bc

Pembalasan Dendam Untuk Suami Yang Mendua

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
HE
bxg
lighthearted
like
intro-logo
Blurb

Pernikahannya dengan Hendra, tidak menjamin kebahagiaannya. Shinta Tamara, wanita berusia 25 tahun dengan pekerjaannya sebagai reseller online. Dia diperlakukan seperti bukan berstatus sebagai istri sahnya, oleh Hendra. Kehadiran wanita lain membuat hubungannya perlahan rapuh dengan Hendra. Akankah Shinta merebut kembali suaminya dari wanita itu?

chap-preview
Free preview
Bab 1 — Sainganku, Masa Lalu Suamiku
"Mas, hari ini mau makan apa?" ku sambut Mas Hendra yang baru saja pulang dari kantornya. Hari ini, pukul sebelas malam. Dia baru saja pulang dengan baju nya yang berantakan. Aroma parfum bunga mawar menggiur indra penciuman ku. "Kenapa ada parfum wanita disini?" batinku. Dalam diam, aku tidak ingin mengajukan pertanyaan malam ini. Toh, biasanya Mas Hendra yang selalu mengatakan semuanya ketika ada kejadian apa-apa. Aku berdiri di depannya. Pandangan kami berjarak inchi. Mas Hendra terdiam seperti memikirkan jawabannya. Seperti habis ditikam oleh soal ujian yang menyusahkan. Sungguh, sangatlah lama menunggu pria ini mengeluarkan suaranya. "Mas?" Panggilku. Membuat Mas Hendra tersentak dan sadar dari lamunannya. "Kamu kenapa?" "Tidak ada. Aku hanya butuh waktu untuk istirahat." Punggung pria itu perlahan menghilang bak ditelan dinding perbatasan antara dapur dan kamar kami berdua. Pria yang selama tiga tahun menikahiku. Pernikahan kami seolah bukan awal dari kebahagiaan. Dia pria yang tidak pernah menyentuhku. Tidak pernah menunjukkan sikap manisnya. Tidak pernah memberikanku perhatian. Semuanya berubah semenjak menikah. Padahal sebelum kami menikah, Mas Hendra sangatlah perhatian kepadaku. Di hari pernikahan itu tiba ketika ibu mertuaku pulang kampung, karena selepas bekerja dari luar negeri. Mas Hendra berubah menjadi dingin. Entah kenapa alasan dibalik sikap dinginnya. Yang jelas aku tidak bisa banyak berprasangka lain terhadap perubahan sikapnya. _ Ku turunkan bobot tubuhku di atas ranjang kasur springbed. Dengan posisi terbaring lurus, aku menatap ke samping, kulihat Mas Hendra sudah tertidur pulas membelakangi ku. Aku tersenyum tipis. Meskipun dia berubah menjadi sangatlah dingin. Hal itu tidak mematahkan hasratku untuk tetap mencintainya. "Dinda, Dinda..." suara Mas Hendra terdengar parau. Mas Hendra seakan sedang mengigau dari mimpinya. Untuk kesekian kalinya, aku merasa tidak nyaman mendengar nama wanita itu. Wanita yang dulunya menjadi kekasih Mas Hendra sebelum bertemu denganku. Bahkan sebelum menikah, Mas Hendra sering menceritakan banyak hal soal Dinda. Aku yang pada saat itu mendengarkannya hanya terdiam sambil mengangguk kecil. Seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Padahal hatiku sangat sesak ketika Mas Hendra masih mencintai perempuan itu. Ah, apakah Mas Hendra masih mencintai Dinda? Tidak. Aku tidak bisa membiarkannya. Yang boleh memiliki Mas Hendra sampai kapanpun, wanitanya tetaplah aku! *** Terik matahari memasuki celah-celah jendela kamar. Aku terbangun dengan keadaan setengah sadar. Aku mengerjapkan mata berulang kali. Berusaha mengumpulkan nyawa untuk sejenak. Hari sudah pagi. Aku bergegas menuju dapur. Tidak ada satupun orang yang duduk di meja makan. Biasanya setiap pagi, Mas Hendra selalu duduk disana. Sekarang, yang aku lihat hanyalah lauk sisa semalaman dan beberapa kursi yang masih tersusun rapi. Oh, kemana perginya Mas Hendra? Mengapa dia tidak mengabariku? "Shinta." Suara itu terdengar dari belakang. Aku membalikkan tubuhku. Ku lihat Mas Hendra sudah berpenampilan rapi. Aku menatap dari puncak kepalanya hingga ujung kaki. Mas Hendra berdandan begitu profesional! Aku terpikat dengan penampilannya. "Mas, mau kemana?" "Dinda hari ini ulang tahun. Aku harus membelikannya banyak hadiah dan menemaninya makan kesukaannya bersama. Kamu dirumah ya?" ucapan Mas Hendra bagai ditusuk pisau tidak berdarah. Rasa sesak mulai menghujam d**a. Oh Dinda lagi. Wanita itu lagi. Tatapan ku sangat muak dengannya. "Baiklah. Aku bisa makan sendiri dirumah." Balasku singkat Aku menatap kepergian pria yang selama ini aku cintai tanpa syarat. Yang selama ini aku puja, aku banggakan secara diam-diam. Ku lihat dari teras rumah dengan material kaca transparan. Mobil itu perlahan pergi meninggalkan lobi rumah kami. Di rumah yang sunyi ini, pikiranku begitu tidak tenang. Tubuhku berjalan mondar-mandir seisi ruangan. Pada akhirnya aku menurunkan bobot tubuhku diatas sofa. Sebuah ponsel tergeletak diatas meja itu berbunyi. Ku geser pelan tombol hijau dengan sempurna. Nama Mas Hendra terpampang jelas dilayar ponselku. "Halo, Shinta. Aku hari ini pulang pagi besok. Rumahnya segera dikunci saja. Karena Dinda sedang tidak enak badan, jadi aku harus menemani nya sampai dia pulih kembali," ucap Mas Hendra dari seberang sana. "Baik, Mas. Hati-hati," ucapku. Kemudian telepon dimatikan oleh pihak Mas Hendra. Aku menarik benda pipih itu meja dekatku. Aku terdiam diatas sofa, tubuhku tidak bergeming. Namun, pikiranku tertuju pada Mas Hendra. Seorang pria yang sudah ku nikahkan selama bertahun-tahun. Pria itu selalu menghindar dariku jika aku membutuhkan sosoknya. Dan pria itu langsung beralih ke Dinda. Awalnya aku pikir ini hanyalah sekali saja. Seiring berjalannya waktu, Dinda malah terlihat semakin dekat dengan Mas Hendra. Aku tidak bisa diam saja. Karena, Mas Hendra tetap harus jadi milikku! Pagi harinya. Jejeran makanan sudah ku susun rapi di atas meja makan. Lauk sisa yang ada di kulkas semalam, aku masak sesuai selera menu kesukaan Mas Hendra. Suara klakson mobil terdengar. Aku melirik sekilas di teras rumah, terdapat mobil Mas Hendra yang baru saja terparkir disana. "Dia baru saja pulang," gumamku. Bibirku mengatup rapat. Nafasku tidak bisa teratur. Perlahan-lahan emosiku semakin sulit untuk dikontrol. "Kamu kenapa?" tanya Mas Hendra yang menatap ku sedari tadi. Ekspresi ku berubah masam. Suara pria didepanku ini yang selama ini aku cintai dengan sepenuh hati, malah membuatku jijik. Mas Hendra meraih tanganku. "Katakan," Ucapnya singkat. Aku membuang muka sejenak, lalu menelan saliva dengan kasar. "Apa yang harus aku katakan, Mas? Kamu telah berselingkuh dengan Dinda saat malam. Dengan embel-embel sebatas peduli. Kamu pikir aku tidak tahu?" ucapku sembari menahan amarah yang akan bergejolak. "Selama ini aku menganggap mu sebagai pria satu-satunya. Tidak ada yang lain. Aku selalu mendahulukan kamu diatas kepentingan pribadi. Bahkan aku rela lepas jabatan sebagai guru di sekolah internasional, demi menikahimu," imbuhku. Ucapan ku itu benar adanya. Sebelum menikahi Mas Hendra. Aku dulunya merupakan seorang guru di sekolah bertaraf internasional. Dengan gaji sepuluh juta per bulan. Karena saat itu Mas Hendra sangat membutuhkan bantuan ku untuk bekerja sebagai pegawai tiket pesawat, serta memerlukan waktu yang tidak sedikit. Aku pun bersedia dan sukarela langsung mengundurkan diri. Dan beralih sebagai reseller online. Mas Hendra menunjuk diriku dengan jarinya yang nyaris bergetar. "Jangankan mengingat semua pengorbananmu. Karena itu tidak ada artinya—" "Tidak ada artinya? Maksud mu gimana, Mas? Aku melakukan ini dengan arti pengorbanan. Aku melakukan ini semua, itu karena aku mencintaimu Mas!" jelas ku. Diakhiri dengan kalimat yang meninggi. "Sudahlah, kalau itu pendapat mu. Terserah dirimu saja, Shinta." Mas Hendra langsung mengakhiri pembicaraan rumit ini begitu saja. Ku tatap kepergian pria itu dengan rasa kecewa. Karena aku merasa pengorbanan ini tidak dihargai olehnya. Mengingat soal Dinda, itulah yang membuatku harus membuktikan diri. Bahwa akulah yang pantas mendapatkan Mas Hendra, bukan dia!

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Malam Pertama Sebelum Bercerai

read
7.8K
bc

Pak Bos Gila Jadi Jodohku

read
111.7K
bc

GAIRAH LIAR SANG JENDRAL

read
124.5K
bc

MAMA PACARKU BUDAK SEKSKU

read
41.2K
bc

SIMPANAN OM SAGARA

read
3.2K
bc

HOT DUDA SE(X)

read
159.3K
bc

Dikte Gairah Dosen Wali Killer

read
6.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook