HUKUMAN: KEMATIAN MUNGKIN LEBIH MUDAH (2)

1510 Words
 Arfeen Tierra selalu mengejutkan orang-orang baik dnegan kemampuannya, caranya berbicara dan sekarang keputusannya. Semua penyihir dan bahkan rakyat biasa yang lahir di Niscala mengetahui bahwa semakin banyak sihir yang dimiliki seseorang dan semakin kuat sihir itu, proses penyerapan atau yang lebih dikenal sebagai pergantian pemilik adalah hal yang sangat kejam dan lebih dari sekedar kata sakit jika digambarkan. Memang benar, kematian akan jauh lebih mudah dibandingkan pergantian pemilik energi sihir. Bukan karena hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya, sejak dulu raja sebelumnya selalu menurunkan sihirnya kepada anak-anaknya tetapi itu terjadi dengan bantuan dari beberapa penyihir kelas atas untuk meringankan sakit dari pihak pemberi. Lalu sekarang jika Arfeen sudah mengatakan bahwa dia tidak akan mengurangi sakit Virendra sama sekali, laki-laki itu serius dengan hukumannya. “Kenapa menatapku seperti itu, Virendra?” Arfeen tersenyum. “Bukankah kau meremehkanku sejak aku tiba di negeri ini, kau sama sekali tidak menunjukkan rasa senangmu dengan kehadiranku karena yakin rencanamu akan berjalan sempurna meskipun aku ada di negeri ini. Kau lupa bahwa meremehkan lawanmu bukanlah hal yang pantas dilakukan, sekarang kau akan menerima hukumanmu.” “Kurang ajar kau, Tierra!!” geram Virendra ketika Arfeen sudah mencabut sihirnya sehingga dia bisa berbicara. “Kalian jangan percaya dengan anak kecil itu, dia akan menjadi seperti Tierra yang sebelumnya, dia hanya akan meninggalkan Niscala dan pergi ke Saujana untuk menikah dan memiliki anak! Dia sama dengan pendahulunya! Dia adalah pengkhianat yang sebenarnya!” Arfeen membiarkan Virendra mengatakan apapun, dia memang memancing Virendra agar orang-orang yang masih ragu bahwa Virendra yang notabenenya adalah penasihat kerajaan malah berbalik arah menjadi pengkhianat dengan terlibat dalam rencana pembunuhan raja mereka. “Aku akan membebaskan kalian dari penyihir-penyihir murahan ini, kalian sedang dibodohi! King Tyrion III itu juga sama, dia hanya memikirkan dirinya sendiri! HANYA AKU YANG MEMIKIRKAN KALIAN SEMUA! HANYA AKU!” teriaknya histeris. “Kalian seharusnya berterima kasih kepadaku dan bukannya mencemoohku! Aku sudah membunuh raja tidak berguna itu untuk kalian!” “Bukankah dia tidak tahu malu? Dia membunuh raja yang membesarkannya.” “Dia adalah penyihir rendahan yang raja ajak ke istana karena kemampuannya, lalu dia membunuh orang yang sudah mengasihinya? Dia lebih kurang ajar.” “Bagaimana bisa raja selama ini membesarkan pembunuhnya sendiri?” “Benar, raja mengasihi orang yang salah. Dia mengasihi orang yang akan membawa kerusakan kepada negeri ini, benar-benar tidak masuk akal. Apakah ini nyata? Aku ingin kembali hidup dengan tenang seperti sebelum-sebelumnya.” “Dia menghasut para pemburu yang juga tidak memiliki keluarga, merawatnya seperti dia adalah orang yang paling baik tetapi pada akhirnya dia merawat mereka untuk mendapatkan dukungan atas kejahatannya. Benar-benar, aku merasa kasihan kepada King Tyrion III, semoga Yang Mulia tenang karena kejahatan Virendra terbongkar sekarang.” Itu adalah beberapa percakapan para penduduk menanggapi pembelaan diri yang dilakukan oleh Virendra. Tetapi tidak sampai di sana, Virendra masih terus berteriak karena merasa dia sangat benar dan tidak ada yang boleh menyalahkannya. Dia masih menganggap bahwa dengan membunuh para penyihir kelas atas dengan meminta bantuan monster-monster jahat akan mengubah Niscala, padahal dia sendiri yang tenggelam dalam obsesinya. “Arfeen Tierra tidak pantas menjadi seorang raja!” teriak Virendra lagi. “Dia adalah orang yang sangat licik, kalian akan berterima kasih nantinya jika sekarang kalian menyelamatkanku dan membunuh penyihir campuran itu!” Arfeen memperhatikan reaksi para rakyat Niscala dan setelah memastikan bahwa tidak ada satupun diantara mereka yang ragu dengan keputusannya atas hukuman yang akan dia berikan kepada Virendra, Arfeen meminta para Althaia mendekat dan mengelilingi Virendra. “Lalu sekarang hukuman untuk para pengikut Virendra,” ujar Arfeen tegas, dia memperhatikan wajah para pengikut itu satu per satu. “Aku meminta kemurahan hati kalian untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf atas pengkhianatan yang kalian lakukan. Selain itu aku memohon kerjasama kalian untuk menunjukkan kepadaku di mana kalian menanam tanaman sihir yang memiliki racun mematikan yang sudah kalian semua rawat baik-baik selama puluhan tahun terakhir.” “TIDAK!” teriak Virendra lagi. “JANGAN KATAKAN APAPUN PADANYA!” “Itu terserah kalian,” Arfeen mengedikkan bahu. “Jika kalian bekerja sama denganku, maka aku akan meringankan hukuman kalian. Aku tahu kalian tidak mempercayaiku tetapi setidaknya kalian semua sudah menyaksikan dengan mata kepala kalian sendiri tentang kejadian tiga hari yang lalu ketika petir menyambar waktu itu.” “Kami akan bekerja sama dengan Tuan!” “KURANG AJAR!” teriak Virendra lagi. “KALIAN BENAR-BENAR TIDAK MENGERTI ARTI KESETIAAN! BERANI-BERANINYA KALIAN MENGKHIANATIKU!” Mendengar itu, Derwin menembus Althaia dan memukul kepala Virendra dari belakang. Arfeen hanya berdehem sementara semua yang melihatnya sudah menduga kalau kstaria Tyrion yang dikenal memiliki emosi yang dikenal dengan sumbu pendek itu akan melakukan hal seperti itu, malah mereka tidak menyangka Derwin bisa menahan emosinya selama itu. “Kau sangat berani mengatakan kalau mereka mengkhianati setelah apa yang kau lakukan kepada raja yang merawatmu,” bisik Derwin dengan suara rendah yang syarat akan ancaman. “Jika Arfeen mengizinkanku, setelah Althaia menyerap seluruh energi sihirmu tanpa sisa, aku akan langsung memotong tubuhmu mulai dari kaki sampai kepala. Akan aku tunjukkan padamu arti dari kesetiaan yang sebenarnya.” Varoon berdehem, laki-laki itu sebenarnya tidak ingin campur tetapi Denallie dan Isolde menyuruhnya untuk membawa Derwin kembali ke tempat mereka berdiri. Yah, meskipun tahu Derwin tidak akan menyambutnya dengan baik, Varoon tetap melakukan apa yang diminta oleh dua perempuan di sebelahnya. “Hei, Derwin!” seru Virendra ketika Varoon sudah akan membawa Derwin kembali. “Kau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan kedua orang tuamu, bukan?” Virendra menyeringai. “Kau ingin tahu kenapa Afrit menyerang mereka berdua sampai mereka ditelan oleh api dan tidak menyisakan apapun meskipun itu adalah abu? Itu karena mereka sangat lemah, mereka memilih anak-anak mereka yang tidak berguna dan mengorbankan diri mereka. Apakah mereka adalah orang tua yang baik? Tidak, mereka hanyalah orang-orang bodoh.” “Apa kau-“ Arfeen menahan Derwin, membuat Kakak laki-laki tertuanya itu tidak bisa bergerak. Dia tahu Derwin akan menyerang Virendra dengan membabi buta jika dia tidak menghentikannya. “Apa yang kau lakukan padaku, Arfeen?” geram Derwin. “Mundurlah,” perintah Arfeen. Dia kembali mendekati Virendra dan Althaia yang tadi berkerumun langsung berbaris rapi seakan-akan memberi jalan untuk Arfeen. “Biar aku saja yang memotong lidah dari orang yang bahkan tidak memiliki kesetiaan kepada orang yang sudah membesarkan dan merawatnya. Virendra, bahkan hewan lebih memiliki rasa kesetiaan daripada dirimu, seekor anjing saja tidak akan melupakan jasa orang yang sudah memberinya makan tetapi dirimu malah membunuh orang yang memberikanmu rumah dan kesejahteraan. Memalukan.” Hening, hanya Arfeen yang berbicara. “Kau diperlakukan dengan baik semenjak kau dibawa ke istana oleh King Tyrion III tanpa Beliau mengetahui bahwasannya ia membesarkan seorang anak yang menjadi penyebab kematiannya. Kau bukan hanya menggigit majikanmu, kau membunuhnya dengan cara yang paling keji yaitu dengan mengkhianati kepercayaannya.” Bisik-bisik yang menyatakan persetujuan terkait apa yang Arfeen katakan kembali terdengar. Sementara itu Virendra masih sama, dia hanya menatap Arfeen benci tanpa sedikitpun merasa bersalah. “Virendra, hukumanmu akan dimulai sekarang dan akan disaksikan oleh semua orang yang hadir di sini. Tidak hanya itu, rintihan kesakitanmu akan menjadi pengingat bagaimana seorang pengkhianat yang menggigit majikannya sampai mati akan dihukum seperti apa dan bagaimana. Aku memberi hukuman bukan dengan kemurahan hati, kau akan merasa bahwa kematian mungkin akan jauh lebih mudah daripada ini.” Lolongan Althaia terdengar, semua orang menyaksikan bagaimana hewan-hewan besar itu mengelilingi Virendra dengan jarak yang sudah ditentukan agar semua orang bisa melihat dan mendengar rintihan kesakitan dari Virendra. Perlahan-lahan sekali, awalnya hanya terdengar rintihan pelan sampai kemudian salah satu Althaia menggigit kaki Virendra, mencabiknya sampai terpisah dari badannya dan mengunyahnya dengan kebahagiaan sebab bagian kaki memiliki sihir hawa keberadaan. Saat itulah rintihan memilukan mulai terdengar, apalagi saat kaki itu tumbuh lagi dengan cepat dan terus berulang sebelum Althaia lain mencakar punggungnya, mengigit, mencabik dan bahkan mematahkan banyak tulang sebelum semuanya kembali tumbuh dalam sekejap dan membuat para Althaia bergantian merayakan pesta mereka. Siapapun yang mendengar rintihan Virendra akan menutup telinga mereka, mereka tidak akan berani melihat lebih lama. Hukuman Virendra berlangsung selama satu jam dan akhirnya hanya ada beberapa orang yang masih berdiri untuk menyaksikan sampai usai karena yang lainnya sudah tidak sanggup memperhatikan. “Cukup!” Arfeen mengangkat tangannya dan membuat para Althaia berhenti. “Sudah tidak ada sihir yang tersisa, kerja bagus.” Para pengikut Virendra yang menyaksikan bagaimana Tuannya menerima hukuman hanya bisa memejamkan mata dan menutup telinga. Ini pertama kalinya merkea melihat hukuman yang sangat kejam dan menakutkan, rupanya Arfeen Tierra memang bukanlah calon raja yang akan berbaik hati dengan pengkhianat yang bermain-main di belakangnya. “Boleh aku memotong tubuhnya sekarang?” Derwin menawarkan diri. “Pita suaranya pecah, percuma jika kau memotong tubuhnya sekarang karena dia sudah terlalu banyak berteriak,” ujar Arfeen. “Dia tidak akan bereaksi meskipun kau memotong tubuhnya, oleh karena itu.. tolong tunda atau hilangkah saja keinginanmu itu.” Isolde menatap Virendra yang tergeletak mengenaskan, dia belum meninggal tetapi dia pasti sangat merasakan bagaimana semua bagian-bagian tubuhnya tercabik berkali-kali. Arfeen tidak datang untuk bermain-main. Dia lebih menakutkan dan juga lebih tenang daripada dugaannya. Laki-laki yang diramalkan akan menjadi suaminya itu.. memiliki karisma yang tidak dimiliki siapapun. Luar biasa. *** !
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD