“Dia bukanlah pemuda yang mudah, Tuan Virendra,” ujar Zayyat, seorang rakyat yang beberapa hari sebelumnya menguping pembicaraan para Arfeen, Derwin dan lainnya di hutan tempat Althaia. “Apalagi beberapa rakyat yang sudah susah payah kami hasut mulai kembal goyah karena kekuatan Tierra yang semakin besar dan terlihat. Mereka mulai kembali percaya bahwa Tierra adalah orang yang benar-benar diramalkan.”
Virendra berdecak. “Tidak ada cara yang lebih bagus dari menjatuhkan mereka, terutama Tierra yang datang dari Saujana itu. Kita harus membunuhnya karena meskipun kita berhasil melemahkan sihir Isolde, akan sia-sia saja jika ada kekuatan sihir lain yang sama besarnya.”
“Tuan Virendra, bukankah lebih mudah untuk Tuan pergi ke Marven diam-diam dan menemui Kasdeya?” usul seorang rakyat lainnya, mereka tergabung dalam pemberontakan Niscala dengan iming-iming kebebasan dari Virendra. “Salah satu Marven perempuan itu juga sudah curiga dengan Tuan, begitu juga dengan Tierra itu.”
“Sial, sejak kapan pemuda itu berubah? Padahal dulu matanya masih selalu memancarkan keraguan dan ketakutan. Aku harus mencari jalan lain, pergi ke Marven dan menemui Kasdeya tidak akan mudah apalagi sihir Isolde masih mendominasi.”
Zayyat yang merupakan salah satu kaki kanan yang disukai Virendra itu kemudian berkata. “Kalau begitu kita pancing saja beberapa Kasdeya keluar, bahkan boleh lebih dari sepuluh dan membuat kekacauan-“
“Bagaimana bisa? Althaia akan segera melolong begitu hawa keberadaan sihir dan racun Kasdeya muncul ke permukaan Marven!” potong yang lainnya. “Menghapus hawa keberadaan tidak mudah, apalagi Althaia dikenal memiliki indera penciuman yang sangat tajam.”
“Lalu kita perdaya saja mereka!” usul yang lainnya. “Kita bisa mengelabuhi Althaia, kita semua tahu bahwa setiap pagi mereka selalu pergi ke hutan. Kita buat para Kasdeya datang ke permukaan saat belum semua Althaia terbangun, lalu.. bukankah kita sedikit-sedikit sudah menyegel sihir milik Isolde? Sihirnya tidak lagi sekuat itu untuk menetralkan racun Kasdeya golongan menengah.”
“Kau benar,” Virendra tertawa. “Kalian benar. Aku memiliki ide bagaimana mengelabuhi penciuman Althaia.”
“Bagaimana caranya, Tuan? Apakah itu memungkinkan?”
“Kalian masih memiliki tanaman sihir yang aku minta untuk kalian rawat itu, bukan? Tanaman sihir itu bisa menyembunyikan hawa keberadaan dan aku pikir akan cukup untuk menyamarkan hawa keberadaan Kasdeya. Cabut tanaman sihir itu, tumbuk dan tabur di permukaan Marven,” Virendra tersenyum licik. “Lakukan di malam hari karena hanya saat itulah kesempatan kita berada. Mereka semua masih membutuhkan istirahat dan tidak akan keluar di malam hari.”
“Baik, akan kami laksanakan, Tuan!” seru mereka secara bersamaan. “Demi kebebasan Niscala!”
Orang-orang mengatakan bahwa orang yang melakukan pencucian otak atau bagaimana orang lain menghasut orang lainnya demi egonya sendiri adalah yang paling menakutkan karena mereka benar-benar hanya mempercayai keyakinan mereka sendiri, tidak peduli dengan pandangan orang lain dan memiliki ambisi untuk menang yang sangat tinggi.
Karena itulah Arfeen selalu berhati-hati, dia bukannya tidak hanya ragu kepada beberapa orang seperti Virendra, tetapi dia juga menyimpan keraguan kepada empat teman-temannya. Sejak awal Arfeen adalah orang yang paling takut dikhianati, dia takut jika terlalu percaya, dia yang akan terluka dan menjadi lemah. Karenanya.. untuk kebaikannya, dia mengamati orang di sekitarnya secara diam-diam.
“Kita terlambat..” gumam Denallie, dia menutup mulutnya karena terkejut melihat beberapa rakyat tergeletak dengan seluruh tubuh berubah warna menjadi ungu akibat racun Kasdeya.
“SIAL!” umpat Derwin, dia bersiul, memanggil semua Kasdeya dan mengerahkan energi sihirnya.
“Ini tidak akan berhasil, banyak rakyat yang su- Arfeen!” teriak Isolde. “Arfeen Tierra! Kau mau ke mana?”
Bagi Arfeen menyelamatkan banyak nyawa merupakan tujuan yang sudah dia mantapkan dalam hati beberapa hari setelah dia tinggal di negeri ini. Dia mendapatkan banyak cinta dan senyuman yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya, karenanya dia harus membalas budi.
“Kalian pasti sudah gila,” gumam Arfeen, dia berdiri di tengah-tengah Kasdeya yang berhenti menyerang rakyat dan berterbangan di atasnya. “Penghapusan hawa keberadaan, eh?”
Dia tidak pernah sekecewa ini di dalam hidupnya, dia juga tidak pernah setenang sekaligus semarah ini di dalam hidupnya. Para Kasdeya ini memang menyebalkan dan menanggung dosa karena sudah membunuh banyak jiwa, tetapi mereka bukanlah tujuan Arfeen yang sebenarnya.
“Arfeen!” teriak Varoon, tanpa menoleh juga Arfeen tahu Varoon hendak menyelamatkannya, karenanya dengan energi sihir tak terlhatnya, dia menahan Varoon dan tiga lainnya agar tidak mendekat ke arahnya. “Tierra! Apa yang kau lakukan?!”
“Aku tidak tahu kekuatan yang aku temukan ini akan berguna secepat ini,” gumam Arfeen, dia tersenyum kecil sambil menatap tangannya ketika dia berhasil mengeluarkan tali tidak terlihat sekaligus sangat lengket dan sulit dilepaskan bahkan dengan kekuatan sihir Isolde sekalipun. Kenapa? Karena sihir milik Arfeen juga sama kuatnya. “Kalian tetap di sana dan jangan coba-coba mendekat. Aku tidak ingin kehilangan lebih banyak dari ini.”
Selain kepada keempatnya, Arfeen juga melakukan hal yang sama kepada rakyat yang ada di sekitarnya guna menjauhkan mereka dari Kasdeya yang mengincarnya.
“Karena kalian aku dipanggil ke negeri ini dan karena keserakahan orang yang bekerja sama dengan kalian ada banyak jiwa yang mati,” Arfeen yang sejak awal menunduk langsung mendongak dan menyerang Kasdeya itu dengan tatapan matanya. Tentu saja banyak dari mereka yang langsung terbang menjauh, sayangnya Arfeen bukanlah Arfeen yang dulu. “Kalian pikir apa yang aku lakukan di negeri ini selama berbulan-bulan? Hanya belajar cara bertarung? Ck.”
“Tatapan matanya.. sangat dingin,” ujar Denallie. “Dia terlihat berbeda dari Arfeen yang kita kenal.”
“Dia tidak akan berhenti,” ucap Derwin, dia juga mengamati. “Entah dia belajar sihir dari mana, bagaimana dia mengembangkannya, seberapa kuat dia sekarang.. aku tidak mengerti karena aku tidak bisa melihat hawa sihirnya. Namun mengingat tali transparan ini membuat kita tidak bisa bergerak bebas.. aku bisa menerka-nerka kekuatan sihirnya yang tumbuh luar biasa pesat.”
Di lain sisi, Virendra yang memperhatikan semua itu merasa sangat marah karena sepertinya dia akan kembali gagal untuk yang kesekian kali. Menurutnya tidak ada pilihan selain membuat Isolde tertidur untuk jangka waktu yang lama, melemahkan sihirnya dan membuat lima Kasdeya dengan tingkat energi yang sangat tinggi keluar dari Marven dan menghabisi pahlawan yang dibangga-banggakan itu.
“Kalian pasti sangat penasaran denganku, bukan?” gumam Arfeen, dia menahan kedua kaki Kasdeya yang ingin terbang setelah mengalihkan pandangan darinya. “Kalian pikir semudah itu aku membiarkan kalian kembali dengan selamat setelah kekacauan yang kalian perbuat?”
Semua yang melihatnya terkejut ketika Arfeen menyentuh sayap Kasdeya yang ditahannya dan sayap itu langsung terbakar kemudian langsung membeku seperti bagaimana lava yang sangat panas mengalami pendinginan dan membeku di suatu tempat. Parahnya hal itu hanya terjadi pada sayapnya saja sementara bagian lainnya tetap masih berfungsi dan untuk pertama kalinya semua bangsa Niscala mendengar rintihan kesakitan Kasdeya setelah puluhan tahun lamanya hanya mereka yang merintih dan meregang nyawa karena racun mematikan monster bersayap itu.
“Rasakan sakitnya,” lirih Arfeen, dia melakukan itu kepada semua Kasdeya yang ada di sana. “Rasakan penderitaan yang kalian sebabkan sendiri, baru setelah ini aku akan menghabisi seluruh bangsa kalian yang masih tersisa di dalam Marven.”
“Bagaimana bisa?” Isolde melebarkan matanya. “Bagaimana bisa Arfeen melakukan sihir seperti itu? Tidak ada dari bangsa kita yang mampu membuat lava panas dan membekukannya, aku belum pernah melihat sihir semenakjubkan dan semengerikan itu.”
“Matanya benar-benar dingin, dia tidak segan-segan menangkap dan ‘memanggang’ Kasdeya itu dengan sihir yang bahkan tidak kita ketahui,” Varoon berdecak kagum. “Di mana dia melatih sihirnya? Bukankah dia membutuhkan tempat yang sangat aman dan jauh dari keberadaan makhluk hidup?”
“Bagian terluar hutan Althaia,” sahut Derwin. “Dia melatih sihirnya setiap malam tanpa kita ketahui. Saat aku mengatakan bahwa dia bekerja sangat keras, aku tidak tahu bahwa dia sangat luar biasa bekerja mati-matian untuk ini. Itu adalah jenis sihir asli yang hanya dimiliki Niscala dan sama sekali tidak diturunkan kepada siapapun termasuk Tierra dari ribuan tahun yang lalu.”
“Sihir asli yang dimiliki Niscala? Maksudmu.. itu adalah sihir asli milik suara agung yang hanya muncul sekali dalam puluhan tahun itu?”
“Ya,” Derwin mengangguk, dia masih mengawasi bagaimana Arfeen memperhatikan Kasdeya yang merintih kesakitan sebelum mengubahnya menjadi abu. “Aku membacanya di perpustakaan sihir Tyrion, aku yakin Marven juga memilikinya dan awalnya aku pikir itu hanyalah lelucon karena aku tidak pernah menemukan sihir lava dan pendingin berada di tangan orang yang sama. Tapi setelah melihatnya sendiri hari ini.. rasanya luar biasa.”
Tali transparan yang mengikat semua orang terlepas setelah semua Kasdeya bisa Arfeen taklukkan dan ubah menjadi abu tak ternilai. Semua orang menghela napas lega, hanya saja setelah itu Arfeen menghilang menggunakan sihir keberadaannya setelah bertatapan mata dengan Derwin.
“Ke mana dia?” seru Varoon panik.
“Tempat biasa,” jawab Derwin.
Lalu keempatnya langsung pergi ke hutan Althaia untuk menyusul Arfeen yang ditemukan tergeletak di atas batu besar, hilang kesadaran.
“Memang terlalu dini,” gumam Isolde, dia mulai mengeluarkan racun Kasdeya yang masuk ke dalam tubuh Arfeen. “Dia memang sangat hebat dan perhitungan. Dia tahu keadaannya tidak memungkinkan lagi dan memilih pingsan di tempat ini.”
“Althaia bilang ini dia lakukan karena dia tidak mempercayai seseorang,” ujar Derwin setelah Althaia hitam gelap yang menjadi teman Arfeen latihan setiap malamnya berbicara padanya. “Arfeen mencurigai seseorang merencanakan ini semua dan tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang itu, karena itulah dia memilih kembali ke tempat ini karena hanya kita yang bisa bebas menemukannya di sini.”
“Tapi siapa?” tanya Denallie. “Siapa yang tidak dia curigai? Apakah itu Virendra?”
“Denallie, Althaia melarangmu menyebut nama itu karena menurutnya, Arfeen pernah mengatakan bahwa itu akan membahayakan dirimu,” ujar Derwin lagi, dia menghela napas dan mengacak-acak rambutnya. “Sebenarnya.. apa yang sudah terjadi? Apa yang akan kita lakukan setelah ini?”
***