BOY - Episode 4

2714 Words
•••••Author POV••••• Vinka segera mempacking barang barangnya. Ia berusaha melakukannya secepat mungkin. Mumpung Tante Lita dan Om Sultan tidak ada dirumah. Setelah menulis beberapa kata di selembar kertas, ia segera pergi membawa koper kopernya dengan susah payah. Setelah berada di depan rumah Om Sultan dan Tante Lita, ia segera menyetop taksi yang kebetulan lewat disaat yang tepat. "Semoga keputusan gue tepat" ucap Vinka segera masuk ke mobil setelah kopernya dimasukkan oleh Pak Supir. Vinka segera mematikan Hapenya. Karena ia yakin 2 hari nanti Mama dan Om Sultan serta Tante Lita akan sibuk memborbardir hapenya untuk dihubungi. Vinka kembali ke kost-kostannya, Vera kaget setengah mati ketika melihat Vinka kembali dengan kopernya. "Kalo nyokap gue telpon bilang aja gue gak disini, nanti gue bakalan dijemput paksa nanti" ucap Vinka. "Iya Vin, iya. Kenapa bisa nih lo balik lagi? Gak betah disana lo?" tanya Vera. "Iya, intinya gue kabur, karena gue gak pengen dijodohin" ucap Vinka. "Lo dijodohin sama siapa?" tanya Vera antusias. "Sama Kakak sepupu gue" ucap Vinka. "What? Masih jaman perjodohan di jaman kayak gini? Hahahahaa" Vera tertawa nyaring. "Udah deh lo ah, gak usah lebay" ucap Vinka mendelik, "Gak rela gue hidup gue diserahkan ke Sepupu galak begitu". "Sepupu lo ganteng gak Vin?" tanya Vera, "Kalau lo gak mau mending sama gue". "Ambil aja sana, gue gak akan sudi dia jadi suami gue" ucap Vinka. Vinka merebahkan dirinya ke kasur Vera. Tak perduli sang empu kamar mencebikkan bibirnya kesal. "Gimana kalau Nyokap nelpon elo Ver? Lo bilang kayak gimana ntar. Ntar mulut lo comel lagi" celetuk Vinka. "Gak lah Vin, gue kan udah janji gak bakalan bilang bilang lo disini" ucap Vera. "Bagus lah, gue izin ngampus dulu deh 2 hari" ucap Vinka. "Jangan lah Vin, lo nanti makin susah loh" ucap Vera. "Kalau gue ke kampus, yang ada Om gue bakal nyariin gue disana. Percuma gue balik kesini Vera Dong dong" ucap Vinka. "Terus lo disini sama aja lo cari susah Vin. Om sama Tante lo nyariin khawatir" ucap Vera labil. "Udah deh ah Ver, lo diem dulu. Ntar gue cari ide lain. Yang penting gue gak disana dulu. Kepala gue pusing kalau berhadapan dengan Cowok galak itu" ucap Vinka. Handphone Vera bergetar, segera ia membaca nama yang tertera di layar handphonenya. "Mama lo Vin" ucap Vera takut. "Udah angkat aja" ucap Vinka. "Wa'alaikumsalam Tante, iya Tante alhamdulillah baik. Vinka? Ah enggak ada Tante, Vera dirumah nih dari pagi, Vinka gak ada telpon-telpon ke Vera loh kalau dia keluar. Biasanya kalau kami mau keluar janjian dulu. Iya Tante, enggak ada. Ok Tante, sama sama. Wa'alaikumsalam" ucap Vera segera menutup telponnya. "Gimana?" tanya Vinka penasaran. "Lo aman beberapa hari. Tapi lusa Nyokap lo mau ke Jakarta lagi, bareng Bokap lo. Nyariin lo yang tiba-tiba gak ada kabar, kabur dari rumah Om elo" ucap Vera. "Hah? Sama Papa? Aduhhh gaswat nih" ucap Vinka takut takut. "Makanya, sebelum ambil keputusan, jangan gegabah dulu. Lo yang susah jadinya nanti" ucap Vera. "Besok aja lah ntar gue telpon Bokap aja. Suruh gak usah kesini, dan minta tolak perjodohan ini" ucap Vinka. "Terserah elo lah. Lo susah kalau dibilangin. Semoga selamat deh lo dari amukkan Mama lo" ucap Vera. "Tenang, gak akan ngamuk kalau Bokap gue bertindak" ucap Vinka. Keesokan harinya, Vinka segera menyalakan ponselnya yang sejak kemarin mati total. 