AWAL KEBANGKITAN

1538 Words
 Berdiri tegak dengan tatapan mata dingin seperti orang tidak kenal takut, bibir yang tersenyum tipis dan tangan yang tidak bergerak sama sekali membuat kehadiran Arfeen Tierra terlihat lebih mengitimidasi dari siapapun, apalagi dia hanya berdiri seorang diri dan menunggu dengan tingkat keyakinan dan kepercayaan diri yang sangat tinggi.  “Jadi kau yang bernama Tierra?”   Untuk pertama kalinya Arfeen mendengar suara sosok Kasdeya. Entah Kasdeya dengan energi sihir rendah tidak mampu berbicara atau mereka hanya tidak ingin, tetapi Kasdeya yang memiliki sayap yang sangat lebar ini langsung berbicara dengan bahasa yang sama dengannya. Menarik.  “Ya, aku yakin kau sudah mendengar namaku dari seseorang,” Arfeen mengedikkan bahunya. “Tetapi apakah kau baik-baik saja? Seluruh anak buahmu bersembunyi di balik sayap lebarmu seperti benalu- ah, atau kalian bertiga ini adalah pemimpin sejati yang sangat peduli sehingga takut jika rakyat kalian berguguran menjadi abu?”  Mungkin akan ada banyak yang mengatakan bahwa Arfeen sudah kehilangan akal. Di hadapannya melayang tiga Kasdeya dengan kekuatan sihir yang tidak sebanding dengan dua raja Niscala sekalipun tetapi dia yang seorang diri malah memprovokasi dengan angkuhnya.  “Mereka tidak akan menjadi abu hari ini, pemimpin mereka sudah datang,” katanya, suaranya menggelegar seakan-akan ingin mengumumkan kebebasannya.  “Hah, suaramu sangat nyaring,” Arfeen berdecak dan menutup telinganya dengan satu jari. “Sangat menjengkelkan hanya dengan mendengar suaramu, kau pikir kami tidak memiliki telinga sampai kau harus berbicara senyaring itu? Dasar makhluk aneh, lagipula sampai kapan kalian hanya akan terbang di sana? Aku memberimu kebebasan, tidakkan kalian akan datang dan berlutut padaku untuk memberi ucapan terima kasih.”  Tawa menggelegar terdengar, tawanya yang disertai energi sihir yang hanya bisa dilihat oleh Arfeen itu membuat semua orang panik karena Arfeen bisa mendengar teriakan ketakutan dari para penduduk Niscala.   “Kau menyelamatkan kami dan kami harus berterima kasih? Bukankah kami harus berterima kasih kepada penyihir cantik di belakangmu itu?” katanya dengan nada menjengkelkan, satu Kasdeya besar itu akhirnya terbang maju tetapi sedikit terpental karena sihir pembatas yang dipatenkan oleh Arfeen. “Apa-apaan ini?”  “Oh,” Arfeen mengangguk-angguk. “Aku pikir karena hanya aku yang dapat melihat energi sihirmu, maka kau juga akan bisa melihat energi sihirku. Jika sudah begini kau harus berhati-hati, kau bisa saja terjebak oleh sihirku dan menggali lubang kematianmu sendiri.”  Jauh di belakang Arfeen, Virendra mengepalkan tangannya, menahan geramannya karena ternyata Kasdeya yang didukungnya tidak bisa memasuki wilayah Tyrion dengan mudah. Dia melirik ke arah Isolde yang hanya berdiri tenang seperti tidak ada yang terjadi, wajah pucatnya masih sama tetapi perempuan itu terlihat jauh dari kata sakit alias dia sedang baik-baik saja.  “Bukankah makhluk Saujana sepertimu terlalu sombong?” geram Kasdeya, dia mulai terbang dengan kecepatan tinggi dan kali ini berhasil melewati sihir pembatas milik Arfeen. Namun bukannya takut, Arfeen justru sudah mengetahui ini akan terjadi jadi dia hanya tersenyum dan sedikit memanyunkan bibirnya karena ternyata Kasdeya tingkat tinggi ini tidak seseram yang dia bayangkan. “Aku akan membunuhmu dengan kekuatanku sendiri, Tierra. Aku tidak butuh anak buahku, aku hanya akan langsung menghabisimu sehingga kami bisa menikmati energi sihirmu.”  “Bukankah itu percuma saja?” Arfeen mengangkat tangannya untuk yang pertama kalinya, dia menyentuhkan tangannya kepada batu yang dipijakinya dan membuat semua batu itu melayang sebelum berubah bentuk menjadi sebuah bola api. “Kenapa terkejut? Kau baru melihat penyihir yang bisa mengeluarkan api berwarna hitam? Hah, jika kau menyentuhnya maka mungkin kau akan selamat tetapi jika anak buahmu itu yang menyentuhnya.. aku tidak yakin mereka bisa lolos tanpa terbakar.”  Terprovokasi, dua diantara tiga Kasdeya tingkat tinggi itu membuka mulutnya dan mengeluarkan racun yang hanya bisa dilihat oleh Arfeen. Namun karena tubuhnya sudah dia paksa mempelajari banyak sihir, racun tingkat tinggi seperti itu tidak akan bisa mempengaruhinya setidaknya sampai tiga jam lamanya. Menurut Althaia, Arfeen harus membasmi para Kasdeya itu sebelum tiga jam.  “Sayang sekali karena racun kalian tidak berguna untukku,” ejeknya, Arfeen kemudian menerbangkan bola api hitam itu dan mengarahkannya tepat kepada para Kasdeya golongan rendah dan menengah sehingga satu per satu dari mereka mulai mengerang kesakitan dan jatuh dengan bola api di atas masing-masing perut mereka. “Apa ini? Hanya seperti itu kekuatanmu?”  “Kau tahu kalau kau sudah meremehkan kami, Tierra?” serunya, suaranya yang sangat tinggi itu membuat awan Niscala menjadi gelap dan suasana berubah seperti malam hari. “Akan aku tunjukkan padamu siapa yang sudah kau remehkan.”  “Baiklah,” Arfeen berjongkok, dia terlihat sangat santai. “Tunjukkan saja.”   Setelah berkata seperti itu, serangan demi serangan muncul. Para Kasdeya golongan menengah yang tidak terkena bola api terbang ke segala arah, mengancam nyawa para penduduk sebelum kemudian hilang begitu saja karena tertelan kabut transparan milik Kasdeya yang membuat banyak orang terperangah karena tidak mengetahui apa yang sudah terjadi.  “Rakyatmu itu tidak bisa mengusik rakyatku,” Arfeen terkekeh. “Bersiaplah untuk menghadapi kenyataan, Kasdeya, kau akan dilenyapkan dan akan mendapatkan hukuman dari Niscala beserta orang-orang yang bekerja sama denganmu.”  Kasdeya itu mengepakkan sayapnya yang membuat beberapa pohon roboh karena angin yang disebabkannya. Selain itu bola-bola api hitam milik Arfeen langsung padam, menandakan seberapa besar kekuatan makhluk dengan energi sihir tingkat tinggi itu.  “Api yang disalurkan kepada benda, kau ternyata jauh lebih menarik dan menyebalkan dari dugaanku, Tierra,” ujar satu dari tiga Kasdeya itu. “Aku ingin segera mencabik tubuhmu dan menyantap energi sihirmu sampai habis dan tak bersisa. Kesombongan dan keangkuhanmu itu hanya akan menjadi omong kosong, jadi ucapkanlah salam terakhirmu sekarang juga!”  Lalu serangan-serangan racun itu mulai kembali terjadi. Ketiganya langsung menyerang Arfeen tanpa ampun. Tiga Kasdeya dengan kemampuan sihir yang sangat tinggi melawan Arfeen Tierra yang sihirnya bahkan belum sempurna dan masih belajar dan terus berlatih untuk itu. Tetapi bukan berarti tidak ada cara untuk mengalahkan bakat, minat yang sangat besar dan usaha itu sendiri akan mengalahkan bakat yang belum cukup diasah.  Arfeen menggunakan sihir hawa keberadaan untuk mengecoh mereka bertiga tetapi makhluk tingkat tinggi itu juga tidak kalah cerdasanya, mereka perlahan-lahan terbang rendah, sengaja menyatukan kepakan sayap mereka sampai Arfeen terkepung sempurna.  “Bersiaplah menjadi santapan kami, Tierra!”  Berdecak karena dia memang terlalu cepat memprovokasi, Arfeen terjebak dan tidak bisa menggunakan sihir keberadaannya sehingga membuat siapapun yang melihat itu akan menjadi tegang dan bahkan banyak Althaia yang berbaris menjaga penduduk melolong dengan suara yang sangat nyaring.  “Apa yang akan terjadi dengan kita jika dia meninggal?” bisik penduduk ketakutan.  “Bagaimana sekarang? Apa monster jahat itu sudah memakan sihir Tierra?” bisik yang lainnya.  Namun hanya Virendra yang berusaha menyembunyikan kesenangannya karena sepertinya Arfeen benar-benar tidak bisa bergerak dengan bebas karena keheningan terjadi dan tidak ada tanda-tanda perlawanan yang berarti.  Althaia yang menyamar menjadi Isolde itu langsung menggunakan sihirnya untuk mencari tahu apakah sihir Arfeen memang melemah atau tidak dengan cara memeriksa apakah kabut yang dikeluarkannya akan berwarna hijau atau transparan. Dia mencoba diam-diam sambil berpura-pura terkejut dan saat sihirnya masih tidak memiliki warna, dia yakin bahwa Arfeen sengaja menciptakan keheningan di tepi lautan sana.  Lolongan Althaia masih terdengar, lolongan itu membuat Derwin berhenti memperkuat energi sihirnya dan begitu juga dengan Varoon dan Denallie. Lolongan yang menyatakan bahwa Arfeen tidak terlihat, lolongan yang menyatakan bahwa bahaya akan segera datang.  “Jangan lakukan kesalahan, Derwin,” bisik Derwin, memberi sugesti kepada dirinya sendiri. “Kau memang yang membawa Arfeen ke sini, dia adalah tanggung jawabmu sejak dia masih bayi tetapi dia memohon kepercayaanmu jadi jangan lakukan apapun dan tetap di sini.”  Di lain sisi..  “Bagaimana jika Arfeen terluka?” ujar Denallie, dia mulai panik. “Lolongan itu saling bersahutan dan masih tidak berhenti, apa yang akan kita lakukan?”  “Dia menyuruh kita untuk mempercayainya, Denallie,” balas Varoon. “Aku mengerti kegelisahanmu karena aku juga takut terjadi sesuatu padanya, tetapi dia memohon kepada kita untuk lebih mempercayainya. Karena itulah dia akan baik-baik saja, dia akan kembali kepada kita dengan utuh.”  Sayangnya, baik Varoon atau juga Denallie tidak sadar bahwa ada seseorang yang sedang bersembunyi dan mencoba menunggu saat di mana salah satu dari mereka berdua lengah. Seseorang yang memiliki racun dari tanaman sihir yang akan membuat detak jantung dari siapapun langsung berhenti hanya dalam waktu lima detik, apalagi jika racun itu langsung menyatu dengan darah targetnya.  “Varoon, dia masih beberapa bulan di sini.. bukankah terlalu berbahaya baginya melawan Kasdeya seorang diri?”  “Jika kau panik seperti ini maka aku juga akan ikut panik. Diantara kita hanya kau yang tidak mudah panik dan mampu berpikir, lalu jika kau sudah seperti ini aku harus bagaimana, Denallie? Tetaplah di sini dan lakukan apa yang harus kita lakukan.”  “Tidak!” tolak Denallie, dia terus menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa menepati janjiku, aku harus melihat dengan mata kepalaku sendiri apakah dia baik-baik saja atau tidak.”  Tepat ketika Denallie membalikkan tubuhnya dan berniat menggunakan teleportasi dengan sihir hawa keberadaan, sebuah belati yang ujungnya sudah dicampur dengan tanaman sihir menancap di perut Denallie dan hanya dalam hitungan detik tubuhnya ambruk.  “DENALLIE!”  Ada yang mengatakan bahwa amarah seseorang akan lebih menakutkan ketika melihat salah satu temannya terluka. Jika itu adalah teman dekatnya, mungkin seseorang itu akan kehilangan akalnya dan menyerang dengan membabi buta. Sayangnya ada beberapa orang yang menyepelekan hal itu sampai mereka menyesal setelah menyadari bahwa amarah seorang teman itu akan membawa kematian kepada mereka. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD