Dengan memanipulasi keadaan, akhirnya Arfeen masuk ke dalam suatu ruangan di rumah sakit, melilitkan beberapa perban ke tubuhnya sendiri dan juga dia membiarkan kepalanya terlihat seperti terbentur sesuatu dan dia juga membuat beberapa memar di tubuhnya untuk menyesuaikan dengan keadaan.
“Aku harus meminta maaf kepada orang-oran yang sudah aku manipulasi ingatannya,” gumam Arfeen, dia memakai uang yang diberikan Derwin kepadanya. Derwin mengatakan bahwa dia membutuhkan banyak uang karena selain tidak ada yang peduli kepadanya di Saujana, dia harus membayar biaya rumah sakit dan bertahan hidup. Entah darimana dia mendapatkan uang Saujana tetapi Arfeen merasa nasibnya sangat menyedihkan karena dia terlihat lebih tidak memiliki keluarga di tempat asalnya, di tempat di mana dia dilahirkan dan memiliki orang tua.
“Jadi dia adalah korban kecelakaan enam hari yang lalu? Bagaimana bisa dia berada di rumah sakit dan tidak ada yang mengetahuinya?” derap langkah suara kaki membuat Arfeen langsung berpura-pura tidur. “Kalian tidak melihat orang yang membawanya ke sini?”
Arfeen tahu dia sudah membuat masalah, apalagi melihat banyaknya orang yang berkumpul meskipun sebenarnya dia memejamkan mata. Dia bisa merasakan dari persediaan oksigen yang tiba-tiba menipis, selain itu dia juga merasakan banyak pasang mata yang sedang menatapnya.
“Bagaimana keadaannya?” tanya pemilik suara tadi lagi, sepertinya dia seorang polisi atau semacamnya. “Melihat dari banyaknya darah di lokasi kejadian aku sudah berpikir bahwa anak ini tidak akan baik-baik saja, apalagi kita tidak menemukan petunjuk apapun tentang keberadaannya, seakan-akan dia menghilang begitu tertabrak. Di mana dokter yang menanganinya?”
“Saya sudah memanggilnya,” ujar suara lainnya dan Arfeen kembali mendengar derap langkah kaki yang mendekat. “Ini adalah dokter yang menangani korban.”
“Selamat pagi!”
“Selamat pagi, apakah kalian adalah polisi yang kami paggil satu jam yang lalu?”
“Iya, sebelum itu bisakah dokter menceritakan apa yang terjadi? Sebenarnya kami sudah mencari-cari korban selama enam hari terakhir tetapi kami tidak menemukan petunjuk apapun selama pencarian kami.”
“Sebenarnya ada yang mengirim pasien kemari enam hari yang lalu, awalnya kami tidak mencurigai apapun karena ‘seseorang’ yang memperkenalkan dirinya sebagai Varoon ini merawat pasien dengan sangat baik dan dia juga mengatakan bahwa pasien adalah adiknya. Tetapi kemarin tiba-tiba Tuan Varoon tidak lagi muncul dan sama sekali tidak bisa kami hubungi padahal keadaan pasien sudah jauh lebih baik.”
“Tim kami sudah memeriksa cctv tetapi Varoon ini terlihat sangat pandai, dia benar-benar menutup dirinya dari atas sampai bawah dan mengetahui titik buta. Dia tidak terlihat dalam rekaman cctv lift yang artinya dia naik ke sini dengan menggunakan tangga,” jelas suara lainnya yang lagi-lagi beda dengan sebelum-sebelumnya. “Apakah kalian bisa menggambarkan sosok Varoon kepada kami?”
“Tentu. Dia sangat tinggi, mungkin tingginya lebih dari 190 cm, warna kulitnya sangat cerah- ah, dia terlihat seperti orang asing karena matanya berwarna biru.”
Dalam hati Arfeen meminta maaf kepada Varoon karena dia tidak memiliki banyak waktu untuk memanipulasi ingatan mereka sehingga bayangan terakhir yang datang di kepalanya adalah sosok Varoon. Lagipula mereka tidak akan menemukan Varoon di tempat ini, bukan?
“Orang asing?”
Pada dasarnya Arfeen berhasil membuat mereka kebingungan, apalagi setelahnya ingatan mereka berubah dan tidak lagi bisa dipercaya. Hah, ini adalah kejahatan pertama Arfeen sepanjang hidupnya- oh tidak, dia sudah membunuh banyak makhluk hidup, menghukum Virendra dengan keji dan memenjarakan banyak orang meskipun semua itu disebut dengan ‘hukuman atas pengkhianatan’.
Setelah itu Arfeen memutuskan untuk membuka matanya ketika keadaan mulai tidak terkendali. Yah, dia memang tidak mengharapkan kesuksesan karena ini adalah kali pertamanya pahlawan Niscala itu menggunakan sihir yang dia pelajari dalam waktu beberapa menit saja dari Derwin.
Benar saja, saat dia membuka mata para dokter langsung heboh, ada banyak orang di dalam ruang rawatnya dan Arfeen hanya berpura-pura tidak mengerti apa yang terjadi. Saat dokter menghidupkan sesuatu seperti senter dan mengarahkan cahaya itu ke matanya, Arfeen hanya mengedip-ngedipkan matanya karena ternyata ini lebih menyilaukan dari apa yang pernah dia lihat di televisi dulu.
“Bagaimana dengan keluarga korban?” itu adalah sebah bisikan yang masih bisa di dengar oleh Arfeen. “Apakah kalian sudah menghubungi mereka dan memberitahu bahwa korban sekarang berada di rumah sakit?”
“Tidak ada yang mengangkat panggilannya,” jawab yang lain. “Sejak awal mereka memang terlihat tidak peduli bahkan ketika kami mengatakan bahwa tubuh korban tidak ditemukan, mereka hanya menghela napas seakan-akan kami sudah menyita banyak waktu mereka dan pulang begitu saja. Bahkan saat kami meminta keterangan ke rumah mereka, tidak ada yang membuka pintu sampai akhirnya kami mendapatkan keterangan dari tetangga mereka.”
“Bukankah itu sudah keterlaluan? Anak itu masih duduk di bangku SMA, bukan?” bisik mereka tidak selesai. “Sudahlah, nanti kau coba hubungi lagi mereka. Tidak mungkin mereka akan terus bersikap seperti ini kepada anggota keluarga mereka.”
Mereka salah, gumam Arfeen. Orang tuanya memang tidak pernah peduli apa yang dia lalui karena mereka juga sama kejamnya. Mungkin mereka sekarang sedang bersenang-senang karena akhirnya mereka tidak perlu mengotori tangan mereka untuk menyingkirkan Arfeen untuk selamanya.
“Tidak apa-apa,” sahut Arfeen denga suara yang dia buat serak. “Tidak apa-apa, saya bisa kembali ke rumah sendiri. Mereka tidak akan suka jika ada seorang polisi mengetuk pintu rumah jadi besok saya akan kembali ke rumah seorang diri.”
“Besok?” petugas polisi itu mendatanginya. “Kau tertabrak sebuah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi, ada banyak darahmu di sana dan kami sudah sangat terkejut ketika mendengar kabar bahwa lukamu tidak ada yang serius dan kau baru saja mengatakan bahwa kau akan keluar dari rumah sakit ini besok?”
“Ya,” Arfeen mengangguk. “Seperti yang Anda sekalian lihat, saya baik-baik saja dan tidak memiliki masalah selain luka lecet. Meskipun mereka tidak mengatakannya dan terlihat tidak peduli, mungkin saja mereka masih mengkhawatirkan saya. Maka dari itu saya akan kembali ke rumah seorang diri supaya mereka tidak lagi khawatir.”
“Tidak bisa,” seorang petugas polisi yang baru datang langsung menyela, sepertinya dia adalah ketuanya karena dia yang terlihat paling tua diantara yang lainnya. “Kau tidak bisa kembali ke rumah itu, Nak. Keluargamu pindah rumah kemarin malam tanpa berpamitan dengan siapapun, menurut tetangga yang melihatnya, mereka terlihat seperti dikejar sesuatu dan terburu-buru.”
Semuanya memberi salam hormat kepada polisi tua yang baru masuk, karenanya Arfeen semakin yakin bahwa dia adalah ketuanya. Lalu tentang kepergia orang tuanya, dia sudah mengetahui hal ini akan terjadi dan dia juga memiliki Althaia yang selalu mengintai rumahnya oleh karena itu dia juga mendapatkan informasi lebih cepat daripada siapapun. Lagipula mereka hanya kabur ke rumah neneknya yang berada di pinggiran kota.
“Saya akan menemukan mereka,” ujar Arfeen, menunjukkan tekad yang tinggi di depan para polisi agar tidak ada yang mencurigainya- ck, lagipula siapa yang akan mencurigai seorang korban kecelakaan yang disebutkan telah berada di rumah sakit selama enam hari? Tetapi akting Arfeen tidak terlalu buruk. “Saya yakin mereka tidak akan meninggalkan saya begitu saja, oleh karena itu saya yakin mereka tidak akan pergi jauh.”
“Kau memiliki dua orang Kakak dan sebenarnya kau ini bungsu di keluargamu, bukan?” tanya polisi itu lagi. “Tetapi, Nak, apakah kau sama sekali tidak memiliki ingatan tentang hari di mana kau mengalami kecelakaan? Kami kesulitan menemukanmu dan tiba-tiba saja setelah enam hari kami mendapatkan telepon dari rumah sakit kalau kau sudah ada di tempat ini dan seorang tidak dikenal membawamu ke mari.”
“Saya..” Arfeen menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ingatan terakhir saya berhenti ketika saya ingin menyebrang jalan ketika lampu merah menyala. Saya ingat kalau tubuh saya bertabrakan dengan sesuatu lalu saya terbanting dan kesadaran saya hilang saat itu juga, setelah itu saya benar-benar tidak bisa mengingat apapun.”
Sepertinya petugas polisi benar-benar mencari keberadaannya, ya? Entah karena mereka hanya penasaran karena korban yang baru saja terlibat kecelakaan menghilang dan hanya meninggalkan banyak darah di lokasi kejadian atau mereka sebenarnya juga sedang menyelidiki sesuatu yang lain.
“Itu.. orang yang menabrak saya..”
“Ah, dia sudah berada di penjara karena mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, menabrak seseorang dan juga mabuk. Kau tidak perlu khawatir kepada orang itu, sepertinya kau harus lebih memikirkan kondisimu sendiri, Nak. Apa benar tidak ada yang sakit?”
“Saya baik-baik saja,” Arfeen tersenyum. “Saya juga akan mulai kembali ke sekolah secepatnya.”
Benar, dia tidak memiliki banyak waktu karena setelah memberi pelajaran dan menyelesaikan apa yang dia ingin selesaikan, Arfeen harus menghapus ingatan mereka semua tentang dirinya. Dia sudah memutuskan untuk tidak lagi terlibat di Niscala, dia hanya ingin mengetahui beberapa hal dan tidak memiliki waktu untuk kembali menangis dalam diam seperti dirinya yang dulu.
“Oh?”
Saat Arfeen baru turun dari mobil polisi yang berbaik hati mengantarnya sampai rumah, Arfeen mendnegar seruan terkesiap dari tetangga sebelah rumahnya. Seorang lansia, satu-satunya orang yang sering menyapanya meskipun keluarganya sudah melarang Nenek itu menyapa orang aneh seperti Arfeen.
“Arfeen?” sapanya. “Kau baik-baik saja, Nak? Ada banyak polisi datang selama enam hari terakhir dan mereka mengatakan kau terlibat dalam suatu kecelakaan, orang tuamu juga datang ke lokasi kejadian hari itu tetapi mereka sekarang sudah tidak ada di rumah itu lagi.”
“Saya tahu,” Arfeen tersenyum. “Pak polisi sudah memberitahu saya tentang apa yang terjadi. Mereka bilang Nenek sudah berbaik hati memberikan informasi tentang saya kepada mereka untuk membantu penyelidikan, bukan? Saya sangat berterima kasih.”
“Bukan apa-apa. Kau sudah makan? Tidak ada orang di sana- tunggu di sini sebentar, akan aku bawakan makanan untukmu.”
Ah, sepertinya Arfeen melupakan seseorang yang bersikap tulus padanya. Tetapi Arfeen tidak mengkhawatirkannya, meskipun anak dan menantu Nenek itu juga menjauhinya karena tidak ingin ikut dipandang aneh oleh orang lain tetapi mereka tetap orang baik. Karena itu Nenek akan baik-baik saja.
Sambil menunggu, Arfeen mengamati rumahnya. Dulu dia takut hanya dengan berpikir dia akan pulang ke rumah setelah kembali dari sekolah karena takut dipukuli oleh orang tuanya, tetapi sekarang dia kembali ke rumah itu atas kehendak hatinya sendiri, tanpa paksaan dari siapapun karena dia ingin mengubah sesuatu. Sesuatu yang hanya bisa diubah dengan keberanian.
***