Tertawa sambil menonton kartun yang tidak pernah bisa dia tonton sebelumnya, Arfeen menghabiskan waktu menyenangkan selama semalaman tanpa gangguan dari siapapun. Tidak akan ada yang melemparinya dengan remot tv hanya karena dia telat membeli makanan, tidak akan ada yang memukulinya tanpa alasan ketika dia tertidur. Sekarang Arfeen benar-benar baik-baik saja.
“Apa-apaan kartun ini?” dia tertawa terbahak-bahak dengan sangat lepas. “Lucu sekali, aku jadi merasa bersalah karena baru bisa menontonya sekarang. Mari kita pilih kartun yang lain, apa aku perlu menonton film-film Disn*y?”
Arfeen tidak mengetahui apapun, dia hanya mendengarkan suara tv dari kamarnya dengan tenang. Dia juga ingin bergabung dengan anggota keluarganya tetapi kehadirannya tidak diinginkan sehingga dia hanya bisa berdiam di dalam kamar sendirian. Lalu apa yang Arfeen lakukan? Tidak ada, dia hanya mengobati luka-lukanya, hal itu sudah menjadi rutinitas karena dia tidak memiliki orang yang akan mengusap kepalanya ketika dia sakit atau membuatkan bubur hangat untuknya. Semuanya harus dia lakukan seorang diri.
“Aku harus menonton semuanya sebelum mereka kembali,” gumamnya. “Aku tidak lagi takut dengan mereka, tetapi aku hanya tidak ingin memulai pertengkaran sia-sia- tidak, apakah aku harus memulai pertengkaran lebih dulu? Bagaimana dengan membakar semua album foto? Apakah itu keterlaluan?”
Semua tahu Arfeen tidak akan melakukan itu, bahkan dua Althaia yang setia menunggu di depan rumahnya juga tahu Arfeen tidak akan melakukan hal kekanakan seperti itu kepada keluarganya. Arfeen pasti akan memberi balasan yang cukup mengejutkan dan semuanya menunggu.
“Apa yang akan aku tanyakan pertama kali setelah mereka kembali?” tiba-tiba dia mulai serius dan melupakan film yang sedang ditontonnya. “Apa aku langsung saja bertanya kenapa mereka melakukan hal-hal kejam seperti itu kepada anak kandung mereka atau aku tanyakan saja alasan kenapa mereka mengucilkanku padahal waktu itu aku masih sangat kecil? Aku harus menentukan pertanyaan mana yang harus aku ajukan lebih dahulu.”
Tiba-tiba telepon rumah mereka berbunyi. Arfeen mengerutkan keningnya, apakah itu orang tuanya yang sudah mendapat kabar kalau dia sudah kembali? Maka dari itu mereka ingin memastikan apakah Arfeen ada di dalam rumah dengan cara menelepon? Jika benar seperti itu maka..
“Halo?” sapa Arfeen terlebih dahulu. “Dengan siapa saya bicara?”
“Dia benar-benar Arfeen, Ma!” teriakan terkejut itu membuat Arfeen menjauhkan gagang telpon dari telinganya. Kakaknya itu berniat membuatnya tuli atau bagaimana?
“Halo, Arfeen Tierra?” itu suara Papanya. “Kenapa kau pulang ke rumah itu? Karena dirimu kami harus pergi jauh dari rumah itu, kau memang pembawa sial- tunggu, kau sedang mengunyah sesuatu ketika kau mengangkat telepon dari orang tuamu?!” geram Papanya dengan nada tinggi yang biasanya akan membuat Arfeen gemetar ketakutan.
“Dia melakukan itu?” suara Mamanya, tampaknya Mamanya juga ikut kesal dengan tuduhan Papanya. Padahal Arfeen tidak sedang mengunyah apapun, dia hanya menggerakkan lidah dan bibirnya . “Anak kurang ajar! Gara-gara kau rumah kami didatangi polisi setiap hari, karena dirimu kami juga harus pergi dari rumah itu dan kau sekarang sedang menikmati dirimu dengan memakan sesuatu di rumah kami.”
“Ah, jika Mama terus menyebut rumah ‘kami’ dan bukannya rumah ‘kita’, mungkin ada baiknya jika aku membakar seluruh rumah ini dan isinya. Kita lihat bagaimana rumah ‘kalian’ ini akan memiliki bentuk yang berbeda setelah kalian kembali,” ujar Arfeen lancar dan tenang, dia sama sekali tidak gemetar atau lebih tepatnya dia sedang mencoba menahannya.
“APA? MULAI BERANI KAU MENGATAKAN HAL-HAL SEMACAM ITU-“
“Aku belum selesai menonton film yang sudah lama sekali aku ingin tonton tetapi tidak bisa karena kalian tidak mengizinkanku melakukan apapun selain menjadi b***k kalian,” Arfeen memotong ucapan Mamanya dengan nada yang lebih tenang dari sebelumnya. “Jika kalian ingin kembali ke sini maka kembalilah, lagipula ada yang ingin aku tanyakan.”
Tidak lagi memikirkan sopan santun dan ketakutannya, Arfeen memutuskan sambungan telepon dan melepaskan kabel karena dia tidak ingin orang tuanya menghubunginya lagi. Jika mereka harus berbicara, maka mereka juga harus menemuinya.
“Ah, aku sudah mengetahui kalau mereka tidak peduli kepadaku tetapi kenapa rasanya masih sesesak ini?” Arfeen terkekeh pelan sambil menepuk pelan dadanya. “Mereka langsung menyalahkan putra mereka yang baru ditemukan selamat setelah menghilang selama enam hari. Bukankah setidaknya mereka bertanya bagaimana kabarku terlebih dahulu? Luar biasa.”
Bagaimana rasanya diabaikan oleh keluarga kalian sendiri? Bagaimana rasanya selalu disalahkan bahkan ketika kalian tidak melakukan kesalahan apapun. Seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang, selalu mendapatkan kekerasan setiap harinya dan tidak ada satupun yang melarang kedua orang tuanya ketika mereka memukulinya sampai pingsan atau mimisan.
Setelah semua itu, nantinya ketika si anak membunuh orang tuanya atas dasar keadilan atau pembelaan diri, apakah semua orang akan mengecap si anak sebagai pembunuh? Sebagai anak yang tidak tahu bagaimana cara menghargai orang tua? Padahal selama ini orang tuanya yang sudah membunuh mentalnya secara perlahan-lahan dan dia bertahan tanpa sedikitpun menyimpan dendam.
“Kenapa aku tidak melawan saat-saat itu ketika mereka memaki, menendang dan memukulku hanya karena aku berbeda dengan anak lainnya? Pantas saja Derwin sangat marah kepadaku ketika aku masih menyebut mereka sebagai keluarga padahal mereka sudah membuatku memiliki pikiran untuk mati,” Arfeen tertawa. “Bukankah seharusnya keluarga menjadi kekuatan terbesar? Tetapi kenapa keluargaku malah menjadi alasan aku tertekan dan berpikir bahwa meninggal akan jauh lebih baik?”
Senyum terlihat di wajah Arfeen ketika dia kembali mengingat apa yang dikatakan oleh ‘keluarga’ yang dia temui di Niscala. Keluarga yang lebih mengerti dirinya dan lebih menghargai keberadaannya, keluarga yang memberikan dukungan serta kehangatan.
“Tetapi jika kau memilih untuk mengkahiri hidupmu, kau hanya akan terlupakan begitu saja karena tidak akan ada yang merasa bersalah,” ujar Isolde ketika mereka sedang menatap langit Niscala bersama-sama malam itu. “Balas dendam itu tidaklah baik, tetapi ada beberapa orang yang memang harus kita balas untuk memberitahukan kepada mereka bahwa yang lemah tidak akan selamanya berada di bawah dan yang kuat tidak selamanya akan berada di atas. Roda itu berputar dan beberapa orang harus merasakan datangnya karma agar supaya mereka sadar dengan teguran.”
“Kaluarga itu memang tidak selalu mendukungmu, Arfeen Tierra, terkadang mereka bisa menjadi sangat menyebalkan dan membat kita merasa seperti ditusuk dari belakang. Beberapa keluarga memang seperti itu tetapi ketika mereka menyiksamu secara mental dan fisik dalam saat yang bersamaan, mengacaukan apa yang sudah kau bangun.. mungkin mereka bukanlah keluarga. Karena meskipun darah itu lebih kental dari air, kita adalah makhluk yang tidak bisa memilih darah siapa dan seperti apa yang akan mengalir dalam tubuh kita,” tambah Isolde lagi.
Kita adalah makhluk yang tidak bisa memilih darah siapa dan seperti apa yang akan mengalir di dalam tubuh kita katanya. Dipikir-pikir itu benar juga.
“Jika aku menyerah sebelum Derwin membawkau ke Niscala, aku akan benar-benar mati konyol dan terlupakan begitu saja karena orang-orang yang sudah menyakitiku tidak akan peduli atau malah merasa lebih tenang,” ujarnya, menyadari apa yang sudah terjadi. “Mereka tidak akan mengingatku setelah tiga puluh hari dari sekarang, mereka akan melupakanku selamanya. Oleh karena itulah aku akan membuat mereka menyesal menyia-nyiakanku, membuat mereka menyesal karena sudah menindasku.”
Semua kesakitan itu berputar lagi seperti kaset rusak, bahkan suara tendangan dan pukulan itu terdengar begitu nyata di telinga Arfeen. Tetapi sekarang Arfeen akan menikmatinya, dia tidak akan melupakan sakitnya dan mencoba berdamai dari waktu ke waktu.
“Aku memang tidak mati ketika kau menolakku, Ma. Aku memang tidak menangis ketika kau memukulku, Pa. Aku memang tidak mengeluh ketika kau menyakitiku dengan kata-kata kasarmu, Kak,” Arfeen menatap foto keluarganya. Ya, foto keluarga tanpa dia di dalamnya. “Tetapi ada sesuatu yang mati hari itu, sesuatu yang lain menangis dan sesuatu yang lainnya lagi mengeluhkan kenapa aku harus hidup tersiksa di dalam keluargaku sendiri.”
Arfeen hanya akan menanyakan beberapa hal dan meninggalkan mereka dengan membuat mereka melupakan keberadaannya untuk selamanya. Tetapi Arfeen tetaplah Arfeen, dia memang akan membuat semau orang melupakannya tetapi Arfeen akan membuat mereka memiliki kenangan tentangnya yang mungkin akan sedikit membuat mereka frustasi ketika berusaha mengingatnya.
“Karena aku bukan anak baik, Pa, Ma. Kalian mendidikku dengan cara yang sangat salah sehingga aku tidak mengerti apa itu kasih sayang, kalian memberikan kesempatan itu kepada orang lain yang sekarang sudah aku sebut sebagai keluarga,” katanya lagi. “Aku tidak menyesal dilahirkan dalam keluarga ini, tetapi akan aku buat kalian menyesal karena sudah menyia-nyiakan anggota keluarga yang masih hidup ini.”
Lolongan Althaia terdengar, Arfeen segera berlari keluar. Dia tidak bisa menggunakan sihir hawa keberadaannya di Saujana, dia tidak bisa ceroboh. Tetapi kenapa Althaia melolong begitu, apa ada yang datang? Siapa? Orang tua dan Kakak-kakaknya?
“Halo, Adik?”
Ternyata dua orang datang jauh-jauh hanya untuk menyapanya.
“Kenapa wajahmu seperti itu? Bukankah kau pergi dengan percaya diri ke negeri ini?”
“Kau tidak suka di sini? Apakah kau kesepian?” si mata biru menepuk bahu Arfeen, dia tersenyum lebar. “Sudah ingin kembali ke Niscala?”
“Kenapa kalian ada di sini?” tanya Arfeen tidak paham. “Ini baru dua hari-“
“Sudah hampir satu bulan di Niscala, Adik,” potong Derwin, memperingatkan. “Kami datang karena kami merindukanmu.”
“Kau juga mendapat salam dari Denallie dan Isolde,” tambah Varoon. “Kami takut kau kesepian dan memilih untuk datang. Bukankah kami Kakak yang baik?”
Perlahan senyum Arfeen kembali, kali ini benar-benar sebuah senyuman. “Terima kasih kalau begitu. Sampaikan salamku juga kepada mereka berdua.”
***