Pria yang baru saja ditampar Yuuya itu kini masih berdiri diposisinya sembari merenungkan sejenak kejadian yang baru saja menimpanya.
"Tsukasa-sama! Maafkan aku...aku terlam...bat...
"Tsukasa-sama! Wajah Anda!"Ujar Sang Sekretaris yang kini kebingungan harus melakukan apa.
"Jangan bilang beliau terantuk dan jatuh...ya ampun aku membiarkan bayi besar ini jalan sendirian"Pikirnya panik
Kaminaga Tsukasa adalah seorang CEO Muda dari Kaminaga Grup. Ia terkenal dengan tampangnya yang menyebalkan namun tentu saja bukan karena ia ingin. Ia hanya tidak tahu bagaimana harus mengekspresikan dirinya.
Ia selalu saja serius. Ia pun tidak dapat mandiri dalam mengurus dirinya. Namun, jika Menyangkut pekerjaan, ia adalah sosok yang paling dapat diandalkan.
"Tsukasa-sama"
"Cari dia sampai ketemu. Dan batalkan semua pertemuan hari ini!"Ujar Tsukasa sembari berbalik arah menuju ke arah pintu keluar.
"Tsukasa-sama... siapa yang harus kucari..."gumam Sekretarisnya pelan
"Gunakan otakmu"Ujar Tsukasa
"Beliau seperti robot. Tidak heran jika pencuri masuk ke dalam garasi hanya untuk menghancurkan mobilnya agar ia tak berangkat ke kantor!"Pikir sang sekretaris
Sang Sekretaris kini terpaksa harus mencari rekaman cctv untuk melihat apa yang sedang terjadi dan membuat Iblis Kaminaga Tsukasa kesal.
"Oooooooooooooohhh!! Aku seharusnya ada disini saat ia ditampar!!"Serunya heboh sendiri di dalam ruangan itu
"Aargh!!! Aku melewatkan kesempatan langka!"ujarnya lagi
"Tolong copy rekaman ini untukku. Dan tolong hapus setelah kalian mengcopynya"Ujar Sang Sekretaris
"Beliau president Kaminaga bukan?"tanya Salah seorang staff
"Ya.."
"Ah...kurasa beliau ...mm...bukan maksudku menyalahkan, namun jalan begitu lebar dan anak ini tidak sedang berdiri di jalan."Ujar Staff stasiun tersebut
"Anda tahu mengapa beliau dijuluki robot?"tanya Sang Sekretaris.
Staff stasiun itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Jika ia berjalan...ia akan lurus terus mengikuti rute yang sudah ia buat sendiri. Jika ada orang di rute itu, pasti ia akan menyuruh mereka untuk segera minggir kalau tidak ia akan menabraknya"Ujar sang sekretaris
Staff stasiun itu hanya menggelengkan kepalanya karena tak percaya ia begitu terkenal hanya karena alasan itu.
"Aku akan menunjukkan video ini pada para pelayan. Mereka pasti suka"
.
.
.
.
Sementara itu Yuuya yang akhirnya di ajak masuk ke dalam kelas itu kini kagum-kagum sendiri menatap teman-temannya itu.
"Hai! Aku Yuuya!! Aku datang dari Koyama! Apa lagi yang harus kukatakan Sensei?"tanya Yuuya ditengah perkenalannya itu
Anak-anak lain kini mulai menertawakannya.
"Terserah padamu"
"Ah!! Aku punya teman, Namanya Komu-chan, namun kemarin Nii-san membuangnya keluar lewat jendela...Komu-chan benar-benar pergi ...."Ujarnya sedih.
"Eh...memangnya Komu-chan apa?"tanya Seorang anak
"Ia kelelawar!"Ujar Yuuya dengan penuh percaya diri
Anak-anak itu kini langsung saja pucat dan sang guru pun akhirnya menoleh ke arahnya dengan serius.
"Duduklah Asahina-kun"Ujar sang guru pelan
"Baik Sensei!"Ujar Yuuya sembari duduk dikursi kosong di samping seorang gadis.
"Hai...kita bertemu lagi"
"Rika-chan!"Ujar Yuuya dengan suara kerasnya
"Asahina...aku tahu kau hidup di alam bebas sebelumnya. Namun jika kau berteriak seperti ini suaramu akan memenuhi ruangan dan kita tidak akan belajar"Ujar Sang guru
Anak-anak kini kembali menertawakannya.
Yuuya sendiri kini hanya terkekeh.
Baru saja pelajaran dimulai dan sang guru meminta mereka mencatat, gadis yang duduk disamping Yuuya kini menjerit histeris.
"Ada apa...
"Y-yuuya-kun membawa...
"Hah?"tanya Yuuya dengan tampang tak bersalah memegangi kondom berisi alat tulisnya itu.
"Mengapa kau membawa barang seperti itu kemari?!"Bentak sang guru
"Barang apa?!"tanya Yuuya setengah membentak
" Kondom itu!!"Teriak sang guru
"Bukankah ini tempat pensil?!"Bentak Yuuya
Para anak laki-laki kini mulai tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
"Tempat pensil kepalamu!"
"Tapi Nii-san...
"Lalu apa ini?!!"tanya Yuuya kebingungan sambil mengangkat tinggi-tinggi benda yang berisi alat tulisnya itu.
"Itu yang kau gunakan saat kau berhubungan s*x!"Bentak sang guru yang jadinya ikut-ikutan tak sabaran.
Yuuya termenung sejenak dan kini anak-anak sekelas menunggu ia mengatakan sesuatu.
"s*x itu apa?"tanyanya
Anak-anak kini kembali tertawa hingga memukuli meja.
"Asahina...kau datang dari surga?"tanya sang guru yang kini jadinya ikut-ikutan tertawa
"Sudahlah sensei. Asahina-chan masih belum tersentuh. Tolong jangan merusaknya dengan ajaran-ajaran kotor!! "Teriak seorang anak laki-laki
"M-maaf Yuuya-kun..."Ujar Rika pelan sambil tertawa
"Eh??"Yuuya kini makin kebingungan
"Buang itu dan cuci tanganmu. Rika... Pinjamkan ia alat tulismu"
"Ehh??? Mengapa?"
"Pokoknya buang. Itu Kotor!...buang sekarang atau aku akan menghukummu!!! Lari keliling lapangan olahraga diluar sana!! "Ujar Sang Guru
"Ahhh....luasnya...aku mau..."
"Asahina! Buang sekarang!!!"Bentak sang guru sembari memengangi rotan dan memukuli mejanya.
Yuuya tidak punya pilihan lain selain terkekeh kemudian berdiri dan membuangnya kemudian mencuci tangannya.
.
.
.
Berbeda dengan Yuuya, Kini Tsukasa terlihat masih saja kesal.
Sampai-sampai ia melarang semua pelayan untuk masuk.
"Alpha dari mana? Ia jelas-jelas mengeluarkan feromon aneh dan ...ia jelas-jelas omega"Bentak Tsukasa
Kini ia bicara sendiri seperti orang gila.
"Tsukasa-sama...makan siang anda"
Tsukasa mengerutkan keningnya melirik ke arah pintu.
"Dimana Umesaka?"tanya Tsukasa
"Ume-sama belum kembali"Ujar sang pelayan
Tsukasa kini melemparkan gelasnya ke arah pintu dengan kesal.
"Pergi dan cari data semua bocah SMA dengan rambut berwarna perak! Aku tidak mau tahu kalian harus menemukan data itu saat ini juga!!"Teriak Tsukasa
"Tidak biasanya tuan muda marah besar seperti ini" Pikir kepala pelayan yang hampir 30 menit berdiri diluar memegangi nampan berisi makanannya.
Begitu Sekretaris Tsukasa muncul, semua pelayan mulai mengerumuninya.
"Ume-san, Tuan Muda marah besar"
"Biar aku yang bicara padanya. Ini kalian tontonlah bersama dan lihatlah apa apa yang sudah terjadi padanya"Ujar Umesaka pelan
Ia kemudian segera membuka pintu ruangan Tsukasa namun ia terkejut melihat pecahan gelas itu.
"Tsukasa-sama...
Tsukasa tidak menjawabnya.
"Aku menemukan anak itu"Ujarnya
Tsukasa langsung saja bangun dari kursinya dan menatapnya dengan penuh tanya.
"Mm...Namun, Itu adalah anak President Asahina...Putra bungsunya itu bernama Asahina Yuuya"Ujar Umesaka.
"Dimana sekolahnya!"
"Ah... Sekolah Anda dulu...
Tsukasa langsung saja mengancing rompi jasnya saat ini.
"Tsukasa-sama...
"Mobilku, belum ada yang selesai diperbaiki?"tanya Tsukasa.
"B-belum...
"Mobilmu saja"Ujarnya sembari meminta kunci mobilnya.
"Tsukasa-sama... Anda hendak kemana?"Ujar Sang Sekretaris, namun percuma Tsukasa sudah meninggalkan tempat itu
"Semoga tuan muda itu menemukan cinta sejatinya...aku akan ada disini menontonnya berjuang"Ujar sang Sekretaris yang masih saja terbahak-bahak mengingat bagaimana Tsukasa ditampar pagi ini.
.
.
.
.
Jam pelajaran pun usai, Kini Yuuya sudah berancang-ancang akan kembali. Ia tersenyum lebar menatap sang kakak yang sudah melambaikan tangannya di gerbang sana.
"Aku duluan semuanya"Ujar Yuuya
"Buatlah kehebohan lagi esok!!"Seru teman-temannya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ya!!" Jawabnya.
"Bagaimana sekolahmu hari ini?"tanya Jun
"Menyenangkan! Semuanya berteman dengan baik"Ujar Yuuya
Jun kini tidak ingin bertanya tentang tempat pensilnya. Ia tidak ingin Yuuya memukulnya di tempat seperti ini.
"Sangat tidak cool jika seorang Jun-sama di pukuli oleh omega"Ujar Jun kesal
"Hei Kau!!"Ujar seseorang ketika keduanya melewati gerbang terakhir sekolah itu.
"Hm?"
"Aih...sial! Ia pria yang kau pukuli pagi ini!"Bisik Jun
Yuuya kini langsung saja menghampirinya kemudian segera membungkuk.
"Maafkan kelakuanku pagi ini. Anda membuatku terkejut"Ujar Yuuya kemudian mengangkat kepalanya sambil tertawa
Tsukasa kini tertawa mengejek kemudian mengerutkan keningnya.
"Akhirnya kau sadar jika kau hanya Omega rendahan... Haha..aku sudah pu-as. Kau melukai harga diriku pagi ini! Seorang Omega sepertimu!!"Bentak Tsukasa
Tsukasa bergidik ngeri menatap Omega yang sudah mengepalkan tangannya.
"M-mau apa kau?!"
"Sudah kukatakan aku ini seorang Alpha!! Aku ini Alpha! Bagian mana yang Omega!!!"Bentak Yuuya.
Tsukasa melindungi wajahnya namun tentu saja bukan wajahnya yang diincar Yuuya saat ini.
"Augh...aku nyeri... Semoga telurnya baik-baik saja...tidak mungkin pecah bukan? Argh....itu pasti sakit..."Pikir Jun yang ngilu sendiri melihat sang adik menendang milik Tsukasa sekuat tenaga.
"Ugh...
"Yu-Yuuya...ayo... kembali"Ujar Jun yang kini menarik sang adik dan cepat-cepat kabur dari tempat itu.
"Aargh...Omega sialan!! Kembali kemari kau sialan!!!"Ujar Tsukasa
Namun karena Yuuya dan Jun semakin menghilang dari pandangannya, kini ia hanya dapat merangkak masuk ke dalam mobil dan cepat-cepat memeriksa miliknya itu.
"Aargh!! Aku akan menghancurkannya!!! Sampai Remuk! Sampai iia mengakui kalau ia seorang Omega!!! Omega sialan!!!"Seru Tsukasa kesal.
.
.
.
.
Sesampainya mereka dirumah, Jun langsung saja menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Tidak biasanya kau lelah"Ujar Hayato
"Aku kehabisan energi... mengapa Yuuya punya banyak sekali energi...?"Ujar Jun
"Aniki... Ia bahkan melepaskan kelinci yang dijual... Dan aku harus membayarnya..."Ujar Jun
"Saat kutanya mengapa? Ia hanya menjawab hewan-hewan itu minta dikeluarkan, aniki... Apa menurutmu ia juga salah satu dari mereka?"tanya Jun
Hayato yang meneguk kopinya itu kini langsung saja tersedak.
"Jangan bicara macam-macam! Ia adikmu, dan jika kelakuannya seperti itu, tugas kita untuk membimbingnya"Ujar Hayato.
"Yuuya...Yuuya"panggil sang ibu
"Ya! Yaa bu!!"Ujarnya dengan penuh semangat
"Yuuya...mengapa meninggalkan kotak pensilmu di atas meja belajar?"tanya sang ibu
"Ahhh!! Nii-san memberikan kondom untukku dan Nii-san bilang itu tempat pensil!! Sensei memarahiku, namun beliau bilang tidak apa-apa karena aku tidak tahu"lapor Yuuya
Kini Hayato kembali tersedak dan tak percaya ia mendengar hal konyol ini.
Ia menatap Jun yang masih saja tidak bergerak itu dengan kesal.
"Yaayy...putra ibu sangat kreatif..."
"Ibu!??"protes Hayato
"Namun, Jangan menggunakannya seperti itu. Ingat Yuuya, itu bukan digunakan untuk melindungi alat tulismu...itu digunakan untuk melindungi alat lain"Ujar sang ibu sambil mengedipkan matanya.
"Mm! Sensei bilang itu digunakan saat s*x, namun karena aku tidak tahu apa itu s*x sensei pun menyerah!"Ujar Yuuya
"Nah...lihat nii-san...ia benar-benar sesuatu"Ujar Jun yang masih sibuk menempelkan wajahnya dibantal sofa sambil tertawa
"Ini tidak lucu Jun!"Ujar Hayato
"Kemarilah Yuuya. Ingat, jangan menyebut kata-kata seperti itu lagi"Ujar Hayato
"Mengapa?"
"Itu kata-kata buruk. Kau harus banyak belajar, jangan asal bunyi... Orang-orang di kota tidak sebaik yang kau pikirkan...bagaimana jika mereka memukulimu?"tanya Hayato
"Aku ini ahli bela diri. Aku akan balik menghajar semuanya hingga babak belur!!"Ujar Yuuya
"Yuuya...jangan... Jangan gunakan kekerasan, terlalu banyak orang jahat, maksudku mereka cerdik... Bagaimana jika mereka menjebakmu?"tanya Hayato
Yuuya hanya terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Aku tidak tahu harus bagaimana"Ujarnya pelan
"Yuuya benar-benar hebat...yeay...anak ibu hebat"Ujar sang ibu yang kini malah menarik tangan Yuuya dan mengajaknya berputar-putar.
"Aku bisa cepat tua..."pikir Hayato
"Hayato-sama...saatnya rapat berikutnya"Ujar Sekretaris Hayato pelan
"Baiklah"Ujar Hayato sembari mengancing jasnya.
"Haya-kun... Semoga berhasil"Ujar sang ibu sambil mencium keningnya
"Terima kasih bu"Ujar Hayato Sembari keluar begitu saja
"Eh? Nii-san mau kemana?"tanya Yuuya
"Bekerja"
"Ah... Dimana?"
"Yang pastinya bukan hutan"Ujar Jun
"Bukankah di hutan cukup menyenangkan? Disana tenang...banyak hewan langka dan tumbuhan yang unik....".
"Ibuuuu...usiaku berkurang seminggu"Ujar Jun yang kini pasrah bicara dengannya
"Jangan pergi Jun-kun!! Ibu tidak ingin ini terjadi...Tidaak! Tidaak Jun!!"
"Aku belum mati bu..."
"Ah! Kau benar"Ujar sang ibu sambil tertawa
Para pelayan yang mendengar mereka kini hanya tersenyum.
Entah mengapa, semua orang bingung akan jadi apa rumah ini, karena dua orang yang menurut mereka paling normal sudah pergi bekerja.
Jun yang masih meringkuk di sofa itu melirik sejenak ke arah ibunya dan Yuuya yang kini tenang-tenang saja menonton televisi.
"Jika tenang seperti ini ia juga kelihatan cantik...namun mengapa tidak ingin disebut omega. Apa ia malu?"pikir Jun sembari menatapnya.
"Nii-san!"
"Bagaimana caranya aku masuk ke dalam televisi?"tanya Yuuya
"Ha!!!?!"
"Aku ingin minta maaf lagi... itu orang yang tadi"Ujar Yuuya Sembari menoleh ke arah Televisi
"Kaminaga Tsukasa... ??? Pantas saja pernah melihatnya di suatu tempat!"Pikir Jun yang kini juga duduk disamping sang Ibu dan memeluk lengan wanita itu.
"Yuuya... Besok sebaiknya kita minta diantarkan ayah saja"Ujar Jun
"Mengapa??"
"Karena telur seseorang pasti sakit malam ini karena ulahmu... Besok ia pasti akan mencarimu lagi"Ujar Jun
"Aku tidak mengerti..."
"Pokoknya jika bertemu lagi dengan pria itu jauhi saja dia!!"
"Mengapa??"tanya Yuuya ngotot ingin tahu jawabannya
"Karena ...Karena... "
"Menjelaskan padanya pun ia tidak akan mengerti..."pikir Jun
"Karena ia bauuu!!!"Seru Jun
"Ah... b-baiklah"Ujar Yuuya yang tidak tahu harus berkata apa karena sang kakak sampai meneriakinya seperti ini.
"Baiklah... Pokoknya jika kau melihatnya kau harus lari... Lari sekuat tenaga dan jangan sampai tertangkap!! Jika kali ketiga ini kau masih dekat-dekat dengannya ia akan menularkan baunya padamu dan kau akan dijauhi semua orang"Ujar Jun dengan akting yang sangat meyakinkan.
Yuuya hanya mengangguk berulang kali.
"Apa benar Tsukasa-kun bau? Kurasa aku pernah bertemu dengannya dipesta dan ia wangi-wangi saja... Apa karena ia semakin dewasa dan jadi seperti itu? Atau ia punya penyakit mengerikan!! Kalau begitu Yuuya tidak boleh dekat dengannya putraku yang manis ini..."pikir sang ibu yang kini hampir sama polosnya dengan Yuuya. Ia bahkan sampai memeluk erat Yuuya saat ini karena saking takutnya putranya itu tertular penyakit bau Tsukasa.
Bersambung...