“Dia sudah ada di sini semalaman?” tanya Varoon, dia menatap Arfeen yang tertidur nyenyak dengan kasur gantung yang terbuat dari daun-daun dan ranting tumbuhan-tumbuhan sihir di sekitarnya. “Bagaimana dia bisa senyenyak itu? Apa tidak terasa dingin? Aku pikir angin Niscala jauh lebih dingin daripada Saujana.”
“Hah, aku sudah panik mencarinya, selain karena hawa keberadaannya yang sangat tipis, kita juga tidak bisa melihat energi sihirnya. Hah, laki-laki ini, aku pikir ada yang membunuhnya dan kita tidak mengetahui hal itu karena dia hilang dari kamarnya, siapa yang menyangka dia akan tertidur di hutan seperti ini?” keluh Derwin.
“Kita harus membangunkannya, biasanya di jam-jam seperti ini dia harus berlatih,” ujar Denallie. “Hah, mentang-mentang kita berempat terlelap karena harus menyimpan banyak energi, anak ini malah tidur di hutan sampai pagi.”
“Iya, bangunkan saja dia, dia harus sarapan,” tambah Isolde. “Jika dia harus melawan Kasdeya dalam keadaan lapar, kita akan kalah.”
“Perlu aku urungkan sihirnya?” usul Derwin jahil. “Jika aku menjentikkan jari, kemungkinan besar pengaruh sihirnya pada tumbuhan-tumbuhan itu akan sirna dan dia akan langsung jatuh. Bagaimana?”
Seekor Althaia mendekat, dia menatap Derwin dan mengatakan sesuatu yang membuat Kakak Isolde itu berdehem dan mengurungkan niat jahilnya.
“Apa katanya?” tanya Varoon. “Althaia itu mengatakan sesuatu, bukan? Apa katanya?”
“Katanya Arfeen sudah berlatih sepanjang malam dan hanya istirahat sejenak, dia baru tertidur sekitar tiga jam dan dia tidak memperbolehkanku membangunkannya karena kasihan,” jelas Derwin. “Apa-apaan anak ini? Berlatih semalaman seorang diri?”
“Dia bekerja keras rupanya,” puji Denallie. “Sejak kejadian kemarin aku memang belum melihatnya, tetapi kita semua tahu kalau dia tidak menjadi sekuat ini dan menyerah berlatih karena kemampuannya yang tidak kunjung meningkat, mungkin kemarin akan menjadi akhir kita semua. Jika dia berlatih sampai larut malam seperti itu.. kita harus berterima kasih kepadanya.”
“Dia masih seumuran Isolde tetapi tanggung jawab Niscala sudah ada di bahunya. Dia bukanlah penyihir yang hidup di Niscala jadi pasti sangat sulit baginya untuk beradaptasi dengan kita karena dia berasal dari Saujana,” Varoon menghela napas. “Benar kata Denallie, kita harus berterima kasih kepadanya. Kemarin bisa dibilang dialah yang membunuh semua Kasdeya meskipun salah satu dari mereka berhasil kabur dan kembali ke Marven.”
“Kekuatan sihirnya masih bisa dibilang amatir tetapi ternyata dia sudah menjadi sangat kuat,” Isolde menyeletuk. “Dia memang harapan yang dikirimkan kepada kita karena meskipun terkadang kakinya masih gemetar ketakutan dan matanya terlihat ragu, dia tetap menyelamatkan kita sekalipun itu membahayakan dirinya.”
“Wah,” Arfeen bersiul tengil. “Apa aku harus tidur lebih lama agar mendengar semua pujian itu?”
“Kau sudah bangun?” seru Denallie, dia berdecak. “Aish, kau ini memang jahil sekali. Seharusnya jika kau sudah bangun, setidaknya sambutlah kita karena sudah kembali sehat setelah kejadian kemarin dan bukannya menghilang seperti itu.”
“Lagipula jika aku menghilang dari kamarku, kalian akan langsung menemukanku di sini,” Arfeen tertawa pelan. “Jangan khawatir, aku tidak akan pernah meninggalkan kalian di sini tanpa berpamitan. Juga, aku tidak ada niatan menghilang.. aku hanya berlatih sepanjang malam karena empat guruku harus mengembalikan energi mereka.”
“Apa ada murid seperti dia di dunia ini? Kenapa nada bicaranya terdengar seperti sedang meremehkan kita?” Varoon berdecak. “Hey, kau seratus tahun lebih muda dariku, berani-beraninya kau mengatakan hal-hal yang menyinggung gurumu? Perlu ku hajar kau?”
“Guru,” Arfeen menjentikkan jarinya, membuat tumbuhan sihir yang membentuk kasur gantung untuknya bergerak dan kembali ke posisi awal mereka sementara Arfeen langsung menghampiri Varoon. “Kau harus lihat hasil latihan semalamanku, aku terus belajar cara menggunakan pedang air dan bahkan bumerang air yang pernah kau ajarkan kepadaku tetapi selalu gagal aku terapkan itu, aku sudah bisa menggunakannya!”
“Oh ya?” Varoon langsung menyilangkan tangannya di d**a, mulai bersikap sebagai seorang guru dengan berdehem sebelum kembali berbicara. “Jika begitu, tunjukkan apa yang sudah kau latih semalaman, muridku!”
“Ck, bagaimana bisa dia langsung terbang ke atas langit hanya dengan pujian secara tidak langsung seperti itu?” cibir Denallie. “Oy, Arfeen, apa kau juga sudah berlatih cara memanah?”
“Tentu saja, aku juga sudah berlatih bagaimana menciptakan es dan membekukan benda-benda yang membahayakan,” Arfeen tersenyum lebar. “Akan aku tunjukkan kehebatanku kepada kalian semua!”
Setelah mengatakan itu Arfeen langsung mengambil aba-aba. Dia memiliki konsentrasi yang luar biasa dan bisa membaca situasi, sebenarnya kemampuannya ini sudah ia miliki sejak dulu tetapi dia jarang menggunakannya, baru kali inilah dia menggunakan mata elangnya untuk mengamati sekitarnya seakan-akan waktu berhenti dan dia bisa membangun taktik cerdik di sana.
“Lihatlah!” serunya bersemangat dan dalam sepersekian detik, pedang air terbentuk dengan sihirnya. Pedang itu memang tidak se solid milik Varoon yang sudah terlahir dengan berkah sihir tersebut, tetapi siapapun yang melihatnya akan langsung terpesona karena pedang air milik Arfeen memiliki keunikannya sendiri. “Lalu lihatlah bumerang air yang aku buat!”
Selain pedangnya yang benar-benar berwarna- tidak, tidak ada warna, benar-benar bening seperti air, begitu juga dengan bumerang air yang dia ciptakan. Ah, jika lawan tidak berhati-hati, bumerang itu akan langsung melukai leher dan membunuh mereka.
“Aku sudah mencoba untuk membuat yang berwarna biru tetapi tidak bisa, guru. Jadi aku pikir ini memang sudah keahlianku karena energi sihirku juga tidak memiliki warna. Hehehe.”
“Dia benar-benar hebat,” puji Denallie lagi. “Aku pikir Tuan Varoon akan langsung menangis karena satu-satunya muridnya bisa menjadi sangat hebat- oh, dia sudah menangis.”
“Arfeen Tierra!” Varoon langsung memeluk Arfeen. “Kau benar-benar hebat. Jika kau lebih sering beraltih, pedang air dan bumerang air itu akan menjadi lebih solid. Energi sihirmu yang kau pakai untuk berlatih semalaman dan masih bisa membuat dua senjata seperti itu benar-benar menakjubkan!”
Merasa bangga dengan dirinya sendiri, Arfeen langsung tersenyum lebar. “Lalu aku sudah mencoba ini semalaman dan baru berhasil- tidak, sebenarnya aku sudah mencobanya berkali-kali selama dua bulan dan aku pikir ini akan sangat hebat jika benar-benar bisa aku gunakan sebagai senjata.”
“Apa maksudmu?” tanya Derwin.
“Jika aku membuat panah dari air dan membekukannya dengan pengendalian es milik Isolde lalu dicampur dengan sihir racun yang berasal dari tumbuhan-tumbuhan sihir yang ada di sini untuk ujung panahnya, aku pikir itu akan menjadi senjata baru yang sangat bagus.”
“Lalu kau berhasil membuat senjata itu?” tanya Varoon, bukan hanya Varoon tetapi tiga lainnya langsung mengepung Arfeen.
“Kau berhasil membuat panah dari es?” desak Isolde ingin tahu. “Apa kau bisa menggunakannya dengan baik?”
“Ya, apakah keakuratan target panahanmu sudah menjadi jauh lebih baik?” tanya Denallie. “Beberapa hari yang lalu saja kau masih payah dalam hal memanah, tetapi sekarang kau mengejutkanku dengan improvisasi sihirmu itu! Arfeen, jika kau benar-benar bisa melakukannya, tolong ajari aku caranya!”
Arfeen menggaruk belakang telinganya. Dia tidak menyangka keempatnya akan menjadi sangat bersemangat seperti ini, wajah mereka memancarkan keingin tahuan yang tinggi, apalagi mata mereka dan senyum lebar mereka. Ini.. sedikit menyeramkan.
“Kenapa kalian jadi sangat bersemangat?” suara Arfeen menciut.
“Katakan saja kepada kami- tidak lakukan saja dan tunjukkan kepada kami. Baru kali ini ada penyihir yang memiliki inisiatif untuk menggabukan empat kekuatan sihir tingkat tinggi sekaligus,” Derwin terkekeh. “Althaia bilang kau benar-benar bekerja keras sepanjang malam.”
Saat Arfeen baru akan menunjukkan apa yang sudah dia latih dengan kerja keras, suara lolongan Althaia yang menandakan adanya seseorang yang sedang menuju ke wilayah hutan ini terdengar. Kami berlima menunggu siapa yang akan datang dan ternyata itu adalah Virendra.
“Ada apa?” tanya Derwin langsung.
“Tierra! Isolde!” Virendra langsung terduduk dengan wajah terkejut dan sedikit.. sedih?
“Ada apa, Virendra?” tanya Derwin. “Kenapa kau tiba-tiba datang dan terduduk seperti itu? Apa ada yang terjadi? Apa ada yang terluka? Virendra, tolong langsung katakan kepada kami!”
“Kenapa kalian tidak datang? Kenapa tidak ada Althaia yang melolong dan memberi peringatan, kenapa?” teriaknya dengan ekspresi shock.
“Apa maksudmu?” tanya Derwin, dia mulai menaikkan nada suaranya karena tidak mengerti akan apa yang Virendra katakan. “Lolongan Althaia? Datang ke mana? Perjelas maksud perkataanmu!”
“Ada lebih dari sepuluh Kasdeya yang berhasil lolos dan langsung menyerang rumah-rumah warga. Kenapa.. kenapa kalian yang biasanya langsung datang masih berada di sini?”
“Omong kosong apa itu?” teriak Varoon. “Kami tidak merasakan apapun!”
“Isolde..” Virendra menatap Isolde yang terlihat bingung. “Kau tidak merasakan apapun saat mereka berusaha menghancurkan sihirmu? Lebih dari sepuluh Kasdeya ada di Tyrion dan kalian tidak tahu?!”
Derwin, Isolde, Denallie serta Varoon langsung pergi, menghilang dengan sihir hawa keberadaan mereka, menyisakan Arfeen dan Virendra di hutan yang dipenuhi Althaia.
“Kau tidak akan pergi, Virendra?” tegur Arfeen karena Virendra hanya diam.
“Aku.. aku..”
“Jangan berpura-pura linglung dan gelisah seperti itu,” Arfeen tersenyum miring. “Aku akan langsung menghabisi siapapun yang sudah membuat hawa keberadaan Kasdeya bercampur dengan hawa penyihir Niscala. Siapapun.”
***