99 missed calls from Ibu Negara ? 199 missed calls from Tante Lita ❤️ 1 missed call from Papa Terbaik Sedunia ? 1 missed call from 0822......89 10 chats unread massages Vinka segera membuka chat tersebut. From : 0822......89 Dimana lo?. Nyokap Bokap gue sampai kalang kabut nyariin elo. Enak tidur lo? Nyenyak? Bokap Nyokap gue sampai susah tidur. Gak tau terimakasih banget jadi cewek ingusan. Sok sibuk, lo kerja juga belom. Eh, balik woy. Kasian Nyokap gue nangis nangis. Oy cewek ingusan, jangan bikin gue turun tangan nyeret lo balik. Awas kalau gue sampai yang nemuin lo, jangan harap lo bisa seenaknya kabur lagi. Siap siap besok lo, lo gak akan bisa lagi bebas dari keluarga gue. Tunggu tanggal mainnya. Cewek ingusan, jangan sampai gue murka. Vinka bergidik ngeri membaca pesan dari seseorang yang belum dia simpan, dan ternyata itu adalah nomer Azhar. "Kok gue jadi ngeri ye baca chat dia" celetuk Vinka. "Gue berangkat dulu ya Vin" ucap Vera. "Lo udah bikin sarapan gak Ver? Gue laper" ucap Vinka tanpa basa basi. "Idihhh, beli aja napa dibawah, biasanya lo juga gak makan" ucap Vera kesal. "Yaudah deh, gue makan di warung Bi Iin aja deh" ucap Vinka. "Udah ya, bye" ucap Vera segera keluar dari kamar. Vinka segera mengetikkan pesan balasan kepada nomer Azhar. Santai Bosss, ini kan yang Mas mau? Biar semua clear. Gak ada yang merasa dibebani dengan perjodohan yang gak akan terjadi ini. Vinka segera mengirimkan pesan itu tanpa harus memikirkan apa reaksi lelaki yang membaca pesannya nanti. Kemudian, segera ia menelpon kontak Papa Terbaik Sedunia ?. "Assalamu'alaikum Papaaaa, maafin Vinka. Vinka kabur dari rumah Om Sultan. Vinka enggak mau dijodohin! Enggak mau balik kesana. Enggak mau sama Mas Azhar yang galak! Iya, Papa bujuk Mama ya, Vinka enggak mau balik kesana gak mau pokoknya". Setelah mendengar jawaban menenangkan dari Papanya yang tidak memarahinya, dan tetap menjadikannya Anak kesayangan yang selalu dituruti keinginannya. Segera ia menutup telponnya. "Goodbye perjodohan" ucap Vinka tersenyum penuh kemenangan. ~ •••••Azhar POV••••• Ku lihat Mama masih mondar mandir di depan pintu utama. Ku lihat jam sudah pukul 11 malam. "Tidur Ma" ucapku. Mama berbalik mengusap air matanya. "Coba kalau kamu enggak kasar Mas, gak mungkin Vinka pergi kayak gitu. Mama gak enak sama Tante Rini" ucap Mama. "Ya habis Azhar harus gimana?" tanyaku. "Terima perjodohan apa susahnya sih Mas? Lagipula ini semua demi kebaikan kamu dan Vinka. Mama yakin, seiringnya waktu kalian itu akan saling mencintai" ucap Mama. "Cinta apa? Azhar udah punya calon Ma, Claudia itu pacar Azhar. Udah 2 tahun" ucap Azhar. "Pacaran bisa putus Mas" ucap Mama duduk di sofa ruang tamu. "Menikah juga bisa cerai kalau gak saling mencintai dan satu jalan" ucap Azhar. "Ya itu pemikiran kamu Mas, buktinya Mama sama Papa dijodohkan, apa Papa Mama pisah dengan alasan tidak saling mencintai?" tanya Mama. "Pokoknya Azhar menolak perjodohan ini. Apalagi Vinka" ucap Azhar kesal. "Dilihat sedetik aja, Vinka itu orang yang gampang mencintai kalau dia dimanja, dia perlu lelaki seperti kamu Mas. Dia anak semata wayang, perlu dijaga" ucap Mama. "Claudia gimana? Apa Mama tega ngelihat wanita yang Azhar cintai menderita? Azhar udah nyaman sama dia. Udah 2 tahun Ma" ucap Azhar. "Putuskan dia. Dia lebih baik mendapatkan laki laki yang lain, yang mampu membahagiakan dia lebih dari kamu Mas Azhar" ucap Mama. "Azhar gak bisa" ucap Azhar. "Kamu gak bisa membahagiakan Mama sama Papa? Mama Papa udah tua Azhar" ucap Mama. "Ma, jangan gini dong Ma" ucap Azhar kesal mengusap wajahnya. "Kamu mau kan Mas, membahagiakan Mama? Permintaan Mama ini aja loh Mas" ucap Mama. "Jangan paksa Azhar. Azhar gak suka" ucap Azhar berlalu. Dilihatnya Mamanya diam saja, tetapi masih bisa ia dengar Mamanya menangis. Kok bisa sih, se-berarti itu bocah ingusan di mata Mama? Ketemu juga jarang, baru beberapa hari ini tinggal serumah. Apa pengaruh dia sebesar itu dihidup Mama. Apa kelebihannya? Perasaan gak ada sesuatu yang patut dibanggakan dari diri bocah ingusan itu. Tapi dari hari ini, jangan harap lo bisa seenaknya sama keluarga gue bocah ingusan. Gue gak akan tinggal diam. Gue bisa menghancurkan hidup lo perlahan lahan sebetulnya. Tapi karena lo sepupu gue, ada pengecualian. Kalau gak bisa menghancurkan hidup lo, gue masih bisa menyakiti perasaan lo secara perlahan. Gue bikin lo jatuh cinta ke gue, lalu gue tinggalkan. Segampang itu untuk menyakiti lo bocah ingusan. Lo boleh kabur sekarang, tapi setelah gue dapat lo nanti, jangan harap lo bebas begitu aja dari genggaman gue. Gue pastikan lo tersiksa sama perasaan suka lo ke gue. Sampai sampai lo bisa gila setelah gue tinggalkan begitu aja. Segera ku ketikkan pesan ke nomer bocah ingusan yang beberapa waktu lalu gue telpon karena Mama dan Papa panik ketika tidak menemukan dia di seluruh penjuru rumah. Nomer yang secara terpaksa harus gue simpan sementara. Setelah puas mengetik 10 pesan berisi ancaman. Gue segera memejamkan mata. Berharap besok bisa menemukan bocah ingusan itu dengan tangan gue sendiri. Hanya tangan gue yang akan menyeret tubuh kecilnya kembali ke rumah ini, dan meminta maaf pada Papa dan Mama yang sudah dibuatnya khawatir hingga susah tidur. ~ Keesokan paginya, ku lewati kos kosan tempat tinggal bocah ingusan itu. Feeling gue yakin dia akan kesini, karena dulu kan dia tinggal bersama sahabatnya yang juga ingusan. Otomatis kalau ada apa apa, pasti dia kesini duluan. Mau kemana lagi? Keluarganya disini juga cuman keluarga gue. Gak usah penasaran kenapa gue bisa tau dia barangkali ada disini, gue dapat info dari Mama. Dan Mama yang memaksa gue untuk memantau dia. Jam setengah 7 gue sudah standby di dekat kos kosan yang gak terlalu besar ini. Tapi mampu menampung bocah ingusan itu. Bagaikan Dewi Fortuna berpihak pada gue hari ini, gue lihat bocah ingusan itu melangkah ringan keluar dari kos kosan dengan rambut yang diikat tinggi keatas, dengan baju tidur kebesaran dan sambil menguap tanpa menutup mulut, ia berjalan santai menuju warung kecil yang gue yakini adalah warung makan. Segera gue jalankan mobil menepi mendekati nya. Tanpa ia ketahui, segera gue keluar dan menarik tangannya dengan keras. "Woy! Apa apaan nih!" teriaknya memukuli tanganku beringas. Besar juga tenaga bocah ingusan. Gue hanya bisa menahan tawa, segera gue seret badannya yang kecil masuk ke dalam mobil. Gue kunci otomatis pintu di bagian dia duduk. Antisipasi takut bocah ingusan kabur. "Gue bakal nemuin lo secepat ini bocah ingusan hahahaa" ucap gue sambil tertawa. Bocah ini terus terusan mencoba melepas genggaman paksa gue. Tapi tidak bisa. Gue hanya bisa tertawa nyaring. Setelah puas mencengkram tangannya, gue pun melepas pegangannya. Sungguh muka dia lucu banget. Menahan kesal bercampur marah. Semua jadi satu. PLAK! Sebuah tamparan mengenai pipi kanan gue. Rasanya perih sekali. Gue lihat tangan bocah ini memerah, tercetak jelas tangan gue dipergelangan tangannya. Mata boca ingusan ini berair. "Bukan kayak gini harusnya lo perlakuin gue. Jambak aja sekalian, pukul sekalian" ucapnya menahan tangisan. "Apa salah gue? Gue udah berusaha biar perjodohan ini batal dengan cara pergi. Gue udah minta Papa turun tangan. Buat kebaikan lo juga gue. Lo kan yang minta buat tentang perjodohan ini?". "Salah gue kabur? Gue gak mau tinggal ditempat yang sama sama orang yang gak punya hati kayak lo. Lo kasar sama gue. Padahal gue gak pernah nyakitin lo. Gue berusaha sopan ya selama ini". "Tapi, dengan lo nyiksa gue gini. Sampai tangan gue nanti biru lebam. Gue gak segan segan jadiin ini bukti karna lo? Gak pantas jadi suami gue. Cowok kasar, suka menghina orang lain, arogan, gak punya hati" ucap nya menunjukan pergelengannya yang sudah mulai memerah. "Seumur umur, sampai gue segede ini. Gak pernah Papa Mama gue pukul gue. Atau pun nyiksa gue kayak gini. Lo bebas hina gue bocah ingusan. Tapi jangan nyakitin fisik dong". Gue lihat setetes bening air matanya jatuh. Segera dia mengusapnya. "Lo mau seret gue kemana? Ke Om Sultan sama Tante Lita. Bawa aja, seret gue. Tapi jangan pernah berharap gue balik lagi ke rumah elo. Apalagi se rumah lagi sama elo Dokter kasar" ucapnya. Emosi gue naik ketika dia menyebut gue dengan sebutan dokter kasar. Bisa bisanya dia menghina pekerjaan gue yang mulia sekali. Gue tancap gas mobil dengan kecepatan tinggi. Oke, dia mau main main sama gue. Gue akan siksa batinnya perlahan lahan. Tunggu tanggal mainnya bocah ingusan. Setelah menempuh perjalanan cukup memakan waktu segera gue seret tubuh mungilnya masuk ke rumah. Mama yang melihat kedatangannya segera antusias. Ia memeluk bocah ingusan ini yang hanya diam seribu bahasa. "Jangan pergi pergi lagi dong sayang, maafin Azhar ataupun keluarga ini kalau ada yang salah. Kamu kan calon menantu Tante. Menantu kesayangan selamanya" ucap Mama. "Maaf Tante, Vinka gak bisa jadi istri Mas Azhar. Vinka menolak perjodohan ini. Vinka gak mau ada seseorang yang tersakiti karena Vinka. Vinka senang kok tinggal disini. Tapi Vinka lebih senang hidup sendiri di Jakarta, Vinka gak mau ngerepotin orang lain. Keputusan Vinka udah bulat, Vinka akan kembali ngekos aja di Jakarta". "Loh kok gitu? Mama kamu gimana sayang? Mama kamu orang yang paling khawatir sama Vinka" ucap Mama mengusap rambut bocah ingusan. Cih, seneng tuh berasa Tuan Putri!. "Nggak Tante, Mama udah dibujuk sama Papa. Papa udah mengizinkan Vinka ngekos" ucap bocah ingusan. Mama segera meraih tangan bocah ingusan yang memerah tanpa memperhatikan tangannya. Bocah ingusan terlihat menahan kesakitan. Wajar sih sakit, gue memang kenceng banget pegang tangan dia. Biar dia tau diri, tau rasa juga. "Ini kenapa? Tangannya kayak tangan cowok. Kamu nyiksa Vinka Mas?" tanya Mama. "Cuman cengkram doang buat kesini Ma" ucap gue. "Ini nanti lebam dan jadi biru loh Mas. Kamu kok kasar begini sama Vinka" ucap Mama, "Udah sini Tante olesin dulu Vin, biar gak terlalu sakit. Mas, ambilin salep pereda sakit". Mama dan bocah ingusan segera duduk di sofa. Gue segera mencari salep yang Mama minta di dalam kotak P3K. Setelah dapat segera gue berikan pada Mama. "Maafin Mas Azhar ya Vin" ucap Mama mengolesi salep itu pada pergelangan tangannya. "Vinka gak mau dijodohkan ya Tante. Vinka gak mau disiksa kaya begini lagi. Gak ada cowok yang nyakitin Vinka kaya gini. Papa aja gak pernah sekalipun begini. Bahkan membentak Vinka aja Papa gak pernah. Orang yang membesarkan dan menafkahi Vinka sejak kecil" ucapnya. "Nanti Tante nasehatin Mas Azhar nya ya, Vinka mau kan jadi menantu Tante. Tante maunya Vinka jadi menantu Tante" ucap Mama masih ngotot. "Gak Tante, Vinka gak mau" ucapnya. "Jangan nolak, kasian Mama. Azhar berubah pikiran nih Ma, Azhar udah mau loh" ucap gue. Gue bikin lo baper, terus gue tinggalin. Segampang itu Bocah ingusan. "Kamu mau Mas? Serius?" tanya Mama antusias. "Iya mau Ma, tapi tergantung Vinkanya sih. Azhar udah setuju" ucap gue. "Gak mau Tante, Vinka udah punya pacar" ucapnya tetap menolak. "Gak boleh begitu sayang, besok Papa Mama kamu kesini. Sekalian aja kita umumkan bahwa perjodohan Mas Azhar sama Vinka dimulai. Tapi kalian lewatin dulu dengan pacaran. Setelah itu, baru deh kalian mulai tunangan, baru menikah" ucap Mama. "Besok? Papa Mama? Mau kesini?" tanyanya kebingungan. "Lah, Papa Mama gak bilang ke kamu?" tanya gue. "Idih, kamu kamu. Kemarin kemarin aja gue elo" ucap Vinka. "Ah, Papa Mama tadi pagi telpon kabarin mau kesini. Tante seneng banget nih, akhirnya kumpul keluarga gini" ucap Tante Lita antusias. Setelah mengoleskan salep. Bocah ingusan itu disuruh mandi dan sarapan bersama. "Lihat aja nanti, siapa yang bakal menang melawan perasaan. Siapa yang duluan jatuh cinta. Gue, apa elo Vinka bocah ingusan" batin gue mengatakan sambil tersenyum penuh kemenangan. Bocah ingusan itu mondar mandir di teras belakang di depan kolam renang. Sejak tadi gue perhatikan wajahnya murung. Mikirin apaan dia. Main main dikit ahh.... Gue pun menghampiri bocah ingusan. "Bocah ingusan" sapa gue, bocah ingusan melihat gue dengan muka cemberutnya. Gue tau dia mau pergi setelah kedatangan gue, oh tidak bisa bocah ingusan. Segera gue tarik lengannya, hingga akhirnya badannya berbalik dan otomatis menubruk dadaku. "Apaan sih! Pergi gak?" ancamnya melepas peganganku. "Gak ahh, gue kan mau pedekate sama calon istri gue" ucap gue santai. "Apaan sih, gila!" ucapnya. Gue lihat kearah bibirnya yang memaki, bibir bocah ingusan ini mungil tapi berisi, dan warnanya juga merah meski gak pakek lipstick, terus glossy lagi. Lah kok malah perhatiin bibir bocah ingusan sih?. "Apaan lo liat liat bibir gue? Mau cium gue lo?" tanyanya. "Jangan pakek gue elo lah, gue iniebih tua dari elo calon istri" ucap gue. "Idihhh iyuw" ucapnya menahan mual. Main main dikit lagi ahh.... Gue bawa tubuh mungil ke sudut tembok dekat pintu rumah, letaknya di sudut. Jadi kalaupun orang lewat gak akan bisa lihat gue dan dia. Gue dekatkan wajah gue, hingga hanya se-inci saja bibir gue dan bibir dia bertemu. Nih bibir emang menantang banget apa?. Tanpa gue sadari, insting gue beranjak untuk mengecup bibirnya. Tanpa ciuman panas, hanya menempelkan bibir gue dan bibir dia. Manis, bibirnya manis. Gue lihat bocah ingusan memejamkan mata, tapi seketika dia sadar dan langsung mendorong tubuh gue hingga mundur ke belakang. "Berani beraninya lo nyuri first kiss gue!" ucapnya kesal. "Bibir lo manis, ntar lagi deh gue kiss" ucap gue berlalu. "Gila lo, Azhar gila!!!!!" teriaknya kesal menahan tangis. ~BERSAMBUNG~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD