SI BODOH YANG PANDAI MEMANIPULASI

1598 Words
 Tidak apa-apa jika Arfeen menjadi orang yang berkorban, dia akan baik-baik saja dan tidak akan pernah menyesali keputusannya. Perkataan yang dia utarakan tadi bukanlah omong kosong semata, dia bekerja keras selama lima bulan terakhir tanpa diketahui oleh teman-temannya bukan tanpa alasan. Ini semua dia lakukan untuk mengimbangi kesalahan yang dilakukan oleh sekelompok lalat pengganggu.  “Arfeen Tierra?”  Berhenti melangkah, Arfeen menoleh dan melihat Virendra sedang berjalan mendekat. Seperti dugaannya, laki-laki itu tidak berkeliaran sendiri melainkan bersama pengikutnya, orang-orang yang disamarkan menjadi pemburu hewan tetapi yang sebenarnya mereka adalah pemburu informasi. Lihat, laki-laki yang pernah dia lihat di hutan karena diam-diam bersembunyi dan mendengarkan percakapannya dan yang lain juga ada di sana.  “Sedang apa kau?” tanya Virendra, dia melirik bunga yang ada di dalam genggaman Arfeen. “Kau tertarik dengan bunga? Bukankah itu bunga yang sangat langka? Di mana kau menemukannya?”  Arfeen tersenyum. “Di kamar Isolde, dia mengatakan bahwa aku bisa meminjam bunga ini karena kebetulan akhir-akhir ini aku tertarik kepada sihir, khususnya kepada tanaman biasa yang berkat pemiliknya akhirnya berhasil bertahan dengan energi sihir. Seperti yang kau lihat, aku ingin tahu sihir apa saja yang ada di dalam bunga indah ini,” jelasnya tenang, dia tidak menampakkan bahwa kondisi Isolde sedang mengkhawatirkan dan terus tersenyum.  “Ah,” Virendra mengangguk paham. “Aku juga sangat memahami tentang tanaman sihir, jika kau ingin belajar denganku, maka kau bisa datang ke ruanganku.”  “Oh ya? Terima kasih atas tawaranmu kalau begitu,” Arfeen berpura-pura senang. “Jika kau sangat mengerti tentang tanaman sihir, boleh aku bertanya sesuatu padamu? Ini cukup mendesak jadi aku membutuhkan jawabannya segera sebab sebentar lagi aku ada latihan dengan Derwin dan Varoon.”  “Ya, tanyakan saja,” jawab Virendra, mempersilahkan. “Jika aku mengetahui jawabannya, aku mungkin bisa membantumu.”  “Apakah menurutmu energi sihir dari monster-monster tingkat tinggi dapat ditanamkan dalam bunga sekecil ini?” tanya Arfeen, dia dengan akting mempuninya mulai memasang wajah tanpa dosa. Wajahnya sangat polos seakan-akan dia benar-benar bertanya dan tidak ada ancaman apapun yang terdengar dari nada suaranya. “Jika racun kuat Kasdeya yang memiliki sihir setara dengan kemampuan penyihir tingkat atas Niscala ada di dalam bunga sekecil ini, apakah bunga ini akan bertahan dan tetap mekar dengan indah seperti sekarang ini?”  Awalnya Virendra hanya menatap Arfeen sementara anak Saujana itu hanya memiringkan kepalanya, mata Arfeen melirik para pengikut Virendra dan tersenyum miring walaupun hanya bertahan sedetik.  “Kau tidak bisa menjawabnya?” tanya Arfeen, dia berpura-pura tidak puas dan putus asa. “Sayang sekali. Aku juga bertanya kepada Isolde dan dia bilang dia juga tidak mengetahui tentang hal-hal sepert itu, begitu juga dengan Derwin, Varoon serta Denallie. Ck, kenapa tidak ada yang bisa menjawab?”  “Karena tidak mungkin menyimpan racun Kasdeya tingkat atas di dalam bunga sekecil itu,” sahut Virendra pada akhirnya. “Bunga kecil itu akan langsung mati kecuali diimbangi dengan energi sihir positif yang juga mengalir. Lagipula kau tahu sendiri bagaimana mematikannya racun Kasdeya, apalagi yang memiliki kekuatan sihir setara penyihir terkuat Niscala.”  “Ah,” Arfeen mengangguk-angguk, dia memperhatikan bunga yang sedang dia genggam. “Tetapi bagus juga ya.”  “Apa yang bagus?” tanya Virendra karena Arfeen tidak menjelaskan apa maksud ucapannya dan hanya mengamati bunga di dalam genggaman tangannya. “Bunga itu?”  “Bukan,” Arfeen menggeleng. “Bukan bunga ini, melainkan racun Kasdeya yang tidak terlihat. Wah.. apa karena aku juga memiliki energi sihir yang tidak dapat dilihat orang lain, karena itu aku dapat melihat racun yang juga tidak bisa dilihat orang lain?”  Tanpa menoleh sedikitpun, Arfeen bisa mendengar suara terkesiap yang berasal dari para pengikut Virendra. Remaja berusia tujuh belas tahun itu tetap memasang wajah polosnya.   “Jika aku mengetahui cara untuk memusnahkan atau menetralkan racun yang aku lihat ini, maka kemungkinan besar aku juga dapat menyelamatkan Niscala dari pada Kasdeya jahat itu!” sorak Arfeen bersemangat, dia mengalihkan perhatiannya kepada Virendra dan tersenyum lebar karena melihat ekspresi yang dia inginkan berada di wajah Virendra. “Virendra! Kau harus menyebarkan berita ini kepada warga bahwa aku, Arfeen Tierra, penyihir yang disebutkan di dalam ramalam Niscala akan segera memenuhi harapan warga. Hahaha.”  Virendra tersenyum, dia menatap Arfeen dengan tatapan mencela. “Ya, akan aku sampaikan apa yang kau ucapkan tadi. Tapi, Tierra.. apa kau memang sebodoh ini?”  “Huh?” Arfeen kembali memiringkan kepalanya. “Apanya? Ah, ini pasti karena kau tidak dapat melihatnya, bukan? Lihat! Benar-benar ada racun Kasdeya di dalam bunga kecil ini!”  “Siapa yang akan meletakkan racun Kasdeya tingkat tinggi di dalam bunga kecil seperti itu?” Virendra terkekeh, dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu. Lebih baik kau segera mencari cara untuk menetralkan ‘racun’ tidak terlihat yang kau maksud itu.”  “Kau harus mendukungku jika aku benar-benar bisa menetralkan racunnya!” teriak Arfeen begitu Virendra menjauh dan hanya menjawabnya dengan cara melambaikan tangan seperti berkata bahwa Arfeen sudah gila dan bodoh sampai tidak mengetahui bahwa tidak ada apapun selain sihir penyubur di bunga milik Isolde yang dia genggam.  Diam-diam Arfeen tersenyum dan melanjutkan langkahnya. Bunga yang berada di dalam genggamannya bukanlah bunga yang dia maksud, tidak ada sihir jahat atau racun di dalam bunga yang dia genggam. Arfeen memang sengaja memancing Virendra dan ingin sekali melihat reaksi dari laki-laki yang dia anggap sebagai lalat pengganggu yang harus segera dimusnahkan sebelum semakin banyak bertingkah.  “Virendra,” gumam Arfeen. “Sepertinya kau yang bodoh di sini. Lagipula kenapa aku harus menggenggam bunga yang sudah kau tanamkan racun di dalamnya? Aku masih memiliki tanggung jawab yang harus aku selesaikan di tempat ini, memangnya aku akan rela jika sihir yang baru aku kembangkan dari dalam tubuhku ini tersegel begitu saja?”  Dengan menggunakan sihir hawa keberadaan, Arfeen langsung sampai di tepi Marven, tempatnya biasa berlatih dengan Althaia hitam yang biasa menemaninya. Di sana Arfeen langsung meletakkan bunga yang dia ambil dari kamar Isolde, menanamnya kembali dengan sihir penyubur yang juga sudah dia kuasai.  “Bagaimana keadaan Isolde?” tanya Althaia hitam.  “Dia akan baik-baik saja setelah aku menguasai sihir yang bisa membuka segelnya,” sahut Arfeen. “Tetapi tidak sekarang, aku akan membiarkannya beristirahat dan mungkin aku akan menghadapi Kasdeya itu sendirian.”  “Tidak bisa, Tierra,” Althaia menggelengkan kepalanya. “Kau masih membutuhkan banyak bantuan karena kau belum memiliki sihir asli Niscala di dalam dirimu. Kau memang menguasai banyak sihir yang bahkan tidak bisa dikuasai pendahulumu tetapi tetap saja, Tierra dari ribuan tahun lalu jauh lebih kuat darimu. Tekadmu saja belum cukup, Tierra.”  “Aku tahu,” Arfeen mengangguk, dia mengeluarkan sebuah batu yang dia ambil dari dalam pot bunga di dalam kamar Isolde. Sebuah batu yang menyimpan racun Kasdeya yang sebenarnya. “Tetapi kau tahu apa yang lucu? Kali ini aku tidak lagi merasa takut terluka melainkan aku takut kehilangan teman dan kehangatan yang aku rasakan di tempat ini. Racun Kasdeya ini benar-benar kuat, diletakkan di dalam batu yang juga tertanam di dalam pot- ck, menggelikan sekali, menurutmu ide siapa ini?”  “Ide Virendra?” Althaia itu mengubah penampilannya menjadi Isolde. “Apa ini waktu yang tepat? Isolde tidak biasanya berdiam diri di ruangannya terlalu lama, setiap pagi dia harus mengunjungi warga dan menyembuhkan luka yang mereka dapat dari berburu atau karena hal lain jika itu diperlukan. Selain itu apa kau sudah menghapus hawa keberadaannya agar tidak ada yang tahu bahwa dia tertidur di ruangan itu?”  “Aku menjalankannya sesuai rencana,” ujar Arfeen, dia menggerakkan tangannya, mengubah arah hawa keberadaan Isolde dan membiarkan Althaia hitam tadi menyerapnya. “Kau harus menjadi Isolde bahkan saat para monster itu terlepas. Apa kau siap?”  “Kau pikir berapa ratus tahun lamanya aku menunggu saat-saat seperti ini datang?” katanya, Althaia itu terkekeh. “Ah, sebenarnya ini terasa sangat aneh tetapi karena aku juga betina, aku merasa baik-baik saja. Isolde sangat cantik, aku merasa sangat nyaman mengubah bentukku menjadi dirinya karena saat aku berubah menjadi dirimu- wah, itu sangat aneh.”  Arfeen duduk di sebelah bunga milik Isolde yang kembali mekar itu. “Aku ingin segera menyelesaikannya.”  Althaia yang kini berubah menjadi Isolde itu ikut duduk di sebelahnya. “Kenapa? Kau ingin cepat-cepat kembali ke Saujana dan menemui keluargamu?”  Tawa kecil Arfeen terdengar. “Derwin akan membunuhmu jika mengetahui bahwa kau menyebut mereka sebagai keluargaku.”  “Benarkah? Apa Derwin sangat menyayangimu karena secara tidak langsung dia sudah mengawasimu sejak kau masih bayi?” Althaia itu menghela napas. “Wah, aku benar-benar merasa menjadi manusia sekarang. Aku bisa menghela napas dengan ekspresi wajah menggemaskan.”  “Menggemaskan?” Arfeen berdecak. “Berhenti menggunakan wajah Isolde dan membuat ekspresi seperti tadi, kau membuat kecantikannya berubah secara konyol. Berhenti melakukan itu.”  “Maksudmu ekspresi tadi kurang menggemaskan? Aku sering melihat warga mendesah dan terkadang aku berpikir ekspresi mereka sangat bagus jadi aku ingin meniru mereka sesekali,” jelasnya. “Tetapi lupakan itu terlebih dahulu, aku ingin menanyakan satu hal. Apa kau sudah tahu bahwa kau dan Isolde ditakdirkan untuk menjaga negeri ini sampai kalian mati?”  “Isolde itu abadi,” ujar Arfeen tanpa ekspresi sehingga Althaia itu dia buat malu sendiri.  “Ralat. Kalian ditakdirkan untuk menjaga negeri ini sampai kau mati, apa kau mengetahui semua itu?”  “Ya dan itu tidak masalah,” Arfeen memandang jauh, ke arah lapisan es yang sangat tebal. “Besok lapisan es itu akan mencair secara perlahan dan kemungkinan keluarnya banyak Kasdeya dari dalam Marven sangatlah besar. Tolong lindungi warga dengan sihirmu, loloskan kabut hijau keahlianmu untuk melindungi warga karena mulai besok pertarungan yang ditunda selama seratus tahun itu akan segera dimulai.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD