“Jika kalian melangkah lebih jauh dan tidak diam di tempat di mana kalian berdiri, kalian akan aku jadikan sebagai santapan para Althaia sekarang juga,” ancam Arfeen kepada para pemburu- pengikut Virendra yang ingin meninggalkan tempat mereka dan kabur. “Para Althaia sedang kekuaran energi sihir dan akan sangat baik jika mereka memiliki santapan baru berupa anak buah Virendra, bukan? Aku yakin dia sudah memperkuat pengikutnya dengan menyuruh kalian memakan tanaman sihir setiap hari.”
Ancaman itu diucapkan dengan nada biasanya saja tetapi aura yang Arfeen keluarkan sekarang akan ditakuti oleh siapapun. Tanpa perlu menoleh dua kali para Kasdeya juga tahu bahwa sekarang Arfeen Tierra itu benar-benar berubah menjadi pewaris tahta Niscala dengan mata yang sama persis seperti batuan Taaffeite dan pakaian yang terbuat dari Wurtzite Boron Nitride. Dia benar-benar keturunan Tierra dan kebanggaan kerajaan Tyrion.
“Ah, kalian akan langsung pembunuh pemimpin kalian yang sekarang hanya bisa bernapas dan melihat itu jika kalian tidak sengaja menyenggol balok es nya,” ujar Arfeen, memperingatkan. “Lagipula kalian juga harus menerima hukuman karena sudah bekerja sama dengan laki-laki itu dan para Kasdeya yang seharusnya menjadi musuh kalian, bukan?”
“Tuan Tierra, kami-“
“Aku hanya ingin bermonolog, aku tidak suka mendengar suara dari orang-orang yang sudah menusuk teman-temanku,” Arfeen mendengus. “Tidak tahu diri sama sekali, siapa yang selama puluhan tahun ini melindungi kalian agar kalian tidak mati sia-sia? Cih, orang yang mudah dihasut memang menyebalkan.”
Arfeen berbicara dengan pengikut Virendra tetapi tatapan matanya tidak teralihkan sedikitpun dari para Kasdeya yang berkumpul di hadapannya. Mereka berbaris menjadi tiga tingkatan di udara dengan tiga Kasdeya, pemimpin terkuat dengan energi sihir sempurna mereka yang berada di tingkatan paling atas.
“Kau membunuh dua teman kami rupanya,” ujar Kasdeya yang terlihat paling tua, sepertinya dia adalah pemimpin dari pemimpin. “Kemampuan yang sangat bagus sebagai pewaris tahta Niscala, Arfeen Tierra. Sayangnya kau hanya sendiri, meskipun mata batu Taaffeite mu itu menakjubkan dengan baju yang terbuat dari logam terkuat sekalipun, kau tidak bisa mengalahkan kami semua.”
“Wah, benarkah?” Arfeen tersenyum. Dia akan menyelesaikan yang kecil terlebih dahulu, karenanya dengan tatapan matanya, banyak Kasdeya kecil dan sedang jatuh dan beterbangan menjadi abu. “Lihat? Apa kau tidak terlalu meremehkanku? Hanya butuh waktu tiga detik dan yang tersisa hanyalah kalian bertiga di sini. Aku memang meremehkan kalian tetapi sepertinya kalian terlalu banyak meremehkanku, itu tidak bagus dalam pertarungan, kau bisa kalah telak karena terlalu meremehkan lawanmu.”
Itu bukanlah sekedar kata-kata yang memprovokasi, Arfeen mengatakan itu dengan sungguh-sungguh. Sebenarnya dia sudah menyimpan kata-kata itu sejak lama, mulai dari pertama kali dia mengalami pembullyan. Hanya saja dulu dia terlalu takut hanya untuk membuka mulut, tetapi sekarang dia sudah menjadi orang yang berbeda.
“Apa aku perlu melakukan ini?” gumam Arfeen, dia menghentakkan kakinya dan api hitam itu sekarang menyelimuti tubuhnya tetapi dia tidak terbakar. Jujur saja Arfeen hanya asal coba karena sepertinya dengan penampilan seperti itu dia dapat melakukan apapun.
“Api hitam?” gumam dua Kasdeya yang belum melihat api hitam itu sementara yang satu lagi hanya diam ketakutan. “Apakah ada penyihir Niscala yang bisa mengeluarkan api hitam?”
“Sihir itu hanya dimiliki oleh Lokiprosa, salah satu raja dari negeri Arunika,” sahut yang satu lagi, menjelaskan. “Sihir itu tidak pernah terlihat dimiliki oleh rakyat dari negeri lain, apalagi makhluk Saujana seperti dia.”
“Hah,” Arfeen menghela napas. “Siapa diantara kalian yang bersedia membuka segel sihir dari racun kalian sendiri tolong acungkan tangan! Jika tidak ada yang ingin maju, biar aku bunuh saja kalian semua. Lumayan, sepertinya negeri ini membutuhkan lebih banyak abu.”
“Biar aku saja!” seru Kasdeya yang sejak tadi terlihat ketakutan, dia terbang mendekati Arfeen meskipun dua lainnya melarangnya. “Biar aku yang membuka segel sihir temanmu.”
“Oh, terima kasih banyak,” Arfeen tersenyum. “Nah, kalau sudah begini itu berarti kalian berdua tidak memiliki keuntungan lain bagiku dan juga tidak ada yang bisa menggunakan kekuatan sihir selain aku di sini jadi..” Arfeen mengarahkan api hitam tadi kepada kedua Kasdeya yang sudah siap menghalau dengan cara menutup tubuh dengan sayap mereka. “Matilah!”
Api hitam itu menjadi tidak terkalahkan, Arfeen menunggu sekitar sepuluh detik sampai kedua Kasdeya tersebut berubah menjadi abu. Tetapi lebih daripada itu, dia sebenarnya membutuhkan informasi lain.
“Apa King Marven II masih ada di dalam sana?” tanya Arfeen kepada Kasdeya di sebelahnya. “Jika kau bisa membawanya kepadaku dalam waktu kurang dari satu menit, maka aku akan menjadikanmu sebagai salah satu prajurit di kerajaan Tyrion yang akan aku tata ulang, bagaimana?”
Tanpa perlu pengulangan, Kasdeya itu terbang dan masuk ke dalam Marven. Arfeen tersenyum, dia kemudian mulai mengamati sekitar dan hanya dengan tatapannya, hal-hal yang mulai rusak kembali ke bentuknya yang semula. Arfeen kembali menata Tyrion sambil menunggu Kasdeya tadi membawa King Marven II kepadanya.
“Arfeen Tierra?” panggil Althaia. “Kami sudah memindahkan semua penduduk ke dalam istana dan untuk tiga lainnya kami sudah memindahkan mereka ke kamar Isolde.”
“Terima kasih.”
“Lalu apa yang sedang kau tunggu? Selain itu apa yang akan kita lakukan kepada Virendra dan pengikutnya?” tanya Althaia. “Hah, akan lebih baik jika aku bisa menyerap energi sihir mereka. Lagipula mereka juga tidak akan berguna, sekalipun mereka mengatakan akan berubah sekalipun aku tidak akan mempercayai orang-orang yang mengkhianati negeri dan teman-temannya sendiri hanya demi kekuasaan.”
“Jika itu maumu aku bisa memberikan Virendra dan pengikutnya kepadamu dan yang lainnya,” Arfeen tersenyum kecil. “Juga, yang aku tunggu sudah datang.”
Kasdeya tadi datang dengan King Marven II yang terlihat sangat lemas. Wajahnya sangat pucat dan mata biru lautnya hanya menatap Arfeen tanpa emosi. Sepertinya keadaannya jauh dari kata baik-baik saja, jika tubuhnya sudah selemah ini maka Arfeen harus segera menyalurkan energi karena satu-satunya alasan King Marven II masih hidup sampai sekarang adalah karena dia terus berada di Marven.
“Althaia?”
Mengerti, Althaia hitam tadi langsung mengambil alih King Marven II dan membawanya ke dalam istana.
“Kau ikut aku,” perintah Arfeen kepada Kasdeya tadi. Dia harus kembali menemui keempat temannya yang sekarang berada di kamar Isolde, Arfeen harus cepat-cepat bertindak meskipun dia sudah menetralkan racun dari tanaman sihir yang berada di tubuh Derwin, Varoon dan Denallie.
“Baik, Tuan.”
Saat Arfeen ingin masuk ke dalam istana, pengikut Virendra yang ternyata berjumlah lebih dari sepuluh itu duduk bersimpun memohon ampun. Mereka semua menangis tetapi Arfeen tidak peduli karena dalam buku yang dia pelajari di perpustakaan sihir, mengkhianati negeri dengan membantu musuh adalah perbuatan yang sangat dilarang.
“Siapa yang menusuk Derwin, Varoon dan Denallie?” tanya Arfeen. “Tidak mengaku juga tidak apa-apa, lagipula kalian akan menjadi santapan Althaia bersama Tuan kalian yang masih membeku itu. Selamat karena akan segera meninggal- ah, tidak perlu merasa terhormat atau berterima kasih juga.”
Setelah mengatakan itu Arfeen menghilang begitu saja, hal yang sama juga beralku kepada Kasdeya dan Althaia yang membawa tubuh King Marven II. Pengkhianat tetap pengkhianat, hati Arfeen tidak sebersih itu untuk mengampuni mereka, apalagi mereka semua beserta Virendra memiliki dosa lain dengan cara merampas hak-hak penduduk lain dan diam-diam menanam tanaman sihir dengan racun mematikan.
Membuat sengsara satu negeri bukanlah tindakan terpuji.
“Baringkan di sebelah sana,” ucap Arfeen kepada Althaia hitam itu. “Aku harus menyalurkan energi dari Marven yang aku dapatkan kepadanya dan kau Kasdeya, segera buka segel sihir Isolde maka aku akan menepati janjiku padamu.”
***
-Dua hari setelahnya-
“King Marven II,” sapa Arfeen dengan penuh rasa hormat. “Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan Anda.”
King Marven II yang baru benar-benar sadar hanya menatap Arfeen penuh tanda tanya. Ayah dari Varoon itu seperti menerka-nerka siapa pemuda yang berada di hadapannya dan apakah dia pernah melihat Arfeen sebelumnya atau tidak.
“Ini adalah pertemuan pertama kita, Yang Mulia. Biar saya perkenalkan diri dengan benar kali ini,” Arfeen berdiri, sedikit membungkuk dengan satu tangan di d**a. “Nama saya Arfeen Tierra, saya dibawa dari Saujana untuk memenuhi takdir saya di Niscala.”
“Arfeen Tierra? Kau.. Tierra?” King Marven II langsung berdiri, Beliau menyentuh bahu Arfeen. “Kau benar-benar Tierra? Jadi ramalan itu benar kalau Tierra akan kembali dan menyelamatkan Niscala dari monster-monster jahat? Kau sungguh.. Tierra?”
“Benar, Yang Mulia,” sahut Arfeen membenarkan. “Saya minta maaf karena Yang Mulia harus menunggu sangat lama untuk hari ini, saya minta maaf karena tidak datang lebih awal.”
“Siapa yang harus meminta maaf kepada siapa?” King Marven II menepuk pundak Arfeen. “Aku adalah seorang raja tetapi aku tidak mampu melakukan tugasku dengan baik. Maaf karena sudah membebankan semua masalah ini kepadamu dan terima kasih karena sudah kembali untuk kami, Tierra. Seharusnya aku bisa langsung mengetahui itu dirimu setelah melihat mata Taaffeite itu.”
“Ayah!” teriak Varoon yang tiba-tiba muncul, laki-laki itu langsung berlari dan memeluk Ayahnya dengan sangat erat. Dia pasti baru sadar dan mendengar kabar bahwa Ayahnya sudah kembali. “Ayah..”
“Maaf karena tidak bisa menyelamatkan Ibu serta seluruh rakyat, Nak.”
“Yang Mulia!” Denallie menyusul, salah satu Siren dari Marven itu sudah lama mengenal King Marven II, dia sudah dianggap sebagai anak angkat dari raja.
“Denallie,” King Marven II merengkuh Denallie bersamaan dengan Varoon. “Maaf karena tidak bisa menyelamatkan siapapun, Nak. Maaf karena aku hanya kembali seorang diri.”
“Asalkan Yang Mulia sudah kembali, tidak apa-apa.”
Seseorang menepuk pundak Arfeen, dia menoleh dan melihat Derwin sedang tersenyum padanya.
“Wah.. iris matamu benar-benar berubah.”
Balas tersenyum, Arfeen bertanya,“Bagaimana kabarmu?”
“Berkat dirimu kami semua baik-baik saja,” balas Derwin, senyumannya semakin lebar. “Aku menyesal karena tidak bisa melihat kemenanganmu.”
“Akan aku adakan tayang ulang,” canda Arfeen. “Tapi sebelum itu ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian.”
“Dengan kami? Apa itu?”
“Aku hanya ingin meminta izin untuk beberapa waktu.”
Sadar apa yang ingin Arfeen katakan, Derwin hanya tersenyum. “Tidak apa-apa, semuanya sudah selesai di sini dan kau bisa kembali setelah menyelesaikan urusanmu di sana. Tetapi ada satu rahasia yang sebenarnya belum aku beritahukan kepadamu, ini menyangkut tentang apa yang terjadi padamu sebelum aku membawamu ke Niscala.”
“Ah.. ambang kematian itu?” tebak Arfeen, dia tersenyum. “Sudah aku duga tetapi aku ingin mendengarnya darimu dan alasan sebenarnya kenapa kau merahasiakan hal itu kepadaku.”
Rasa percaya yang belebih akan menyakitimu, tetapi jika kau tidak percaya dengan temanmu sendiri, kau tidak akan bisa melakukan apa-apa tanpa curiga. Karena itulah Arfeen tetap ingin mendengarkan penjelasan Derwin tentang hari itu, hari di mana dia berada di ambang kematiannya.
***