Ingatan yang sama sekali tidak pernah memudar itu kembali berputar seperti kaset rusak. Saat Arfeen membuka pintu rumahnya, dia tidak pernah ingat pernah disambut oleh kedua orang tuanya dengan senyuman. Hal yang dia ingat adalah kedua Kakaknya yang menyiramnya dengan air bekas cucian dan kemudian menyuruhnya mengepel lantai yang basah karena ulah mereka sendiri.
Selanjutnya saat Arfeen menutup pintu dan meletakkan makanan yang diberi Nenek di meja, dia bisa melihat foto keluarga tanpa dirinya, bahkan fotonya saat dia kecil dulu sudah dibakar oleh Kakak-Kakaknya dan orang tuanya malah balik memarahi Arfeen saat dia dulu mengadukan perbuatan Kakak-Kakaknya.
“Menyedihkan,” gumam Arfeen. Dia bisa melihat sapu yang biasa dipukulkan kepadanya masih berada di tempatnya, dia juga bisa melihat banyak kekacauan yang terjadi di rumah ini karena mereka kehilangan ‘b***k’ yang biasa membersihkan rumah mereka. “Ini bahkan sangat kacau padahal baru satu minggu.”
Kali ini Arfeen tidak perlu membersihkan semuanya dengan tenaga fisiknya, dia memiliki sihir sekarang sehingga dia bisa melakukan apapun karena ternyata meskipun dia tidak berada di Niscala, energi sihirnya sama sekali tidak menurun. Selain itu dia melihat dua Althaia berada di depan rumahnya, mereka menyambutnya dan Arfeen melemparkan senyuman kepada keduanya.
“Kira-kira apa yang mereka lakukan pada kamarku?” Arfeen membuka pintu kamarnya dan ternyata seperti dugaannya, kamarnya terlihat seperti kapal pecah sampai membuat Arfeen tertawa. “Apa yang mereka cari di sini sebenarnya? Apakah mereka mencari uang? Aku bahkan tidak diberi uang saku ke sekolah dan mereka hanya memberiku kamar bekas gudang sempit yang aku bersihkan sendiri. Hah, benar-benar, ya. Merepotkan sekali.”
Arfeen mengubah warna matanya ke warna asal yang dia miliki yaitu batu Taaffeite yang nyaris tidak memiliki warna. Rasanya jauh lebih nyaman menggunakan mata Taaffeite karena warna mata itu adalah miliknya sekarang dan meskipun baru beberapa hari menggunakannya, Arfeen dan semua orang di Niscala sudah sangat terpesona dengan matanya sendiri itu.
“Kita lihat apakah mereka benar-benar tidak memiliki makanan meskipun baru kabur kemarin malam,” gumam Arfeen, dia berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas yang benar-benar kosong, bahkan tidak ada botol yang berisi air di dalam lemari pendingin itu. “Wah, mereka benar-benar tidak memiliki apapun.”
Alasan perginya keluarga Arfeen adalah karena Althaia yang menampakkan diri di depan mereka beberapa kali, mereka mendengar lolongan hewan-hewan sihir itu dan mulai berpikir apakah yang Arfeen alami memang nyata adanya. Mereka sangat ketakutan, apalagi semalam adalah puncaknya di mana mereka melihat penampakan Althaia yang sedang menunjukkan taringnya.
“Mereka pasti merasa akan mati seperti apa yang aku alami saat baru beberapa hari di Niscala dan Derwin melatihku bersama dengan Althaia, yah meskipun akhirnya aku tidak mengerti bagaimana saat itu aku mengubah Althaia yang menunjukkan taringnya padaku menjadi batu,” Arfeen memilih berbaring di atas kasur kamarnya yang tipis, berbeda dengan miliknya di Niscala. “Seharusnya aku tidak membandingkannya tetapi di mana rumah keluargaku yang sebenarnya?”
Kasurnya di Niscala memiliki sihir sehingga keempukannya bisa diatur sesuai dengan keinginannya, hal itu karena bahannya terbuat dari salah satu tanaman sihir. Baru beberapa bulan atau hitungan hari di Saujana tetapi Arfeen sudah merindukan kasurnya.
“Aku harus segera melakukan apa yang ingin aku lakukan supaya aku bisa lekas menemui mereka kembali,” Arfeen menguap. “Lalu setelah itu aku harus mengurus banyak pertemuan dengan raja dari beberapa kerajaan sihir dan juga monster. Aku harus memperkuat Niscala apapun yang terjadi, menciptakan aliansi dengan negeri lain bukanlah masalah besar meskipun aku harus meminta bantuan King Marven II yang lebih berpengalaman.”
Lalu Arfeen diam sambil menatap langit-langit kamarnya, perlahan dia tersenyum kecil karena dia ingat tidak memiliki waktu hanya untuk memperhatikan langit-langit kamar kecilnya itu karena setiap malam dia hanya meringkuk di atas kasur sambil memegangi perutnya yang kesakitan, paginya dia harus membersihkan rumah sebelum berangkat sekolah.
“Hidup yang sangat tidak tenang, Arfeen Tierra,” gumamnya. “Kau ketakutan datang ke sekolah, kau juga takut kembali ke rumah. Selebihnya kau bahkan lebih takut untuk kabur, kau juga tidak memiliki siapapun yang akan berdiri di belakangmu. Kau benar-benar pengecut yang menyedihkan, Tierra.”
Besok dia harus sudah masuk ke sekolah, dia ingin memberi pelajaran kepada kakak kelas atau bahkan adik kelas yang membully nya. Dia tidak akan bertindak seperti anak ayam lagi, dia akan menggigit jika digigit, akan mengaum jika diganggu dan akan melilit mereka seperti ular ketika dipukul.
“Aku tidak perlu membawa mereka kembali ke rumah ini hari ini juga, aku akan pergi ke sekolah supaya kabar kembalinya aku menyebar sampai telinga Kakak-kakakku, baru setelah itu aku yakin mereka akan menemuiku,” Arfeen memejamkan matanya dengan senyum cerah, ini pertama kalinya dia tertidur sambil tersenyum semenjak dia lahir. “Aku akan memulai hidupku yang lebih berguna dan akan membuang atau menginjak lalat-lalat yang menggangguku.”
***
“Bukankah itu Arfeen Tierra? Bukankah ada kabar dia mengalami kecelakaan mobil dan tubuhnya tidak ditemukan?” bisik beberapa siswa ketika Arfeen mulai memasuki gerbang sekolah. “Penampilannya berbeda, dia tidak lagi menunduk seperti biasanya saat berjalan. Dia terlihat.. lebih percaya diri.”
“Aku pikir hanya aku yang merasakannya tetapi auranya benar-benar berbeda dengan dirinya yang dulu. Aura kehadirannya memang sangat kuat, tetapi kali ini dia tidak terlihat seperti seseorang yang mudah ditindas,” bisik beberapa lainnya. “Apa dia kembali untuk membalas dendam kepada anak-anak yang mengusiknya?”
“Menurutmu dia akan melakukan itu? Ah tidak, menurutmu dia bisa melakukan itu?”
Arfeen turun dari taksi, memasuki gerbang sekolah dengan kepercayaan diri tinggi. Seragam sekolahnya rapi seperti biasa, rambutnya tertata rapi, luka di wajahnya sudah ditutupi dengan plaster luka serta dia menatap balik semua mata yang juga menatapnya.
“Oi, Tierra!”
Menghentikan langkahnya, Arfeen menoleh ke belakang dan melihat teman-teman sekelasnya sedang berjalan ke arahnya sambil men-scan tubuhnya dari atas sampai bawah, mereka melakukannya berulang-ulang dan tersenyum meremehkan.
“Wah, tidak aku sangka kau akan kembali ke sekolah secepat ini,” katanya, dia menepuk punggung Arfeen dengan sangat keras, berpikir bahwa Arfeen akan terdorong seperti biasanya tetapi langsung terkejut begitu Arfeen tidak bergeming dan hanya tersenyum. “Hah, kau terlihat percaya diri rupanya.”
“Begitulah,” balas Arfeen, untuk pertama kalinya dia berbicara dengan nada tenang tanpa terdengar getaran ketakutan sama sekali. “Aku memang sangat percaya diri sekarang, bukankah kau seharusnya senang?”
Gantian sekarang Arfeen yang menepuk punggung teman sekelasnya itu dengan tenaga yang sama dan membuat temannya itu terjatuh atau lebih tepatnya jatuh berlutut sambil terbatuk-batuk akibat tepukan Arfeen. Suara terkesiap terdengar di sepanjang koridor, seorang Arfeen Tierra yang sangat mudah ditindas melawan untuk pertama kalinya! Itu sudah pasti menjadi topik utama.
“Jika kau sedang lemah bukankah lebih baik kau tidak masuk sekolah?” Arfeen memberi nasihat. “Tidak bagus untuk kesehatanmu apalagi kau masih meluangkan waktumu untuk menyapaku. Bagaimana, kau bisa berdiri sendiri? Perlu aku bantu?”
“Kurang ajar kau Tierra!” geramnya, dia sudah hendak berdiri tetapi Arfeen menginjak salah satu kakinya. Hanya injakan pelan sebenarnya tetapi Arfeen tidak sengaja mengeluarkan energi sihirnya sehingga bukan hanya tulang jari kakinya, lantai yang temannya pijaki itu ikut retak saking kuatnya. “KAKIKU!”
“Ah, maaf,” Arfeen tersenyum, tidak benar-benar memiliki niat untuk meminta maaf. “Kau sepertinya harus ke dokter, jika kau butuh uang untuk berobat kau bisa meminta uang kepadaku.”
“AARRGGHH!” temannya itu meringkuk sambil memegangi kakinya yang terasa sangat sakit. “Ti- Tierra.. ka- kau.. ARRGHHH!”
Arfeen mengedarkan pandangannya ke sekitar, tidak ada yang berani mendekatinya, bahkan teman-teman yang dipimpin oleh teman sekelasnya ini ragu-ragu untuk mendekat dan menolong pemimpin mereka.
“Dia sepertinya membutuhkan ambulan,” ujar Arfeen tenang. “Sayangnya kalian tidak bisa memberitahu apapun kepada polisi tentang aku yang menginjak kakinya, bukan? Jika iya, mungkin kalian semua yang ada di sini harus berhadapan dengan polisi karena aku bisa menuntut balik atas kasus pembullyan. Sudahlah, kau menghalangi langkahku saja.”
Semuanya menyingkir ketika Arfeen berjalan, mereka semua memberinya jalan dan tidak seperti dulu di mana tidak ada yang bersedia memberinya jalan untuk lari dan asyik melihat dirinya disiksa oleh anak-anak lainnya. Semuanya sama saja, mereka akan bertingkah seperti mereka adalah anak paling baik dengan tidak ikut membully tetapi mereka tetap menonton dan tersenyum. Sampah.
“Arfeen Tierra?”
Lagi, langkah Arfeen terhenti sebelum dia memasuki kelasnya. Dia berhenti tepat di depan pintu hanya untuk melihat salah satu gurunya mendekat. Itu adalah guru olahraganya, guru yang selalu menyuruhnya membereskan bola-bola di lapangan, memukul dan membentaknya jika dia menolak melakukannya. Guru yang tidak pantas disebut guru.
“Ya, Pak?” sahut Arfeen.
“Kau sudah kembali rupanya. Ayo ikut Bapak ke lapangan, kau harus membawakan banyak bola karena adik kelasmu akan bermain untuk latih tanding lima belas menit lagi,” begitu katanya. Sayangnya Arfeen tidak bergeming, dia tetap berdiri di tempatnya dan tidak melakukan apapun. Lihatlah, dia bahkan tidak repot bertanya tentang kecelakaan yang menimpanya.
“Kenapa kau masih berdiri di sana?” teriak gurunya itu. “Kau tidak ingin membantu Bapak? Kau tidak ingin membantu adik kelasmu?”
“Guru yang harus membantu muridnya,” balas Arfeen. “Juga, Bapak tidak perlu berteriak seperti itu karena jika kepala sekolah mengetahui perbuatan Bapak kepada saya maka semuanya tidak akan berjalan dengan sederhana.”
“Kau sedang mengancam gurumu sekarang?” teriaknya lagi, kali ini dia menggerakkan kakinya untuk menendang kaki Arfeen. Sayangnya Arfeen sudah mengetahuinya sehingga dia hanya bergerak ke lain arah dan membuat guru olahraganya itu terjatuh akibat tendangannya yang tidak mengenai target.
“Oh,” gumam Arfeen. “Sepertinya Bapak sangat bersemangat sampai-sampai melakukan pemanasan di depan kelas saya. Kalau begitu tetap semangat, Pak, saya permisi dulu.”
Setelah membalikkan badan, Arfeen tersenyum. Dia tahu dia banyak menarik perhtaian dengan perubahan drastisnya, tetapi ini baru permulaan dari tiga puluh hari yang akan dia lewati di Saujana. Karena seperti perkataan Isolde, dia harus menunjukkan kepada mereka bahwa dia juga bisa marah dan bahwa dia juga seorang manusia yang juga bisa terluka.
***