BOY - Episode 5

1530 Words
•••••Vinka POV••••• Keesokan harinya, pukul 9 paginya, Papa dan Mama dari Vinka datang ke rumah. Mamanya benar-benar ingin sekali memarahi Vinka habis-habisan, tapi karena ada sang Suami yang sudah melarangnya untuk memarahi anak mereka, anak mereka satu-satunya. Vinka segera keluar dari kamar dengan kaos polos pink oversize dan celana hotpants putihnya. "Papaaaa" Vinka segera berlari dan memeluk Papanya. "Makin cantik ya anak Papa" ucap Papa Vinka mencium ciumi puncak kepala Vinka penuh kasih. "Vinka, siapa yang nyuruh kamu kabur kaya gitu dari rumah Om sama Tante. Bikin semua orang khawatir!" ucap Mama. "Emang Mama peduli? Vinka disini gimana emang Mama mikirin? tanya Vinka, "Vinka nakal baru Mama peduli. Kemarin kemarin kemana aja?". "Vinka cukup Nak. Jangan begitu sama Mama ya" ucap Papa melepas pelukan. "Mama gak se-khawatir itu sama Vinka. Buktinya, selama ini Vinka butuh Mama, Mama gak ada buat Vinka. Yang Mama pikirin itu cuman Kerja kerja kerja, arisan, terus client. Itu kan yang menurut Mama lebih penting?". "Eh sudah sudah. Ayo duduk, ada yang mau kami bicarakan" ucap Om Sultan menengahi pembicaraan. "Kalau Mama gak kerja, Papa gak kerja, gimana kamu kuliah dan tabungan masa depan nanti kalau suatu saat Papa, Mama tinggalin kamu meninggal?" tanya Mama. "Kalau merasa terbebani sama kuliah Vinka, Vinka bisa kerja sambil kuliah. Mama gak usah kerja. Atau berhenti aja kuliah. Kan cewek ujung ujungnya habis nikah didapur, ngurus anak, ngurus suami. Bukan belajar apa apa lagi" celetuk Vinka. "Justru karena pemikiran kamu begini kamu kuliah" ucap Mama. "Sudah Ma, sudah...." tegur Papa. "Sudah Rin. Ini Mas Sultan ada yang mau dibicarain" ucap Tante Lita ikut menengahi. Setelah tenang selama 2 menit. Om Sultan pun berdeham dan mulai membuka percakapan. "Oke, karena Rini dan Fahri sudah ada disini. Kita percepat saja pembicaraannya. Kami akan menjodohkan Anak kami Azhar, dengan Vinka" ucap Om Sultan. "Mas Sultan, tapi saya enggak tau tentang perjodohan ini. Saya bukannya menolak, cuman kan Vinka masih kecil, Azhar juga belum tentu...." ucapan Papa Vinka disela Azhar. "Azhar mau kok Om Fahri. Azhar mau dijodohkan dengan Vinka" ucap Azhar. "Apa apaan sih Mas, bukannya Mas yang nolak dan ngamuk ngamuk kemarin? Kok malah berubah sih omongannya?" tanya Vinka kesal. "Ya kenapa? Keputusan bisa berubah karena saya gak mau nyakitin Papa Mama saya" ucap Azhar. "Pokoknya Vinka menolak perjodohan ini Om, Tante. Maaf" ucap Vinka. "Vinka, semua ini demi kebaikan kamu. Om Sultan enggak mau kamu disakitin pria lain" ucap Mama. "Dia aja udah nyakitin aku. Dia tuh kasar, aku gak mau" ucap Vinka menunjukan pergelangan tangannya yang masih membiru sedikit. "Azhar gak sengaja kali, lagian kamu juga kan yang bandel, kabur segala dari rumah" ucap Mama. "Siapa yang gak kabur orang dari kemarin aku dihina melulu karena dia menentang perjodohan ini. Terus nyakitin aku. Papa aja gak pernah nyakitin aku apalagi ngehina" ucap Vinka. "Emm, Om Tante, maafin Azhar untuk kejadian ini. Tapi sekarang Azhar janji, gak akan lagi menghina atau pun menyakiti Vinka lagi. Azhar gak akan berbohong" ucap Azhar. "Bagaimana Fahri, Rini. Kami tinggal menunggu restu dari kalian" ucap Tante Lita, "Aku akan sangat bahagia kalau menantuku benar benar Vinka. Aku hanya menginginkan dia yang jadi menantuku". Papa dan Mama saling berpandangan dan menggenggam tangan, sangat sulit untuk memutuskan semuanya, terlebih kalau Vinka menolak ketika mereka merestui perjodohan ini. "Vinka, maafin Papa. Tapi ini semua demi kebaikan anak Papa tersayang. Papa merestui perjodohan ini" ucap Papa. "Apa? Bukannya Papa udah janji menentang perjodohan ini kemarin? Papa kenapa ikut ikutan Mama sihhh!" Vinka menghentak hentakkan kakinya. "Gak usah ngamuk, Mas Azhar janji akan membahagiakan kamu" ucap Azhar menghampiri Vinka, dan memeluknya, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Vinka "Gak usah munafik, lo suka kan sama gue sejak pertama kita ketemu?". Vinka membalas bisikannya, "Ogah! Dan gak ada tuh terpikir buat gue naksir ke elo sedikitpun. Lo bukan tipe gue". "Kalau lo gak naksir, gue buat lo naksir sama gue" bisik Azhar lagi, lalu melepas pelukannya. "Alhamdulillah kalau pertemuan ini berhasil kita bicarakan. Biar Vinka lulus kuliah dulu, baru kita bicarakan jadwal pernikahan mereka. Biar Vinka fokus selesai kuliah, dan Azhar fokus menabung untuk pernikahannya yang akan besar besaran" ucap Tante Lita antusias. "Lebih baik mereka bertunangan dulu" ucap Om Sultan. "Hmm, oke juga. Tapi Fahri dan Rini, kalian berapa lama di Jakarta?" tanya Tante Lita lagi. "Rencananya sih 3 hari Mba" jawab Mama. "Oh, oke. Kalau begitu aku akan urus hari ini untuk dekor pertunangan, Vinka dan Azhar fokus cari cincin pertunangan. Dan lusa mereka bertunangan" ucap Tante Lita. "Vinka gak setuju Tante. Maaf, tolong hargai keputusan Vinka...." ucap Vinka memohon. "Maaf sayang, tapi Azhar, Om, Tante dan orang tua kamu sudah setuju" ucap Tante Lita, "Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Kebersamaan kalian akan dimulai dari besok". Setelah percakapan selesai Tante Lita sibuk dengan handphonenya menghubungi Decor pertunangan elegant sederhana pilihannya. Papa dan Mama sibuk menghubungi keluarga yang ada di Kalimantan Selatan untuk mengundang mereka ke acara pertunangan Vinka dan Azhar yang akan dilaksanakan lusa di Jakarta, kediaman calon mertua Vinka. Vinka sibuk menatap kolam renang dan taman di belakang, ia memilih duduk di gazebo sudut yang tidak memungkinkan seseorang bisa melihatnya. Ia was was takut Azhar tahu dia disini. Bisa bisa kembali lagi adegan kemarin itu terulang. Ia memegangi bibirnya sejak tadi. "Apa dia punya misi balas dendam ya ke gue? Apa dia bakalan nyakitin gue? Cuman kok aneh. Kenapa dengan cara menerima perjodohan ini? Dia bisa menentang jika dia mau" ucap Vinka pelan. Seseorang sudah duduk dihadapannya dan mendekati wajahnya. Azhar kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Vinka. Dengan sigap Vinka mendorong tubuh Azhar. "Apa apaan sih Mas! Jangan coba coba cium gue lagi. Gue bukan cewek murahan ya" ucap Vinka. "Bibir lo tuh bikin gue pengen cium melulu" ucap Azhar, segera mengunci pergerakan Vinka dengan tangan kekarnya. Cupp. Azhar kembali mencium Vinka, kali ini dengan sedikit lumatan manis. Entah, kenapa ia melakukan ini. Tapi ia memang berniat mengganggu Vinka. Membuat gadis ini kesal dan memakinya. "Jangan nolak, karena besok besok gue akan ngelakuin ini terus ke elo" ucap Azhar menyeka bibir Vinka yang sedikit basah. "Gila" ucap Vinka, "Lo m***m ke gue padahal kemarin kemarin nolak perjodohan ini". "Gak papa Vin, m***m ke calon istri beberapa tahun lagi" ucap Azhar santai. "Idihhh tunangan bisa aja batal dipertengahan jalan liat aja nanti. Gue yang bakal ngeputusin. Lo tenang aja, lo sama Pacar lo itu akan balik dan nikah, lalu bahagia" ucap Vinka. "Kalau bahagianya gue sama lo gimana?" tanya Azhar. "Gak mungkin lah, gue gak bahagia sama elo" ucap Vinka. "Gak sopan. Sekarang panggil aku Mas aja. Jangan pakek gue elo lagi" ucap Azhar mengingatkan sambil memperbaiki rambut Vinka yang sedikit berantakan akibat ia tadi menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan menolak untuk ia cium. "Apaan sih! Kemarin aja manggil Vinka bocah ingusan" ucap Vinka. "Sekarang enggak. Nanti Mas panggil si manis" ucap Azhar. "Alay!". "Bibir kamu yang manis, mau aku cium tiap menit" ucap Azhar m***m. "Jangan harap, besok besok bibir gue gue kasih lem korea" ucap Vinka. "Waduhh, jangan dong. Nanti kering gak cantik lagi" ucap Azhar, "Bisa melepuh bibir manis ini". "Biarin!". "Ayo keluar" ucap Azhar. "Kemana?" tanya Vinka. "Cari cincin" ucap Azhar, "Lusa kan kita tunangan". "Secepat itu kah? Padahal aku bisa kabur loh lusa. Jangan menyakiti pacar Mas dengan pertunangan ini" ucap Vinka. "Ya gimana lagi, keputusan orang tua menjodohkan kita berarti ada kebaikan di dalamnya" ucap Azhar. "Tumben omongannya dewasa, biasanya memaki dan menghina" ucap Vinka. "Gak akan lagi Vin" ucap Azhar, "Ayo berangkat. Cari cincin cantik pilihan kamu". Azhar dan Vinka segera pergi ke Mall untuk memilih cincin pertunangan mereka. Azhar menggandeng tangan Vinka lembut, tanpa berusaha melepas tautan tangan mereka. Setelah berkeliling selama satu jam, pilihan mereka jatuh ke cincin cantik bermotif sederhana tali kelihatan sangat elegan. Apalagi ketika dipakai di jari manis Vinka. Sangat cantik. Tanpa berpikir panjang Azhar segera membayarnya. "Gak pilih gaun buat tunangan?" tanya Azhar. "Gak usah ahh, cuman buat sebentar doang" ucap Vinka. "Jangan gitu. Penampilan juga harus terjaga" ucap Azhar, segera ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi Mamanya. "Assalamu'alaikum Ma, Ma kami pilih baju buat tunangan enggak? Oh sudah dibawa ke rumah model dan pilihannya? Ada yang model paling terbaru ambil yang itu aja Ma. Ok Ma terimakasih, Assalamu'alaikum...." ucap Azhar segera menutup telponnya. "Gimana Mas?" tanya Vinka. "Udah aman sama Mama. Ini kita makan dulu yuk laper" ucap Azhar. "Terserah Mas aja" ucap Vinka. Akhirnya merekapun mampir ke restoran cepat saji dan makan bersama sebagian dibungkus untuk dibawa pulang ke rumah. "Azhar" sapa beberapa orang lelaki seumuran Azhar. "Siapa Har, kenalin kita dong" ucap para lelaki itu. "Ini sepupu gue" ucap Azhar. "Gue kira tadi Claudia dari jauh" ucap salah satu dari mereka. "Claudia disini juga tadi kita ketemua soalnya. Gue kira lo janjian Har" ucap yang lain juga. "Enggak bro" ucap Azhar santai. "Widih beli cincin mahal nih dari kresek nya juga ada brandnya mau lamar Claudia lu bro?" tanyanya lagi ketika melihat tas kecil berlogo toko accesories terkenal di Mall itu tertaruh rapi di dekat tas Vinka. "Cincin tunangan gue sama sepupu gue" ucap Azhar. "Lah pacar lo gimane Har". "Udah putus Bro" ucap Azhar. "Waduhhh sayang banget. Kalau gitu Claudia kasih ke gue yaa. Bekas lo juga gue mau Har". ~BERSAMBUNG~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD