ARFEEN TIERRA: ANUGERAH NISCALA

1573 Words
Keheningan tetap tercipta selama beberapa menit sampai kemudian Arfeen berhasil menyingkirkan tiga Kasdeya yang mengepungnya. Dia mendorong ketiganya dengan tenaga yang entah dia dapatkan dari mana, mungkin karena dia terlalu panik dan merasa akan mati konyol, ada dorongan di dalam dirinya sehingga ketakutannya berubah menjadi senjata. “Kalian,” Arfeen tersenyum miring. “Akan aku bunuh kalian semua, aku akan masuk ke dalam Marven dan menghabisi dua yang tersisa. Aku akan menghancurkan kalian sampai-sampai kalian sendiri yang mendambakan kematian.” Air dari lautan terangkat membentuk ombak dengan kekuatan sihir Arfeen, setelah itu ombak itu semakin tinggi sampai mencapat sepuluh meter, cukup untuk menyelimuti tiga Kasdeya sekaligus. Lalu tanpa membuang-buang waktu, tangan Arfeen yang sebenarnya terluka karena terkena cakaran salah satu Kasdeya saat dia mementalkan mereka bertiga juga langsung bergerak cepat untuk menjalankan ombak itu. “Kau pikir mudah membunuh makhluk mulia seperti kami?” salah satu Kasdeya tertawa tanpa menyadari bahwa ombak yang kini sudah mengenainya langsung berubah menjadi es dan membuat satu Kasdeya itu membeku, sedetik kemudian es itu pecah sehingga tubuh Kasdeya tadi ikut pecah. “Seperti yang diharapkan dari makhluk yang memiliki kekuatan sihir tinggi, meskipun tubuhm terpisah, kau masih tetap hidup, ya?” ejek Arfeen, dia menginjak salah satu pecahan es yang memiliki potongan kaki Kasdeya dan menginjaknya. “Sayangnya makhluk mulia sepertimu harus terbunuh dengan cara menyakitkan seperti ini.” Mata Kasdeya yang berada di pecahan es yang lain menatap ke arah Arfeen, mata itu tampak sangat terkejut. “Tetapi bagaimana ini? Ternyata membunuh makhluk sepertimu itu.. sangat mudah,” gumam Arfeen, dia menggunakan sihir lavanya untuk melelehkan pecahan es tadi dan kembali membekukannya dalam hitungan detik. “Sangat sangat mudah.” Tersisa dua Kasdeya yang juga tidak ingin membuang waktu, keduanya langsung menyerang Arfeen sehingga pertarungan sengit terjadi. Arfeen jelas mendapatkan luka cakaran tetapi berkat kekuatan Althaia, luka-luka itu tidak terasa sakit seperti seharusnya meskipun tidak bisa tertutup dan terus mengucurkan darah. Arfeen menghentakkan kakinya sehingga tanaman sihir yang tumbuh merambat, salah satu kekuatan dari energi sihir Derwin keluar. Tanaman sihir itu bergerak mengikuti Kasdeya dan tidak mati meskipun mereka sudah menginjaknya dan menyalurkan racun ke dalam tanaman itu. “Aku akan memusnahkan kalian-“ “Arfeen Tierra!” teriak Virendra, teriakannya membuat Arfeen hilang fokus sehingga kedua Kasdeya tadi memiliki kesempatan untuk menghempaskan tubuh Arfeen dengan sayap mereka. “Menyerahlah! Kau tidak memiliki pendukung, aku sudah membunuh teman-temanmu!” teriaknya lagi, kali ini dengan suara yang jauh lebih nyaring dan lebih serius dari sebelumnya. Teriakan Virendra jelas sangat mengganggu, bukan hanya Arfeen yang terkejut tetapi para penduduk lainnya juga sama terkejutnya apalagi setelah melihat tiga orang penyihir tingkat dasar yang juga berperan sebagai bawahan Virendra itu masing-masing membawa tubuh dari ketiga temannya yang sudah lunglai dengan darah yang menetes dari tubuh mereka. Virendra tertawa sementara dengan energi sihir yang dia katakan sudah menghilang dari tubuhnya itu dia mulai menyerang para penduduk, dia juga melemparkan para Althaia dengan tawa yang tidak henti-hentinya terdengar dari mulutnya. “Tidak,” Arfeen menggeleng-gelengkan kepalanya, tiba-tiba dia dipenuhi dengan ketakutan sehingga tidak sadar bahwa dua Kasdeya yang sedang dilawannya itu mulai mengepungnya. “Mereka tidak akan meninggal semudah itu, mereka bertiga tidak akan menyerah segampang itu-“ Meskipun dua Kasdeya itu mulai mencakar tubuhnya dan mencabik punggungnya, Arfeen masih terpaku kepada ketiga temannya yang sama sekali tidak bergerak. Matanya yang bisa melihat lebih jauh dari penyihir biasanya itu bisa melihat masing-masing belati yang menusuk ketiganya. Otak Arfeen menolak percaya apa yang dilihatnya. Ketiganya benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan dan wajah mereka membiru. Tidak salah lagi itu adalah racun yang berasal dari tanaman sihir terlarang. Sialan, Virendra! “ARFEEN TIERRA!” teriak Althaia yang menyamar menjadi Isolde. “SADARLAH! APA YANG KAU LAKUKAN DI SANA DENGAN MENYERAHKAN HIDUPMU?!” “Aku..” gumam Arfeen, dia masih tidak bergerak meskipun salah satu dari dua Kasdeya itu mematahkan tangannya. “Aku akan membunuhmu. Aku akan membunuhmu. Aku akan membunuhmu.” “ARFEEN TIERRA!” Arfeen mendengar teriakan itu, dia juga melihat para penduduk yang diserang oleh Virendra yang melakukannya sambil tertawa puas karena berpikir kemenangannya sudah ada di depan mata. Arfeen memperhatikan semua itu sampai tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Virendra dan pria itu langsung membeku di detik itu juga. Hanya membeku, Virendra tidak berubah menjadi batu karena energi sihir Arfeen yang melemah akibat lukanya dan sebagian karena Kasdeya sudah menyerap sihirnya. “AKU AKAN MEMBUNUHMU!” teriak Arfeen bersamaan dengan datangnya sebuah cahaya menyilaukan mata. Cahaya yang memperbaiki bagian-bagian tubuh Arfeen seperti semula, menyembuhkan luka-lukanyanya dan membuatnya kembali berdiri tegak seperti sedia kala. Siapapun yang melihat penampilan Arfeen akan merasa bahwa laki-laki itu sudah terlahir kembali, bahkan baju yang dipakainya terlihat jauh berbeda dengan sebelumnya. Arfeen langsung berlari ke arah batu besar yang berada di tengah-tengah istana, berdiri di sana dan memohon kepada Niscala dengan segenap hatinya karena dia tahu dengan kekuatannya yang sekarang, dia tidak bisa mengembalikan teman-teman dan memperbaiki kerusakan yang ada. “Aku akan membunuh siapapun yang memiliki niat buruk terhadap negeri ini, aku akan menghabisi semua monster dan menyelamatkan siapapun. Aku akan lebih bersungguh-sungguh mengabdikan diriku untuk negeri ini, karena itulah bantu aku, beri aku kekuatan dan biarkan aku mengembalikan kembali kehidupan teman-temanku yang sudah direnggut paksa dari mereka. Biarkan aku menghukum mereka semua dan aku akan menjadi pahlawanmu, aku akan menyinari Niscala dengan kekuatan yang berasal darimu,” gumam Arfeen, dia memohon dengan bersungguh-sungguh. “Darah Niscala yang mengalir dalam diriku, harapan yang sedang aku genggam dan kesetiaan yang aku miliki sebagai salah satu pejuang terbaik Tyrion akan aku abdikan kepadamu.” Dua Kasdeya yang tersisa langsung terbang dengan kecepatan tinggi ke arah Arfeen Tierra yang sedang menyataan permohonannya. Saat itulah untuk pertama kalinya petir menyambar di Niscala, petir yang mencegah dua Kasdeya itu menyentuh pewaris tahta mereka yang sudah kembali. Petir kedua terdengar, kali ini petir itu menyambar tubuh Arfeen, membuat Althaia yang sedang menyamar langsung kembali ke bentuk asalnya. Selama beberapa menit tidak ada sihir yang bisa digunakan di Niscala, bahkan hanya untuk mengeluarkan racun saja monster seperti Kasdeya tidak mampu. “Aku akan menghancurkanmu,” gumam Arfeen sebelum kemudian membuka mata. Kali ini iris matanya yang awalnya berwarna cokelat berubah menjadi iris mata yang tidak memiliki warna namun tetap bergemerlapan karena irisnya memiliki refleksi ganda seperti halnya batu Taaffeite. Selain itu pakaiannya yang tadinya sudah bagus terasa seperti di upgrade ke tingkat paling sempurna karena terbuat dari Wurtzite Boron Nitride, logam yang lebih keras dari berlian Arfeen merasa tubuhnya jauh lebih ringan, tatapan matanya jauh lebih cerah dan dia bisa melihat energi sihir siapapun itu tanpa perlu melihat kemampuan mereka terlebih dahulu. Sekarang matanya dapat dia gunakan sebagai scanner dan juga sebagai pembunuh. “Arfeen Tierra?” panggil Althaia. “Apakah itu kau?” “Ya,” sahut Arfeen, dia melirik Derwin, Denallie dan Varoon yang dibiarkan tergeletak begitu saja. Arfeen menggerakkan tangannya dan mengarahkannya kepada ketiga temannya selama beberapa saat. “Aku akan membunuh semua orang yang terlibat dalam rencana ini tetapi sebelum itu, aku harus memusnahkan makhluk-makhluk tidak tahu diri itu. Kau dan semua Althaia yang masih bisa bergerak bebas tolong bawa mereka bertiga ke dalam ruangan Isolde, setidaknya jiwa mereka akan merasa lebih tenang di ruangan itu.” Setelah mengatakan hal itu, Arfeen menghampiri dua Kasdeya tadi, tersenyum miring dan menyentuh sayap keduanya. Hanya sentuhan ringan tetapi keduanya langsung merintih kesakitan dan dia sengaja memperlihatkan hal itu kepada Virendra yang tubuhnya membeku dan kepada para pengikut pengkhianat negeri itu untuk menyampaikan kepada mereka bahwa nasib mereka ada di tangan seorang Arfeen Tierra. “Panggil seluruh anak buahmu yang masih berada di dalam Marven, suruh mereka keluar ke permukaan tanpa terkecuali atau kau akan langsung aku bunuh dengan tercabik-cabik di sini,” bisiknya mengancam, dia membiarkan satu Kasdeya kembali ke dalam Marven sementara dia mempermainkan satu yang tersisa. “Aku yakin rintihanmu tidak sebanding dengan apa yang kau lakukan dengan negeri ini selama seratus tahun.” “Aku terkurung selama puluhan tahun dan kau mengatakan aku menggang- ampuni aku!” rintih Kasdeya kesakitan. Sayapnya sudah Arfeen lelehkan pelan-pelan, kedua tangannya sudah Arfeen ubah menjadi batu meskipun dia juga terkejut karena biasanya dia tidak bisa mengontrol sihirnya sebaik itu sampai-sampai hanya beberapa bagian tertentu di tubuh Kasdeya yang dia inginkan yang berubah menjadi batu. Juga, Arfeen sudah mengubah kaki Kasdeya itu menjadi es yang siap pecah kapan saja. “Aku tidak tahu kau bisa sangat rendah hati sampai minta ampun seperti ini,” kekeh Arfeen, dia tidak akan memberi ampun siapapun. “Katakan, apakah King Marven II masih hidup?” “Apa yang kau-“ Pembatuan itu sekarang sudah sampai leher dari Kasdeya itu, sementara itu sayapnya sudah sepenuhnya meleleh. Sedikit kesal, Arfeen hanya melirik ke arah pengikut Virendra yang ketakutan melihatnya dan dia juga melihat para Althaia menyembuhkan penduduk yang terkena sihir Virendra. “Tidak ada gunanya bertanya padamu, aku bunuh saja,” katanya dan hanya dengan tatapan mata serta satu senyuman Arfeen, Kasdeya itu menjadi abu dan menghilang dari pandangannya begitu saja. Terlihat lebih banyak Kasdeya kembali muncul beserta tiga Kasdeya tingkat tinggi, salah satu Kasdeya tingkat tinggi yang dia kirim untuk memanggil para Kasdeya yang tersisa. Ck, ternyata mereka hanya mengirim sedikit Kasdeya golongan rendah dan menengah karena percaya diri ketiga pemimpin mereka akan mengalahkan Arfeen dan yang lainnya Hah, meremehkan sekali. Apa perlu Arfeen selesaikan sekarang sampai tidak ada satu pun dari mereka yang tersisa? Ya, lebih baik begitu karena dia harus menyelamatkan semua orang baik di Niscala dan membuat mereka tenang dengan kembalinya sang pahlawan pewaris tahta. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD