Bab 3 - Ciuman Mesra Pengantin Baru

1092 Words
Erdem pengusaha muda di Jerman. Tepatnya di Kota Frankfurt pada bidang perindustrian. Pernikahan pria itu pun sudah menjadi sorotan media. Membuat Ozan semakin mengenal pria berusia tiga puluh lima tahun itu yang ternyata Kakak Ipar Jihan. Senyum miring Ozan terpatri ketika melihat tayangan teve, memperlihatkan prosesi pernikahan yang tengah mereka lakukan di area pinggir pantai. “Kau bahagia menikahi duda yang sudah memiliki satu orang putra, Jihan?” Perasaan Ozan semakin teriris tatkala Erdem meraih wajah Jihan dan mencium keningnya. Ozan dengan tangan terkepal memegang erat remote teve. Dirinya berusaha tidak akan melempar remote tersebut sebagai pelampiasannya. Ia mendengkus mengejek dirinya sendiri. “Baiklah. Kau memang sudah menjadi istrinya dengan sebutan Nyonya Daymaz. Tapi jangan pernah lupakan rasa sakit hati yang aku terima, Jihan. Sudah banyak ketulusan yang aku berikan untukmu dan kau telah mengkhianatinya.” “Tunggu saja kapan aku membalaskan dendamku,” lanjutnya beranjak dari sofa ruang keluarganya. Ozan kembali ke Berlin. Tapi ia memutuskan untuk kembali ke penthouse, tidak untuk datang ke Mansion milik saudara laki-lakinya ataupun orangtuanya. Ia masih ingin membutuhkan waktu.  Entah sampai kapan. Indera penciuman Ozan langsung disuguhkan bau harum dari arah dapur. Pria itu tersenyum kecil, semakin mendekati dapur dan mendapati Berna tengah sibuk memasak. Sementara waktu Ozan membawa pulang Berna bersamanya ke Jerman. Ia tidak akan tinggal lama di sini. Karena pekerjaan dan perusahaan anak cabang yang berada di bawah naungan Ozan berada di Kota Rotterdam.  Dulu, ia memutuskan untuk pindah ke Jerman setelah menyelesaikan masa kerjanya di Australia. Ozan ingin mendapatkan pengalaman di dunia kerja yang kebetulan mendapatkan tawaran menarik di sana. Ia yang seharusnya mengambil alih perusahaan di Indonesia, memutuskan berusaha keras di Kota Rotterdam. Ia meyakinkan orangtua, terutama Kakaknya bisa membangun lebih besar dengan banyaknya koneksi di sana. Semua usahanya membuahkan hasil. Terutama saat dua tahun adalah waktu terberat baginya. Ozan tidak bisa kembali ke Berlin dengan pekerjaannya yang sudah mengikat; tanggung jawab. Ini masa kejayaan. Puncak yang sudah ia tunggu setelah menyelesaikan pekerjaannya di Australia. “Kenapa bau masakanmu sangat menggoda?” tanya Ozan jahil, bersandar dekat lemari pendingin. Ia mendapatkan senyuman manis dari Berna yang masih sibuk memasak. “Pagi ini kau harus makan lebih banyak dari biasanya.” Sebelah alis Ozan terangkat. “Harus begitu? Tapi aku tidak ingin terlalu banyak makan di pagi hari,” balasnya menuangkan minum di atas meja. Berna menatapnya sekilas dan kembali memasak. Ia mengulum senyum sesaat. “Dalam melepaskan perasaan yang lama, tiap orang terkadang melupakan kesehatannya sendiri. Sekarang, waktu yang tepat untuk kau memperbaiki gizimu sendiri Ozan.” Pria itu terkekeh pelan, tapi mengangguk setelah menenggak air putihnya hingga setengah gelas. “Baiklah. Aku harus memerhatikan kesehatanku sendiri, bukan? Jika tidak, aku bisa sakit dan dianggap Kakakku, bahwa aku tidak bertanggungjawab dalam bekerja?” “Ya. Kakakmu akan memarahimu habis-habisan,” balasnya membuat keduanya tertawa kecil. Ozan menunggu dengan duduk manis di kursi meja makan. Ia membiarkan Berna menuangkan dua porsi makanan untuk dirinya dan perempuan itu. Selagi Berna menyiapkan makanannya, Ozan membantu menyiapkan sendok dan garpu. Setelah itu menuang kembali minum miliknya dan Berna.  Perempuan itu mengambil duduk di depan Ozan. “Ada empat menu. Kau harus mencicipinya,” ucapnya mengulum senyum saat Ozan menatap lemas makanan yang terhidang. “Bagaimana jika aku akan gemuk?” “Tidak masalah. Kau terlihat lucu dan menggemaskan. Tapi satu hal, kau tetap tampan, Ozan ...” Pria itu terkekeh pelan dan mengangguk sekilas. “Kau sudah pandai menggodaku,” cetusnya. Berna mengulum senyum dengan salah tingkah.  Tapi mereka segera menikmati sarapan pagi yang lebih baik dibandingkan tadi dirinya mendapatkan siaran dari media tentang pernikahan Jihan dan Erdem kemarin. Ya. Siaran ulang yang menjadi konsumsi publik, membahasnya. Ozan tidak terlalu mengenal Erdem. Tapi mungkin satu hal yang baru ia ketahui jika pria itu pernah menjadi Kakak Ipar dari Jihan. Sudahlah. Di depan Berna, Ozan berjanji untuk menahan emosinya. “Jika kau sudah mulai kembali pada kebahagiaanmu seperti biasa. Apakah kau akan menerima cinta yang baru, Ozan?” Pria itu mendongak, menatap Berna yang memandangnya lekat di seberang sana. Ia terdiam. Menilik manik hitam dari perempuan berparas cantik, menunggu jawaban dari Ozan. Jika Jihan bisa menata hidup yang baru, kenapa Ozan tidak bisa? Dirinya berhak bahagia, bukan? Tapi perihal waktu ia masih belum bisa menjawab. Manik coklat itu menatapnya sendu dan senyum manis terpatri dari kedua bibir yang terulas hangat. “Tentu. Bukankah kau bilang aku pun berhak bahagia atas diriku sendiri? Aku tidak boleh terpuruk oleh cinta yang menyakitkan.”  Berna tersenyum manis dan mengangguk menyetujui ucapan Ozan. ** Pria bertubuh atletis dengan tinggi 187 senti itu berdiri di depan mobilnya. Di seberang jalan yang menampilkan halaman luas dari kediaman Jihan yang baru. Nyonya Daymaz yang baru itu sudah tinggal di sana sejak pesta pernikahan mereka. Ozan membiarkan kacamatanya tetap membingkai wajahnya. Ia terus menunggu dan tidak sampai satu menit, pasangan pengantin baru itu keluar. Ia tersenyum miring memerhatikan Jihan menggamit lengan Erdem.  “Kau mempunyai rasa untuknya, Jihan?” gumam pria itu pada dirinya sendiri. Ia mendengkus mengejek. “Aku berpikir, jika pria-lah yang paling berengsek di dunia ini. Memberikan perhatian lebih dan mencampakan perempuan yang tidak bersalah. Ternyata perempuan jauh lebih berbahaya melakukan hal serupa,” jelasnya tidak mengalihkan pandangan ketika Jihan mengantar Erdem sampai di depan mobilnya. Pria itu sudah memakai setelan jas. “Berengsek,” umpatnya mengalihkan pandangan dengan cepat. Kedua tangan Ozan terkepal kuat. Tanpa berpikir semuanya akan terlihat biasa saja, Ozan sudah salah besar. Ia melihat bagaimana Erdem menarik lembut paras cantik Jihan, mendekatkan wajah mereka dan ciuman lembut itu hadir di permukaan bibir Jihan. Ciuman mesra di antara pasangan suami istri. Ozan terbakar cemburu. Ia merasakannya dengan perasaan tidak terima dan bagaimana kedua tangannya terus terkepal kuat. Ia harus menahan emosinya. Napas pria itu memburu dengan penuh kebencian. “Dulu, bibir itu selalu menjadi candu untukku, Jihan. Sekarang kau merasakannya dari pria lain.” Ozan tertawa sinis. “Aku melupakan satu hal yang lebih penting,” sahutnya kembali menatap ke arah depan. Keduanya masih terlibat pembicaraan kecil dan perempuan cantik itu tampak senang mendapatkan usapan lembut di pipinya dari Erdem. “Kau sudah menyerahkan dirimu seutuhnya pada pria itu,” sambungnya dengan kilatan di manik coklatnya, penuh kebencian yang membara.  Ozan tidak mungkin sanggup berada di sana ketika Jihan mendekati Erdem, sedikit menjinjit dan mencium pipi kirinya. “Tampak mesra sekali,” cibirnya dan berlalu menaiki mobil. Ini menjadi awal dari setiap kesakitan yang Jihan berikan pada pria baik dan humoris seperti Ozan. Ya. Itu dulu sebelum akhirnya perempuan itu mencampakan pria setia seperti Yozan Adskhan. Pria baik bisa berubah menjadi jahat dan sangat kejam, bukan?  **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD