Sebelum baca jangan lupa tekan Love!
*M a t a h a r i*
Cjr cover Bisma Karisma - Terhebat.
Hey, kawan
Pasti kau dan aku sama, sama-sama punya takut
Takut tuk mencoba dan gagal, tapi...
Hey kawan
Pasti kau dan aku sama, sama-sama punya mimpi
Mimpi tuk menjadi berarti karena
Harus kita taklukan, bersama lawan rintangan
Tuk jadikan dunia ini lebih indah
Tak perlu tunggu hebat
(Untuk berani memulai apa yang kau impikan)
Hanya perlu memulai (untuk menjadi hebat raih yang kau impikan)
Seperti singa yang menerjang semua rintangan tanpa rasa takut
Yakini bahwa kamu kamu kamu kamu terhebat
Hey kawan
Pasti kau dan aku sama, sama-sama punya takut
Takut tuk mencoba dan gagal, tapi...
Hey kawan
Pasti kau dan aku sama, sama-sama punya mimpi
Mimpi tuk menjadi berarti karena
Harus kita taklukan, bersama lawan rintangan
Tuk jadikan dunia ini lebih indah
Tak perlu tunggu hebat
(Untuk berani memulai apa yang kau impikan)
Hanya perlu memulai (untuk menjadi hebat raih yang kau impikan)
Seperti singa yang menerjang semua rintangan tanpa rasa takut
Yakini bahwa kamu kamu kamu kamu terhebat
Coba cobalah mari kita pasti bisa taklukan dunia dengan mimpi kita
Mari berbagi mari bermimpi bersama kita disini
Yakini kau pasti bisa
Dan membuatmu percaya
Kamu terhebat seperti singa
Tak perlu tunggu hebat
(Untuk berani memulai apa yang kau impikan)
Hanya perlu memulai
(Untuk menjadi hebat raih yang kau impikan)
Seperti singa yang menerjang semua rintangan tanpa rasa takut
Yakini bahwa (kamu hebat seperti singa)
Tak perlu tunggu hebat
(Untuk berani memulai apa yang kau impikan)
Hanya perlu memulai
(Untuk menjadi hebat raih yang kau impikan)
Seperti singa yg menerjang semua rintangan tanpa rasa takut
Yakini bahwa kamu kamu kamu kamu terhebat
Na-naa-na. na-na-na. naa-naa-na. naa-naa-na. naa-na.
Suara alunan lagu itu mengalun pelan, cukup menguraikan kesepian di antara kedua insan yang berada di ruang tamu ini. Malam makin gelap, angin berhembus tenang, cuaca juga lebih baik malam ini ketimbang kemarin dan kemarin lusa. Karena angin berhembus semakin hangat, atau keduanya yang berkeringat setelah menghabiskan seblak pedas malam itu.
"Ta?"
"Hmm," jawab Ata tanpa mengalihkan pandangan dari buku tugas yang membuat cewek itu duduk tenang di atas karpet merah.
Kedua tangannya bertumpu di atas meja, sedangkan punggungnya menyandar pada sofa di belakang. Yang di mana Senja merebahkan diri di sana setelah setengah jam yang lalu keduanya berhasil menghabiskan seblak-nya masing-masing. s**u hangat milik Ata sisa setengah, sedangkan milik Senja sudah lenyap tak bersisa. Hanya menyisakan beberapa potongan es batu yang mulai mencair dalam gelas kaca tersebut.
Cowok itu menatap langit-langit rumah Ata. Rumah minimalis yang entah kenapa Ata suka sekali menempatinya. Padahal di rumah bunda, cewek itu juga memiliki kamar sendiri. Dan Bunda bahkan lebih senang jika Ata mau tetap tinggal di sana selamanya. Sayang, sikap mandiri atau kesukaan Ata menyendiri sudah mendarah daging. Sehingga Ata bilang ia lebih nyaman berada di rumah minimalis tersebut.
"Cahaya Matahari," gumam Senja lagi.
Tangannya memainkan ujung rambut sepundak Ata. Sedangkan cewek itu acuh mengerjakan tugas-tugas yang harus dikumpulkan besok.
"Nggak nyangka banget dulu, aku bakalan punya temen kayak kamu." Senja masih bermonolog.
Meski tak sama sekali mendapatkan respon dari Ata. Cowok itu tersenyum samar, pandangannya masih kosong ke atas plafon berwarna putih bersih di atas sana.
"Kalau seandainya, kamu disuruh milih antara aku sama Bayu. Kamu pilih siapa, Ta?" Pertanyaan Senja kali ini sukses membuat Ata meletakkan pulpennya dengan helaan napas berat.
Cewek itu diam sejenak, sebelum kemudian menoleh pada Senja yang sedari tadi memainkan rambutnya. Sehingga pandangan keduanya kini bertemu dengan jarak yang tak begitu jauh. Ata menaikkan kaca mata bacanya yang melorot. Masih tak menjawab, hanya saja iris cokelat muda itu terus menelisik sepasang manik Senja. Mencoba membaca arus pembicaraan cowok itu ke mana.
"Jawab, malah diem." Senja kembali bersuara.
"Ngomong apa sih? Nggak jelas banget!" Ata mendengus kesal.
Setelah menampar lengan Senja cukup keras, cewek itu kembali memutar tubuh dan mulai menyentuh pulpennya. Namun, sialan memang, pertanyaan Senja barusan sukses membuat fokusnya terbelah. Gadis itu mendengus menyadarkan punggungnya dengan gemaa sehingga Senja mengulum senyum puas di sana.
"Sialan, ih!"
"Mulutnya, kotor banget." Senja menggerakkan tangannya untuk membekap bibir Ata.
Akan tetapi, cewek itu sudah lebih dulu menangkisnya dengan kasar. Tentu saja diimbuhi dengan tatapan sinis pertanda bahwa ia benar-benar sedang tidak mood karena pertanyaan Senja barusan. Dan lagi, Senja juga nggak bodoh. Cowok itu sadar pertanyaannya sudah membuat Ata merasa nggak nyaman. Mendadak ada secuil kecewa yang menelusup ke dalam hati Senja tanpa permisi.
Cowok itu berpindah ke bawah tepat di sebelah Ata menyadarkan pundaknya di sana. Keduanya sama-sama diam, sebelum kemudian cowok itu kembali bersuara, "kamu sengaja nggak mau jawab, atau emang belum tau mau jawab apa?"
Keduanya sama-sama menoleh sehingga pandangan mereka kembali bertemu. Pada sepasang mata cokelat itu Senja berharap untuk setidaknya tetap memiliki Ata di sampingnya. Meski mungkin ia tak akan pernah memenangkan hati Ata.
"Ngapain sih, Dit?"
Senja terkekeh, tetapi tetap menuntut jawaban dari Ata. "Yaudah, jawab aja, sih."
"Iya, maksud kamu ngapain? Mau buat apa nanya kayak gitu? Nggak jelas tau, random amat," ketusnya, "bikin mood ancur tau nggak?"
"Nggak usah mengalihkan pembicaraan, deh. Kalo emang kamu belum siap buat jawab, ya nggak apa-apa." Senja menimpali.
Pandangannya lurus ke depan, tepat pada jari-jari tangan yang saling bertaut dan sesekali dimainkan sendiri.
"Penting banget, ya?" Senja menoleh cepat mendengar ucapan Ata.
"Penting buat aku, Ta," balas Senja.
Meskipun sebenarnya Senja sudah tau bahwa Ata mungkin saja memilihnya, tetapi cowok itu juga paham bahwa Ata belum sepenuhnya melupakan sosok Bayu. Karena bagaimanapun juga lelaki itu pernah mengisi kekosongan di hati Ata. Mengobati luka-luka milik Ata di masa silam, tepatnya saat Ata masih sangat belia. Dan tak bisa dipungkiri bahwa kenangan dari masa kanak-kanak itu lebih kuat dari apa pun. Namun, melihat reaksi Ata, Senja juga yakin bahwa rasa sakitnya adalah hal yang paling tak ingin diulang lagi oleh Ata.
"Kamu." Ata berucap pelan, "ngapain aku peduli sama orang-orang itu lagi, toh mereka nggak pernah peduli sama aku," imbuhnya.
Gadis itu tertunduk. Memainkan jemari tangan tanpa tangisan. Lagi pula Ata sadar, apa yang perlu ditangisi saat ia telah tumbuh sedewasa ini dengan sangat baik. Ata yakin semuanya pasti baik-baik aja.
"Bohong, 'kan?" kekeh Senja.
Yang tak pelak hal itu membuat Ata ikut tertawa kecil. Kemudian menampar lengan Senja sekali lagi dengan sangat kuat. Cowok di sebelahnya ini kenapa sih? Mau apa? Kenapa malam ini ingin sekali mencari keributan dengannya. Padahal Ata sedang sangat malas.
"Karena semua kenangan itu nyatanya masih ada dan terus ganggu kamu, Ta."
"Gimana caranya aku bisa lupa sama semua itu, Dit?" tanya Ata serius, "kalau pada dasarnya manusia itu lebih suka mengingat luka ketimbang bahagianya."
"Iya sih," jawab Senja membenarkan, "kamu bener. Seribu kebaikan aja bisa ilang cuma karena satu kesalahan."
Meski tertawa, dalam hatinya Senja benar-benar berharap bahwa Ata tak sungguh-sungguh dengan ucapannya barusan. Sebab Senja tak tau lagi bagaimana caranya menjalani hidup jika Ata benar-benar kembali pada lelaki sialan itu. Yang pernah menjadi penyelamat bagi Ata, sekaligus luka untuknya. Senja menghela napas pendek dan sampai pada telinga Ata.
Suasana malam ini memang sangat sunyi, dan kebetulan Bunda meminta Senja untuk menemani Ata malam ini apa pun yang terjadi. Bahkan sekali pun Ata akan menganiayanya hingga babak belur, Senja tak boleh pergi. Yah, lagi pula Senja juga tak ingin beranjak dari sana meninggalkan mataharinya sendirian malam ini.
"Mereka itu cuma luka. Sebagai manusia, aku juga pengen sembuh dari rasa sakit ini. Dan kalau kenyataannya aku udah ketemu sama obat penawarnya, kenapa juga aku harus pertahanin rasa sakit ini."
"Konyol tau, nggak?" imbuh Ata menyenggol lengan Senja kuat.
Membuat cowok itu bergerak ke samping, tanpa merespon ucapan Ata.
"Kamu sama bunda itu penawar sakit luar biasa yang aku punya, Dit. Dan aku bersyukur akan hal itu," gumam Ata.
Entah sadar atau tidak gadis itu menyadarkan kepalanya pada pundak Senja. Membiarkan dirinya merasa nyaman berada di dekat cowok itu. Senja yang tak pernah meninggalkan mataharinya bahkan saat ia telah kembali ke singgasana. Senja yang tak pernah pergi, meski matahari tengah di selimuti oleh kegelapan pekat.
"Makasih udah selalu ada di sini, Dit. Makasih karena nggak pernah ninggalin aku sendiri," bisik Ata lagi.
Dalam keheningan itu, Senja sedikit menghela napas lega. Karena setidaknya gadis itu mengucapkan kalimat yang manis pada akhirnya. Karena setidaknya cewke itu merasa nyaman di sebelah Senja.
"Makasih juga, Ta. Karena udah hadir di kehidupan ini jadi cewek paling tegar yang aku kenal," batin cowok itu.
*M a t a h a r i*
Derai Air Mata Langit
Dari derai yang tak kunjung reda
Untuk luka yang masih menganga
Izinkan aku bertamu untuk sekedar memastikan bahwa senyummu tak lagi sendu
Izinkan aku bertemu untuk memastikan bahwa yang kau suguhan adalah kopi sungguhan, bukan hati dan harapan
Jika malam tak lagi menampakkan gemerlap lintang
Pejamkan netra sendumu, bayangkan ada aku yang akan menghiasi kelip dalam langit gelapmu
Jika siang terlalu terang menyilaukan
Datanglah ke peluku untuk berteduh semaumu
Karena aku adalah rumah bagi hatimu yang bahkan tak pernah kau janjikan untukku
Karena aku adalah penawar bagi seluruh luka pedihmu itu
Karena kau adalah jumantara, bagi aku yang tak pernah teranggap
- Bentala.
*M a t a h a r i*
-B E R S A M B U N G-
Terima kasih sudah baca.
Jangan lupa tekan love dan baca cerita saya yang lain ya. Berikan dukungan untuk para penulis dengan tekan lovenya.
Terima kasih, guys <3