NASIHAT DAN ALASAN

1501 Words
“Bukankah kalian harus kembali ke Niscala?” gumam Arfeen ketika melihat Varoon dan Derwin belum beranjak dari ruang tamu rumahnya sejak tiga jam yang lalu. “Kalian berdua tidak boleh pergi selama ini, pasti sudah lewat beberapa hari di Niscala, kembali saja karena sekarang aku baik-baik saja. Berkat kalian juga.” Varoon dan Derwin langsung menatap Arfeen dengan tatapan tajam, mereka past merasa seperti diusir dari rumah adik mereka sendiri. Benar-benar kesetiaan dan rasa kekeluargaan yang sangat luar biasa dari pasangan tom and jerry itu. “Jangan menatapku seperti itu, aku juga tidak akan berlama-lama di sini,” Arfeen mengedikkan bahunya. “Mungkin besok orang tuaku akan kembali ke rumah ini, mereka dan juga Kakak-kakakku berada di rumah Nenek sekarang. Ini sangat bagus, jika urusanku dan mereka selesai lebih cepat dari perkiraanku, aku akan sudah berada di Niscala tanpa kalian sadari jadi pulanglah.” “Mana bisa aku kembali ke Niscalla setelah melihat semua yang terjadi di rumah ini?” Derwin mendengus. “Kau dipukul? Dirimu? Pewaris tahta Niscala kami dipukul oleh keluarga- sial, tidak seharusnya aku menyebut siapapun yang berada di rumah ini sebagai keluargamu. Keluargamu hanya kami, keluargamu hanya ada di Niscala.” “Aku juga tahu itu jadi cepatlah pulang,” usir Arfeen. “Ini sangat aneh karenahanya aku yang bisa melihat kalian berdua. Aku akan menyelesaikan semuanya sendiri, aku akan baik-baik saja dan kembali kepada kalian secepatnya.” “Kau sebenarnya umur berapa, Arfeen Tierra?” Derwin berdecak kesal. “Dari tadi kau selalu mengulang kalimat aku akan baik-baik saja, tidak apa-apa dan kalimat-kalimat menenangkan lainnya. Kami tahu kau tidak baik-baik saja, kami tahu bahwa kau mengingat semua yang terjadi di rumah ini karena kenangannya terus berulang seperti kaset rusak. Satu hal yang tidak aku sukai dari menjadi penyihir adalah karena ingatan buruk tidak pernah berhasil dilupakan.” “Ya, dan karena kau juga seorang penyihir sekarang, kau tidak akan bisa melupakan dukamu,” Varoon menimpali, dia menatap Arfeen. “Kau masih seumuran Isolde, kau masih anak-anak. Bukannya tidak boleh mengatakan kalau kau baik-baik saja, kami bersyukur kalau kau baik-baik saja. Tetapi dalam satu waktu, tolong bertingkah saja seperti anak seumuran mu.” Sudah Arfeen katakan bahwa keluarganya adalah mereka yang berada di Niscala, mereka yang lebih mengerti dan berdiri di belakangnya tanpa perlu diminta. Mereka yang awalnya dia takuti menjadi orang yang berharga baginya dan orang-orang yang awalnya dia sayangi di negeri ini menjadi orang-orang yang dia takuti. Benar-benar berbanding terbalik. “Lagipula sejak awal tempatmu memang bukan di sini,” ujar Derwin. “Seharusnya aku membawamu lebih awal sebelum kau mengalami semua kesakitan itu. keluargamu- tidak, orang-orang yang hidup di rumah ini sudah gila karena menyiksa dirimu tanpa mengetahui batasnya. Entah itu karena ketahanan tubuhmu atau bagaimana, kau berhasil bertahan dengan baik, Arfeen Tierra.” Arfeen bersyukur karena dia tidak mengambil tindakan bodoh dan masih dipertemukan dengan orang-orang yang menyayangi dan bersyukur atas kehadirannya di dunia. Saat itulah dia sadar, dia mungkin tidak bisa menjadi matahari bagi orang-orang yang memiliki alergi terhadap cahayanya itu sendiri. Tetapi bagi orang-orang yang tepat, bagi orang yang mungkin juga memiliki alergi, dia masih bisa diterima dengan baik dan dihargai. Hanya masalah waktu dan tempat, kita adalah kebahagiaan bagi beberapa orang yang tidak terduga. “Bukan karena kau dikucilkan oleh mereka maka kau merasa dirimu tidak berguna, bukan seperti itu,” Varoon masih menatap Arfeen, iris mata birunya itu menatap iris mata batu Taaffeite Arfeen dengan tegas. “Beberapa orang adalah sumber kekuatan untuk orang yang tidak terduga atau bahkan untuk orang yang hanya sekedar melihat tanpa mengetahui namanya. Bukan berarti karena orang-orang yang kau lihat itu tidak menyukaimu maka tidak ada orang lain lagi yang akan berbahagia untukmu. Arfeen Tierra, dunia ini tidak sesempit itu.” “Jika kau pernah berpikir untuk menyerah atau masih memiliki pikiran seperti itu hanya karena orang-orang yang tidak bisa ‘melihatmu’, selalu ingat bahwa ada banyak orang yang bersandar padamu, ada banyak orang yang akan memberimu banyak makanan dan mendo’akan kesehatan serta kebahagiaanmu,” tambah Derwin. “Adikku, Isolde, juga menanggung beban yang berat sejak dia masih belia. Dia sama sepertimu, dia hanya bermain denganku yang juga tidak bisa menemaninya setiap hari. Karena itu aku merasa bersalah karena dia harus menghabisi masa remajanya dengan memikul tanggung jawab yang berat, melihat banyak kematian dan terluka. Aku tidak ingin melihatnya lagi dan berkat dirimu sekarang dia bisa lebih berbahagia.” Bagaimana rasanya dipuji setelah lama tidak mendengar orang memujimu? Bagaimana rasanya mendengar sebuah nasihat yang sudah lama ingin kau dengar dari seseorang? Bagaimana rasanya dicintai setelah lama mendambakan perasaan itu hadir sekali saja di dalam hidupmu? Apakah itu sangat mewah? Tidak bisa dibeli dengan uang? “Kami berterima kasih karena kau sudah terlahir dengan selamat dan bertemu dengan kami,” Varoon memeluknya dari samping dan meskipun Arfeen terlalu terkejut untuk membalasnya, Varoon tetap melakukannya. “Seperti yang Derwin katakan, kau sudah bertahan dengan baik, bahkan sangat baik.” Rasanya seperti ada yang mencoba menyelam ke dasar lautan demi menyelamatkan jiwa Arfeen yang tenggelam dalam waktu yang lama. Sesuatu yang sudah mati, sesuatu yang pernah menangis dan sesuatu yang pernah mengeluh itu.. sedang ada yang mencoba menggapainya dan membawanya ke permukaan. Tetapi apakah ‘sesuatu’ itu bisa ditemukan? “Katanya kau membalas guru olahraga dan satu teman sekelas mu, ya?” celetuk Derwin, dia akhirnya mengubah topik karena dia tahu Arfeen tidak ingin membahas masalah ini lebih lanjut atau ingin menangis seperti yang sekarang Varoon lakukan. “Bagaimana rasanya melawan mereka? Apakah kau merasa lega?” “Sedikit, rasanya menenangkan,” jawab Arfeen, dia memperhatikan Varoon yang malah menangis, menggantikannya yang masih tidak bisa mengeluarkan air mata. “Aku mungkin akan terus melakukannya, aku tidak ingin menyerah begitu saja. Lagipula aku adalah penyihir yang langsung diberkati oleh Niscala, aku harus lebih percaya diri lagi. Bukankah begitu?” “Memang begitu seharusnya,” sahut Derwin, dia menepuk kasar punggung Varoon. “Kau ini mempermalukanku saja, kenapa kau menangis? Haish, bahkan aku tidak pernah melihat Denallie menangis seperti dirimu, Isolde saja tidak akan menangis seperti ini- auh, sial, kau jorok sekali! Kenapa menggunakan bajuku untuk ingusmu itu?!” Tertawa, Arfeen hanya menggeleng-gelengkan kepala setelahnya. Varoon semakin bertingkah menyebalkan dengan terus menggunakan baju Derwin sebagai pengganti tisu. Sementara Varoon melakukan itu, Derwin terus marah-marah tetapi dia juga tidak berpindah tempat. Memang Tom and Jerry. “Aku harus tidur sekarang,” ujar Arfeen, dia berdiri. “Kalian kapan akan pulang?” “Kenapa kau terus mengusir kami pergi?” Derwin melotot. “Tidur saja, kami akan pergi begitu kau sudah sepenuhnya terlelap. Kami akan menjagamu untuk beberapa menit hanya untuk memastikan apakah kau benar-benar baik-baik saja dan tidak bermimpi buruk.” “Benar-benar Kakak yang baik, ya?” cibir Arfeen. “Aku akan tidur di kamar Papa dan Mama karena kasur mereka jauh lebih empuk jadi kalia tidak perlu khawatir atau menggunakan sihir. Selama berada di sini saja energi shir kalian sudah menurun, bukan? Jangan membahayaka diri dan pulang saja.” “Kami sudah mengatakan kalau kami akan pulang begitu kau tertidur, kenapa kau ini cerewet sekali, sih?” Varoon berdiri, dia sudah berhenti menangis dan mendorong Arfeen masuk ke dalam kamar. “Kami hanya akan melihat-lihat sekitar, kau itu tidur saja.” “Hm,” Arfeen naik ke atas kasur, dia melambaikan tangannya kepada Varoon dan Derwin sebelum kemudian memejamkan matanya dan kembali tersenyum. “Selamat tidur, Arfeen Tierra.” Itu adalah ucapan sederhana tetapi Arfeen sangat menghargainya. Bagi orang yang tidak pernah menerima ucapan seperti itu untuk diri mereka maka Arfeen merasa sangat bahagia. Ternyata kebahagiaan itu memang tidak perlu datang dari hal-hal besar, hal-hal sederhana sudah bisa membuat hormon bahagianya meledak-ledak seperti kembang api. *** “Dia bilang orang tua dan Kakaknya akan kembali besok, bukan?” bisik Derwin kepada Varoon. “Maka kita harus menjebak orang-orang jahat itu dengan cara yang bagus dan lucu.” “Kau ada ide?” Varoon ikut berbisik. “Bagaimana jika kita gunakan tanaman sihir saja di sini? Kita racuni orang tuanya sampai mengalami halusinasi sehingga mereka sendiri yang akan mengakui kejahatan yang sudah mereka perbuat di hadapan orang banyak,” usul Derwin. “Bagaimana menurutmu?” “Bukankah Arfeen akan marah besar jika kita melakukan hal-hal seperti itu?” Varoon ragu. “Tapi, Derwin, apa benar orang tua Arfeen mengucilkannya hanya karena dia berbeda dengan anak lainnya? Hanya karena dia selalu mengatakan bahwa dia bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, apa hanya karena itu?” tanya Varoon penasaran. “Kenapa kau bertanya padaku?” “Kau sudah mengawasinya sejak kecil, bukan? Jadi kau pasti lebih paham apa yang terjadi? Selain itu kau membawanya ke Niscala tanpa aba-aba dan kau yakin sekali dia adalah Tierra yang kita cari. Kenapa bisa begitu?” Derwin menatap Varoon. “Kenapa kau ingin tahu tentang itu?” “Hanya ingin mendengarnya secara langsung dari orang yang sudah mengawasi dan memperhatikan Arfeen Tierra tumbuh selama ini.” “Kau akan segera menemukan jawabannya,” Derwin menghela napas. “Itu semua akan terungkap pada waktunya.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD