“Jihan Muge dan Erdem Daymaz?”
Genggaman Ozan pada undangan mewah menampilkan ukiran nama dari pasangan yang akan segera menikah dalam waktu dekat itu membuat tubuh Ozan ingin terbakar. Cemburu dan pengkhianatan tidak bisa ia tahan lagi.
Sepersekian detik, seluruh berkas dan barang di atas meja kerjanya berantakan. Ia berteriak, melempar undangan menjijikkan itu dengan rasa sakit hatinya yang kian terbuka lebar.
“KAU YANG MENGKHIANATIKU, JIHAN! KAU SUDAH MERENCANAKAN SEMUA INI, BUKAN?!” teriaknya mencengkeram rambutnya sendiri.
Napas Ozan memburu. Detak jantungnya bergemuruh cepat dan ia merasakan sesak menghampiri. Ia tertunduk, mencengkeram pinggiran meja kerja.
“Arrrrgghhh!”
Ozan memberikan tinjuan pada meja kerjanya, tidak peduli jika akan terluka maupun rasa sakit itu semakin menghunus dalam dirinya. Ia tertunduk. Manik coklat itu terpejam dengan segala kebencian atas satu nama.
“Aku berpikir bagaimana untuk meminta maaf karena kesalahan terbodoh yang aku buat, Jihan. Di saat aku berusaha meyakinkanmu tentang Berna, kau memang sengaja menjadikan kelalaianku sebagai rencanamu.”
“Sekarang siapa yang berkhianatn di sini?!”
Ia berteriak, menendang kursi kerjanya dengan penuh emosi. Ozan mencengkeram rambut coklatnya, membiarkan berantakan dan tidak tertata rapi. Ia tidak bisa menahan segala kebencian, lukanya yang membuatnya menjadi pria paling buruk dan bodoh di dunia.
Ozan terlalu percaya kesalahan ada pada dirinya. Nyatanya, ini yang diinginkan perempuan yang sudah ia cintai lebih dari lima tahun. Mereka menempuh pendidikan di universitas yang sama dengan berbeda jenjang.
Perempuan itu selalu menemani Ozan, bahkan sampai diusia matangnya. “Apa yang kau lakukan padaku, Jihan? Tidak sedikitpun aku mengecewakanmu, kecuali tentang kehadiran Berna. Aku tidak pernah bermain api di belakangmu. Tapi kau bisa melakukannya dengan mudah, bukan?” tanyanya dengan suara getir dan menjadikannya tertawa sumbang.
Manik coklatnya menatap tajam undangan yang sudah ia lempar tersebut. Ozan mendengkus mengejek. “Menikah dengan pria lain setelah kita berjuang bersama? Setelah aku bertahan akan perasaan dan tempat tinggal kita yang berjauhan?”
“AKU MEMBENCIMU, JIHAN! AKU TIDAK PEDULI TENTANG MASA LALU YANG INDAH DI ANTARA KITA!”
“AKU BERJANJI AKAN MEMBALASMU! MEMBALASKAN RASA SAKIT HATI YANG TIDAK BISA AKU BIARKAN MENGHANCURKAN HIDUPKU SENDIRI!”
“Ya ...”
Ozan tersenyum miring. Tatapannya sangat tajam dan penuh arti. “... Kau harus menderita sepertiku suatu saat nanti. Hidupmu harus sama hancurnya denganku,” sambungnya mengepalkan kedua tangan dan berusaha mengendalikan emosinya.
Ia menarik napas dan mengembuskannya perlahan.
Ozan berjalan lemah menuju sofa ruang kerjanya. Penampilannya semakin buruk dan ia beruntung telah memberikan akses lebih pada ruangannya supaya tidak terdengar oleh siapa pun dengan kedap suara.
Ia terduduk lemah di atas sofa, memejamkan sejenak matanya.
Semakin kuat ia melupakan kepahitan dalam percintaannya satu minggu lalu, kali ini jauh lebih membuatnya terpuruk dan begitu membenci pernah mengenal seorang Jihan Muge di dalam hidupnya.
“Ozan?! Apa yang kau lakukan?!” pekik suara familier dan ia pun sudah mendapati Berna yang menegang di depan pintu, masuk dengan tergesa dan duduk di sampingnya.
Perempuan itu melihat kedua tangan Ozan dan menilik keseluruhan tubuhnya. “Ozan?! Kenapa kau begitu emosional kembali? Katakan padaku, Ozan. Bukankah kau sudah berjanji untuk menata hidup yang baru?”
Ozan terdiam saat paras cantik di sampingnya berkaca-kaca dari balik manik hitamnya. “Jangan mudah terpuruk dalam perasaanmu yang saat ini tengah sakit, Ozan ... Kau tidak seperti pria yang aku kenal,” lirihnya meraih kedua tangan Ozan.
Bulir air mata jatuh. Ozan merasa bersalah telah melanggar janjinya pada Berna. Perempuan dengan rambut hitamnya tampak sedih melihat Ozan kembali menjadi pria yang tidak dikenalinya.
Perlahan tubuh Berna direngkuh hangat oleh Ozan. Pria itu memeluknya dan berkata, “Maafkan aku, Berna ... Aku tidak bermaksud mengecewakanmu ...” ucap Ozan mengusap punggung dengan bahu bergetar itu.
Berna tengah menahan isak tangisnya.
Kemudian Ozan mengurai pelukan mereka, menangkup paras cantik dan menghapus lembut air mata Berna. “Hei, berhentilah menangis, Berna. Aku sudah kembali menjadi Adskhan yang kau kenal,” ucapnya mengedipkan sebelah matanya.
Berna terisak. “Tapi jika aku tidak ada di sisimu, kau akan bertindak seperti ini lagi, Yozan ...” lirih Berna menyebutkan nama depan Ozan.
Pria itu mengulum senyum dan mengusap puncak kepala Berna. “Emosiku sudah kembali stabil dengan kehadiranmu, Berna,” ucapnya tersenyum manis, memberikan isyarat jika Ozan tidak akan bertindak dengan penuh emosi lagi.
Ya. Mungkin untuk saat ini di mana Berna selalu ada di titik terendah hidup Ozan. Berna perempuan baik yang selalu ada untuk Ozan. Bahkan, selama satu minggu ini perempuan itu selalu menunjukkan bagaimana seorang sahabat ada dalam suka dan duka.
“Berjanji padaku untuk berusaha terlebih dahulu mengendalikan emosimu, Ozan,” ucapnya dengan bulir air mata yang tidak lagi mengalir, tapi tatapan sendu itu masih berada di paras cantiknya.
Ozan melihat sebuah uluran jemari kelingking itu. Detik selanjutnya ia tersenyu manis, menautkan jemari kelingking keduanya. “Aku berjanji,” balasnya menghadirkan rasa lega dalam diri Berna.
Pria itu mengusap puncak kepala Berna. “Kau datang untuk menemuiku?”
Ia mendesah pelan. “Tadi aku ingin mengajakmu makan siang, bukan untuk memerhatikan ruangan yang sudah berantakan seperti ini,” jelasnya sedikit menyindir di akhir kalimat.
Pria berusia tiga puluh tahun itu terkekeh pelan. Ia membiarkan Berna berdiri dan menyisir ruangan yang sudah tidak rapi lagi.
Ozan bersandar nyaman di kepala sofa dan menaruh sebelah tangannya di tangan sofa. Tatapannya menatap lekat punggung Berna. “Kita masih bisa makan siang bersama, Berna. Mungkin hanya waktunya saja yang sedikit harus terulur.”
“Ya. Kau benar,” balasnya dan mendapati sebuah undangan pernikahan yang tergeletak. Ia yakin Ozan yang melemparnya.
Ia mendapati nama perempuan yang Berna kenal. Ozan melihat apa yang dilakukan Berna dan hanya diam. Ia sudah berjanji untuk mulai mengendalikan emosinya sendiri.
Berna berbalik badan membawa undangan pernikahan mantan kekasih Ozan.
“Kau akan datang ke pesta pernikahannya?”
Ozan tersenyum paksa, menatap Berna yang berdiri dengan setelan mantel berlapis syal. “Tidak akan pernah, Berna. Aku lebih baik tidak datang dibandingkan harus kembali sakit hati melihat pesta pernikahan yang pastinya akan terlihat membahagiakan untuk mereka.”
Berna tersenyum lembut dan mengangguk. “Lalu untuk apa kau bersedih, Ozan?” tangan Berna terulur di hadapan Ozan dengan tatapan hangat.
“Kita bereskan bersama dan setelah itu bergegas makan siang,” sambungnya mengedipkan sebelah mata, jahil.
Ozan terkekeh pelan, menerima uluran tangan Berna dan mengenggamnya erat. “Tapi kau masih bisa menahan rasa laparmu, kan? Ini mungkin akan cukup memakan waktu, meskipun aku bisa meminta pekerja di sini,” jelasnya.
Berna menjawab santai, “Tidak masalah.”
Ozan tersenyum manis mendengarnya dan mereka segera menyelesaikan secara bersama-sama.
Pria itu selalu membutuhkan teman berbicara, mampu berada di sisinya dalam hal tersulit.
Tidakkah beruntung perempuan yang bisa menjadi milik Ozan? Pria di hadapan Berna begitu setia dan mampu menahan godaan dari perempuan yang pastinya sangat mudah ia dapatkan lebih cantik maupun seksi.
Pria tampan tidak selalu menyakiti. Pria baik hati dan tulus mencintaipun kerap tersakiti oleh cinta yang sudah ditawarkan seorang Yozan Adskhan untuk perempuan masa lalunya saat itu ... Jihan Muge.
**