HUKUMAN: KEMATIAN MUNGKIN LEBIH MUDAH (1)

1664 Words
Penjara bawah tanah dibuka di hadapan Arfeen yang sudah menunggu. Pemuda yang sekarang berpakaian lebih mewah dari biasanya itu hanya tersenyum tipis sambil menatap banyaknya tahanan yang akan menjalani hukuman mereka hari ini. “Arfeen Tierra?” Terkejut mendengar suara itu, Arfeen menoleh dan melihat Isolde dengan gaun peraknya sedang berjalan mendekatinya. Gadis itu ditemani oleh Kasdeya yang berjalan di sebelahnya, Kasdeya yang telah Arfeen sembunyikan sayapnya dan dia ubah menjadi manusiawi sehingga tidak akan ada yang takut karena penampakan wujudnya. “Isolde?” Arfeen menyambut gadis itu. “Bagaimana keadaanmu? Bukankah aku sudah memintamu untuk beristirahat minimal selama lima hari sejak kau sadar? Apa yang kau lakukan di sini?” “Hanya ingin menyapamu dan menyapa seseorang yang akan menerima hukumannya sebentar lagi,” jawabnya, Isolde melirik ke arah Virendra yang masih dibiarkan membeku dan pengikutnya yang terus memanggil nama Arfeen dan meminta untuk dimaafkan. “Kau akan mencairkan es itu di depan para rakyat? Aku dengar mereka sudah menunggu hari ini karena mereka ingin sekali orang-orang ini dihukum mati.” “Begitulah,” Arfeen tersenyum, dia kembali mengamati Isolde. “Kau benar sudah baik-baik saja, Isolde? Racun itu menyegel semua kemampuan sihirmu, jika kau masih merasa keadaanmu kurang membaik maka kau bisa mengatakannya dan tidak perlu menahan apapun karena semuanya sudah berakhir.” Kasdeya itu hanya mengangguk hormat begitu Arfeen menatapnya, dia jelas dijadikan prajurit penjaga Isolde oleh Arfeen karena monster yang memiliki racun mematikan itu tidak akan lagi berani macam-macam sebab kekuatan Arfeen yang sekarang mungkin bisa menghancurkan negeri yang dihuninya dalam sekejap. “Ah, aku dengar dari percakapan temanmu itu ada seorang raja yang juga bisa menggunakan sihir api hitam dan tinggal di negeri bernama Arunika, kau tahu di mana negeri itu berada?” tanya Arfeen kepada Kasdeya yang dia beri nama Sade itu. “Ya, Tuan, negeri itu terletak di ujung timur dan lebih dekat dengan Saujana daripada Niscala yang notabenenya merupakan kerajaan yang terletak di ujung barat,” jelasnya. “Negeri itu merupakan negeri yang sangat makmur dengan alamnya yang sangat sempurna ditambah pemimpinnya, Raja Lokiprosa yang sangat menjaga dan tegas terhadap rakyatnya. Jika Tuan ingin informasi lebih, saya bisa mencarinya.” “Terima kasih, informasi itu sudah cukup bagiku,” ujar Arfeen. “Isolde, aku harus kembali ke Saujana untuk satu bulan atau kurang lebih satu tahun waktu Niscala. Selama waktu itu King Marven II akan memimpin Niscala.” “Ada yang harus kau selesaikan di Saujana, ya?” tebak Isolde. “Aku mengerti. Tetapi kenapa kau tiba-tiba ingin tahu lebih banyak tentang Arunika? Apa ada yang kau rencanakan?” Mereka bertiga berjalan di belakang para Althaia yang mengawal para tahanan keluar istana. Mereka berjalan dengan normal, tanpa menggunakan sihir telepotasi karena ingin melaksanakan semuanya dengan cara yang lebih formal. “Bagaimana kau akan menghukum mereka?” tanya Isolde. “Kau benar-benar akan menghukum mati mereka semua? Apakah itu tidak teralu kejam, Tierra?” “Kenapa? Kau tidak ingin melihat aku melakukannya?” Arfeen tersenyum. “Aku sudah membahasnya dengan para Althaia karena hukuman ini akan melibatkan mereka. Selebihnya akan aku umumkan setelah kita sampai di luar dan Isolde, lebih baik kau bergabung dengan Derwin dan yang lainnya karena sepertinya Denallie sedang merencanakan sesuatu yang akan membuat kita berdua mengalami sakit kepala.” “Denallie?” Isolde mengernyitkan keningnya. “Dia merencanakan sesuatu? Apa maksudmu?” “Kau ingin menikah sekarang?” tembak Arfeen langsung yang membuat Isolde otomatis terkejut dengan pertanyaan tiba-tibanya. “Melihat reaksimu, aku tahu kau tidak ingin menikah secepat itu meskipun calon suamimu sudah ada di hadapanmu dan hubungan kita sudah dimasukkan ke dalam ramalan.” “Ya, aku masih ingin menikmati hari-hariku seperti biasa karena akhirnya setelah seratus tahun aku tidak perlu dihantui tanggung jawab atau ketakutan kalau-kalau sihirku tidak begitu kuat untuk melindungi Tyrion dari serangan Kasdeya. Aku akhirnya bisa sedikit bersantai setelah seratus tahun jadi aku tidak ingin menikah sekarang sekalipun seperti pernyataanmu bahwa calon suamiku sekarang berada di hadapanku.” “Aku juga masih ingin melakukan hal yang sama,” ungkap Arfeen. “Lagipula aku tidak ingin menikah untuk ramalan itu atau semacamnya, mungkin beberapa tahun lagi kau malah mendapatkan laki-laki yang kau sukai dan aku tidak akan melarangmu menikah dengan siapapun itu. Lebih baik mengutamakan kebahagiaan kita daripada mengikuti kemauan orang-orang yang mungkin hanya akan membuat kita tersiksa karena menyesal nantinya.” “Oh?” Isolde menghentikan langkahnya, dia menatap Arfeen dan tersenyum lebar. “Apa sejak awal kau memang seperti ini? Kau terlihat sangat dewasa dan jauh dari kata pengecut, Arfeen Tierra. Bukankah begitu, Sade?” Sade hanya menatap Isolde karena tidak mengerti apapun. Dia memang sudah berada di Niscala selama seratus tahun tetapi bukan berarti dia juga mengetahui kedatangan Arfeen dan apa yang terjadi kepada pemuda yang kini sangat dia hormati sekaligus takuti itu. Arfeen Tierra menurutnya adalah pemuda yang sangat berani seperti yang dilihatnya dalam pertarungan mereka. “Banyak yang mengatakan hal seperti itu,” Arfeen tertawa. “Ah, Sade? Menurutmu apakah Kasdeya lain akan datang ke Niscala untuk membalaskan dendam karena aku sudah menghabisi setengah dari populasi kalian? Aku dengar masih ada lima pemimpin yang berada di negerimu, setelah aku kembali dari Saujana, bisakah kau mempertemukanku dengan mereka?” “Mereka tidak akan berani setelah mendengar kabar bahwa Tuan sendiri yang melenyapkan setengah dari populasi kami. Saya yakin lima pemimpin lainnya akan bersikap lebih rasional karena jika mereka berani menyerang, mereka akan kehilangan semua hal yang sudah mereka miliki sampai sekarang dan ya, saya akan mempertemukan Tuan dengan mereka.” Arfeen menepuk pundak Sade satu kali. “Kau tidak perlu tegang karena aku hanya akan membuat ‘kesepakatan’ kecil yang akan menguntungkan kedua belah pihak. Selain itu, aku akan melihat kesetiaanmu selama aku berada jauh di Saujana, pastikan kau menjaga yang lainnya dengan baik.” “Baik, Tuan.” Tersenyum karena yakin setidaknya semuanya akan baik-baik saja, Arfeen berjalan dengan penuh percaya diri keluar dari dalam istana Tyrion. Dia sudah merencanakan semuanya, dia juga akan memberikan sihir perlindungan selama kepergiannya ke Saujana, memperbaiki apa yang belum selesai diperbaiki dan memenuhi apa yang sempat dikosongkkan oleh Tierra dari ribuan tahun yang lalu. Dia akan membuat banyak kesepakatan dengan negeri lainnya sehingga Niscala akan merasakan aman setidaknya selama dia ada. Isolde langsung bergabung dengan Kakaknya ketika Arfeen berdiri di sebelah King Marven II di podium. Dengan isyarat matanya yang serupa batu Taaffeite itu, Arfeen membuat kebisingan yang ditimbulkan oleh para penduduk Niscala langsung sirna. Matanya yang cantik itu membentuk refleksi yang membuat siapapun tersihir karena keindahannya. “Terima kasih,” Arfeen memberikan senyum hangatnya, dia pada dasarnya memang tampan ditambah dengan tampilannya yang sekarang, jelas tanpa sihir sekalipun dia sudah mampu menarik perhatian. “Sebelum saya mengumumkan hukuman apa yang akan saya berikan, kalian semua pasti sudah mengetahui siapa yang berdiri di sebelah saya sekarang.” King Marven II maju selangkah, dengan iris mata biru lautnya itu dia mengangguk hormat kepada para penduduk dan mereka semua melakukan hal yang sama. Bahkan ada beberapa yang menangis karena merasa sangat senang karena King Marven II yang sempat hilang kontak dengan mereka semua sekarang berdiri dengan sehatnya di hadapan mereka. “Maaf karena datang terlambat dan terima kasih karena kalian sudah bertahan dengan baik.” Setelah King Marven II selesai berbicara, Arfeen kembali maju dan dengan jari telunjuknya dia langsung mencairkan es yang mengurung Virendra. Lucunya setelah es itu mencair, Virendra bermaksud untuk langsung melarikan diri dengan menggunakan sihir hawa keberadaan atau teleportasi. Semua orang mengutuk Virendra tetapi Arfeen hanya tertawa ketika tahanannya itu menghilang begitu saja. “Saya mengerti kalian semua sangat marah dan merasa terkhianati, tetapi dia tidak akan bisa pergi kemanapun sesuka hati,” ujar Arfeen menenangkan semua rakyat yang mulai marah. “Dia akan kembali ke sini dalam hitungan kelima.” Benar saja, dalam hitungan kelima setelah perkataan Arfeen selesai, Virendra kembali ke tempatnya dengan ekspresi penuh tanda tanya. Dia pasti tidak menyangka teleportasinya tidak akan berhasil sehingga dia harus menghadapi kemarahan para penduduk. “Virendra?” panggil Arfeen, dia langsung muncul di hadapan Virendra sampai membuat mantan penasihat kerajaan yang berkhianat itu terkejut. “Sudah aku katakan waktu itu kalau aku akan membunuhmu, kau pikir perkataanku itu hanyalah lelucon?” Mata Virendra bergetar karena Arfeen mengatakan itu sambil berbisik dan tanpa siapapun tahu, seluruh tubuh Virendra terasa terbakar sementara lidahnya kelu, dia bahkan tidak bisa merintih sedikitpun sehingga hanya matanya yang bisa memberikan reaksi. “Tidak ada hukuman mati!” seru Arfeen yang membuat semua orang terkejut dengan keputusannya itu. Dia mendengarkan banyak protes tetapi Arfeen hanya menanggapinya dengan senyuman. Saat semuanya sudah lumayan tenang, Arfeen kembali membacakan kejahatan yang dibuat oleh Virendra. “Virendra, kau memiliki banyak kesalahan di sengaja, selain bekerjasama untuk menghancurkan Niscala bersama para Kasdeya, kau juga terlibat dalam pembunuhan berencana terhadap King Tyrion III dan King Marven II. Kau menghasut cukup banyak warga untuk memulai rencanamu, kau menyegel sihir Isolde, penyihir terkuat Niscala yang sudah melindungi negeri ini selama puluhan tahun dengan racun yang kau dapatkan dari pemimpin Kasdeya dan kau juga memerintahkan pengikutmu untuk membunuh Derwin sang Ksatria Tyrion, Varoon sang putra mahkota kerajaan Marven dan juga Denallie, sosok siren yang membantu dalam perlindukan negeri ini.” Denallie cukup terkejut karena Arfeen mengetahui bahwa dia adalah seorang siren, wanita itu langsung menatap Varoon yang berpura-pura ikut terkejut dengan pernyataan Arfeen. Tidak tanggung-tanggung, Denallie menginjak kaki Varoon sampai putra mahkota Marven itu mengaduh keras dan menarik banyak perhatian sehingga dia meminta maaf. “Hukuman untuk Virendra, kau tidak akan lagi memiliki sihir yang tersisa dan aku akan memberikan sihirmu kepada para Althaia yang sudah kau lukai. Aku juga tidak akan mengurangi sakit dari proses keluarnya sihir dari dalam tubuhmu, kau akan merasakan sakit yang menggerogoti tubuhku sehingga kau merasa kematian akan menjadi lebih mudah. Setelah itu kau akan dikurung di penjara bawah tanah Tyrion sampai batas yang belum dipastikan.” Karena tersiksa sampai rasanya kematian akan jauh lebih mudah dijalani adalah hukuman yang sebenarnya bagi orang-orang yang melakukan hal yang sama kepada sesamanya. Mata dibalas mata, dan mungkin Arfeen Tierra sedang menerapkan hal itu di dalam hidupnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD