Saat pagi menyapa, Arfeen segera menggunakan sihirnya untuk membatasi wilayah agar Kasdeya tidak langsung menuju perumahan penduduk begitu mereka muncul di permukaan. Selain itu Arfeen sudah mengubah energi sihir Althaia, dia mengubah kabut hijau milik Althaia menjadi kabut transparan meskipun itu membutuhkan energi sihir yang sangat besar untuk melakukannya.
“Aku sudah memperkirakannya,” bisik Arfeen kepada Derwin yang menunggunya di sudut dalam hutan sihir. “Kau masih ingat orang yang diam-diam berada di hutan sihir dan dijemput oleh Virendra setelah Althaia membawanya ke hadapan kita waktu itu?”
Derwin mengangguk. Dia memutuskan untuk mengikuti rencana Arfeen, begitu pula dengan dua lainnya sementara Althaia yang menyamar menjadi Isolde berada di dekat perumahan penduduk, menyelimuti mereka dengan energi sihir transparan agar bisa mengecoh pandangan Kasdeya sehingga siapapun dengan energi sihir negatif menyentuh kabut transparan itu, dia akan ditelan sampai tak bersisa.
“Aku sudah melindungi hutan ini meskipun sihir pelindungku belum cukup solid dan belum sekuat sihir pelindung pendahuluku, tetapi asalkan kau tidak melangkah keluar, semuanya akan baik-baik saja,” ujar Arfeen, memperingatkan. “Aku juga akan menyampaikan hal ini kepada Varoon dan Denallie yang berada di sudut hutan lainnya, kalian tidak boleh keluar dari hutan ini meskipun terdengar lolongan Althaia yang sangat nyaring sekalipun.”
“Arfeen-“
“Kau sudah berjanji akan menyetujui rencanaku, karena itu aku memperbolehkanmu berada di hutan ini untuk memperkuat jantung pertahanan Althaia dan dua lainnya akan menggunakan energi Marven yang masih tersisa dalam jiwa mereka untuk mengangkat siapapun yang masih hidup di dalam lautan dalam itu,” Arfeen melirik ke arah lapisan es Marven dengan mata batinnya untuk memastikan apakah sudah ada Kasdeya yang berhail melepaskan diri atau belum. “Jangan lakukan kesalahan apapun, Derwin. Jangan sampai kau juga ikut terluka.”
Setelah memperingatkan Derwin, Arfeen langsung menghilang begitu saja untuk memperingati Denallie dan Varoon yang tampak sibuk di sudut terluar hutan. Mereka menyentuh air Marven dan menyalurkan energi sihir mereka, memanggil siapapun yang masih tersisa dan meminta bantuan dari mereka untuk memperkuat pertahanan Marven dengan membantu Kasdeya meloloskan diri ke permukaan.
“Jika kalian mendengar lolongan Althaia yang saling menyahuti satu sama lain, tidka perlu didengarkan dan tetap fokus dengan tujuan kalian,” ucap Arfeen tanpa basa-basi. “Aku sudah membatasi wilayah penduduk dengan bekerja sama bersama para Althaia seperti rencana, lagi, racun Kasdeya yang menyebar keluar setelah seluruh lapisan es mencair tidak akan melukai atau menyegel kekuatan sihir kalian.”
“Bagaimana caranya?” tanya Denallie tidak mengerti. “Kau juga sudah memiliki kekuatan penetral racun milik Isolde? Aku benar-benar penasaran dengan latihan yang kau jalani selama ini, Arfeen Tierra.”
“Tidak, aku tidak memiliki kekuatan penetral seperti Isolde, hanya saja aku mengetahui cara membuka segelnya jika racun itu baru memasuki tubuh kalian,” jelas Arfeen. “Tapi untuk tubuh Isolde, aku juga harus menembus pertahanan lebih dalam, aku tidak bisa membuka segelnya dengan kekuatan sihirku yang sekarang dan ah.. jangan hanya berhati-hati kepada Kasdeya, jika ada orang yang kalian curigai, kalian bisa langsung menghilangkan kesadarannya.”
“Arfeen,” panggil Varoon. “Berhati-hatilah, ini akan menjadi awal kembalinya Niscala jadi aku mohon, jangan sampai kau terluka.”
“Aku yang seharusnya memohon itu kepada kalian berdua. Jangan melakukan kesalahan dan jangan sampai terluka karena bukan hanya aku yang membutuhkan kalian, bangsa ini juga membutuhkan kalian dan Niscala lagi-lagi akan kehilangan penyihir terkuatnya jika kalian ikut terluka.”
Bohong jika Arfeen mengatakan bahwa jantungnya tidak berdegup kencang. Dia masih memiliki ketakutan di dalam dirinya, dia terlahir sebagai pewaris tahta Niscala tetapi selama berada di Saujana, dia hanyalah Arfeen Tierra yang dikenal sebagai seorang pengecut yang selalu menerima perkataan kasar serta kekerasan.
“Jika bukan kalian, mungkin aku akan memilih untuk mengakhiri hidupku cepat atau lambat karena penderitaan dan tidak adanya tempat penuh kehangatan yang bisa aku jadikan sebagai sandaran,” lirih Arfeen, dia berdiri tegak sambil menunggu seluruh lapisan es itu mencair. “Tidak apa-apa meskipun aku mati di tempat ini, tidak apa-apa aku meninggalkan dunia ini dengan keadaan seperti ini karena aku tidak akan disebut sebagai seorang pengecut lagi, aku tidak akan mati sia-sia, aku akan membalas semua perasaan hangat dan tawa yang aku habiskan di tempat ini dengan menghapuskan penderitaan yang kalian rasakan selama ini.”
Satu.. lima.. sepuluh.. enam belas.. Arfeen tidak menghitung lagi setelah dia melihat tiga Kasdeya berukuran sangat besar dengan sayap yang lebih lebar membentang. Hanya tiga Kasdeya tingkat tinggi, itu artinya masih ada dua lagi di dalam sana yang belum keluar atau tidak ingin keluar karena sudah yakin bahwa ketiga temannya akan menjemput kemenangan mereka.
Sayangnya Arfeen tidak akan menyerahkan kemenangan semudah itu. Mereka semua akan hancur di bahwa tatapan mata Arfeen dan akan meleleh dengan kekuatan sihir tangannya.
***
Malam sebelumnya di ruangan bawah tanah kerajaan Tyrion, ruangan milik Virendra.
Terdengar seseorang yang sedang berlari, menuruni tangga batu dan masuk ke dalam ruangan bawah tanah. “Tuan Virendra, lapisan es yang menyelimuti Marven mulai mencair! Apa kita perlu memeriksa keadaan Isolde?” teriaknya dengan wajah berseri-seri, sangat bersemangat.
“Benarkah?” Virendra berdiri, ikut bersemangat. “Kita tidak perlu memeriksanya, lapisan es yang mencair itu sudah menjadi pertanda bahwa tubuhnya sudah sangat lemah dan energi sihirnya benar-benar tersegel dengan sempurna.”
“Apakah rencana kita untuk menjatuhkan Isolde berhasil?” tanya Zayyat, dia ikut berdiri melihat Virendra berdiri. “Apa Isolde sudah melemah sehingga lapisan es dari energi sihirnya mulai mencair? Jika benar begitu maka rencana kita untuk menyambut kebebasan Niscala dari penyihir-penyihir sok berkuasa itu sudah ada di depan mata!”
Virendra dengan wajah bangganya mulai membayangkan betapa frustasinya wajah Afeen Tierra, makhluk Saujana yang sok berkuasa karena namanya disebutkan di dalam ramalan. Jika penyihir terkuat seperti Isolde saja berhasil dia lumpuhkan, apalagi penyihir gadungan seperti Arfeen Tierra.
“Bersiaplah untuk besok, kita akan menyambut Kasdeya. Sebar pasukan, bunuh siapapun yang menghalangi rencana kita meskipun itu adalah penyihir terkuat sekelas Derwin sekalipun.”
“Baik, Tuan.”
Mereka berpikir kalau rencana yang sudah mereka bangun selama puluhan tahun akhirnya akan berjalan dengan lancar karena setelah sihir Isolde melemah, tidak ada yang akan bisa menghalangi Kasdeya. Rencana mereka adalah membunuh penyihir-penyihir seperti Derwin, Varoon, Arfeen dan Denallie yang akan menyusahkan mereka suatu hari nanti dan akan memanfaatkan sihir Isolde untuk kepentingan mereka pribadi.
“Akhirnya kita akan merebut Niscala dari penyihir-penyihir tidak berguna seperti mereka. Kalian tidak perlu takut dengan ancaman Arfeen Tierra, dia hanya mengatakan omong kosong karena makhluk Saujana itu akan segera berakhir di tangan kita,” Virendra tertawa. “Hah, Tierra itu pasti sudah besar kepala karena dia disebutkan dalam ramalan khusus Niscala, sayangnya dia tidak lebih dari kepala yang kehilangan otaknya untuk berpikir. Sangat bodoh dan menyebalkan.”
Seperti itulah kira-kira apa yang ada di pikiran Virendra. Dia sebenarnya tidak begitu pintar dalam hal melancarkan taktik atau mungkin lawannya kali ini jauh lebih pintar dalam hal mengamati dan menyusun rencana, karenanya Virendra yang menganggap keputusan dan rencananya sudah sempurna itu tidak akan tahu bahwa dia juga sedang di awasi oleh sosok Althaia yang sedang menyamar menjadi bawahannya selama ini. Hah, Arfeen memang pandai menggunakan sihirnya untuk melakukan hal-hal tidak terduga. Sekarang dia membuat hal yang hanya bisa dilakukan oleh Althaia terkuat kepada Althaia lainnya.
“Tuan?” Althaia yang menyamar menjadi salah satu bawahan yang memiliki peran sebagai pemburu itu menunduk, menandakan kesetian kepada Virendra. “Saya akan menyebarkan kabar kurang baik kepada penduduk untuk menjatuhkan para penyihir tidak berguna itu.”
“Baiklah, lakukan tugasmu dengan baik. Aku mengandalkanmu.”
Althaia itu langsung pergi dengan senyuman kecil yang tidak ada siapapun yang mengetahui. Ck, sebenarnya siapa yang sangat bodoh dan tidak menggunakan otaknya untuk berpikir lebih jauh lagi di sini?
Karena kecerobohan itulah Virendra dan pengikutnya sangat terkejut melihat Isolde tampak baik-baik saja dengan balutan gaun elegannya dan menyapa serta melindungi semua orang dengan baik seperti biasanya.
“Isolde?” sapa Virendra, kehebohan di pagi hari terkait melelehnya lapisan es membuat semua orang berkumpul jadi Virendra memberanikan diri untuk menyapa Isolde yang dia pikir sedang tertidur dan sama sekali tidak bisa bergerak karena segel sihir. “Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa lapisan es itu mencair?”
“Arfeen memintaku untuk melakukan itu,” sahutnya dengan suara dan nada yang sangat mirip dengan Isolde, tanpa keanehan sedikitpun. “Ini adalah rencana kami, Virendra, maaf karena tidak mengatakan apapun karena Arfeen melarang kami memberitahu siapapun. Maaf karena menimbulkan kekacauan seperti ini, tetapi kami berjanji akan melindungi Niscala dengan segenap kemampuan kami.”
Virendra mengepalkan tangannya, dengan amarah dia meminta anak buahnya untuk membunuh siapapun terutama orang-orang yang menjadi kekuatan Arfeen. Dengan menggunakan sihir penyamaran hawa keberadaan, Virendra menyebarkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Derwin, Varoon serta Denallie.
“Kau ingin bermain-main denganku rupanya, Tierra,” geramnya. “Kalau begitu aku akan membunuh semua orang yang berhubungan denganmu. Hah, lihat saja aku akan memperlihatkan bagaimana dirimu akan menjemput duka itu.”
Sebenarnya Virendra sangat ceroboh, dia benar-benar tidak mengerti jika dia sampai benar-benar membunuh atau melukai siapapun orang-orang di sekitar Arfeen, kemarahan pewaris tahta yang sudah kembali itu akan menghancurkannya sampai menjadi abu tidak akan cukup untuk meredakan amarahnya.
***