Gelap sekali, setidaknya itu yang Arfeen rasakan. Selain itu dia tiba-tiba merasa seluruh tulangnya terasa sangat kesakitan, dadanya sesak dan perutnya benar-benar memberontak seakan-akan dia akan muntah dalam hitungan detik.
“Kau sangat aneh, kau tahu itu, Adik?”
“Kenapa kau memiliki Adik seperti dia? Adikmu terlihat seperti orang gila.”
“Hahaha, orang gila? Dia lebih parah daripada itu, sering berbicara sendiri dan suka berteriak sambil mengatakan hewan besar seperti itu- hahahaha, dia harus dibawa ke rumah sakit jiwa. Kau memiliki nasib yang buruk, Arfeen Tierra, Kakakmu bahkan ikut membully mu.”
Lalu terdengar seperti sebuah tendangan yang memekakkan telinga. Rasanya telinga Arfeen akan meledak begitu saja, tetapi setelah itu badannya terasa sangat sakit seakan benda dengan kecepatan tinggi menabrak tubuhnya. Bukankah ini aneh? Bukankah seharusnya dia meregang nyawa karena lemparan batu di belakang kepala? Tetapi kenapa rasanya seperti ditabrak kendaraan?
“ARFEEN TIERRA!”
Sebuah teriakan menembus segalanya, semua rasa sakitnya tiba-tiba terasa ditarik dan Arfeen melihat cahaya putih. Dia tahu kalau dia sedang bermimpi, tetapi siapa yang berteriak dan memudarkan semua mimpi buruk itu dalam sekejap? Haruskah Arfeen berterima kasih?
“Kau baik-baik saja?” tanya Isolde, dia menyentuh lengan Arfeen. “Maaf membangunkanmu, kau terlihat seperti orang yang sedang bermimpi buruk jadi-“
“Tidak apa-apa,” Arfeen mengedip-ngedipkan matanya untuk memperjelas pandangannya, dia melihat Isolde yang tampak lebih pucat dari waktu ke waktu itu dengan senyuman kecil. “Terima kasih sudah membangunkanku, aku memang bermimpi buruk.”
“Mimpi yang sangat buruk,” gumam Isolde. “Aku tidak bermaksud memperhatikan tetapi kau terus merintih dalam tidurmu, awalnya aku pikir kau kesakitan tetapi ternyata- sekali lagi maaf.”
“Sudah aku katakan kalau aku baik-baik saja, aku bersyukur kau membangunkanku lebih awal,” Arfeen tersenyum lagi. “Tetapi.. apakah kau baik-baik saja, Isolde? Wajahmu jauh lebih pucat padahal kita hanya tidak bertemu beberapa jam.”
“Apakah aku terlihat sepucat itu?” Isolde menyentuh wajahnya sendiri. “Jujur saja akhir-akhir ini aku merasa sangat tidak nyaman dan tidak bisa menggunakan energi sihir sesukaku.”
“Benarkah?” Arfeen meminta Isolde duduk di sebelahnya. “Sebenarnya sudah lama sekali aku ingin menanyakan ini, tetapi apakah ada tanaman atau sesuatu yang unik di dalam kamarmu? Aku tidak bermaksud buruk dengan menanyakan hal seperti ini, aku hanya mencurigai beberapa hal jadi..”
“Hm,” Isolde mengangguk. “Ibuku menyukai bunga, ada beberapa bunga yang hanya tumbuh di hutan Althaia dan aku meletakkan bunga itu di kamarku. Ah.. selain itu aku terus membuatnya hidup dengan menggunakan sihir. Sebenarnya itu adalah sihir yang dimiliki Ibu dan aku mempelajarinya karena bunga itu tidak selalu tumbuh setiap harinya.”
“Kau menyuburkan bunga itu- maksudku untuk terus membuatnya tetap mekar kau menggunakan sihir untuk melakukan itu?” tanya Arfeen, dia jelas tertarik. “Maksudku.. bukankah tanaman biasa apalagi bunga tidak mampu menahan sihir untuk jangka waktu yang lama?”
“Memang begitu katanya,” Isolde tampak santai, dia tertawa. “Hanya ada beberapa orang yang mengetahui hal ini, bahkan dulu Ibuku sempat mengajari beberapa orang tetapi sepertinya karena ini merupakan sihir yang rumit, banyak yang melupakan sihir itu. Kau tahu, sihir untuk terus menyuburkan tanaman adalah sihir yang rumit karena menentang jalannya kehidupan- ah, sebenarnya Virendra juga mengetahui cara menggunakan sihir ini, meskipun dia tampak menyeramkan, dia mengetahui banyak jenis tumbuhan.”
Senyum di wajah Arfeen menghilang sejenak sebelum kemudian dia ikut tertawa. “Wah, dia juga merupakan orang yang terampil, ya?”
Lagipula kenapa Isolde, yang katanya penyihir wanita terkuat ini sangat berpikiran positif? Dia lengah dan membuat segalanya menjadi rumit. Apakah ini yang dinamakan kecintaanmu kepada sesuatu terkadang akan membawamu kepada kematian? Hah, memang tidak ada bukti yang pasti apakah Virendra menggunakan racun yang bisa menyegel energi sihir dalam bunga milik Isolde yang tersimpan di dalam kamarnya tetapi setidaknya sudah ada titik terang.
“Apakah kau juga mengenal banyak tanaman sihir, Isolde?” tanya Arfeen lagi. “Aku sempat belajar dengan menggunakan buku-buku yang aku temui di perpustakaan sihir dan di sana disebutkan ada satu jenis tanaman sihir yang sangat langka dan bisa menyamarkan hawa keberadaan penyihir golongan atas sekalipun. Apakah kau tahu jenis tanaman itu?”
Matanya bersinar, bahkan mungkin tanpa sadar dia meletakkan tangannya di atas paha Arfeen karena bersemangat. “Sudah lama tidak ada yang menanyakan hal-hal yang aku suka, aku sangat senang karena ternyata kau juga belajar tanaman sihir! Hehehe, dan ya.. tanaman sihir yang menyamarkan hawa keberadaan memang sangat langka dan bahkan tidak ditemukan lagi, aku sudah mencarinya karena ingin mengetahui bentuknya.”
“Benarkah? Kau ingin aku temani belajar- ah, bagaimana jika aku melihat bunga milikmu terlebih dahulu? Kau bilang bunga itu jarang tumbuh, bukan? Aku sangat penasaran.”
“Ya, tentu saja,” katanya bersemangat. “Bagaimana kalau besok pagi?”
“Tentu,” Arfeen tersenyum. “Aku ingin segera melihat bunga milikmu, jika kau sangat menyukainya sampai menghafal sihir yang sangat rumit, aku yakin bunga itu sangat cantik dan berharga.”
Lalu setelah melihat bunga itu dan menemukan sihir atau racun aneh yang ditanam di dalamnya, bagaimana Arfeen menjauhkan bunga itu dari Isolde tanpa membuat gadis itu gelisah? Lagi dia mengatakan kalau energi sihirnya susah digunakan akhir-akhir ini yang artinya segel sihir dalam dirinya menguat.
“Isolde, apa yang akan terjadi jika Kasdeya golongan atas yang memiliki sihir setara dengan Tierra dari ribuan tahun yang lalu berhasil keluar dari Marven dan menyerang Tyrion? Apa itu memungkinkan?”
Isolde terkekeh. “Iya, itu memungkinkan hanya jika aku kehilangan sihirku dan meninggal- eits.. tetapi kau bisa tenang, aku dianugerahi keabadian oleh Niscala jadi selama itu, kita semua akan baik-baik saja.”
Arfeen ikut tersenyum, dia menatap Isolde dan meyakinkan dirinya bahwa perempuan di hadapannya ini, Adik dari Derwin dan merupakan penyihir wanita terkuat yang masuk ke dalam ramalan akan selalu baik-baik saja atau.. tidak.
Malam harinya Denallie juga pergi ke hutan untuk memberi kabar kepada Arfeen, Derwin dan Varoon. Dia mengatakan bahwa Isolde tiba-tiba tidak mau bangun meskipun Denallie sudah memanggil dan mengguncang tubuhnya berkali-kali. Karena itulah mereka semua berada di kamar Isolde malam itu, Derwin berada di sisi Adiknya, Varoon dan Denallie mengunci kamar Isolde dengan sihir agar tidak ada yang mengetahui kondisi penyihir wanita itu.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Derwin ketika Arfeen mencabut bunga yang ditanam dalam pot kayu. “Itu bunga kesukaan Ibu dan Isolde, kenapa kau mencabutnya- tidak, Arfeen, sekarang aku sedang panik dan kau-“
“Aku yakin racun itu ada di sini,” ucap Arfeen, memotong ucapan Derwin.
“Racun?” Denallie ikut mendekat ke arah bunga itu tetapi Arfeen langsung menjauhkannya. “Ada apa dengan dirimu? Aku hanya ingin melihatnya!”
“Tidak ada yang boleh mendekat sebelum aku memastikan tidak ada racun Kasdeya di tanaman ini,” ujar Arfeen. “Jangan bertanya lebih jauh, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang tetapi lebih baik tidak ada yang mengetahui kondisi Isolde selain kita di sini, jangan panik, aku akan meminta bantuan Althaia.”
“Arfeen!” Derwin menahan langkahnya. “Jika tanaman itu memiliki racun Kasdeya- oke, aku tidak akan bertanya lebih mengenai asal racun itu tetapi jika Isolde tidak kunjung bangun, seluruh lapisan es di Marven akan mencair dan kita semua tahu apa yang akan terjadi.”
“Karena itulah,” Arfeen menatap Derwin. “Karena itulah aku memintamu menjaganya karena lalat-lalat pengganggu itu mulai berkeliaran dengan tidak tahu malu.”
“Kalau begitu kenapa kau yang mengambil bunganya?” sanggah Denallie. “Jika siapapun itu lalat pengganggu yang kau maksud berniat menyakiti Isolde atau ingin Tyrion juga dikuasai Kasdeya, bukankah mereka juga akan mengganggumu? Jika benar bunga itu memiliki racun, sihirmu juga akan melemah, Arfeen Tierra!”
“Itu benar,” ujar Varoon, dia mendukung Denallie. “Kami tidak bisa melawan Kasdeya jika kami juga kehilangan energi sihirmu.”
“Aku akan baik-baik saja,” ucap Arfeen, dia meyakinkan mereka semua dengan wajah seriusnya. “Justru aku yang akan kesulitan jika kalian bertiga melemah. Ini tidak masuk akal tetapi aku akan baik-baik saja karena sejak awal aku sudah mencari tahu tentang hal ini, aku juga akan membiarkan es itu mencair dan saat itu kalian harus membawa semua rakyat kita yang tidak memiliki sihir mempuni ke hutan Althaia, aku sudah memberi mantra perlindungan di hutan itu dan memperkuatnya dalam dua bulan terakhir.”
“APA?” Derwin kembali menatap tajam Arfeen. “Kau gila? Siapa dirimu yang bisa menentukan hal-hal seperti ini? Orang-orang akan terluka dan mungkin hidupmu juga akan berakhir. Kau pikir kau bisa mengalahkan banyak Kasdeya dengan kekuatanmu itu? Kau mulai tidak tahu diri, Arfeen Tierra, kami memang memintamu bekerja keras tetapi bukan di saat seperti ini. BUKAN MEMBAHAYAKAN DIRIMU SENDIRI!”
“Wah, aku terharu karena kau sangat peduli padaku,” Arfeen tersenyum. “Aku terharu karena sejak awal kalian peduli padaku, tetapi lima bulan sudah cukup dan aku akan membalas semua itu. Aku sudah mengerti penderitaan kalian, seluruh rasa takut penduduk di sini, aku sangat memahami bagaimana rasanya berpikir apakah esok hari kaku masih bisa bernapas dan hidup dengan baik. Aku harus membalas budi karena sudah makan dan belajar dengan baik di negeri ini.”
“Jangan bercanda, kami selalu memintamu belajar untuk keselamatan kami!” seru Varoon. “Kau tidak perlu berterima kasih atau apapun omong kosong itu. Jangan pertaruhkan nyawamu demi kami.”
“Bukankah aku memang harus mempertaruhkan nyawaku demi negeri ini?” Arfeen tersenyum lebar. “Aku akan baik-baik saja karena negeri ini akan melindungiku dan kalian juga akan melakukan hal yang sama- tidak, aku akan baik-baik saja selagi kalian semua tidak mati.”
Karena bagaimana juga pertemanan yang tidak pernah Arfeen miliki sebelumnya sekarang berada di dalam genggamannya dan jika mereka menghilang, maka Arfeen akan ikut tenggelam.
***