ya lo murahan berarti. Kok mau ditidurin, belum juga nikah" ucap Vinka, "Lo pikir gue bakal lepas Mas Azhar setelah tau lo tidur sama dia? Sorry, jangan harap". Claudia yang emosi segera mendorong tubuh Vinka ke dalam kolam. Byuurr! Vinka megap-megap, berusaha mencapai tepian. Azhar hampir menceburkan diri menolong Vinka. Tapi tangan Claudia menarik lengan Azhar. Melarang Azhar terjun ke kolam. "Anak orang Lau" ucap Azhar. Riko yang kebetulan hendak menyendiri di gazebo belakang, melihat adegan tadi, segera ia berlari dan menceburkan dirinya ke kolam berenang. Menolong Vinka. Vinka pingsan. "Bang, tunangan lo loh Bang!" ucap Riko segera menepuk nepuk pipi Vinka. "Gue aja Ko" ucap Azhar. Segera ia mencoba menekan bagian d**a Vinka, sambil menepuk-nepuk pipi Vinka. "Vin bangun" ucap Azhar sedikit panik. Azhar berusaha menekan lagi, cukup banyak air keluar dari mulut Vinka, ia terbatuk batuk. Gaunnya sudah basah, rambutnya juga sudah berantakan. Tangannya cukup dingin. "Tolong ambilin handuk Ko sama minyak kayu putih. Minta tolong Bi Titin tolong bikinin teh hangat" ucap Azhar. "Ok Bang" ucap Riko melayangkan pandangannya pada perempuan yang sejak tadi berdiri disamping kolam, "Lo yang dorong calon Kaka Ipar gue?". "Gue calon Kaka Ipar lo, bukan tuh bocah ingusan" ucap Claudia dengan menunjuk tubuh Vinka yang masih terbatuk dan dibantu Azhar berdiri. "Mending lo jadi istri gue, jangan rebutan Mas Azhar, gue juga ganteng" ucap Riko, "Sini lo ikut gue. Ganggu aja". Riko segera menyeret tubuh Claudia dengan kencang. Meski meronta cukup keras, Claudia kalah dengan tenaga Riko. Azhar segera membawa tubuh Vinka ke gazebo. Vinka menutupi bagian depan tubuhnya dengan kedua tangan. Ia kedinginan, tubuhnya lemah. Kalau ia sigap bisa saja ia menarik juga tangan Claudia yang mendorongnya. Vinka bukannya tidak bisa berenang, tapi kakinya berheels tinggi, belum lagi gaun yang cukup susah membuatnya bergerak. Ia kesulitan bergerak. Meminta tolong juga tidak bisa. Untung kehidupan masih berpihak kepadanya. Ia ditolong oleh Riko. Harusnya Azhar yang menolongnya. Tapi Claudia wanita menyebalkan itu, ia tahu wanita itu yang menahan Azhar untuk jangan menolongnya. "Hati hati, Claudia bukan cewek biasa" peringat Azhar, segera membuka jasnya, dan memasangkannya ke tubuh Vinka. "Aku gak takut dia nyakitin aku, asal jangan orang orang yang aku sayangin aja" ucap Vinka, "Ini yang bikin aku gak mau dijodoh-jodohin. Kau ada yang sakit hati pasti ya macam Mba Claudia itu". ~ •••••Azhar POV••••• Claudia tau darimana juga acara ini. Gue udah bilang jangan sampai Claudia tau ke temen temen gue. Tapi akhirnya malah dia kesini dan ngamuk-ngamuk. Bikin malu sebenarnya. "Kalau lo udah diputusin jangan ngemis ngemis dong" ucap Vinka berani. "Idih, bocah ingusan" celetuk Claudia. Haduh bakal kacau kalau dua wanita ini beradu mulut, tangan, apalagi bergulat dihadapan gue. Claudia bukan tipikal wanita seperti ini, tapi melihat dia yang se-emosi ini. Gue yakin perang Dunia ke-3 akan dimulai sebentar lagi ~BERSAMBUNG~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD