Ozan duduk di depan tong pendek—bekas oli—dengan api kecil yang kian menyambut. Ia diam. Memandang lekat lima lembar foto yang menampilkan kemesraannya bersama Jihan. Kemesraan yang tahun lalu saat malam tahun baru. Keduanya berciuman dan menikmati perayaan dengan bermain kembang api bersama. Senyum dan tawa mereka membaur dalam beberapa potret dengan latar yang sama.
Sebagai pasangan kekasih, mereka memutuskan untuk merayakan malam tahun baru di New York. Meskipun begitu, alasan lain pergi ke sana sekaligus menikmati liburan bersama. Keduanya sudah cukup jarang memiliki waktu luang, selain sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Manik coklat itu menatap lekat foto di mana ia membiarkan Jihan mencium bibirnya, sedangkan salah satu tangan Jihan memegang kembang api. Potret itu diambil oleh fotografer yang mereka sewa.
Senyum manis dan perasaan bahagia itu tidak bisa mensugesti Ozan. Ia hanya diam tanpa ekspresi. Membiarkan posisi pegangannya pada foto membelakangi kobaran api. Siap untuk ia buang dan menjadikannya abu. Menjadi simbol jika ia akan mematikan perasaan untuk perempuan bernama Jihan Muge.
“Foto ini akan menjadi awal di mana aku memulai mematikan perasaanku untukmu, Jihan,” ucapnya dengan sorot datar, menatap betapa bahagianya potret di sana.
Sepersekian detik, tangan itu terulur dan melepas pegangan terhadap satu foto pertama untuk dilenyapkan oleh api dalam tong pendek itu.
Ia diam. Tatapannya lekat pada lembaran yang kian tergerus, mematikan senyum semringah dari pasangan itu.
Kemudian, setelah itu disusul dengan empat foto lainnya yang hanya menciptakan rasa sakit hati dalam diri Ozan.
Ia bangkit dan tidak menatap ke arah foto tersebut. Langkah lebarnya masuk ke dalam gedung unit, meninggalkan halaman luas yang malam ini telah sepi. Tidak ada lagi orang hilir mudik, menikmati suasana area gedung apartemen.
Napas Ozan terembus kasar. Kedua tangannya mengepal kuat bersama rahang yang mengetat saat pintu lift tertutup.
Perlakuan malam terakhir itu menyeruak dalam ingatannya. Ia membenci di mana Jihan seolah memberikannya rasa mendamba, kehangatan dalam sebuah hubungan yang selama ini dicarinya. Itu semua hanya bertahan sesaat.
“Kau telah membuang perasaanku dengan mudah.” Ozan tidak mampu menahan kebenciannya tersebut.
Maka, sebelum ia dapat melayangkan pukulan pada dinding di sekitarnya, pria itu sudah melangkah cepat memasuki unit apartemen. Tapi, saat ia sudah berhasil menggunakan kode akses, ia terkesiap.
Pria itu melihat Berna yang akan mengenakan mantel, ikut menatapnya balik.
“Kau ingin pergi, Berna?”
Perempuan itu tampak salah tingkah. Ia menggeleng lemah seraya membenarkan letak mantelnya.
Ozan lebih dulu mendekat, melihat keterdiaman Berna yang tidak kunjung usai.
“Kau—“
“—Tadinya aku ingin menyusulmu ke bawah,” sahutnya cepat, memberikan seulas senyum manis dan sesaat Ozan terpaku dengan senyum menawan itu.
Berna mendekat, lalu mengenggam tangan Ozan. Tatapannya lurus pada manik coklat di hadapannya. “Kau berbohong padaku?”
Ozan mengatupkan rapat bibirnya. Ia jelas saja terpergok telah pergi keluar unit tanpa pamit pada Berna.
“Aku melihatmu membawa sesuatu,” sahutnya membuat Ozan menelan saliva susah payah.
Ia mencoba berdeham dan mengangguk pelan. “Ya ... Membuang kenangan dengan cara membakar foto-foto yang kupunya di sini.”
“Lantas, bagaimana dengan banyaknya kenangan yang mungkin kau punya di rumah keluargamu?”
Ozan melihat Berna melipat kedua tangan di d**a, menatap lekat pria bermanik hitam yang tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia sedang mencari kalimat yang tepat meskipun ucapan Berna tidak ada yang salah.
Kenangan yang begitu banyak dimiliki Ozan di kediaman orangtuanya, Berlin. Ia mengembuskan napas kasar dan menjawab, “Mungkin aku akan membuangnya.”
Berna tertawa kecil yang dibalas kernyitan Ozan. “Kenapa kau tertawa?”
“Karena kau lucu.”
“Apa?”
“Ya,” sahutnya mengangguk semangat dan kembali mendekat.
Ozan kembali diam saat kedua tangannya diraih Berna. Perempuan itu mengenggamnya erat dengan sorot mata menatap lekat manik coklat Ozan.
Pria itu masih diam, tidak mengerti dengan perempuan berparas cantik keturunan Turki. Manik hitamnya tampak lurus, menatapnya begitu lembut. Senyum manis itu menghiasi wajahnya. “Hal terbaik dari patah hati adalah mengikhlaskan semuanya dan memulai dengan kehidupan yang baru,” jelasnya untuk kesekian kali yang entah kenapa belum bisa diterima Ozan.
Mungkin, karena beberapa waktu ini ia justru masih memertahankan rasa sakit hati dan kecewa pada Jihan.
Ozan terkesiap saat telapak tangan lembut itu bertengger manis di pipi kanannya. Manik hitam Berna dan manik coklat Ozan bersitatap. Ia bisa merasakan telapak halus itu menepuk sejenak sebelum berbicara, “Sebelum bersamanya, banyak rumor yang kudengar jika kau seorang playboy, bukan?”
Wajah Ozan bersemu. Ia salah tingkah yang langsung membuat Berna tertawa. Perempuan berambut hitam itu tidak sanggup melihat wajah lucu Ozan.
“Itu sudah terjadi beberapa tahun lalu, Berna. Aku tidak pernah menjalin kasih untuk mempermainkan perempuan lagi.”
Sesaat ia tersadar. Karena bisa jadi ini karma yang harus diterimanya. Tapi, bukankah ia tidak pernah mengambil keuntungan lebih dari setiap perempuan yang menjadi kekasihnya? Ia bersenang-senang atas suka sama suka.
“Jadi, bagaimana bisa seorang pria sepertimu sulit untuk jatuh cinta lagi? Kau takut untuk membuka hati kembali?”
Ada nada tantangan yang menyentil perasaan Ozan. Ia langsung mendengkus sebal, melirik Berna dengan balik menantang. “Aku baru merasakan patah hati yang sesungguhnya. Kau tidak pernah merasakannya, bukan?”
“Siapa yang mengatakannya?”
“Tidak ada,” balasnya menerbitkan cengiran lebar.
Entah kenapa melihat bibir mencebik Berna, membuat Ozan sedikit terhibur. Terlebih rona memerah di kedua pipinya. “Apa kau berpikir aku tidak pernah sedikit pun merasakan patah hati?” Ia sedang memastikan pertanyaan Ozan.
“Kurasa memang seperti itu.”
Berna mendengkus sebal. “Itu tidak benar dan kau telah salah menilainya,” balas Berna berdecak pelan seraya membuka kembali mantel miliknya.
Ia berniat menaruh mantel untuk menggantung mantelnya tepat di belakang Ozan berdiri. Namun, tangannya sudah lebih dulu dicekal Ozan. Pria itu menahan lengannya yang membuat Berna terdiam.
Perempuan itu tidak mengerti apa yang dilakukan Ozan, sampai ia bersiap membuka bibir, bertanya dan dirinya sudah lebih dulu terdiam.
“Apa kau mencintaiku, Berna?”
Napas Berna tercekat.
Jantungnya berdetak kuat merasakan respons dari pertanyaan Ozan penuh ketegasan. Pria itu bahkan menoleh, memberikan tatapan sepenuhnya pada perempuan yang sudah dikenalnya selama satu tahun ini. Perempuan yang menjadi pemicu Jihan untuk mengoyak perasaan terdalamnya.
Berna mengalihkan pandangan. Ia tidak mengerti bagaimana Ozan bisa mengetahui perasaan terdalamnya.
“Sebenarnya aku pernah mendengar percakapanmu bersama rekan kerjamu.”
Manik hitam itu dengan cepat menatap balik manik coklat yang kini memandangnya lekat. Ozan bisa melihat Berna membeliak, kaget dengan penjelasannya.
“Tiga bulan lalu aku mendengarnya dan tidak pernah sedikit pun membahas hal ini bersamamu.”
Tenggorokan Berna terasa kering.
“Kau mengetahui semuanya?” tanyanya berhati-hati.
Namun, sebuah anggukan tegas dan tubuhnya perlahan yang dibawa ke hadapan Ozan, membuat Berna tidak berkutik. Kedua bahunya dipegang oleh Ozan. Pria itu menunduk untuk mensejajarkan pandangan keduanya.
“Ozan ... Maafkan aku jika kau merasa aku lancang untuk lebih daripada mengagumimu,” Ia berucap dengan wajah menunduk, tidak berani menatap pria di hadapannya.
Sebenarnya ia tidak pernah berniat mengungkapkan perasaannya pada Ozan. Terlebih saat pria itu sangat mencintai mantan kekasihnya. Namun, ia sudah telanjur terpergok oleh Ozan dan terpaksa mengakui semuanya.
“Ada yang salah dengan perasaan seseorang ketika jatuh cinta?”
Berna menatap cepat Ozan.
Senyum manis pria itu terulas sempurna di paras tampannya.
Berna tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan pertanyaan atau sekadar membalas pernyataan Ozan.
“Apa rasa cinta itu masih kau simpan?”
Deg!
Napas tercekat dan detak jantung memburu itu kian terasa. Ia mendapati Ozan semakin mengikis jarak, melepaskan pegangannya dari kedua bahu Berna dan mendekat untuk meraih kedua tangan perempuan itu.
Ia mengenggamnya erat.
“Katakan, Berna,” pintanya saat keterdiaman perempuan itu membuatnya ikut bingung.
Berna berdeham. Ia ingin menormalkan detak jantung dan berusaha berpikir jernih. Sayangnya, ia tidak ingin terlihat naif lebih jauh dan mencoba mengakui semuanya yang terjadi hingga detik ini.
Sebuah anggukan pelan dan tatapan lekat Berna padanya menjadi jawaban telak. “Ya, aku masih mencintaimu hingga detik ini,” balasnya yang merasa sisi hatinya sangat lega.
Memendam perasaan selama hampir satu tahun ternyata cukup menyulitkan Berna dalam menyembunyikan perasaannya. Tetap saja akan ada waktu untuknya harus mengakui semuanya.
Ia mengembuskan napas pelan tanpa sadar.
Ozan tertawa melihatnya.
“Kenapa?” tanyanya tidak mengerti.
“Karena kau lucu,” balasnya mengikuti ucapan Berna beberapa saat lalu.
Ia pun mengulas senyum kecil, ikut merasakan jika keadaan mereka cukup terbuka untuk memahami perasaan satu sama lain.
“Bolehkah aku meminta bantuanmu?”
Kening Berna mengernyit. “Apa yang bisa kubantu? Kau ingin meminta dibuatkan sesuatu?”
Sebuah gelengan bersama kekehan kecil itu membuat Berna bingung. Detik selanjutnya pria itu mengubah raut wajahnya sendu. “Bantu aku untuk melupakan Jihan agar bisa membuka lembaran baru lagi.”
“Buatlah aku jatuh cinta padamu.”
Manik hitam itu sukses membeliak. Ia tidak percaya dengan ucapan tegas Ozan menyorotnya begitu teduh. Lidahnya kelu dan saat ia berbicara, nyaris berupa bisikan. “Kau ... Ingin aku ... Mulai menunjukkan cinta yang kupunya untukmu?”
“Ya. Jika kau mencintaiku, maka kau harus bisa membuatku jatuh cinta padamu. Aku sebenarnya nyaman bisa mengenalmu sampai sejauh ini. Bukankah menjadi awal yang baik untuk kita berdua?”
Sepersekian detik selanjutnya, senyum manis Ozan yang terpatri ganti membuat Berna tersugesti. Ia langsung mendekap erat Ozan, tidak percaya jika pengakuannya kali ini mendapatkan secercah harapan. Tidak ada salahnya untuk mencoba memulai, bukan? Daripada dirinya hanya memendamnya saja ketika Ozan tidak memiliki kekasih.
“Aku akan membuktikannya padamu,” balasnya tersenyum bahagia, mendekap erat Ozan untuk merasakan kehangatan tubuh pria itu.
Tubuh Ozan kaku. Ini atmosfer baru di antara dirinya dan Berna. Ozan sudah menerima cinta yang baru, mencoba perlahan menyelami. Namun, dekapan ini membuatnya masih terasa asing. Karena status mereka yang mulai ingin menapaki lembaran baru. Bukan ketika Ozan yang masih menganggap Berna sebatas sahabat; teman terbaiknya.
**
“Ozan?!”
Pria itu sukses tertawa ketika berhasil memberikan tepung yang tadinya akan dituangkan Jihan ke dalam wadah mixer. “Kau semakin cantik,” bisiknya di antara raut kesal Jihan.
Rona merah itu hadir di kedua pipi Jihan. Ia bersemu dan terlihat sibuk menuangkan bahan lainnya. Mengabaikan rayuan pria keturunan Jerman – Turki. “Hei, kenapa kau mendiamiku? Kau marah padaku?”
Ia sengaja menyenggol lengan Jihan dengan lengannya. Alhasil, karena dorongan yang tidak biasa itu nyaris membuat Jihan terpental ke samping. “Yozan Adskhan! Kau bisa membuatku ja—“
“—jatuh ke dalam pelukanmu? Begitu?”
“Atau harus seperti ini?”
Tubuh Jihan membeku dan desiran halus itu kian terasa menjalar dalam tubuhnya. Ozan menikmati keterdiaman Jihan dan semakin mengeratkan pelukannya. Ia menyusupkan kedua lengan dari balik punggung Jihan, memeluknya erat dari belakang. Dagunya ia taruh di atas bahu Jihan, sekilas mengecup leher jenjang kekasihnya. “Nanti malam perayaan tahun baru.”
“Lalu?”
“Entah kenapa setiap tahun terasa cepat berlalu,” ungkapnya.
“Kita lebih banyak berpisah oleh jarak, meskipun tidak pernah sedikit pun mengabaikan kabar satu sama lain,” lanjutnya melihat Jihan menghentikan aktifitasnya.
Perempuan itu berbalik, membiarkan Ozan tertawa kecil saat sisa noda di pipi perempuan itu masih tertinggal. Ia mengusapnya dengan lembut dan perhatian lebih. Karena tidak sedikit pun ia mengalihkan pandangan dari manik perempuan berparas cantik.
Jemarinya menyisir helaian rambut Jihan yang terurai. Pria itu yang memaksanya supaya leher jenjang perempuan itu tidak menjadi pelampiasan Ozan di saat kekasihnya sedang bekerja.
Mereka berada di unit apartemen kota New York. Liburan bersama dan menghabiskan akhir tahun. Jarak yang memisahkan antara Belanda dan Jerman sering membuat Ozan harus bersabar. Meskipun begitu, ia selalu percaya jika cinta mereka tidak akan pernah goyah.
“Aku mencintaimu,” bisik pria itu mengecup mesra bibir ranum Jihan.
Jihan tersenyum manis. Ia menyandarkan pinggang di batas meja dan memilih mengalungkan kedua lengan di leher Ozan. Tatapan keduanya penuh cinta yang sama. “Jangan pernah mengkhawatirkan apa pun. Aku selalu menyimpan namamu di hatiku.”
“Tapi aku sering meragukannya. Bisa jadi, kau tengah bosan dan ingin mencari pria lain.”
Satu pukulan ringan singgah di bahu Ozan. Pria itu tertawa kecil melihat raut kesal Jihan.
“Aku tidak mungkin menerimamu dan bertahan hingga kini jika pada akhirnya tidak sedikit pun rasa cintaku hadir untukmu, Tuan Adskhan.”
“Kenapa panggilan Tuan Adskhan terkesan seksi jika kau yang mengatakannya?”
Mengabaikan percakapan sebelumnya, memilih kembali menggoda Jihan semakin menyenangkan pria itu. Ia meremas kedua sisi pinggang Jihan, menariknya merapat sampai d**a keduanya bersentuhan.
“Ozan ... Kau tau aku akan membuat kue?”
“Tidak tau,” balasnya dengan pandangan polos, menahan kedutan di kedua sudut bibir saat perempuan itu melemparkan tatapan datar.
“Mengertilah sedikit. Aku tau jika hanya berpelukan tidak akan berakhir cepat.”
“Kau sangat tau sekali,” balas Ozan menyeringai lebar.
Bukannya semakin kesal, entah kenapa Jihan tidak bisa menyembunyikan senyum manisnya. Perempuan itu merapatkan tubuhnya dan meraih tengkuk Ozan, memagut bibir bawah itu lebih dulu.
“Malam ini ... Hanya berakhir untuk menikmati perayaan kembang api?” bisik Jihan di depan bibir Ozan.
Manik keduanya bersitatap dalam jarak dekat dan deru napas yang terengah. Cukup lama memagut dan mengeksplor untuk tertaut di dalam sana lebih intim.
Jemari tangan Ozan merambat ke bawah pinggang Jihan, memberikan sentuhan yang menghadirkan gelenyar dalam diri Jihan. “Kamarku atau kamarmu?”
Bugh!
Sekali lagi.
Hanya sekali lagi dan untuk kali terakhir emosinya tidak stabil.
Napas pria itu memburu dan tidak peduli jika tangannya terasa begitu sakit setelah meninju dinding kamarnya.
Mulai detik ini ia harus bisa membuang nama Jihan dan semua kenangan mereka bersama cinta yang baru.
Baru saja mereka menyatakan ketertarikan satu sama lain.
Ya. Ozan sudah cukup memulai semuanya dari bagaimana ia merasa nyaman bersama Berna. Setelah itu, ia akan berusaha menghargai keberadaan perempuan itu dan menciptakan momen baru yang hadir di antara ia dan Berna Yildiz.
**