MENYINGKIRKAN BEBAN DENGAN TAWA

1654 Words
Varoon dan Denallie masih bermanja-manja dengan King Marven II, Isolde masih berada di kamarnya dan harus istirahat untuk kembali menormalkan sihirnya yang pernah tersegel. Karena itulah Arfeen masih menunda keinginannya untuk membicarakan mengenai dia yang ingin kembali ke Saujana untuk melihat situasi di tanah kelahirannya. “Kapan kau akan kembali ke sini?” tanya Derwin. “Kau tidak berencana akan tinggal selamanya di Saujana, bukan? Kau adalah pahlawan kami jadi kau akan lebih lama menghabiskan waktumu bersama kami, bukan?” Arfeen tertawa mendengar pertanyaan beruntun Derwin. “Aku bahkan belum menginjakkan kakiku di Saujana dan kau sudah bertanya kapan aku akan kembali? Kenapa? Bukankah dulu kau tidak suka padaku?” Derwin terkekeh. “Aku menyukaimu lebih dari aku menyukai Varoon sekarang- tidak, aku menyukaimu seperti aku menyukai Isolde. Aku harus memiliki hubungan baik denganmu sehingga nanti ketika kau menjadi raja di Tyrion maka kau tidak akan mengusir atau menurunkan jabatanku.” “Cih,” Arfeen tertawa. “Kenapa kau berpikir dekat denganku akan membuatmu tetap berada di istana? Aku akan mendepakmu keluar dan kau akan tinggal di hutan dengan para Althaia, berdo’a saja mereka akan menerimamu.” “Kenapa tidak? Aku yang membesarkan dan merawat mereka selama ini,” Derwin berdecak. “Kau memang penyihir pertama yang bisa menguasai banyak kemampuan sihir dan bahkan bisa melampaui penyihir aslinya. Aku akui kau sangat hebat, aku sudah mendengar banyak cerita dari Althaia tentang petir dan mata Taaffeite itu- tidak, tentang bajumu yang terbuat dari salah satu logam paling kuat di dunia ini, apa kau bisa menunjukkannya kepadaku?” “Baju itu?” Arfeen mengulang, dia meringis. “Baju itu menghilang begitu saja dari tubuhku begitu semuanya selesai. Saat aku sudah selesai mengobati kalian dan King Marven II, setelah itu aku masuk ke kamar dan baju itu menghilang begitu saja.” “Benarkah?” Derwin menampilkan ekspresi wajah berpikir. “Apa karena kau memiliki kekuatan itu dari Niscala- tidak, lalu kenapa matamu tetap berwarna seperti itu? Sama seperti energi sihirmu yang tidak terlihat, matamu juga hampir tidak memiliki warna dan hanya memiliki refleksi yang sangat bagus. Aku iri dengan mata batu muliamu itu.” “Kau menginginkannya? Aku bisa memberikannya kepadamu.” Lalu mereka berdua saling berpandangan dan tertawa. Arfeen sudah merawat banyak orang dengan bantuan para Althaia tiga hari terakhir, dia juga sudah memperbaiki perumahan penduduk yang terkena sihir dari Virendra. Omong-omong tentang Virendra, apa yang akan kau lakukan padanya? Apa dia benar-benar tidak akan mati meskipun membeku seperti itu?” “Dia masih akan terus bernapas berkat sihirku,” Arfeen tersenyum. “Aku akan menghukumnya sebelum kembali ke Saujana, aku sudah menemukan hukuman yang pantas untuknya- ah, kau tidak keberatan dengan hukuman mati, bukan? Aku akan menjadikannya tontonan nanti di depan penduduk karena mereka juga marah besar akibat pengkhiatan ini.” Derwin mengangguk-anggukkan kepalanya, dia juga memiliki banyak pertanaan kepada Arfeen tentang apakah laki-laki itu baik-baik saja, membunuh banyak Kasdeya dalam waktu yang singkat akan memakan banyak energi sihir yang tak terhitung jumlahnya sekalipun Niscala memberikan pertolongannya. Sebenarnya Derwin ingin tahu kenapa Arfeen tidak lagi mengeluh bahkan sejak dia berada di Saujana, dia tidak pernah berbicara kasar kepada orang tuanya dan mempertanyakan kenapa mereka mengucilkannya padahal dia juga anak mereka. Arfeen selalu diam, meskipun dia ketakutan dan kesakitan, dia tetap diam dan hanya meringkuk di tempat tidurnya tanpa menangis sedikitpun. “Kau baik-baik saja, Arfeen?” tanya Derwin pada akhirnya, dia pikir Arfeen menunggu orang yang akan mengerti perasaannya dan mungkin inilah saatnya. “Apa kau terluka? Apa kau merasa jantungmu sakit atau ada hal lain yang membuatmu tidak nyaman?” “Aku baik-“ “Tidak perlu berbohong. Apa susahnya memberitahuku bagaimana perasaanmu? Bukankah aku adalah Kakakmu?” Derwin menepuk bahu Arfeen. “Jika Adikku menanggung kesulitan, apa gunanya aku menjadi Kakak? Apa gunanya Varoon dan Denallie? Apa gunanya kau membangkitkan kami dari kematian dan melawan takdir?” “Aku tidak pernah mencoba untuk melawan takdir,” Arfeen tersenyum kecil. “Aku selalu mencoba untuk menerimanya, hanya saja itu bukan kematian yang layak untuk kalian bertiga. Meninggal karena pengkhianatan.. aku yakin Niscala juga tidak menerimanya, karena itu negeri ini juga memberiku kekuatan untuk menyelamatkan kalian.” “Arfeen Tierra!” seru Varoon dan Denallie bersamaan, mereka muncul tepat di hadapan Arfeen dan Derwin dengan wajah ceria. “Ada apa?” tanya Arfeen. “Kenapa kau di si- uwah..” Varoon dan Denallie langsung memeluk Arfeen, memujinya sebagai murid dan adik yang cerdas juga berterima kasih kepada Arfeen karena sudah membawa kembali King Marven II ke pelukan mereka. “Aku tidak tahu bagaimana aku akan membalasmu, kau ingin apa? Aku ajari cara menggunakan panah- tidak, kau pasti sudah menguasainya. Apa? Kau ingin menikah sekarang? Perlu aku tanyakan kepada Isolde apakah dia sudah siap?” Denallie terus berbicara tanpa henti sampai Arfeen hanya mengamatinya sambil tersenyum. “Katakan saja apa yang kau inginkan.” “Kau menjadi sangat ceria sekali, Denallie,” puji Arfeen. “Oh? Apa-apaan cara bicara yang sangat dewasa itu?” Denallie mundur. “Kemana perginya Arfeen Tierra yang dulu? Kau yang dulu bisa aku jadikan sebagai adik yang penurut tetapi hanya dalam waktu beberapa bulan kau sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa, ya?” “Itu sudah sepantasnya bagi calon raja Niscala untuk bersikap seperti itu,” celetuk King Marven II yang turut hadir di tengah-tengah mereka. “Arfeen Tierra, mungkin tidak sekarang tetapi beberapa bulan lagi kau akan diumumkan secara resmi oleh Niscala sebagai raja.” Tidak hanya Arfeen yang langsung memasang wajah terkejut, tiga lainnya seperti Derwin, Varoon dan Denallie juga menatap King Marven II dengan ekspresi yang sama. “Maaf, tetapi apa maksudnya, Yang Mulia?” tanya Derwin bingung. “Bukankah Arfeen hanya akan diangkat menjadi King Tyrion IV karena King Tyrion III tidak memiliki keturunan dan karena Queen sudah meninggal?” “Benar, Yang Mulia,” ucap Denallie, juga sama bingungnya. “Apa yang dimaksud dengan menjadi raja Niscala?” “Raja Niscala, tidak ada lagi King Marven atau King Tyrion, sekarang kita akan menjadi satu di bawah pimpinan Raja Niscala yang baru. King of Niscala I, Arfeen Tierra.” Ini adalah pengumuman yang baru, ternyata suara yang datang saat kilatan petir itu menyambarnya adalah sebuah pengumuman, ya? Apakah hanya Arfeen yang mendengarnya- tidak, jika King Marven II mengetahuinya, berarti dia juga mendengarnya. “Yang Mulia, maaf menyela, tetapi apakah Yang Mulia mendengar suara wanita yang bersamaan dengan kilatan petir yang menyambar tiga hari yang lalu?” King Marven II tersenyum. “Itu adalah suara Niscala, Arfeen Tierra. Suara seperti itu hanya bisa didengar oleh seorang raja atau calon raja, apa kau masih menyangkal keputusan Niscala? Jika kau sudah mendengarnya sendiri, kau tidak bisa mengelak atau menolaknya, Nak.” “Tapi.. kenapa saya?” Arfeen mengedip-ngedipkan matanya, dia benar-benar tidak mengerti. “Kenapa harus saya? Ada yang mulia di sini, ada Varoon yang seorang pangeran lalu kenapa.. harus saya?” “Karena kau adalah pahlawan Niscala, kau adalah pewaris tahta yang sudah kembali pulang,” balas King Marven II. “Varoon akan menjadi penasihatmu, begitu juga dengan Derwin. Sementara itu seperti yang diramalkan, entah kapan tetapi Isolde akan menjadi istrimu dan Denallie..” “Saya.. kenapa?” tanya Denallie. “Kenapa Yang Mulia tersenyum seperti itu?” “Itu urusan anak muda, aku tidak ingin ikut campur dengan itu,” King Marven II melirik Derwin dan berdehem. “Bukan yang pertama kali jika seorang Tyrion menikah dengan seorang Marven, bukan? Sudahlah, Niscala akan membuat pengumuman resminya di saat yang sudah ditentukan.” “Saya harus kembali ke Saujana,” ungkap Arfeen. “Saya harus kembali ke Saujana minimal satu bulan, ada yang harus saya selesaikan dengan keluarga saya di sana sebelum saya kembali lagi ke tempat ini.” “Kau akan menghapus ingatan mereka tentangmu, bukan?” tebak King Marven II. “Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, negeri ini akan selalu menunggu dan menerimamu. Selain itu lebih baik untuk cepat menghukum Virendra karena rakyat sudah menunggu, dia juga harus diberi hukuman karena sudah berurusan dengan musuh kita dan berusaha menjebakku serta King Tyrion III. Dia melibatkan dirinya ke dalam pembunuhan berencana.” “Sudah aku duga,” geram Denallie, dia melirik Derwin. “Siapa yang meminta kami memeprcayai orang seperti Virendra? Cih, dasar, tidak memiliki kepekaan terhadap musuh sama sekali.” “Kau sedang menyindirku?” Derwin maju. “Bukankah itu memang yang terjadi? Kau terlalu mempercayai mantan penasihat kerajaan Tyrion itu sementara aku dan Arfeen sejak awal memang sudah sehati. Benar begitu bukan, calon Raja Niscala?” Arfeen mengangguk. “Tetapi jangan memanggilku dengan panggilan seperti itu, aku tetap murid dan adikmu, panggil saja aku seperti biasanya.” “Mana bisa begitu,” Varoon terkekeh. “Kami harus mempersiapkan diri agar tidak langsung menyebut namamu begitu saja ketika kau sudah naik tahta.” “Tidak perlu meledekku,” Arfeen menatap Varoon. “Kau membuatku ketakutan setengah mati meskipun aku mencoba bersikap biasa tiga hari yang lalu, lukamu adalah yang terparah diantara Denallie dan Derwin. Apa kau mencoba menyerap racun dari tubuh Denallie dengan mengorbankan sihirmu sebelum kau juga ditusuk, Varoon?” Kali ini semuanya menatap Varoon. “Aku?” Varoon tertawa dan berhenti ketika tatapan mereka semua membuatnya merasa terintimidasi. “Apa itu tindakan bodoh?” “Itu tindakan yang sangat berani, Nak,” puji King Marven II. “Aku benar-benar membesarkan putra yang hebat.” “Cih..” Denallie mencibir. “Dia sangat narsistik, Yang Mulia.” “Aku sudah menyelamatkan nyawamu!” “Itu bodoh tetapi terima kasih,” balas Denallie. Mereka semua tertawa setelahnya, hanya saja Arfeen sedikit memikirkan kondisi Isolde. Dia meminta Kasdeya yang sebenarnya sudah dia ubah bentuk menjadi sedikit ‘manusia’ untuk mendampingi Isolde, Arfeen juga sudah membuang racun mematikan milik Kasdeya itu dan menyisakan racun yang menjadi sumber energi sihirnya untuk membiarkannya hidup. Dia harap Isolde akan segera membaik seperti yang lainnya. “Kalau begitu bisa kita kembali ke istana?” tawar Arfeen. “Aku harus memberi hukuman kepada para pengkhianat negeri kita, bukan?” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD