Sudah Tidak Berguna Lagi

1135 Words
Manda selalu saja gagal untuk mencium Brian, karena dirinya sama sekali tidak bisa melakukannya, ia sangat takut ketika Brian kecewa nanti namun, Brian yang merasa Manda tidak ada pergerakannya sama sekali. Brian langsung saja menarik tengkuk Manda, supaya bibir Manda dekat dengan bibirnya dan perlahan-lahan Brian langsung melumat bibir Manda yang terasa sangat manis, karena sebelumnya Manda meminum minuman yang manis. Sehingga rasa manis itu masih saja lengket di bibirnya, namun Brian sangat suka dengan rasa manis di bibir Manda, sehingga dirinya pun semakin memperdalam lumatan tersebut. Sedangkan Manda hanya bisa pasrah saja kali ini, ia berharap hari esok hari yang tidak menyedihkan untuknya. Ia berharap ketika ia mendapatkan uang dari kedua Brian. Manda sangat berharap ia akan di sayangi oleh kedua orang tuanya, ia berharap orang tuanya berubah dan bisa hidup bahagia bersamanya nanti. Walaupun dirinya yang terluka, Manda rela melakukan apa pun untuk kedua orang tuannya itu. Tidak terasa, pakain Manda perlahan-lahan terlepas oleh Brian. Bahkan Brian sudah meraba kedua bagian sensitif milik Manda, gadis itu mulai merasakan tubunya terasa panas dan bergetar hebat. Entah kenapa ia merasa tubuhnya terasa seperti tersengat listrik, sangat geli namun terasa nyaman, Itulah yang Manda rasakan saat ini. Lengkuhan dari mulut Manda tiba-tiba saja keluar, ia sudah benar-benar tidak tahan dengan sentuhan yang Brian berikan, siapa yang tidak merasakan getaran hebat, ketika melakukan hubungan intim dengan seorang pria yang gagah, tampan dan mempesona seperti Brian. "Kau menikmatinya?" tanya Brian tersenyum devil namun, Manda tidak menyahuti ucapan Brian tetapi, ia tidak perduli. Ia pun langsung melanjutkan aksinya dan sudah tidak sabar menyatukan miliknya dengan gadis cantik di hadapannya itu. Ketika Brian menyatukan miliknya dengan Manda, ia tiba-tiba saja mencengram tangan otot laki-laki tersebut. Brian yang melihat itu, semakin membuat dirinya sudah tidak sabar. Sedangkan Manda ia sudah sangat pasrah dan menerima semuanya. Walaupun dirinya memberontak, itu semua tidak akan pernah bisa mengeluarkan dirinya dari semua masalah yang ia hadapi sekarang. Bahkan jika kedua orang tuanya melihat dirinya kabur, maka ia harus bersiap-siap untuk menerima kembali rasa sakit karena disiksa habis-habisan oleh kedua orang tuanya. Waktu itu Manda sempat kabur dari rumah kedua orang tuanya namun, kedua orang tua nya itu sangatlah pintar menemukan dirinya, sehingga ia pun kembali lagi ke rumah itu dan tentunya Manda pasti mendapatkan hukuman berat lagi. Tidak terasa sudah jam Brian melakukan permainan panas bersama Manda. Awalnya Brian sangat terkejut ketika mendapatkan seorang gadis yang masih perawan di klub malam ini namun, ia sangat senang dan sekaligus sangat puas, karena bisa bermain dengan gadis yang masih perawan itu. Sedangkan Manda, dirinya harus menelan pil pahit di dalam hidupnya, kini mahkota ia yang ia jaga selama ini sudah hilang oleh pria tampan yang sangat dingin, namun Manda tidak pernah menyalahkan laki-laki dihadapannya itu. Ia tahu ini semua salah kedua orang tuanya yang tega menyerahkan mahkotanya kepada orang lain, demi mendapatkan sebuah uang. Harga diri Manda sudah benar-benar hilang sekarang, menyesal? Namun, ia tidak tahu apa yang ia sesali sekarang, jadi ia hanya bisa pasrah dan menerima semuanya. "Kau ingin uang berapa?" tanya Brian yang sudah merebahkan dirinya di samping Manda, ia benar-benar sangat kwalahan bermain dengan Manda, namun kalin ini ia sangat menikmatinya. "Ak—aku ingin uang yang sangat banyak," ucap Manda, berusaha menahan air matanya. "Kenapa kamu menginginkan uang?" tanya Brian, ia melihat pungung Manda yang sedang membelakanginya. "Hanya ingin saja!" ucap Manda dengan dingin. "Baiklah, aku akan memberikan uang sebanyak mungkin sesuai apa yang kamu mau, tapi tidurlah disini sebelum itu!" perintah Brian. "Tidak, aku ingin uangnya sekarang!" ucap Manda dengan dingin. "Apa uang itu sangat di perlukan sekarang?" tanya Brian. "Hem," jawab Manda. Brian pun mengambil dompetnya yang berada di atas meja dekat ranjang tersebut. "Ambilah!" ucap Brian memberikan sebuat kartu gold yang isinya tentu saja tidaklah sedikit. Manda yang melihat itu hanya melongo saja. "Aku ingin uang kes," protes Manda. "Aku tidak memiliki uang kes sekarang, tapi itu isi tentu saja banyak. Aku harap itu cukup untukmu, tapi kalau kurang. Kamu bisa menghubungiku dan ini kartu namaku," ucap Brian "Tidak, tidak perlu. Baiklah aku akan menerimanya sekarang," ucap Manda, lalu Brian pun memberikan passwordnya kepada Manda, ketika sudah mendapatkan itu semua. Manda langsung saja bergegas memakai pakainnya kembali, sedangkan Brian yang melihat itu hanya pasrah saja. Padahal ia ingin sekali bercinta dengan Manda lagi dan lagi. "Terima kasih," ucap Manda dan Brian sangat heran dengan ucapan Manda barusan. "Hem, baiklah," ucap Brian. Manda pun akhirnya pergi keluar dari kamar tersebut dan perlahan-lahan air matanya keluar, ia sudah tidak tahan terlalu lama untuk tidak menangisi semua yang terjadi hari ini. Saat keluar dari club malam tersebut, Manda melihat kedua orang tuanya sedang duduk berada di mobil taxi menunggunya dan ia pun langsung saja menghampirinya. "Bagus!" ucap ayah Manda yang bernama Dianto yang sudah berusia 49 tahun itu, ia sangat puas ketika Manda memberikan sebuah kartu warna emas itu kepadanya. "Kau menangis?" tanya ibu Manda yang bernama Asih, yang sudah berusia 40 tahun itu. Manda hanya diam saja dan menunduk, ia tidak ingin berbicara lagi dengan kedua orang tuanya, bukanya bersedih. Mereka justru sangat senang melihat pederitaan Manda saat ini. "Dasar cengeng! Kalau sudah jadi gadis murahan tidak perlu menyesali semuanya, terima saja. Untung tubuh mu bisa menghasilkan uang untuk kami, jadi kami tidak sia-sia merawatmu!" ucap ibu Asih. Ingin rasanya Manda memprotes perkataan ibunya itu, bukannya menyesal. Mereka malah memaki dirinya dan merendahkannya. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, mereka pun akhirnya sudah sampai di rumah, namun langkah Manda terhenti ketika melihat cover nya yang berada di depan rumahnya. "Bu! Kenapa koper ku berada di sini?" tanya Manda. "Yah, tentu saja kamu harus pergi dari rumah ini!" ucap ibu Asih, seketika tubuh Manda semakin melemah. Ia tidak menyangka kedua orang tuanya itu mengusir dirinya setelah mendapatkan uang untuk mereka. "Ke—kenapa, bu?" tanya Manda. "Sekarang kamu sudah tidak berguna lagi, sebaiknya kamu pergi saja! Dan asal kau tahu, kamu itu bukanlah anak kandung kami, kamu itu hanyalah anak yang kami pungut dari jalanan!" ucap ibu Asih. "Tidak! Tidak! Mana mungkin, Bu!" ucap Manda. "Seharusnya kamu senangkan di usir dari rumah ini? Kenapa kamu seperti tidak ingin pergi dari sini? Gadis murahan!" ucap ibu Asih merendahkan Manda. Bagaimana dirinya bisa pergi begitu saja, sedangkan ia baru saja berkorban demi orang tuanya dan seenaknya lagi kedua orang tuanya mengatakan dirinya bukan anak mereka, Manda sungguh tidak bisa menerima semuanya itu. "Ibu! Kalian bohongkan? Aku anak Ibu, kan? Ibu jangan menghukum ku seperti ini, aku sudah menuruti semua perintah kalian. Apa kalian bisa tidak membuatku menderita lagi seperti ini? Ibu aku sudah melakukan apa pun demi membuat kalian bahagia, apa kalian tidak bisa menyayangiku seperti anak-anak yang lainnya? Aku hanya ingin hidup bersama kalian, Bu! Aku mohon jangan mengusirku dan jangan mengatakan aku bukan anak kalian!" ucap Manda dengan panjang lebar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD